Kisah ini tentang aksi seorang anak laki-laki yang bernama Annas. Ia ingin membalaskan dendam almarhum ayahnya dengan cara menjadi seperti dirinya. Menegakkan keadilan. Meskipun dia masih menginjak usia 17 tahun di bangku kelas 2 SMA, tapi bagi dirinya, tidak ada kamus ketakutan, selama jalan yang ia ambil demi mengungkap kebenaran.
Seperti saat ini, ketika di sekolahnya terjadi sesuatu yg mencurigakan, dia tidak bisa diam saja. Bahkan dia mengincar kedudukan ketua OSIS demi mendapat akses penuh untuk mencari tahu siapa dalang yang sebenarnya.
Tak disangka, dia juga dipertemukan dengan seorang gadis yang mampu membaca pola kasus yang sama di setiap tahunnya ketika disadarkan oleh pemuda yang selalu mengejarnya sejak dulu. Sama seperti dirinya, dia mampu membaca pola aksi pelaku.
Selain itu, Annas juga bekerja sama dengan seorang pemuda tengil yang pandai sekali di bidang TIK. Tak usah diragukan lagi, semua rencana dan strateginya adalah hasil kedua otak pemuda ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Litlerose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukti?
BRAK!
Suara gebrakan meja dari tangan kepala sekolah itu membuat beberapa anggota OSIS yang berada di ruangan tersentak.
"Apa maksud semua ini, Pak Dimas?! Kau mengambil dana proposal acara setiap tahun?!"
"Pak, saya bisa jelaskan baik-baik. Yang pertama, saya difitnah sama anak-anak ini.." Pak Dimas mengedarkan pandangannya ke depan, menatap Annas, Fadhil, dan yang lain.
"Jelaskan baik-baik, katamu?! Semuanya sudah jelas! Mereka sudah memberikan buktinya pada saya!"
"A-apa? B-bukti apa, Pak? Saya beneran nggak ngelakuin itu! Itu cuma video editan dari mereka!"
"Dasar kau ini tak tahu malu!"
Pak kepala sekolah menghampiri Pak Dimas sambil melipat lengan kemejanya. Beberapa guru yang juga hadir di sana segera menahan, takut terjadi pertikaian.
"Pak, jangan kotori tangan Anda, biarkan dia bicara dulu.." ucap salah satu guru.
Pak kepala sekolah akhirnya menarik napas panjang, mencoba meredamkan emosinya.
"Baiklah, aku akan memberimu waktu untuk menjelaskan semuanya."
Pak Dimas mendengus kesal. Ia menatap tajam ke arah Annas dan Fadhil. Juga ke beberapa siswa yang hadir di sana.
"Pak, zaman sekarang teknologi sudah canggih. Video deepfake, AI, editing suara... Anak kecil pun bisa bikin. Bapak mau saya bikin video Bapak lagi joget dangdut? Lima menit jadi."
"Beliau bohong, Pak! Itu rekaman asli! Sarah sama Manda saksinya!"
"Dasar preman sekolah! Jaga bicaramu, ya! Orang tua sedang bicara, ngapain kamu ikut-ikutan!"
"Cih!" Satria memutar bola matanya.
Pak Dimas kembali menatap Bapak Kepala Sekolah.
"Pak, serius, ini konspirasi, anak-anak OSIS tahun ini.. " ia menunjuk Annas, "mereka dendam karena saya perketat aturan dana. Mereka ngaku sendiri kalau dana tidak dilebihkan, nanti komisi mereka dapat darimana. Mereka itu tidak ikhlas jadi panitia acara sekolah, Pak!"
Semua orang di dalam ruangan itu terkejut mendengar pengakuan Pak Dimas.
"Sudah ada bukti, masih aja nyari alasan. Pake nyalahin kita lagi. Sakit nih orang." gumam Fadhil sambil mendengus kesal.
"Buktinya?" tanya seseorang yang sejak tadi diam. Semua orang menoleh padanya.
"Nah, itu dia pelakunya, Pak! Dia dalang utama dari masalah ini!" tunjuk Pak Dimas cepat, tangannya mengarah lurus ke wajah Annas.
"Seseorang ketika ditanya soal kebenaran tapi dia malah mengalihkan jawaban, maka itu dianggap berbohong, Pak Dimas. Apa Anda melupakan rumus dasar psikologi manusia?"
Annas melangkah maju.
"Bapak perhatikan, deh. Sejak tadi, Bapak sama sekali tidak membantah soal stempel palsu itu. Bapak juga diam saja soal uang 25 juta yang mengalir ke rekening adik ipar Bapak. Yang Bapak lakukan justru sibuk menyerang pribadi kami. Bapak teriak-teriak bilang kami sakit hati atau dendam.
Annas menggelengkan kepalanya.
"Orang yang bersih itu bakal sibuk membuktikan kalau dia tidak bersalah, Pak. Bukan malah sibuk mencari-cari kesalahan orang yang menuduhnya."
Ruangan hening seketika.
Bapak Kepala Sekolah menatap Annas, lalu menganggukkan kepala. Kemudian ia beralih menatap Pak Dimas.
Tapi yang ditatap malah tersenyum tipis. Dia dengan santainya menyenderkan punggungnya ke kursi.
Prok! Prok! Prok!
"Luar biasa, Annas. Itu analisis yang cantik sekali. Kamu memang murid terpintar saya. Tapi..."
Pak Dimas menjeda kalimatnya, ia menegakkan punggungnya ke depan.
"Apa kamu lupa satu hal? Dalam matematika, hasil akhir yang benar tidak akan dianggap valid kalau cara pengerjaannya salah."
Jari telunjuk Pak Dimas mengetuk-ngetuk tumpukan map bukti di atas meja.
"Kamu bicara soal fakta dan kebenaran? Oke, mari kita bedah logikanya, Nak. Dokumen ini.. Adalah arsip sekolah. Benar, bukan? Tentu saja sifatnya rahasia. Tertutup rapat di dalam gudang."
Pak Dimas mencondongkan wajahnya sambil tersenyum licik.
"Pertanyaan saya sederhana. Coba jawab dengan jujur di depan Kepala Sekolah. Apa kamu punya surat izin resmi untuk mengambil barang bukti ini? Atau... Kamu mendapatkannya dengan cara membobol gudang arsip di malam hari selayaknya seorang maling?"
Annas tercekat.
"Jawab! Kalau kamu bilang ya, berarti kamu mengakui tindakan kriminal. Kamu membobol fasilitas sekolah. Artinya, di mata hukum, bukti ini tidak sah karena didapat dengan cara mencuri. Kamu bukan pahlawan, Nak. Kamu cuma kriminal kecil yang main hakim sendiri."
Annas mengepalkan tangannya, tapi dia tidak tau harus berbuat apa. Jika ia mengaku, otomatis dia akan kena sanksi dari sekolah, atau paling parah dikeluarkan dari sekolah itu. Tapi jika ia berbohong, dia akan kehilangan kepercayaan dari Kepala Sekolah.
Pak Dimas terkekeh pelan melihat Annas yang masih membisu.
"Lihat sendiri kan, Pak?" ia memutar tubuhnya untuk menghadap ke Kepala Sekolah. "Bagaimana kita bisa mempercayai tuduhan dari siswa yang bahkan tidak bisa jujur soal—"
Cklek!
Pintu ruangan itu tiba-tiba terbuka dengan santai, membuat semua penghuni di dalamnya menoleh.
"Assalamualaikum, maaf mengganggu."
Sosok itu melangkah dengan tenang sambil membawa kardus besar.
"Dia nggak perlu mencuri bukti itu, Pak. Kan kuncinya Bapak sendiri yang kasih ke saya lewat preman-preman suruhan Bapak itu."
Sosok itu memamerkan kunci gudang sambil tersenyum tipis.
"Lagian, preman Bapak kurang jago jagain sandera. Masa iya saya ditinggal ngopi segala. Jadinya saya bisa kabur seenaknya.",
-BERSAMBUNG