"Tugasmu mengambil hati anakku, bukan hatiku."
Aqeel Hafshan, seorang Mafia yang menjadi incaran para penjahat di dunia kriminal. Demi melindungi istrinya, Aqeel merahasiakan keberadaan istrinya dan menyembunyikannya di negeri asal sang istri, Indonesia.
Aqeel tidak mau memiliki anak dari siapapun, termasuk dari Maura, istrinya. Saat Maura hamil, Aqeel menyuruh istrinya menggugurkan anaknya. Karena mendapati penolakan dari sang istri, Aqeel yang kesal memutuskan untuk tidak pernah melihat wajah sang anak, sampai sang anak berusia 5 tahun.
Maura hilang secara misterius dan dikabarkan terbunuh. Setelah terpuruk selama dua tahun Aqeel memutuskan untuk menjadi Daddy yang baik untuk Aqilah, putrinya yang sudah dia telantarkan selama tujuh tahun karena benci dengan kehadiran seorang anak.
Karena Aqilah kecil kesepian, Aqeel ingin mencarikannya seorang Ibu. Hanya seorang Ibu untuk Aqilah, tanpa Aqeel nikahi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olla304, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35
“Padahal sudah kutegaskan ada cara lain, kenapa lelaki itu lebih memilih cara yang membunuh satu nyawa ini?” Dr. Fadli terlihat heran. Lelaki itu menghembuskan napas bingung. Alif yang mendengarkannya terlihat memaklumi.
“Sejak awal, Tuan kami memang tidak menginginkan bayi itu.”
“Apa dia tidak akan berubah pikiran?”
“Kita tunggu Nyonya Maura sadarkan diri. Tuan kami hanya mencabut kalimatnya jika Nyonya Maura yang membujuknya dengan rayuan dan cumbuan. Hanya berlaku hal itu. Selain itu, dia tidak akan mendengarkan.”
“Susah juga,” Dokter Fadli mengacak rambut. “Yang menjadi pertanyaannya kapan Buk Maura sadarkan diri? Sebelum itu, Tuan kalian mungkin sudah memaksaku untuk segera melakukan aborsi dan operasi.”
“Katakan saja kepada Tuan Aqeel, melakukan aborsi kepada wanita yang tak sadarkan diri beresiko kematian kepada sang Ibu. Maka, dia tidak akan memaksa dan mendengarkanmu. Paling untuk meredam diri, dia akan menggigit jari sampai berdarah.”
Dokter Fadli bergedik ngeri. Benar saja, saat dipaksa oleh Aqeel untuk segera melakukan aborsi dan mempercepat operasi, setelah dikatakan seperti itu, Aqeel tidak berkutik lagi. Lelaki itu duduk di sebelah brankar Maura, memerintah istrinya untuk sadar sambil menangis, tidak lupa jempolnya yang berdarah karena digigit sekuat tenaga menjadi pelampiasan.
“Ancamkan menggunakan keselamatan istrinya, maka dia akan menurutimu.” Alif memberitahu. Fadli mengeluarkan buku catatannya dan mencatatnya, mungkin berguna suatu saat jika mereka bertemu kembali di lain waktu. Untuk memoroti uangnya—maksudnya, jika mereka terjebak antara status pasien dan dokter lagi.
***
Maura sadarkan diri. Tangannya yang bergerak disadari oleh Aqeel untuk pertama kali. Tanpa menanti mata Maura terbuka lebih dulu, kedua tangan besar Aqeel sudah membingkai wajahnya. Lalu menciumi kening dan wajah istrinya. “Hei, hei. Kamu sudah sadar, wanita?” Aqeel mengecup bibirnya saat mata Maura terbuka sempurna. Maura mengerjap, saat pemandangan di matanya jelas, wanita itu mengangguk. Aqeel menciumi bibirnya bertubi-tubi.
Maura menghirup napas banyak-banyak, kedua tangan lemasnya melingkari tubuh Aqeel.
“DOKTER! DOKTER!” Aqeel meraung-meraung memanggil tenaga medis. Dokter Fadli datang lebih dulu, wajahnya terlihat lega saat mendapati Maura sudah sadarkan diri. Wanita itu terlihat begitu lelah, terlebih lagi tubuh suaminya yang tidak segan memeluk dan menindihnya.
“Lakukan aborsi,” di depan Maura, Aqeel mengatakannya begitu saja kepada Dokter Fadli. “Lalu laksanakan operasi.”
“Suamiku?” Mata Maura berkaca-kaca. Meskipun tubuhnya masih lemas, dengan jelas Maura bisa mendengarkan apa yang lelaki itu katakan.
“Tidak bisa sekarang, Pak—” Fadli melirik Maura kasihan. Sebagai seorang Ibu, wanita itu begitu terluka. “Kita harus menunggu Buk Maura memulihkan tenaga.”
Aqeel terlihat keras kepala. Dia ingin mendengar kabar Maura baik-baik saja di ke depannya, secepat mungkin. Teringat perkataan Alif, Fadli langsung menggunakan kalimat ajaib itu. “Jika dipaksakan sekarang, nyawa istri Anda terancam.” Aqeel langsung bungkam, mulutnya yang sempat terbuka langsung terkatup rapat.
“Apa maksudnya, suamiku?” Maura berusaha menggapai tangan Aqeel. Tapi terlalu jauh, Maura hanya bisa melambai di angin.
Aqeel mengusap keningnya. Seharusnya lelaki itu mengusap perutnya. “Demi keselamatanmu wanita, kita relakan
bayi itu. Ya?” Aqeel berusaha membujuknya.
“Kamu sudah bersumpah akan menyayangi anak kita—” Maura mengungkitnya, wanita itu terisak.
“Aku bersumpah jika sebaliknya bocah itu tidak akan membahayakan nyawamu. Tapi demi melakukan operasi, kita harus merelakannya.” Aqeel yang begitu bersyukur Maura sadarkan diri menciumi kening dan wajah istrinya. Lelaki itu menempelkan kedua mereka, untuk menghangatkan pipi dingin Maura yang pucat.
“Memangnya ada apa denganku?” Tangis Maura meledak. Wanita itu memukul-mukul dada Aqeel kuat.
“Kamu harus melakukan operasi, wanita. Luka dalam di rahimmu harus segera ditangani. Dengan cara merelakan bayi itu … aku tidak mau kehilanganmu. Ya?” Aqeel masih membujuk. Suaranya begitu lunak. Tapi sebagai Ibu, mana mungkin Maura menerimanya? Sebagai Ayah, seharusnya Aqeel juga menolaknya.