NovelToon NovelToon
MY SUGAR DADDY

MY SUGAR DADDY

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Misteri / Balas Dendam / Romansa Modern / Tamat
Popularitas:1.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: Dwi Lestari

[ Aku hamil, Om. ]

Meskipun sempat gamang, pesan singkat itu berhasil kukirimkan bersama dengan surat keterangan bahwa kehamilanku sudah berjalan tujun pekan.

Om Adrian adalah lelaki ketiga yang berhasil kupertahankan lebih dari setahun lamanya sejak aku terjerumus dalam hubungan terlarang. Perbedaan usia kami terpaut dua puluh empat tahun, tapi tak menjadi penghalang hubungan yang mulanya memang terjalin hanya demi kesenangan.

Dia berbeda dengan dua Sugar Daddy-ku sebelumnya yang memang berstatus lajang. Ya, dia beristri. Dan dengan kehamilan ini aku berencana untuk menggantikan posisi istrinya.

Terkesan tak tahu diri, bukan?

Namun, percayalah aku punya alasan. Alasan yang bila kujelaskan pun tak akan mampu dimengerti sebelum kalian mengalaminya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dwi Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lelah Bersandiwara

Tak terasa dua bulan telah berlalu. Entah mengapa hari terasa lebih cepat berganti. Namun, setiap detiknya sama sekali tak bisa kunikmati. Semua waktu terasa kosong, meski aku berada dalam lingkungan yang ramai, menyenangkan, dengan ikatan kekeluargaan yang begitu kental.

Sudah dua bulan pula aku dan Kevin tinggal di kediaman Mbak Amira. Beberapa kali kami nyaris terpergoki dan dipaksa untuk kembali. Namun, berkat kecekatan Tim Mbak Amira semuanya begitu mudah diatasi, walaupun ruang gerak kami amat sangat dibatasi. Hampir tiap minggu bahkan kami harus berganti ponsel dan kartu sim agar tak terlacak komplotan Pak Wira.

Akhirnya kerja keras selama dua bulan penuh membuahkan hasil yang cukup memuaskan.

Kami berhasil menempatkan FaTV sebagai stasiun TV dengan rating terendah di Tanah Air. Bahkan semua project garapan PH Fahlevi's Entertainment terancam gagal dan merugi besar-besaran, setelah kami berhasil meyakinkan Arden's Group untuk membatalkan kerja samanya yang sudah terjalin selama lebih dari dua puluh tahun.

Kupikir semuanya akan berlarut-larut dan dipenuhi dengan drama sesama pebisnis. Akan tetapi kenyataan tak selalu jauh dari harapan. Mereka adalah orang-orang baik yang sudah tahu pasti bagaimana rasanya dikhianati. Terkadang hidup bukan hanya tentang uang dan kedudukan bila hal tersebut menyangkut sesama manusia.

Aku benar-benar bersyukur masih di keliling sosok malaikat seperti Mrs. Margaret, Kak Anne, dan semua Tim Mbak Amira.

"Lea!" Sebuah sentuhan di bahu menarikku dari lamunan.

Tampak di hadapan Mbak Amira tersenyum kecil sembari mengiring tubuh ini agar mendekati kursi roda di mana tubuh ringkih dalam balutan mantel tebal itu berada, mengingat jam keberangkatan hanya tinggal menghitung menit.

Ya, di sebuah bandara kini kami berada. Mengantar Mama yang dijemput Dokter Dustin untuk melakukan pengobatan yang lebih mendalam terkait penyakit mentalnya yang sudah belasan tahun tak ada kemajuan.

Mrs. Margaret sendiri yang mengajukan anaknya untuk membantu Mama, kesepakatan itu disetujui Mbak Amira dan Tante Sarah. Aku yang memang sangat mengharapkan kesembuhannya hanya bisa pasrah mengiyakan.

Semoga saat ini benar-benar ada jalan untuk keluarga kami.

Jujur, sebenarnya tak banyak yang kuharapkan. Aku hanya ingin kami berkumpul dan hidup dengan tenang. Tanpa dendam, tanpa rasa was-was, dan perasaan yang tenang.

Sejenak kuedarkan pandangan ke sekeliling. Menatap orang-orang yang ikut mengantar. Tante Sarah, Kevin, Mbak Amira, Bang Jojo, Ilham, Yoga, Dede, Dokter Dustin, Mbak Zara dan suaminya Mas Al. Hanya dengan waktu dua bulan aku seolah sudah memiliki keluarga baru.

Mereka adalah penghibur di kala waktu yang kuhabiskan benar-benar mulai terasa memuakkan. Bila tak ada mereka entah bagaimana jadinya aku sekarang.

Kucium kening dan memeluk Mama erat sebelum mengantarnya pergi untuk melakukan pengobatan. Semoga saat kembali nanti setidaknya Mama mengenaliku sebagai putrinya.

"Silakan, Dok!" Aku memberi isyarat pada Dokter Dustin untuk membawa Mama Chek in, karena informasi sudah terdengar melalui pengeras suara.

Sebelum berbalik kuseka air mata yang tanpa sadar lolos dari pantauan. Sampai sebuah jemari kurus yang melingkar di pergelangan tangan menghentikan pergerakan.

Aku tertegun saat menyadari ternyata Mamalah yang melakukannya.

Untuk pertama kalinya selama sembilan belas tahun ini Mama menatapku, mengulurkan tangan lalu mengusap wajahku lembut.

Sebuah gerakan sederhana, tapi mampu membuat perasaanku menghangat seketika.

Mereka benar-benar pergi kini. Kulihat Dokter Dustin melambaikan tangan, sementara air mataku tak mau berhenti mengalir.

Sampai jumpa lagi, Ma!

Lea yakin Mama akan kembali untuk memeluk tubuh ini dan menebus sembilan belas tahun terakhir yang Lea lalui tanpa sosok seorang ibu.

"Percayalah, Lea. Mamamu pasti sembuh," gumam Mbak Amira di telinga, sembari meremas bahuku.

Aku menatap wanita yang tingginya hampir setara itu, lalu mengucapkan terima kasih untuk yang ke sekian kalinya.

"Ayo kita pulang!" Dia meraih jemariku yang bebas, lalu menuntunnya untuk mengikuti yang lain.

Namun, baru beberapa langkah kaki berayun ... tiba-tiba aku merasakan sakit kepala hebat.

"Shhh ...."

"Ada apa, Lea?"

Aku hanya bisa menggeleng dengan tubuh sedikit membungkuk saat Mbak Amira menatap panik.

Pandangan pun mulai berkunang-kunang. Terdengar derap langkah beberapa orang mendekat ... sebelum semua benar-benar berubah gelap.

***

Sebelum sempat membuka mata, aku sudah bisa menebak di mana berada sekarang.

Benar saja, saat ini aku sudah berada di sebuah ruangan dalam rumah sakit dengan keadaan diinfus.

Ada beberapa hal yang terlewatkan karena selama dua bulan hanya fokus memerhatikan setiap misi yang dijalankan untuk menumbangkan Pak Wira.

Aku lupa kapan terakhir kali makan dengan teratur, dan kapan terakhir datang bulan. Mungkin karena stres berkepanjangan aku sampai telat dan tak memerhatikan kesehatan.

"Syukurlah kamu udah siluman, eh siuman, Lea. Udah dua jam aku nunggu sampe nahan-nahan panggilan alam!"

Aku hanya bisa tersenyum lemah melihat Kevin dengan wajah paniknya.

Sampai sekarang, aku benar-benar tak tahu berapa banyak waktu dan materi yang sudah dia habiskan hanya untuk berada di sisiku.

Sementara di belakangnya tampak sosok Tante Sarah bangkit dari sofa, dan berjalan cepat menghampiri.

"Ya Tuhan, Lea!" Wanita yang sudah kuanggap seperti ibu kandung sendiri itu menarikku dalam pelukan.

"Aku kenapa, Tan?" Kutatap lekat kedua manik mata kecokelatan milik Tante Sarah, sesaat setelah dia melerai pelukan.

Tante Sarah tak menjawab. Wanita berusia awal empat puluhan dengan rambut sepunggung itu terdiam, lalu beradu pandang dengan Kevin.

"Vin?" Aku beralih pada Kevin.

Namun sama dengan Tante Sarah, dia juga memilih bungkam, sebelum bergantian menarikku dalam dekapan.

Ada apa dengan mereka sebenarnya?

***

"Vin, aku mau jalan-jalan keluar!" pintaku pada Kevin saat dia tengah menyuapiku makan.

Dua hari sudah aku dirawat inap. Sekarang aku tahu alasan dari kebungkaman Tante Sarah dan Kevin dua hari lalu. Mereka mencemaskanku.

Terkadang beberapa hal yang tak terduga sering kali terjadi di waktu yang tidak tepat. Begitu pun kondisi tubuhku kini.

Meskipun begitu aku tetap harus menjalani waktu yang tersisa, bukan?

Lelah? Sudah pasti. Muak? Bisa jadi. Tapi, mau bagaimana lagi?

"Ta-tapi kata dokter."

"Please, Vin ...." Aku mulai memelas yang membuat Kevin akhirnya menghela napas gusar.

"Oke. Aku hubungin Mbak Amira dan minta izin ke dokter dulu, sekalian bawa baju ganti buat kamu!" Kevin beranjak setelah meletakkan mangkok berisi setengah bubur yang tersisa.

"Makasih." Aku tersenyum sembari mencubit pipi Kevin.

"Iya, sama-sama. Apa, sih yang engga buat kamu. Nyawa pun akan kuberi."

"Halah. Lebay."

Kevin pun berlalu dengan suara tawa yang berusaha dia redam.

***

"Jadi, hari ini kita mau ke mana, nih? Bioskop, Taman hiburan, atau Mall?" tanya Kevin setelah kami siap di dalam mobil yang sengaja dipinjam pada Mbak Amira agar tak dicurigai komplotan Pak Wira.

"Toko buku!" jawabku antusias setelah memastikan seatbelt terpasang sempurna.

Seketika ekspresi Kevin berubah, dia menatap malas sembari menggaruk rambutnya yang kali ini di-cat abu-abu.

"Ayolah ... udah lama aku nggak baca buku." Aku menatapnya dengan wajah memelas, seraya memasang puppy eyes.

"Oh, ****. Jangan tatapan itu." Kevin memalingkan pandangannya, lalu mendorong pelan dahiku yang mulai maju. "Oke-oke kita ke toko buku," putusnya final.

"Yes."

***

Tiba di toko pandanganku tak luput dari berbagai jenis bacaan yang tersusun dalam rak-rak yang berjejer rapi di hadapan.

Sudah lama sejak terakhir kali menginjakkan kaki di toko buku yang ada di lantai tiga salah Mall di pusat kota ini dan memborong banyak sekali novel dan komik favoritku. Semua buku yang ada di rumah bahkan sudah habis kurampungkan kurang dari tiga bulan.

"Pelan-pelan jalannya, Lea!" ingat Kevin saat aku mendorong troli dengan cepat mengitari setiap sekat rak dalam berbagai kategori bacaan.

Hanya dengan membaca buku aku bisa melupakan sejenak beban yang menghimpit, juga tersenyum dan terharu dalam waktu yang bersamaan.

Hanya lewat bacaan imajinasiku bisa jauh berkembang, segala pengetahuan tersimpan, dan daya ingat jadi lebih akurat.

Beruntung Kevin sudah sangat mengerti. Kebetulan dia juga suka membaca meski belum sefanatik diriku.

"Vin, sini!" Kulambaikan tangan ke arah Kevin yang masih asik berkutat di dekat rak novel kategori adult romance. Tak heran bila tingkat kebucinannya semakin hari semakin meningkat.

"Ah, iya." Kevin menutup buku sample yang baru saja dibacanya, lalu memasukkan yang baru pada keranjang. Sedikit tergopoh-gopoh dia menghampiriku ke meja kasir.

"Busyet. Sebenarnya kamu mau cari bacaan atau buka perpustakaan, sih?" selorohnya saat melihat troliku hampir terisi penuh buku berbagai jenis dan genre.

"Dua-duanya." Aku tersenyum lebar.

"Ck, serah, dah." Kevin mengedikkan bahu setelahnya.

Hampir sepuluh menit kami menunggu kasir menghitung, sebelum dia menyebutkan tagihan.

"Totalnya delapan juta sembilan ratus tiga puluh lima ribu."

Aku mengangguk, lalu menyodorkan kartu debit yang semula sudah disiapkan.

"Biar aku yang bayar!" potong Kevin, sembari menyingkirkan lenganku dari hadapan Mbak Kasir.

"Tap--"

"Diem atau kucium!"

Astaga anak ini.

Aku hanya bisa melotot melihat Mbak kasir yang menahan senyum.

"Maklum, ya, Mbak. Pacar saya emang suka nggak enakan walaupun udah dijatah tiap bulan."

"Kevin!" Suaraku meninggi tanda memperingati.

Setan apa yang merasuki anak ini? Kenapa tiba-tiba dia error lagi?

"Sttt... dah, ah. Sekarang kita ke perpus!"

Kevin mengapit tanganku setelah menitipkan belanjaan kami ke salah satu penjaga toko untuk dibawa nanti.

"Kamu ini kenapa, sih?" protesku.

"Nggak apa-apa. Cuma ngaku pacar, kok. Belom ngaku bini," jawabnya santai sembari berjalan lebih dulu.

"Astaga Kevin. Kamu, kan tahu kalau aku masih istri sahnya Om Lian!"

"Ya, ya, ya. Itu pun kalau dia masih inget punya istri dan balik lagi."

Kupejamkan mata sesaat dengan sebelah tangan terkepal. Entah kenapa aku merasa jawabannya kali ini benar-benar keterlaluan.

"Kevin!" sentakku akhirnya sembari menarik tangannya agar dia berbalik dan menghadapku.

"Apa?"

Aku tertegun saat melihat Kevin balas membentak dengan sorot mata tajam dan wajah yang sudah merah padam.

"Kamu kenapa?" Refleks tubuhku mundur selangkah saat dia melangkah maju dan memojokkanku di koridor sepi.

"Aku cape, Lea. Aku cape berpura-pura menerima padahal hati tak rela. Aku cape mengatur debaran jantung yang sering kali menggila sementara kamu bersikap santai dan biasa aja. Aku bener-bener nggak bisa penuhin janji Om Lian untuk nggak jatuh cinta kedua kalinya, tapi dia kasih banyak sekali kesempatan buatku melakukannya!"

Mulutku terbuka setengah menatap luapan emosi Kevin yang mungkin selama ini dia pendam sendiri.

Aku bahkan tak bisa lagi menahan tangis kala melihat kedua tangannya bahkan begitu kuat mencengkeram bahu ini.

"Vin ... kita, kan sauda--"

"P*rsetan dengan saudara! Kita sama sekali nggak ada ikatan darah, Lea. Si Adrian br*ngsek itu bukan Papaku. Aku hanya anak haram yang diselamatkan demi nama baik keluarga!"

.

.

.

Bersambung.

1
Leni Fatmawati Fatmawati
aduh Lea ampun deh ini judul ny mertuaku adalah ayah dari anak kandungku dan sekarang menjadi adik dari suamiku🤭😅😅
Isnay Maulani
maacih thor 🙏
sukses trs tuk karya2nya y 💕💕💕💕
shepty
cukup berliku dan penuh rintangan kisahmu lea udh kayak kisah kera sakti pagi nyari kitab suci
shepty
wow nggak ada om lian kevin pun jadilah yg penting baik dan bisa mengerti kondisi lea yg pasti selalu ada bt lea dan melindungi juga menghibur lea
shepty
rumit
shepty
ah kevin ganggu aja orang mau anu anu juga
shepty
aku pengen liat adrian wira dan lidia hancur sehancur"nya tak dianggap jd manusia serendah"nya kesel bgt gw ama trio kwek kwek ini yah ya ampun
Yolanda Wulan
😂😂😂😂😂👍👍
Reichann~
nama ku jeruk
Yolanda Wulan
Ya Ampuuuunnnn kocak banget ini si Kevin🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Yolanda Wulan
😂😂😂😂😂😂
Yolanda Wulan
😂😂😂😂😂😂😂😂
Yolanda Wulan
🤣🤣🤣🤣😂😂😂
Reichann~
pengen cakar
Reichann~
ganti kk aja kamu kevin kasian banget aku sama kamu
Ena Safitri
sebenrnya smpe sini blum ngerti tentang kehamilan lea, apa itu anak dari Adrian ayah kandungnya,, secara kalau sama lian kan blm pernah berhubungan badan,, kalau ngga hamil sama Adrian kenapa Adrian bilang harus menggugurkan berrti lea sma Adrian ayah kandungnya pernah berhubungan badan dong thor, kalau belum pernah berhubungan badan adrian ga bakal nyuruh gugurin kandungan lea pas lea kasih tau, berrti dgn nyuruh gugurin secara ga langsung Adrian sering berhubungan badan sama lea anak kandungnya,, terus kalau lea bukan anak adrian ga mungkin, soalnya kan td D awal di bilang kalau nita mmah ny lea D campakan adrian selaku suaminya saat nita hamil, berrti adrian emang ayah lea, yg D sayangkan di sini kenapa lea harus mnjadi sugar baby adrian dan parah kalau smpe pernah berhubungan badan,, ga mungkin kan kalo itu hamil dr sugar daddy pertama, secara sma adrian aj udah setahun lebih, smpe sini masih pusing aku thorr map ya
Monica Monic
y
krisan
lanjut
Novianti Ratnasari
kaya nya anak nya Om Lian
Novianti Ratnasari
mampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!