Kayla Wiranata dan Fatin Azahra adalah dua orang sahabat. Mereka bersahabat sejak belia ketika orang tua mereka bertugas sebagai diplomat di Prancis. Perpisahan mereka karena mengikuti tugas orang tua sebagai diplomat tidak lantas membuat persahabatan mereka putus.
Mereka masih menjadi sahabat dekat hingga keduanya menikah dengan pasangan masing-masing. Ketika Kayla menyadari usianya tak panjang lagi, ia memohon Fatin untuk menikah dengan suaminya, Rayyan Rajendra.
Apakah Fatin bersedia menikahi suami sahabatnya sendiri?
***
Hallo! Ini novel pertamaku, Freya Alana, semoga suka yaaa….
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Freya Alana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: H +1
Malam itu Kayla masih sulit memejamkan mata. Pikirannya melayang ke Rayyan.
“Mas, lagi apa kamu? Aku harap Fatin bisa bikin kamu bahagia …” Ada rasa perih dalam dada membayangkan bagaimana Rayyan memperlakukan Fatin di tempat tidur.
Dalam diam Kayla berusaha mengusir rasa sakit yang perlahan merayapi relung hatinya. “Kay, inget ini kamu yang mau, harus kuat demi anak-anak …” Ucapnya menghibur diri.
Kayla lalu menarik selimut lalu memeluk erat Kira.
***
Rayyan baru selesai sholat malam. Pikirannya melayang ke Kayla.
“Kamu udah tidur belum, cantik? Mas pengin sama kamu, pengin peluk kamu …” Batinnya sambil menghela napas.
Sedari tadi Rayyan tidak bisa tidur, berkali-kali diraihnya hape untuk menelepon Kayla. Ia perlu mendengar suara wanitanya, satu-satunya wanita yang sangat ia cintai.
Ada rasa takut. Apakah Kayla berpikir ia sedang bersama Fatin? Bagaimana sikap Kayla terhadapnya?
“Ya Allah, Kay, hanya kamu yang aku mau …” rintihnya lagi.
Rayyan mengambil kitab yang selalu dibawanya ke mana-mana. Dilafadzkannya ayat-ayat suci dengan kesungguhan, menghamba kepada Sang Kuasa untuk menuntun langkahnya.
Tak tahan, Rayyan meraih hapenya lalu mengirimkan pesan, “Cantik, udah tidur?”
Tidak ada balasan. Rayyan mengusap wajahnya dengan putus asa. Hatinya gundah. Ia kemudian menadahkan tangan untuk memohon.
“Ya Allah, Engkaulah penguasa langit dan bumi. KepadaMu hamba bersimpuh, memohon ampun atas segala dosa. Ya Allah, Engkaulah pemilik hati, Engkaulah yang paling tahu apa yang hamba rasakan saat ini. Betapa besar keinginan memeluk istri hamba, melindunginya, mengatakan bahwa hanya dialah yang hamba cinta.”
Setetes air mata turun dari sudut matanya.
“Ya Allah, kini Kau titipkan Fatin pada hamba. Di saat hati dan cinta hamba hanya untuk Kayla. Bimbinglah hamba untuk tidak akan menyakiti salah satu bahkan keduanya, ya Allah. Sungguh jika ini ketetapanMu, berikanlah petunjuk agar kami semua selalu dalam keikhlasan. Ya Allah, berilah kesembuhan untuk istri hamba, janganlah kau berikan rasa sakit barang sedikit pun padanya. Engkau pencipta segala dzat, sayangilah kami, berkahilah setiap langkah kami. Aamiin Ya Rabb …”
Rayyan mengambil kunci mobilnya. Tidak berapa lama ia sudah dalam perjalanan pulang.
***
Pukul dua dini hari. Fatin baru selesai mengirimkan beberapa desain kalung ke Marc. Setelah menghabiskan kopi ia membereskan buku sketsa, pensil gambar, dan mematikan laptopnya.
Setelah berganti baju piyama ia berdiri di depan jendela. “Kak Ale, I wish you were here. I miss you more than ever,” ucapnya lirih sembari memandang ibu kota yang mulai meredup.
Fatin memasang alarm hape setengah jam sebelum subuh lalu merebahkan dirinya. Pikirannya melayang ke kehidupannya kini sebagai istri kedua Rayyan Rajendra.
“Ya Allah, gimana aku ke depannya, ya?” Batinnya.
***
Flash back on
“Denger ya Kayla Wiranata, jika di dunia ini cuma tinggal ada aku sama Rayyan, aku mending jadi pohon dari pada nikah sama dia!” Ucap Fatin dengan nada tinggi.
“I will not marry Fatin. So cut it, Kay. Kita nggak akan ngomongin ini lagi!” Ucap Rayyan dengan nada keras.
Fatin bangkit lalu mengambil tasnya hendak meninggalkan Kayla dan Rayyan.
“This is too much, Kay. I just can’t. Ray, tolong sadarin dulu istri lu, deh. Bye guys …” Fatin pergi dengan wajah kesal.
Kayla menatap punggung sahabatnya yang melangkah ke luar dari ruang perawatannya.
Kemudian ia mengalihkan pandangannya ke manik Rayyan.
“Mas, maafin Kayla karena punya permintaan yang berat …”
Rayyan yang masih kesal luruh mendengar suara lembut istrinya. Ia bergeser ke samping Kayla yang kemudian memeluk dan bersandar ke dada bidangnya.
“Kay … Mas nggak bisa ngomong. Bingung, Mas,” ujarnya pelan sambil mengelus-elus pundak istrinya.
“Ketakutan terbesar Kayla adalah meninggalkan Mas dan anak-anak. Tiap kali Kayla merasa lemah, selalu ingat Mas dan anak-anak. Itulah yang membuat Kayla kuat dan semangat. Perjuangan Kayla hanya untuk kalian …” Kayla menghapus air mata turun di wajahnya.
“Kayla tapi nggak bisa tau ini kanker bakal kayak apa. Terus kalau Kayla nggak bisa ngelawan dan akhirnya harus pergi … gimana kamu, Mas? Gimana anak-anak?”
Rayyan mengeratkan pelukannya, hatinya teriris memikirkan hidup tanpa Kayla, istri dan ibu dari anak-anaknya.
Kayla meneruskan, “Mungkin bener yang Fatin bilang, Kay udah kena mental. Hanya saja ketakutan terbesar seorang ibu adalah meninggalkan anak-anaknya. Lalu … lalu siapa yang akan mengasuh mereka. Lalu … kalau kamu memutuskan untuk menikah lagi, apakah wanita itu bisa tulus sayang sama anak-anak kita, Mas?”
Rayyan mendengarkan dengan seksama keluh kesah istrinya. Paham dengan ketakutan seorang ibu jika harus meninggalkan anak-anaknya.
“Kay, kamu janji berjuang terus ya. Dr Kim bilang kekuatan psikis seseorang sangat berpengaruh pada kekuatan fisik. Aku pengin sama kamu terus sampai tua,” ucapnya sambil mencium pucuk kepala istrinya yang mulai ditumbuhi rambut.
“Aku juga pengin, Mas. Aku udah mohon ketenangan biar nggak waswas. Tapi pikiran itu selalu balik lagi.”
“In syaa Allah apapun yang terjadi, selalu ada jalan terbaik dari Allah. Kamu harus pasrah, cantik, percaya bahwa Allah pasti jagain anak-anak kita lewat aku,” ucap Rayyan lembut.
***
Rayyan sudah berada di gerbang rumahnya. Dulu rumah ini tidak sebesar dan semegah sekarang. Bersama Kayla sedikit demi sedikit membangun rumah tangga dan bisnis.
Lulus sebagai seorang desainer dari universitas ternama di Amerika membuatnya mendapat tawaran bagus untuk bekerja di konsultan desain terkemuka. Di sana ia belajar bukan sekedar mendesain namun memahami bisnis dari klien-kliennya.
Dalam waktu singkat ia menjadi Associate Creative Director karena para klien suka dengan strategi-strategi yang dibuat oleh Rayyan. Bahkan tidak sedikit klien yang booming setelah dipegang oleh Rayyan. Berbagai penghargaan sering ia peroleh termasuk sebagai Associate Creative Director termuda berprestasi saat itu.
Keluarga Rayyan memiliki usaha perhotelan. Ayah Dirga mendirikan hotel-hotel keluarga yang kecil namun eksklusif. Sekembalinya Rayyan dari Amerika, ayah Dirga memintanya melakukan kajian ulang terhadap strategi bisnisnya.
Lama kelamaan Rayyan tertarik untuk lebih menekuni bisnis keluarganya. Walaupun demikian, Rayyan masih sangat ragu meninggalkan pekerjaannya yang sudah mapan dengan fasilitas kesejahteraan yang lebih dari cukup untuk dirinya dan Kayla.
Istrinyalah yang menyemangati untuk membantu Ayah Dirga di perusahaan keluarga yang waktu itu belum terlalu besar.
“Kita bisa ngirit kok, Mas. Aku juga kan ada fasilitas kesehatan dari kantor, jadi masih aman. Paling levelnya aja turun dikit, nggak apa-apalah. Menurut aku kerja itu harus juga dengan passion. Maka aku dukung kamu 1000% buat bantuin ayah,” ucap Kayla yang membuat Rayyan semakin yakin melangkah.
Dengan kesabaran dan ketekunan serta saling cinta yang mendalam, keduanya berjuang. Rayyan berhasil melebarkan sayap usaha perhotelan ayahnya, tidak hanya hotel-hotel namun juga resort. Jiwa mudanya yang berani mengambil risiko membuatnya merambah juga bisnis restoran waralaba.
Kayla juga menapaki karir sebagai Brand Manager untuk sebuah minuman bersoda. Kecerdasannya, kepribadiannya, dan kemampuan bahasanya membuat Kayla banyak juga mendapat tawaran pekerjaan.
Rezeki datang bukan hanya dalam bentuk finansial ketika akhirnya Kayla hamil Nayyaka. Dengan penuh cinta dan suka cita keduanya semakin bergandengan tangan menjalani suka duka kehidupan perkawinan.
Bagi Rayyan, istrinya adalah satu-satunya wanita pemilik hatinya. Wanita yang mengajarkannya bukan saja sebagai suami tapi sebagai imam. Rayyan dengan penuh cinta membimbing istrinya menjadi istri yang sholihah dan taat.
Perselisihan bukannya tidak pernah terjadi, tapi semuanya selesai dengan rasa sayang dan takut kehilangan.
“Kita nggak akan pernah tau, Kay, berapa waktu yang menjadi hak buat bersama. Maka dari itu kalau ada salah paham, segera kita selesaikan dengan cara yang baik, ya, Cantik.” Rayyan ingat kalimat yang diucapkannya ke Kayla agar tidak menunda dan menyimpan uneg-uneg atau ganjelan apapun dalam hati.
Rayyan tersadar dari lamunannya ketika melihat Mang Ujang keluar dari pos penjagaan dan mengenali mobil yang sengaja diparkir di seberang rumah. Mang Ujang membukakan pintu.
Tidak ingin istri dan anak-anaknya terganggu dengan bunyi mesin mobil, Rayyan keluar dari mobil dan berjalan masuk.
“Assalamualaykum Mang, Ibu dan anak-anak udah tidur?” Tanya Rayyan basa-basi.
“Waalaykumussalam, Pak. Tadi saya muterin rumah kamar Ibu udah gelap. Mobilnya saya masukin, ya?”
“Nggak usah, saya masuk dulu, ya …” Rayyan masuk dari pintu dapur setelah memasukkan kode pintu.
Rumahnya sudah gelap. Dengan perlahan ia mendekati kamarnya lalu membuka pintu untuk masuk. Berjingkat-jingkat masuk, Rayyan melihat Kayla yang tidur diapit Si Kembar, sementara Nayyaka tidur di sofa.
Rayyan terus berjingkat hingga bisa memandang wajah istrinya yang sudah tidur walau terlihat belum pulas. Dari dulu sampai sekarang, walau tubuh wanita itu semakin habis digerogoti penyakitnya, tidak pernah Rayyan bosan menikmati wajah Kayla.
Kira tiba-tiba membuka matanya. Rayyan kemudian berlutut di sisi tempat tidur anaknya lalu meletakkan jari telunjuk di bibirnya.
Sambil mengangguk Kira meluruskan tangannya minta digendong. Rayyan menggendong dan memeluk erat salah satu buah hatinya.
Kira berbisik, “Kata Mama, malam ini Papa pergi sama Bunda Fatin. Kok Papa di sini?”
“Iya, Papa kangen.”
“Oooh. Pa, Kira ngantuk, pengin bobo lagi.”
Rayyan melihat wajah anaknya yang menguap mengeluarkan bau mulut anak kecil yang disukainya. Diciumnya pipi gembil itu lalu perlahan ditidurkan di samping ibunya.
Kira langsung terlelap begitu kepalanya menyentuh bantal lembut.
Rayyan mencium perlahan Jana dan Nayyaka. Sebelum keluar, ia kembali menikmati wajah istrinya yang kini sudah terlelap, lalu berjingkat keluar.
Tak berapa lama ia sudah dalam perjalanan menuju hotel.
***
Kayla bangun menjelang Subuh. Setelah semalam tidurnya kurang pulas, badannya pegal-pegal. Ia merasa bermimpi melihat Rayyan menggendong Kira.
“Ah mungkin aku aja yang masih kepikiran. Aku harus membiasakan bukan lagi menjadi satu-satunya pemilik dan yang dimiliki Mas Rayyan,” batinnya sambil menghela napas panjang.
Kayla melihat anak-anaknya masih pulas. Ia bangkit untuk membenarkan letak selimut Nayyaka yang sedikit tersingkap. Lalu mengambil air wudhu.
“Fat, semoga kamu sekarang senang bisa sholat imaman lagi … aku tau kamu merindukan itu …”
***
Rayyan dan Fatin memutuskan untuk keluar dari hotel di pagi hari. Tanpa sarapan mereka langsung check out. Mereka berada di mobil dalam diam.
“Fat, nervous mau ketemu Kayla dan anak-anak, ya?” Tanya Rayyan setelah melirik raut wajah Fatin.
“Banget. Lu?” Balas Fatin sambip terus melihat ke jendela sampingnya.
“Asam lambung gue udah naik baru mikirin doang. Gue nggak sanggup liat Kayla. Pasti dia mikir kita semalam udah … itu.”
“Itulah yang gue pikirin juga. Sorry, Ray, it isn’t you, but I’ m beggining to regret our marriage. Nyesel gue. No hard feeling, tho.”
“None taken. Nda apa. Gue ngerti. Gue makasih banget lu mau masuk lebih dalam buat perjuangan Kayla.”
“Kita perlu bikin clear sama Kayla kali ya? Kalau kita sepakat untuk nggak ngelakuin hubungan suami istri,” ujar Fatin sambil menimbang-nimbang.
“Agree!” Rayyan mengangguk dengan tegas.
“Eiya Ray, sebaiknya gue tinggal di apartemen aja deh. Gue sih nggak kebayang apa yang Kayla pikirin. Emangnya dia beneran mikir kita bakal mau sekamar gitu?”
“Nanti moga kita bisa omongin ya. Eh btw semalem gue balik ke rumah. Sorry nggak ngasih tau. Gue kangen Kayla.”
“It’s okay. Untung kita bukan ala novel-novel romantis yak. Suami meninggalkan istri kedua di malam pertamanya. Istri kedua menangis meratapi suami kejam yang menikahi tanpa cinta …” Fatin terkekeh dengan narasi yang dikarangnya.
“Eh Fat, gue bikin lu sedih semalam?” Wajah Rayyan berubah pias mendengar seloroh Fatin.
“Enggak lah. Gue kerja sampe jam 2, terus tidur bentar, lalu bangun tahajud. Jam 6 lewattadi gue udah ke gym. Sorry gue ya nggak pamit ke gym,” jawab Fatin sambil cengengesan.
“Duh, Kay, kenapa sih harus maksa-maksa in aku sama Fatin nikah?” Gerutu Rayyan yang bingung dengan posisinya terhadap Fatin.
Sejatinya suami istri itu saling memberitahukan keberadaan. Apalagi istri yang wajib minta ijin kepada suami kemana pun ia pergi.
“Ray, itu ada Bubur Hana dah buka, beliin yuk Kayla sama anak-anak kan suka banget.” Fatin memotong pikiran Rayyan dengan ucapannya.
Setelah memarkir mobilnya Rayyan turun bersama Fatin yang langsung memesan 5 bubur ayam telor asin, hakau, dimsam, dan kulit tahu.
Rayyan tersenyum melihat Fatin yang sangat mengenal selera Kayla dan anak-anak.
“Ray, lu sukanya apa?”
“Gue pao ceker aja.”
“Eh sama, gue juga suka tuh.”
Rayyan membatin, “Ternyata cuma gue yang lu nggak tau kesukaannya apa.”
Rayyan kemudian berjalan ke kasir untuk membayar. Tak berapa lama mereka kembali meluncur ke rumah Rayyan dan Kayla.
***
Kayla sedang duduk di teras belakang rumahnya. Sengaja ia berhias diri di pagi itu, mengenakan pakaian rumah terbaik.
“Tumben Mamah di rumah pake lipstik sama bedak,” celetuk Nayyaka yang memang sangat perhatian kepada ibunya.
“Kan Papa pulang. Bunda Fatin juga, Bang,” ada sedikit rasa berdesir di dadanya yang langsung ditepis.
Nayyaka mengangguk lalu menyusul adiknya main di kolam renang. Halaman belakang rumah Rayyan dan Kayla memang luas. Rayyan membuat kolam renang supaya mereka tidak perlu berenang di kolam umum.
“Aku nggak mau aurat maupun lekuk tubuh kamu kelihatan. Cuma boleh aku yang liat,” cetus Rayyan ketika memutuskan membangun kolam renang pribadi.
“Aku juga nggak mau ya aset kamu dinikmati ciwi-ciwi. Semuanya punya aku …” Balas Kayla sambil mencebikkan bibirnya.
Mengingat kenangan itu Kayla menghela napas karena kini ia harus berbagi dada bidang dan tubuh suaminya dengan Fatin.
“Assalamualaykum, Cantik,” Kayla menoleh ke arah suara.
***
kopi Thor 👏🏼
pantas dia punya 2 kepribadian
Emre adalah korban 🙄
si Ray buang ke laut aje😂
egois juga suami istri ini👻😅
buat Fatin☕
imbas nya udah sampai ke ortu Fatin malah
gemes gue....
udah Fatin tinggalin saja 😂
bingung yg nga tau
setelah baca tak utuh😅