Persahabatan tiga cowok yaitu Izam, Roki dan Martin disekolah menengah.cerita ini sudah direvisi silakan para pembaca untuk datang menikmati kisahnya. Jika ada kesalahan penulisan atau kata, saya meminta maaf. Ayo datang meriahkan kisah fantasi ini.Terima kasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Pelelangan dan Umpan Triliunan
Malam itu terasa dingin, menusuk hingga ke tulang, tetapi bukan karena cuaca. Ini adalah malam yang ditunggu, malam yang diselimuti ketegangan membara di balik permadani kemewahan. Udara di luar aula pelelangan yang megah terasa berat, diwarnai oleh gemerlap bintang dan janji kekuasaan.
Di suatu tempat, jauh dari keramaian, Martin memimpin komunikasi. Suaranya di radio penghubung terdengar dingin dan tanpa cela, seperti baja. "Apa semua sudah pada posisi?" tanya Martin, sedikit desahan napasnya terdengar jelas.
"Sudah di tempatnya, Bos," jawab beberapa suara, termasuk Lili, Ali, dan anggota tim inti lainnya.
"Kita bergerak saat barang terakhir. Paham?" perintah Martin.
"Kami mengerti," jawab mereka serempak.
Lili tidak bisa menahan kegelisahannya. "Apa perlu kita habisi semua yang hadir, Bos? Mumpung momentumnya bagus."
Ali menyela, suaranya tajam. "Dengar baik-baik, Lili. Orang yang kita incar sudah masuk kategori hitam dan merah. Mereka adalah target utama. Selain itu, bebaskan yang lain pergi. Kita bukan pembantai massal."
"Aku setuju dengan Ali. Fokus. Jangan buat masalah yang tidak perlu," tegas Martin.
Sementara itu, Roki mengenakan setelan mahal yang tampak memancarkan uang telah siap. Di hadapannya, Sekretaris Kim tampak cemas, merasakan aura bahaya yang kental. "Apa yang Anda tunggu, Tuan?" tanya Sekretaris Kim.
Roki menyeringai tipis, ekspresi yang jarang ia tunjukkan. "Tidak ada. Ayo kita berangkat. Malam ini, aku akan melihat Laut Merah berkibar."
Tamu-tamu berdatangan. Aula pelelangan adalah kolam hiu yang dihiasi berlian. Aroma parfum mahal, bisikan-bisikan perjanjian tersembunyi, dan tawa yang terlalu dipaksakan bercampur dalam kemewahan karpet merah. Mereka ada di sana bukan hanya untuk barang, tetapi untuk memamerkan kekuasaan, wewenang, dan harta yang tak terbatas.
Di sudut lain, Andre juga memberi perintah kepada anak buahnya, matanya dipenuhi ambisi. "Kalian tahu persis apa yang harus disiapkan. Aku tidak mau ada kegagalan."
"Kami mengerti, Tuan," jawab bawahannya, bergerak senyap.
Penyelenggara lelang, seorang pria dengan jas yang terlalu ketat dan senyum palsu, naik ke mimbar. "Selamat datang, para undangan dan tamu terhormat! Suatu kehormatan bisa bertemu Anda sekalian. Tanpa basa-basi, mari kita mulai pelelangan hari ini!"
Barang pertama: Kristal Bulan.
"Kristal Bulan, karya terakhir dan pertama dari Azika Marika! Keindahan yang mengikat pada malam hari. Harga awal: dua juta!"
Papan penawaran segera terangkat. Angka melonjak. 2,5 juta... 3 juta... hingga akhirnya berhenti di tangan Tuan nomor 65 pada harga 5 juta.
Suasana kembali tenang. "Selamat kepada nomor 65!"
"Barang kedua! Lukisan karya Ali Muhammad Syakiputra, berjudul 'Pemandangan Laut Merah.' Harga awal: satu setengah juta!"
Saat tirai dibuka, memperlihatkan sapuan kuas yang kasar namun indah, Roki tersentak. Bukan karena lukisannya bagus, tetapi karena namanya. Laut Merah.
Sekretaris Kim sudah bersiap menawar di angka wajar, tetapi Roki mengangkat papan.
"Enam juta!" teriak Roki.
Seluruh ruangan terdiam. Kenaikan yang tiba-tiba dan jauh melampaui harga pasar. Tak ada yang berani menawar lagi. Barang menjadi milik Roki.
"Tuan," bisik Sekretaris Kim, bingung. "Mengapa Anda membeli lukisan itu dengan harga setinggi itu?"
Roki memandangi lukisan itu, matanya berkilat penuh makna. "Kamu tidak mengerti, Kim. Lukisan ini adalah sebuah pesan. Di mana ada penderitaan, di situlah ada keindahan yang tidak bisa dijelaskan. Di mana ada Laut Merah, di situ ada badai yang akan datang."
Barang ketiga: Permata Seribu Air. Penawaran sengit terjadi, angka melompat dari 5 juta, 10 juta, 20 juta, hingga akhirnya nomor 55 memenangkannya di harga 50 juta.
Akhirnya, barang yang dinanti semua orang.
Penyelenggara tersenyum lebar. "Barang berikutnya! Sertifikat Pulau! Pulau ini adalah milik bangsawan yang telah dihukum mati. Karena tidak memiliki sumber daya yang bagus, harga awalnya hanya satu juta!"
Tawa sinis terdengar di ruangan. Pulau yang tidak berharga, menjadi simbol kekuasaan.
Seorang penawar segera membuka. "Sepuluh juta!"
Nomor 6, yang ternyata adalah Andre, langsung menyambutnya. "Seratus juta!" Ia ingin menghancurkan persaingan di awal.
Roki tersenyum penuh perhitungan. "Tidak kusangka dia langsung setinggi itu." Ia mengangkat papan. "Satu miliar!"
Andre mendengus kesal. Angka terus merangkak naik, didorong oleh ambisi.
Andre: "Lima miliar!"
Sekretaris Kim membungkuk. "Tuan, apakah kita perlu menaikkan harga lagi?"
Roki menatap Andre di seberang ruangan. "Menurutmu?" Ia mengangkat papan dengan santai.
Roki: "Seratus miliar!"
Sekretaris Kim hanya bisa menelan ludah, terdiam oleh angka gila itu. Andre, wajahnya memerah karena kesal, menaikkan lagi.
Andre: "Dua ratus miliar!"
"Apa Anda akan menaikkan harga lagi, Tuan?" bisik Sekretaris Kim, kini dengan niat tersembunyi.
Roki hanya menikmati permainan ini. Ia tahu ini adalah perangkap. Ia mengangkat papan.
Roki: "Satu triliun!"
Andre sudah di ambang kemarahan. Ia menggebrak meja. "Lima triliun!"
Ruangan itu terkejut. Semua orang hanya menonton duel gila antara nomor 5 dan 6.
Roki tersenyum, wajahnya tenang. "Ini yang terakhir." Ia mengangkat papan dengan gerakan final. "Sepuluh triliun."
Wajah Andre mengeras, matanya berapi-api. Ia ingin menawar, tetapi bawahannya memegang lengannya, berbisik panik: "Tuan, kita hanya membawa sebelas triliun total! Tolong, jangan lagi!"
Andre mengabaikannya, menarik napas dalam-dalam. "Sebelas triliun!" teriaknya, harga terakhir, putus asa.
Roki hanya diam, tersenyum kecil. Ia telah mencapai tujuannya.
"Ada lagi yang ingin menawar lebih tinggi dari sebelas triliun?!" seru penyelenggara lelang. "Jika tidak ada, sertifikat pulau ini... jatuh kepada nomor 6! Selamat!"
Roki tertawa kecil di dalam hati, menikmati bagaimana Andre baru saja membuang sebelas triliun untuk sebuah pulau yang sebentar lagi akan menjadi medan perang.
Jauh di markas Laut Merah, Martin mendengarkan kabar tersebut. Wajahnya puas. "Masuk perangkap harimau," gumam Martin.
Anggota khusus Organisasi Laut Merah tersenyum. "Markas besar mereka sudah termakan umpan," kata Ali. "Tinggal menunggu barang terakhir."
"Jangan lupa barang terakhir. Beli untukku," kata Martin kepada Mark, salah satu anggota yang menyamar di pelelangan.
Mark mengangguk kecil.
"Barang terakhir adalah Tanaman Buah Putih! Tanaman langka dengan aroma wangi yang menenangkan hati, membawa ketenangan dan pikiran cerah. Harga awal: lima juta!"
Mark, tanpa basa-basi, mengangkat papan. "Dua puluh juta!" Tak ada yang tertarik untuk bersaing memperebutkan tanaman yang tampaknya tidak berarti.
"Jika tidak ada, barang ini diberikan kepada nomor 2! Terima kasih atas kehadiran Anda semua dalam pelelangan ini!" tutup penyelenggara lelang.
Tepat saat palu jatuh, Martin menghela napas panjang. Itu adalah sinyalnya.
"Semuanya. Posisi brutal. Bergerak!" perintah Martin, suaranya kini penuh kekuatan militer.
Di aula lelang, saat para tamu yang 'tidak diincar' bergegas keluar, Martin dan timnya mulai bergerak. Mereka memburu daftar hitam dan merah, orang-orang yang harus dilenyapkan malam itu.
Sekretaris Kim, merasakan getaran aneh, menarik lengan Roki. "Tuan, sudah waktunya kita pergi!"
Roki tersenyum misterius, tatapannya menyapu aula yang perlahan mulai berubah menjadi zona pembantaian. "Aku mengerti." Ia berdiri, meninggalkan keheningan dan kekacauan yang akan terjadi.