Karena jalan yang lama sudah tidak bisa digunakan. Maka dibuatlah jalan yang baru. Sebuah jalur baru untuk para pemudik yang selalu rindu ingin pulang ke kampung halaman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon David Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Ada yang Selamanya
Bersama dengan Marco dan neneknya. Davis yang menjadi sopir dadakan baru saja melintasi jalur baru dengan selamat.
Sepanjang jalan dari berangkat sampai berhasil keluar dari jalur baru semuanya aman terkendali.
Tidak ada penampakan dan gangguan dari setan yang muncul berupa wujud apapun.
Waktu yang mereka tempuh juga normal sewajarnya.
Tidak ada kesasar dan tidak melalui salah arah.
Davis menjadi berpikir dalam.
Nenek Marco ini walaupun banyak diam. Pasti bukan nenek-nenek biasa.
Berbeda tipikal dengan Mbah Buyut Boyo yang mulutnya jarang tertutup dan omongannya sering jahil.
"Lurus terus",
Mereka tidak langsung ke rumah penginapan.
Tapi mereka terlebih dahulu mendatangi sebuah kampung yang berada di dekat kawasan perhutanan.
Kampung yang di alur sebelumnya dikenal dengan sebutan kampungnya para begal.
"Aku baru tahu kalau ada sebuah desa di sini",
Bahkan Marco yang tinggal di daerah sana pun baru pertama kali datang ke tempat ini.
Mereka disambut oleh seorang yang mereka sudah kenal dari peristiwa sebelumnya.
Seorang pemuda lugu bernama Barokah.
Anehnya mereka tidak turun dan tetap diam di dalam mobil.
Barokah yang maju mendekat ke jendela pintu yang terbuka.
"Ini titipan dari Mbah Buyut Boyo",
Barokah menyerahkan sebuah barang yang tertutup kain kepada nenek Marco.
Entah apa isi di dalam selimutan kain jarik itu.
Barokah yang tidak banyak bicara tidak bisa berlama-lama.
Setelah memberikan benda "mencurigakan" itu kepada nenek Marco ia langsung pergi.
"Aku pikir kita akan berkunjung ke rumah Mbah Buyut Boyo",
"Aku kira juga begitu",
Davis dan Marco punya prasangka yang sama.
"Boyo sudah mati",
"Itulah alasan kenapa aku pulang",
"Sekarang kita ke penginapan",
"Baik Nek",
Davis dan Marco tercengang mendengar kabar bahwa Boyo sudah meninggal.
"Bagaimana Nenek bisa tahu kalau Mbah Buyut Boyo sudah wafat?",
"Semalam Boyo datang ke dalam mimpiku untuk mengucapkan salam perpisahan",
"Apa penyebab Mbah Buyut Boyo meninggal dunia Nek?",
"Bukankah dia adalah seorang yang sakti dan humoris",
"Boyo memang sakti",
"Tapi jugalah seorang manusia biasa",
"Dia meninggal karena sudah tua",
"Jatah umur hidupnya sudah habis",
"Petualangan dan perjalanan nya di muka bumi ini sudah berakhir",
Rumah penginapan
Sesampainya di rumah penginapan, nenek Marco menjelaskan kepada cucunya dan juga Davis apa yang sesungguhnya terjadi.
"Penguasa hutan itu mengincar mu dari sejak kamu kecil",
"Makanya setelah ayah dan ibu mu mati, nenek membawa mu pergi dari kampung ini",
"Nenek rasa penguasa alas itu sudah cukup dengan menumbalkan ayah dan ibumu",
"Tapi dendamnya tak akan hilang sampai hari kiamat tiba",
"Boyo adalah saudara tua nenek yang dulu suka datang ke rumah untuk bermain dengan mu",
"Nenek dan Boyo bergantian menjagamu dari anjing-anjing hitam suruhan penguasa alas",
"Selama ini kamu bisa aman karena Boyo selalu waspada dengan apa yang dilakukan oleh para makhluk hutan itu",
"Sekarang giliran Boyo yang sudah mati",
"Boyo seharusnya bisa menghabisi penguasa penghuni alas",
"Tapi mereka memiliki keterikatan yang dekat karena semasa kecil mereka selalu bermain bersama",
"Sekarang Boyo sudah meninggalkan dunia",
"Kesempatan untuk mengakhiri semua dendam masa silam ini kembali terbuka",
"Jadi Nenek bisa membunuh penguasa alas?",
"Bukan aku",
"Kemampuan tandingku tidak seberapa",
"Tapi kamu, Davis",
Davis tidak menyangka pembicaraan antara cucu dengan neneknya itu akan menyeret namanya.
Davis benar-benar bingung.
Tidak masuk akal baginya kenapa ia bisa jauh ikut campur urusan keluarga pemilik rumah penginapan.
"Kenapa aku Nek?",
"Boyo sendiri yang memberi tahunya kepadaku",
"Kamu yang sudah dipilih oleh penulis jagad untuk mengakhiri kemalangan ini",
"Untuk itulah Boyo menitipkan barang berharga miliknya ini kepadamu",
"Terimalah",
Nenek menyerahkan bingkisan kain jarik kepada Davis.
"Jika aku boleh tahu",
"Bagaimana Mbah Buyut Boyo mengenaliku sebagai orang yang dipilih?",
"Boyo melihatnya dari dua garis takdir yang bersatu di kedua telapak tangan mu",
"Dan juga dari garis wajahmu yang tidak mudah dibaca",
"Begitu kamu menerima dan menggunakan benda itu",
"Kamu akan mewarisi ilmu dan kemampuan Boyo",
"Apa yang harus aku lakukan?",
Nenek Marco bersama penghuni rumah penginapan yang ada sekarang mengatur siasat dan strategi untuk sebuah pertarungan.
The last dance