Penuh dengan Misteri. 👺👺
Vivana Gadis desa berusia 21 tahun di paksa menikah dengan seorang pria kota yang baru saja bertemu dengan Ayahnya.
Hanya karena pria tersebut memberikan sebuah perkebunan yang cukup luas, Ayahnya rela menjadikan Vivana syarat pembayaran buat menikah.
Bukannya kebahagiaan di dapatkan Vivana setelah menikah. Pria yang menikahi Vivana adalah seorang Psikopat dan MAHAR MEWAH bernilai fantastis pemberian pria tersebut malah menjadi TEROR yang merenggut beberapa orang tercinta dan terdekat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syahri musdalipah tarigan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35. Jadilah bonekaku.
“Vivana. Aku bilang berhenti kamu di sana. Atau…” Teriak Barra berlari mengejar diriku menuruni anak tangga.
“Atau apa? Buat apa aku mendengar ucapan kamu, sedangkan kamu sendiri tidak pernah mempercayai ucapanku. Bukan hanya tidak mempercayai ucapanku, tapi kini kalian juga sudah menyakitiku.” Sahutku memotong pembicaraan Barra.
Aku mempecepat langkah kakiku saat melihat pintu rumah sudah dekat di depan mata, tengkuk dan perut yang masih terasa sakit tidak aku perdulikan. 1 langkah lagi kedua kaki ku hampir sampai ke pintu, dengan cepat aku mengulur kedua tanganku membuka pintu. Merasa kehidupan baru sudah ada di depan mata, aku kembali berlari menuju teras.
Namun langkah kakiku harus terhenti saat Barra berkata.
“Vivana. Jika kaki kanan kamu turun ke tanah, maka kamu akan lihat akibatnya. Pria tua itu yang akan aku berikan hukuman atas tindakan kamu yang hendak kabur dari diriku.”
‘A-ayah. Apa pria ini ingin menyakiti Ayah jika aku meninggalkan dirinya. Tidak mungkin ini hanya omong kosong doang. Ayo! Vivana. Kamu tidak boleh gentar dengan perkataan pria psikopat ini.’ Batinku menyemangati diri sendiri.
Satu langkah lagi kaki kananku turun menyentuh tanah. Kaki kanan sengaja separuh aku gantung di tanah, wajah sedikit aku palingkan ke sisi kanan, melihat Barra berdiri di belakang sisi kananku. “Apa kamu mengancamku?”
“Aku tidak pernah bermain-main dengan ucapanku.”
“Jika nona muda bersikeras kabur dari rumah, maka jangan salahkan tuan Barra bertindak di luar pikiran nona muda.” Sambung Santo berdiri di belakang tubuh Barra.
‘Kenapa aku merasa takut kepada perkataan mereka berdua. Aku harus bagaimana ya, Allah. Oh, ya! Hampir lupa, bukannya aku masih ada tugas mengungkap TEROR MAHAR MEWAH. Kalau begitu aku harus kembali, aku harus segera membongkar kedok mereka berdua, meski nyawaku jadi taruhannya.’ Batinku.
Aku hampir lupa dengan niat untuk mengungkap siapa pembunuh dari setan yang terus meneror diriku, sesuai kata Pak Ustad, aku harus bertanya kepada Barra tentang semua Mahar perhiasan yang diberikannya kepadaku. Karena menurut Pak Ustad, setan itu pasti ada sangkut pautnya dengan Mahar perhiasan yang di berikan Barra olehku. Maka semenjak Pak Ustad berkata seperti itu, aku tidak lagi memakai perhiasan pemberian Barra.
“Apakah jika aku kembali ke sini kalian tidak akan menyakiti ku?” Tanyaku, kedua kaki naik ke atas teras.
“Tergantung sikap kamu kepadaku.” Sahut Barra datar, tangan kanan mengulur. “Mari kembali kepadaku, aku janji tidak akan menyakiti kamu, asal kamu…”
“Asal aku kenapa?” Tanyaku langsung memutus ucapan Barra, kedua kaki perlahan melangkah mendekati Barra.
“Asal kamu patuh kepadaku.” Tangan kanan terus mengulur. “Mari genggam tangan kananku, dan kita tidur karena hari mulai larut.” Ajak Barra dengan lembut.
Aku menerima uluran tangan Barra, berusaha percaya dengan perkataannya, dan satu lagi aku berharap bisa cepat menyelesaikan semua teror ini. Dan aku harus segera mengungkap siapa Barra.
Barra langsung menggendong tubuhku. “Mari kita tidur.” Ucapnya lembut.
Aku mengalungkan tangan kanan dan kiriku di kedua bahunya. Kedua mata menatap wajah Barra yang terlihat dingin, aku mengulurkan sedikit kepalaku melihat Santo yang masih berdiri di depan pintu. Aku melihat Santo melambaikan tangan kanannya, bibir tersenyum lebar menampakkan jejeran gigi putih miliknya kepadaku. Lambaian dan senyuman penuh maksud.
“Sungguh mengerikan.” Gumamku pelan.
“Siapa yang mengerikan?” Tanya Barra yang mendengar ucapanku. Tapi kedua kaki tetap melangkah menaiki anak tangga.
“Ti-tidak ada.” Sahutku gugup.
Barra mengghentikan kedua kakinya di depan pintu. “Buka pintu.” Ucapnya menyuruh diriku membukakan pintu kamar.
“Ba-baik.” Sahutku, mengulurkan tangan kanan mendorong gagang pintu kamar.
“Malam ini aku ingin tidur nyenyak bersama boneka ke sayanganku. Jadi aku harap ketika aku membuka kedua mataku, boneka itu harus tetap berada di sisiku.” Ucap Barra dengan nada suara datar.
“Siapa boneka kamu?”
Barra meletakkan tubuhku di atas ranjang, ia menundukkan sedikit tubuhnya, tangan kanan membelai lembut rambut panjangku. “Kamu adalah bonekaku.” Barra membelai puncak kepalaku, kemudian mencengkram erat puncak kepalaku, membuat wajahku mendongak ke atas. “Jadi tidak ada hak buat seorang boneka lari dari pemiliknya kecuali, pemiliknya ingin membuangnya.”
“Ah! Sakit.” Keluhku merasa sakit saat genggaman tangan Barra semakin kuat mencengkram rambutku.
“Sakit ya?” Barra perlahan melepaskan genggaman tangannya, tangan kanan membelai lembut wajahku, wajah dan tatapan datar dan dingin menatap wajahku. “Agar kamu tidak merasakan sakit, kamu harus patuh.”
“Ba-baik.” Sahutku dengan suara gemetar, air mata perlahan menetes dari kedua mataku. “Tolong, Anda juga harus percaya kepada ku jika aku di teror setan wanita itu dan setan yang menjelma menjadi Pak tua.”
Barra naik ke atas ranjang, menarik tubuhku, dan membawaku tertidur di bawah ketiaknya. “Itu hanya SETAN. Kenapa kamu takut dengan SETAN. Setan itu tidak bisa membunuh kamu, mereka hanya berkeliling untuk menakuti manusia yang lemah, seperti kamu.”
“Tapi Anda tidak pernah melihatanya langsung.” Aku meletakkan tangan kananku di depan dada. “Hanya aku yang bisa melihatnya langsung.”
“Sudah. Kamu tidur cepat, agar tubuh kamu bisa kembali pulih supaya bisa cepat melayaniku lagi.”
Aku mengalihkan pandanganku, kedua mata menatap jari-jemari tangan kanan Barra yang terlihat tegap dan panjang. Otak kecil kembali memunculkan kejadian di mana jari-jemari itu yang menyebabkan calon anakku keluar dari tubuhku. Bukan itu saja, mobil yang di lajukan dengan kencang membuat tubuhku berguncang cukup kuat sehingga membuat perutku ikut terguncang hebat dan terjadi pendarahan.
Kedua mataku membesar saat melihat tangan Barra bergerak seperti hendak memeluk tubuhku, namun dengan cepat kedua tanganku menahan lengannya dan membuat Barra terbangun.
“Kenapa kamu menahan lenganku?”
“Lengan Anda terlalu besar dan berat sehingga membuat aku kesulitan bernafas.” Sahut ku berbohong. Di dalam hatiku berkata, ‘Aku benci tangan kamu, karena salah satu jari-jemari dari tangan kanan kamu dan sikap psikopat kamu, aku kehilangan calon bayi yang ada di dalam kandunganku.'
Barra memiringkan tubuhku membelakangi dirinya, tangan kanan menari tubuhku masuk ke dalam pelukannya. “Makanya aku minta kepada kamu, aku harus patuh kepadaku.”
“Baik.” Sahutku patuh.
“Sudah. Mari tidur.”
“Hem.”
Aku pun memutuskan untuk patuh , aku mengikuti perkataan Barra. Bukan karena takut, alasanku patuh karena tubuhku terasa lemah dan butuh istirahat.
.
.
💤💤Di alam mimpi Barra.💤💤
Barra terus berlari dan berlari di gelapnya malam, kanan kiri jalan di penuhi pohon, serta burung hantu yang terus terdengar di setiap langkahnya.
“Pergi! Pergi kamu.” Ucap Barra, kedua kaki terus berlari, keringat jagung mengalir di seluruh tubuh dan wajahnya. Wajah panik berselimut ketakutan tersirat di wajahnya.
“KEMBALIKAN. KEMBALIKAN SEMUA YANG KAMU AMBIL DARI KU.”
Teriak SETAN wanita tanpa wujud menggema di kedua telinga Barra.
Barra segera menutup kedua telinga, menghentikan kedua kakinya di tengah jalan, kepala mendongak ke atas. “Keluar kamu SETAN ja…lang. Jangan beraninya berteriak tanpa menampilkan wujud kamu.”
“HAHA…..HAHA.”
Suara tawa yang cukup nyaring menggema di udara.
Barra kembali berlari, bibir terus mengumpat. “Dasar SETAN.”
Swwiishhhh!!!
Angin kencang datang dari depan, membuat tubuh Barra yang tadinya berlari kini harus terhenti. Barra menyimpulkan kedua tangannya, menghalau angin topan yang ingin menerbangkan tubuhnya. “Kamu pikir aku takut.”
Grep!
Angin yang begitu kencang tiba-tiba menghilang, setan tersebut muncul dihadapan Barra, kedua kulit tangan mengelupas menggenggam erat jenjang leher milik Barra. Setan tersebut mendekatkan wajahnya, belatung terlihat berjalan keluar masuk dari kulit wajah yang hancur dan bernanah, bola mata hendak keluar, kepala miring ke kanan dan ke kiri menatap wajah Barra yang hampir kehilangan nafas.
Barra menggeliat, kedua tangan berusaha melepaskan genggaman tangan setan tersebut. “Ter-nyata ka-mu pe-laku-nya. Ka-mu pikir aku takut.”
.
.
🍃🍃Di alam nyata. 🍃🍃
Aku menjadi panik dan bingung melihat Barra menggeliat di atas ranjang, kedua tangan Barra menggenggam erat jenjang lehernya sendiri. Aku tak tahu harus bagaimana lagi, kedua kakiku berlari keluar kamar, dan bibirku berteriak.
“Santo. Tolong. Barra mencekik dirinya sendiri.”
...Bersambung ...
makanya datang terus meneror
sereeeemmm