NovelToon NovelToon
Dijodohkan Dengan Pewaris Berbahaya

Dijodohkan Dengan Pewaris Berbahaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / CEO
Popularitas:993
Nilai: 5
Nama Author: Reyanza Rayyan Fahlevy

Pernikahan Yang Rumit, Cinta yang Rumit dan Hati yang juga ikut Rumit!!!!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3

Malam yang ditakuti itu akhirnya tiba, membawa atmosfer yang begitu menekan hingga sanggup meremukkan keberanian siapa pun. Sebuah mobil sedan hitam mewah meluncur membelah gerbang besi menjulang tinggi, memasuki kawasan kediaman utama keluarga Maheswara. Rumah itu lebih tepat disebut istana; megah, kokoh, namun memancarkan aura dingin yang mencengkeram.

Alyssa Carissa Pradipta duduk di kursi belakang di samping ibunya, Bianca, yang terus-menerus meremas saputangan dengan jemari bergetar. Di kursi depan, Adrian Pradipta menatap lurus ke depan dengan raut wajah kaku. Alyssa tahu, di balik jas rapi yang dikenakan ayahnya, ada ketegangan masif akibat beban rahasia telepon misterius siang tadi.

Aku harus tetap tenang, batin Alyssa, mengatur napasnya yang mulai terasa berat. Ia mengenakan gaun formal sederhana namun elegan, mempertegas siluet tubuhnya yang tegap, mencerminkan harga diri yang menolak untuk tunduk.

Begitu pintu mobil dibukakan, pelayan berseragam rapi menyambut mereka tanpa senyuman, menggiring keluarga Pradipta menuju ruang perjamuan utama. Di ujung meja panjang berbahan kayu mahoni yang berkilat, seorang pria paruh baya dengan setelan jas mahal sudah duduk menanti.

Mahendra Maheswara.

Pendiri Grup Maheswara itu memiliki sorot mata setajam elang yang sanggup menguliti lawan bicaranya dalam sekali pandang. Aura kekuasaan yang mutlak menguar dari tubuhnya. Di sampingnya, duduk Helena Maheswara, sang istri yang tampak lembut dan elegan, memberikan sedikit kontras kehangatan di ruangan yang sunyi itu.Namun, perhatian Alyssa sepenuhnya tersedot pada kursi kosong di sebelah Helena.

Pria itu belum datang, gumam Alyssa dalam hati, menyadari ketidakhadiran Alvaro.

"Selamat malam, Adrian. Silakan duduk," suara Mahendra menggelegar tenang, memecah keheningan. Nada bicaranya tidak terdengar seperti seorang sahabat yang ingin menolong, melainkan seperti penguasa yang sedang menyambut bawahannya.

Setelah makan malam yang berjalan dengan ketegangan yang mencekik selesai, Mahendra memberi isyarat halus. Para pelayan segera mengosongkan meja, menyisakan keheningan yang sarat akan intrik bisnis. Pria paruh baya itu menopang dagunya dengan kedua tangan yang saling bertautan, menatap langsung ke arah Adrian.

"Kita tidak perlu membuang waktu dengan basa-basi, Adrian," ujar Mahendra dingin. Ia menjentikkan jarinya, dan seorang sekretaris yang berdiri di kegelapan sudut ruangan langsung meletakkan sebuah dokumen tebal di tengah meja. "Itu adalah surat jaminan pengambilalihan seluruh utang piutang Grup Pradipta. Detik ini juga, jika aku menandatanganinya, keluargamu akan bebas dari jerat hukum dan kebangkrutan."

Adrian menelan ludah, matanya menatap dokumen itu dengan binar keputusasaan yang bercampur dengan ketakutan. "Dan... apa syarat mutlak yang Anda inginkan, Tuan Mahendra?"

Mahendra tidak langsung menjawab. Sepasang mata elangnya perlahan bergeser, mendarat tepat pada wajah Alyssa. Ia memperhatikan bagaimana gadis berusia 23 tahun itu membalas tatapannya dengan berani, tanpa ada kilat ketakutan seperti yang biasa ia lihat pada orang-orang yang berhadapan dengannya. Mahendra tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh dengan kalkulasi bisnis.

"Syaratnya sangat sederhana," ucap Mahendra, nadanya datar namun setiap kata yang keluar menghentak dinding ruangan. "Putri sulungmu, Alyssa Carissa Pradipta, harus menikah dengan putra mahkotaku. Alvaro Regantara Maheswara."

Deg.

Meskipun sudah mengetahui hal ini sejak semalam, mendengar syarat gila itu diucapkan langsung oleh mulut sang penguasa tetap membuat dada Alyssa bergemuruh hebat. Pernikahan kontrak ini nyata. Ia diminta menyerahkan seluruh hidup dan masa depannya kepada seorang pria yang bahkan belum pernah ditemuinya seumur hidup.

"Tuan Mahendra, ini terlalu berlebihan!" Bianca tidak dapat menahan diri lagi, suaranya melengking menahan tangis. "Ini bukan bantuan, ini adalah pemaksaan! Putra Anda... Alvaro... semua orang tahu bagaimana tabiatnya di luar sana!"

"Bianca, diamlah," bisik Adrian dengan wajah pucat, mencoba menenangkan istrinya namun matanya sendiri bergerak gelisah, teringat akan instruksi si penelepon misterius yang memintanya melakukan sesuatu di rumah ini.

Mahendra tidak memedulikan protes Bianca. Tatapannya tetap terkunci pada Alyssa. "Alvaro adalah pewaris tunggal seluruh kekayaanku. Dia cerdas, kejam, dan ditakuti di dunia bisnis. Namun, dia membutuhkan seorang istri yang tidak hanya sekadar pajangan. Dia membutuhkan wanita yang cerdas dan memiliki mental baja untuk berdiri di sampingnya di tengah pusaran konflik korporasi. Dan aku melihat potensi itu ada di dalam dirimu, Alyssa."

Alyssa mengepalkan tangannya di bawah meja, meremas kain gaunnya kuat-kuat. Sifat beraninya bergolak. Ia tahu ini adalah sangkar emas yang mematikan. Alvaro Regantara Maheswara dikenal sebagai predator dingin yang tidak pernah memberikan kesempatan kedua pada musuhnya. Menikah dengan pria seperti itu sama saja dengan menyerahkan lehernya ke pisau jagal.

Namun, saat Alyssa melirik ke arah ayahnya yang tampak hancur, dan ibunya yang terus menangis, ia tahu ia tidak memiliki kemewahan untuk memilih.

Alyssa menarik napas dalam-dalam, menegakkan punggungnya, lalu menatap lurus ke dalam mata Mahendra Maheswara.

"Jika aku menerima tawaran ini," suara Alyssa terdengar jernih, tegas, dan sama sekali tidak bergetar, membuat Mahendra sedikit terkejut dengan keberanian gadis itu. "Aku ingin jaminan tertulis bahwa hitam di atas putih, Grup Pradipta akan kembali pulih sepenuhnya tanpa ada campur tangan atau tekanan terselubung dari pihak Maheswara di masa depan."

Mahendra terkekeh rendah, suara tawa yang sarat akan kepuasan. "Kau benar-benar menarik, Alyssa. Deal. Surat perjanjian pernikahan kontrak ini akan segera disusun sesuai permintaanmu."

Malam itu, di bawah lampu kristal yang megah namun terasa menyesakkan, Alyssa telah resmi menggadaikan kebebasannya. Ia telah melangkah masuk ke dalam permainan catur keluarga Maheswara. Di tengah ketegangan itu, Alyssa tahu, badai sesungguhnya baru akan dimulai ketika ia harus berhadapan langsung dengan sang Pewaris Berbahaya yang kini memegang kendali atas takdir hidupnya.

...****************...

Helena Maheswara yang sejak tadi terdiam, perlahan meletakkan cangkir tehnya. Wanita anggun itu menatap Alyssa dengan pandangan yang sulit diartikan ada secercah rasa simpati sekaligus kekaguman atas keberanian yang ditunjukkan gadis muda di hadapannya.

"Alyssa," panggil Helena lembut, suaranya kontras sekali dengan nada bicara suaminya yang mengintimidasi. "Pernikahan ini mungkin terdengar mengerikan bagimu saat ini. Tapi ketahuilah, sebagai seorang ibu, aku hanya menginginkan yang terbaik untuk putraku. Alvaro mungkin terlihat keras di luar, tapi..." Helena menggantung kalimatnya, seolah ada rahasia besar yang hampir lolos dari bibirnya sebelum ia kembali tersenyum tipis. "Kuharap kau bisa memahaminya nanti."

Mahendra langsung berdeham keras, memotong kalimat istrinya sebelum melangkah lebih jauh. Pria paruh baya itu kembali fokus pada dokumen di hadapannya. "Sekretarisku akan mengirimkan draf final kontrak pernikahan ini ke alamat email-mu besok pagi, Alyssa. Di sana akan tertera semua hak dan kewajibanmu sebagai istri dari Alvaro, termasuk pasal mengenai pemulihan total Grup Pradipta."

Sementara itu, fokus Alyssa mendadak teralih ketika ia melirik ke arah ayahnya. Adrian Pradipta tampak bergerak gelisah di kursinya. Keringat dingin terlihat menetes di pelipis pria itu. Tangan Adrian diam-diam meraba saku jasnya, tempat ia menyembunyikan ponselnya sejak pagi tadi.

Ayah sedang mencari kesempatan, batin Alyssa tajam. Sifat jeli dan intuisinya langsung bergolak. Ia mengingat kembali peringatannya pada Keira dan analisisnya bersama Clarissa siang tadi. Ada sesuatu yang harus dilakukan ayahnya di rumah ini demi si penelepon misterius.

"Tuan Mahendra," Adrian tiba-tiba angkat bicara dengan suara yang sedikit parau, mencoba mengalihkan perhatian seisi ruangan. "Bisakah saya izin ke kamar kecil sebentar? Perut saya mendadak terasa kurang nyaman."

Mahendra hanya mengangguk acuh sambil melambaikan tangan, memberi isyarat pada salah satu pelayan untuk mengantarkan Adrian.

Alyssa memperhatikan punggung ayahnya yang bergerak menjauh dari ruang perjamuan. Jantungnya berdegup kencang. Ia tahu ini adalah momen krusial. Jika ayahnya melakukan tindakan ceroboh yang melanggar hukum di dalam rumah penguasa bisnis ini, maka kesepakatan pernikahan yang baru saja ia setujui untuk menyelamatkan keluarganya akan menjadi sia-sia.

"Ibu, aku akan menemani Ayah sebentar. Takut Ayah membutuhkan obatnya," bisik Alyssa pada Bianca yang masih tampak syok di sampingnya. Tanpa menunggu jawaban ibunya, Alyssa segera bangkit berdiri.

"Tuan Mahendra, Nyonya Helena, saya permisi sebentar," pamit Alyssa dengan sopan namun tegas, mempertahankan pembawaan dirinya yang berani.

Mahendra hanya menatapnya dengan sebelah alis yang terangkat, sementara Helena mengangguk ramah. Alyssa segera melangkah cepat keluar dari ruang makan yang menyesakkan itu, mengikuti arah ke mana ayahnya pergi.

Lorong-lorong kediaman Maheswara begitu luas dan berliku, dilapisi karpet tebal bernuansa gelap yang meredam setiap derap langkah kakinya. Ketika Alyssa berbelok di salah satu sudut koridor yang sepi dekat ruang kerja utama Mahendra, ia menangkap siluet ayahnya.

Adrian tidak sedang berada di depan kamar kecil. Pria itu berdiri di dekat sebuah pintu ganda kayu jati yang tertutup rapat, membelakangi Alyssa. Dengan tangan yang gemetar hebat, Adrian sedang memegang ponselnya, mengarahkan kamera ke arah beberapa berkas dokumen yang sengaja diletakkan di atas meja konsol di koridor tersebut, atau mungkin mencoba mengakses kunci digital ruang kerja Mahendra.

"Ayah!" bisik Alyssa dengan nada tertahan namun sarat akan penekanan yang mendesak.

Adrian tersentak hebat hingga hampir menjatuhkan ponselnya. Ia membalikkan badan dengan wajah yang memucat pasi, menatap putri sulungnya dengan tatapan penuh ketakutan yang tertangkap basah. Permainan petak umpet ini akhirnya pecah di hadapan Alyssa, tepat di jantung pertahanan sang Pewaris Berbahaya.

...****************...

"A-Alyssa..." Adrian terbata-bata, buru-buru menurunkan ponselnya dan menyembunyikannya di balik punggung. Napasnya memburu, sementara keringat dingin mengucur deras membasahi pelipisnya.

Alyssa melangkah mendekat dengan cepat, menepis jarak di antara mereka. Langkah kakinya yang tegas tanpa suara di atas karpet tebal kini terasa seperti ketukan vonis yang mendesak. Matanya melirik tajam ke arah ponsel yang digenggam erat oleh ayahnya, lalu beralih menatap lurus ke dalam manik mata pria paruh baya itu.

"Apa yang Ayah lakukan?" bisik Alyssa, suaranya merendah namun sarat akan penekanan yang mematikan. "Siapa orang di telepon itu, Ayah? Apa yang dia minta dari Ayah sebagai imbalan pelunasan utang?"

Adrian menggeleng kuat-kuat, wajahnya tampak kuyu dan ketakutan. "Kamu tidak mengerti, Alyssa. Ini... ini bisa menyelamatkan kita tanpa kamu harus mengorbankan dirimu menikah dengan putra Maheswara! Orang itu hanya meminta foto berkas proyek tender terbaru milik Maheswara yang ada di koridor ini. Hanya itu!"

"Hanya itu?!" Alyssa menahan napas, tidak percaya dengan jalan pikiran ayahnya yang sudah dibutakan oleh keputusasaan. "Ayah, ini namanya spionase bisnis! Jika Mahendra Maheswara atau putranya mengetahui hal ini, kita tidak hanya akan bangkrut, tapi Ayah akan mendekam di penjara seumur hidup! Mereka bisa menghancurkan kita dalam kedipan mata!"

Sifat berani dan kecerdasan Alyssa bergolak. Ia tahu betul reputasi Alvaro Regantara Maheswara. Pria itu dijuluki Pewaris Berbahaya bukan tanpa alasan. Dia kejam, tidak pernah memberi kesempatan kedua, dan akan mengejar siapa pun yang berani mengusik miliknya sampai ke lubang jarum. Menyamar sebagai pencuri data di dalam sarang serigala adalah tindakan bunuh diri.

"Berikan ponselnya padaku, Ayah," pinta Alyssa, mengulurkan tangannya dengan tegas. "Hapus semua fotonya sekarang juga."

"Tapi, Alyssa—"

"Berikan, Ayah!" potong Alyssa, tidak menerima bantahan.

Sebelum Adrian sempat menyerahkan ponsel tersebut, sebuah suara langkah kaki yang berat dan ritmis terdengar menggema dari ujung koridor yang berlawanan. Derap sepatu pantofel yang mahal itu terdengar begitu tenang, namun setiap ketukannya membawa tekanan atmosfer yang luar biasa pekat, seolah-olah udara di sekitar mereka mendadak membeku.

Tap. Tap. Tap.

Darah Alyssa mendadak berdesir dingin. Instingnya berteriak bahwa bahaya besar sedang mendekat. Ia dengan cepat menyambar ponsel dari tangan ayahnya, lalu menyembunyikannya di balik lipatan gaun anggun yang dikenakannya, tepat sesaat sebelum sebuah siluet tinggi tegap muncul dari balik belokan koridor yang remang-remang.

Pria itu berjalan dengan angkuh. Setelan jas hitam membungkus tubuhnya yang atletis dengan sempurna. Wajahnya yang luar biasa tampan tampak seperti dipahat dari batu es sempurna, namun tanpa ekspresi, dengan rahang yang tegas dan sepasang mata elang yang memancarkan kilat kejam sekaligus dingin yang mampu mengintimidasi siapa pun yang berani menatapnya.

Aura predator yang mutlak menguar dari setiap jengkal pergerakannya.

Alyssa terpaku di tempatnya berdiri, jantungnya berdegup kencang menghantam dada. Tanpa perlu diperkenalkan, ia tahu siapa sosok yang berdiri di hadapannya sekarang. Pria berumur 28 tahun yang ditakuti seluruh dunia bisnis, pria yang diam-diam menyimpan luka masa lalu yang misterius, dan pria yang beberapa menit lalu baru saja resmi menjadi calon suaminya.

Alvaro Regantara Maheswara telah tiba.

...****************...

Alvaro menghentikan langkahnya tepat beberapa meter di depan Alyssa dan Adrian. Sepasang manik mata gelapnya yang setajam belati menyapu koridor remang-remang itu, lalu mendarat tepat pada posisi berdiri Adrian yang terlalu dekat dengan meja konsol dokumen, sebelum akhirnya terkunci pada Alyssa.

Atmosfer di sekitar mereka seketika berubah mencekik. Dingin, kaku, dan penuh dengan intimidasi yang tidak kasat mata.

"Tuan... Tuan Muda Alvaro," sapa Adrian dengan suara yang bergetar hebat. Pria paruh baya itu membungkukkan badannya sedikit, mencoba menyembunyikan tangannya yang masih gemetar di balik saku jas.

Alvaro tidak menyahut. Ia bahkan tidak melirik Adrian sekilas pun. Pandangan matanya yang menguliti tetap tertuju pada Alyssa, memperhatikan bagaimana gadis berusia 23 tahun itu berdiri tegak, menolak untuk menundukkan kepala atau memalingkan wajah seperti kebanyakan orang yang gemetar di hadapannya.

"Sedang apa kalian di koridor pribadi milik ayahku?" tanya Alvaro. Suaranya bariton, berat, dan terdengar sangat datar, namun sanggup mengirimkan gelombang rasa ngeri yang nyata ke tengkuk siapa pun yang mendengar.

Alyssa menarik napas sedalam mungkin melalui hidungnya, mencoba meredam gemuruh jantungnya yang berpacu gila-gilaan di balik dadanya. Ia bisa merasakan bobot ponsel ayahnya yang tersembunyi di balik lipatan gaunnya sebuah barang bukti yang jika ketahuan, akan langsung mengirim seluruh keluarganya ke dasar neraka bisnis Maheswara saat ini juga.

Sifat berani dan kecerdasan Alyssa langsung mengambil alih kendali tubuhnya. Ia menolak untuk terlihat lemah.

"Ayah saya mendadak merasa kurang sehat setelah makan malam, Tuan Alvaro," jawab Alyssa, suaranya terdengar jernih, tenang, dan sama sekali tidak bergetar di tengah tekanan aura predator pria itu. "Saya menyusulnya keluar untuk memastikan kondisinya, tapi kami sedikit tersesat di koridor yang luas ini saat mencari jalan kembali ke ruang perjamuan."

Alvaro menipiskan bibirnya, membentuk segaris senyuman sinis yang tidak mencapai matanya. Ia melangkah maju satu tapak, memangkas jarak di antara mereka. Tubuhnya yang tinggi menjulang membuat Alyssa terpaksa sedikit mendongak untuk tetap mempertahankan kontak mata.

"Tersesat?" ulang Alvaro dengan nada meremehkan. Tatapannya turun perlahan ke arah tangan Alyssa yang tersembunyi di balik lipatan gaun, lalu kembali naik menatap langsung ke dalam manik mata Alyssa. "Atau sedang mencari sesuatu yang bukan milik kalian?"

Kalimat itu terdengar seperti tuduhan langsung yang disamarkan dengan sangat rapi. Adrian di samping Alyssa tampak semakin memucat, seolah pasokan udara di paru-parunya baru saja direnggut paksa oleh kalimat pendek sang Pewaris Berbahaya.

Alyssa mengepalkan jari-jarinya di balik kain gaunnya, menahan diri agar tidak melakukan gerakan refleks yang mencurigakan. "Kami menghormati undangan Tuan Mahendra, dan kami tahu batasan kami sebagai tamu, Tuan Alvaro. Jika kehadiran kami di koridor ini mengganggu Anda, kami akan segera kembali ke ruang makan sekarang juga."

Alvaro menatap Alyssa lebih dalam, mencoba mencari setitik saja kepanikan atau ketakutan di wajah cantik gadis itu. Namun, yang ia temukan hanyalah dinding pertahanan yang kokoh dan sepasang mata yang memancarkan tekad baja yang luar biasa. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Alvaro menemukan seseorang dari keluarga Pradipta yang berani menantang otoritasnya tanpa berkedip.

"Kontrak pernikahan itu sudah disetujui," ucap Alvaro tiba-tiba, beralih topik dengan dingin tanpa melepaskan tatapan intensnya dari Alyssa. "Mulai detik ini, hidupmu adalah bagian dari kesepakatan bisnisku. Jadi, pastikan kamu tidak melakukan tindakan bodoh yang bisa membatalkan seluruh isi dokumen itu, Alyssa Carissa Pradipta."

Setelah mengucapkan kalimat yang sarat akan ancaman terselubung itu, Alvaro melangkah melewati mereka begitu saja tanpa menoleh lagi, meninggalkan aroma parfum maskulin yang tajam dan pekat di udara.

Begitu siluet tinggi itu menghilang di balik pintu ganda ruang perjamuan, Adrian langsung terduduk lemas di lantai koridor sambil memegangi dadanya, sementara Alyssa mengembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan di tenggorokannya. Malam ini, ia tidak hanya berhasil meloloskan keluarganya dari maut spionase, tapi ia juga baru saja menyadari bahwa pria yang akan menjadi suaminya adalah sosok monster nyata yang jauh lebih berbahaya dari semua rumor yang beredar di luar sana.

...****************...

Alyssa segera berlutut di samping ayahnya, mencengkeram bahu Adrian yang masih berguncang hebat. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling koridor yang kini terasa sepi, namun sisa-sisa tekanan dari kehadiran Alvaro seolah masih tertinggal di udara, mengawasi mereka dari setiap sudut jeruji sangkar emas ini.

"Ayah, berdiri. Kita harus segera kembali sebelum ada orang lain atau pelayan yang melihat kita seperti ini," bisik Alyssa dengan nada mendesak namun penuh kendali.

Dengan sisa tenaga yang dimiliki, Adrian bertumpu pada lengan Alyssa untuk bangkit berdiri. Wajah pria paruh baya itu tampak luar biasa kuyu, kehilangan seluruh sisa wibawa sebagai seorang mantan pemimpin perusahaan besar. "Alyssa... dia tahu. Alvaro tahu apa yang sedang Ayah lakukan..."

"Dia belum tahu pasti, Ayah. Dia baru sekadar curiga," potong Alyssa cepat sembari merapikan jas ayahnya yang sedikit kusut. Ia meraba ponsel Adrian yang masih aman di balik lipatan gaunnya. "Dan kecurigaannya tidak boleh terbukti. Sekarang, atur napas Ayah. Kita masuk ke ruang perjamuan dan selesaikan malam ini dengan kepala tegak."

Adrian hanya bisa mengangguk pasrah, sepenuhnya menyerahkan kendali situasi pada putri sulungnya.

Alyssa memimpin langkah, berjalan kembali menuju ruang perjamuan utama dengan ritme yang tenang namun tegas. Ketika pintu ganda kayu jati itu dibuka oleh pelayan dari luar, atmosfer hangat yang semu kembali menyambut mereka.

Di ujung meja, Mahendra dan Helena masih duduk di tempat mereka. Namun kini, di kursi kosong sebelah Helena, sosok Alvaro sudah menempati posisinya. Pria itu sedang menyesap kopi hitamnya dengan gerakan yang luar biasa elegan. Saat Alyssa dan Adrian melangkah masuk, Alvaro sama sekali tidak mendongak, seolah kehadiran dua manusia itu tidak lebih penting dari aroma pekat kopi di cangkirnya.

"Ah, Adrian. Kamu sudah merasa lebih baik?" tanya Mahendra, matanya menyipit penuh selidik, membaca perubahan raut wajah mitra bisnisnya yang kini tampak lebih kaku dari sebelumnya.

"Sudah, Tuan Mahendra. Terima kasih atas perhatiannya. Hanya masalah pencernaan ringan," jawab Adrian, mencoba tersenyum sealami mungkin meski suaranya terdengar agak serak.

Alyssa kembali duduk di samping ibunya. Bianca langsung menggenggam tangan Alyssa, menyadari bahwa jemari putrinya terasa sedingin es. Alyssa membalas remasan itu dengan usapan lembut, memberikan kode visual bahwa segalanya masih berada di bawah kendalinya.

Mahendra meletakkan selembar kertas memo kecil di atas meja, lalu mendorongnya ke arah Alyssa. "Pertemuan malam ini sudah selesai. Besok jam sepuluh pagi, Alvaro akan menjemputmu di rumah untuk menandatangani berkas pranikah dan menentukan tanggal peresmian. Pastikan kamu sudah siap, Alyssa."

Mendengar kalimat itu, Alvaro akhirnya meletakkan cangkirnya. Ia menegakkan punggung, menatap Alyssa dengan tatapan datar yang mengunci pergerakan. Tidak ada binar kebahagiaan dari seorang calon mempelai pria, yang ada hanyalah sorot mata dingin seorang eksekutif yang sedang mengonfirmasi jadwal eksekusi proyek baru.

"Jangan terlambat. Aku tidak suka membuang waktu untuk orang yang tidak disiplin," ucap Alvaro, nadanya memotong keheningan ruangan dengan ketajaman yang mutlak.

Alyssa tidak gentar. Sifat beraninya kembali menyala. Ia menatap lurus ke dalam sepasang mata elang Alvaro, membalas konfrontasi visual itu tanpa keraguan sedikit pun. "Saya akan siap tepat waktu, Tuan Alvaro."

Mahendra terkekeh puas melihat dinamika yang tercipta di depan matanya, sementara Helena hanya menatap keduanya dengan helaan napas halus yang tertahan.

Makan malam maut itu akhirnya resmi berakhir. Ketika keluarga Pradipta melangkah keluar dari istana Maheswara dan masuk ke dalam mobil, Alyssa merasakan beban berat yang sesungguhnya baru saja dijatuhkan ke atas pundaknya. Kontrak pernikahan telah disepakati, rahasia spionase sang ayah kini berada di tangannya, dan besok pagi, sang Pewaris Berbahaya akan datang langsung untuk menyeretnya masuk ke dalam dunianya yang kejam.

Di dalam kegelapan mobil yang melaju membelah malam, Alyssa menatap layar ponsel ayahnya yang menyala menampilkan sebuah notifikasi pesan baru dari nomor tidak dikenal: Bagaimana hasilnya?

Alyssa mematikan ponsel itu dengan cengkeraman kuat. Permainan baru saja dimulai, dan ia bersumpah tidak akan membiarkan dirinya hancur sebagai pion.

1
THE GIRL COOL😑
peransaran gue sama foto nya
THE GIRL COOL😑
wkwkwk! pas di meja makan gue sampe mau ketawa untuk ke tahan😭
THE GIRL COOL😑
gue baca nya ngakak banget!!! bagus thor kau berbakat👍👍👍😍
reyanzarayyanfahlevy_: hehehhe bisa aja😍, masih pemula kakak😭😍
total 1 replies
THE GIRL COOL😑
🤣🤣🤣
THE GIRL COOL😑
gue kadang heran... Alvaro sama cewek nya Alyssa sama "AL" depan nya😍
reyanzarayyanfahlevy_: iyaaaapppp🤭
total 1 replies
THE GIRL COOL😑
brak² aja🤣 sabar²👍
reyanzarayyanfahlevy_: wkwkwk🤣🤣
total 1 replies
THE GIRL COOL😑
gue baca peraturannya kesel cok
THE GIRL COOL😑
Berarti si Al Siapa namanya Si ceweknya itu nggak usah membuat makanan buat dia nggak boleh nyiapin apalah Pokoknya nggak boleh gituan dilarang sekalian gitu biar Alvaro nya tuh gua kesel
THE GIRL COOL😑
wow sok kali ini alvaro🤣🤣🤣
THE GIRL COOL😑
seangkuh itukah seangkuh itukah Alvaro
reyanzarayyanfahlevy_
Aku Bangga dengan Karya Ku...........
THE GIRL COOL😑
gue yg baca aja sakit cok🤣
THE GIRL COOL😑: yg alvaro bilang kalau apa gitu ada lah😭😭🤣🤣🤣
total 2 replies
THE GIRL COOL😑
kejambah woiii😭😭😭
reyanzarayyanfahlevy_: wekduyyy
total 1 replies
THE GIRL COOL😑
jjangan di kasihani al!!!
reyanzarayyanfahlevy_: 😭🤭🤭 wkwkwkwk🤣🤣
total 1 replies
THE GIRL COOL😑
jijik
THE GIRL COOL😑
terharu wehhh😭
THE GIRL COOL😑
di jodohi emang gak enak, bukti nya kk aku
THE GIRL COOL😑: serius!!!
total 2 replies
THE GIRL COOL😑
isss sombong
THE GIRL COOL😑
bagusss menunjukan ke dewasaan yg kuat💪💪
THE GIRL COOL😑: hehehe🤭
total 9 replies
THE GIRL COOL😑
aduhhhh alvaro
reyanzarayyanfahlevy_: wkwk😭😭😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!