Terlahir serupa tidak membuat kehidupan Mawar Atmaja dan Melati Atmaja memiliki kisah yang sama, karena setelah kelahiran mereka, kedua orang tuanya memutuskan untuk bercerai, sehingga kedua saudara kembar itu harus hidup terpisah.
Sang kakak Melati dibawa Ibunya merantau di kota besar, sementara Mawar harus tinggal bersama ayahnya yang seorang petani di desa nya.
Sampai akhirnya keduanya sudah dewasa dan dipertemukan kembali, saudara kembar itu terlibat dalam cinta segitiga, sang adik kembar yang diam-diam mencintai suami dari kakak kembarnya, berniat ingin merebut Rafael Kusuma Hadinata, segala cara telah Mawar lakukan supaya Rafael tertarik padanya, karena iri dengan kehidupan Melati yang berkecukupan, serta memiliki suami yang tampan dan kaya raya, Rafael adalah seorang CEO di sebuah perusahaan besar batu bara, membuat Mawar semakin berambisi untuk memiliki apa yang saudara kembarnya miliki, sampai pada suatu malam semuanya terjadi begitu saja, Rafael dijebak oleh Mawar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi putri ang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEPERTI DI NERAKA (POV RAFAEL)
Aku semakin stres setiap harinya, perasaan bersalah selalu mengikuti kemanapun. Terpaksa ku jalani hari-hari bersama Mawar di rumah baru kami, perempuan itu berlagak seperti seorang istri yang baik. Semenjak Melati memutuskan pindah ke kota lain, aku bertekad untuk tidak menyentuh Mawar lagi, setiap waktu Mawar selalu menggoda dan merayuku. Memang tidak bisa ku pungkiri jika tubuhnya masih menggoda meski dia tengah hamil, tapi tekadku terlalu kuat untuk menahan godaan itu.
Hingga pada suatu malam, ada perasaan lain di dalam diriku, hasratku untuk melakukan permainan panas itu kembali muncul. Mawar mendatangi ku dengan gaun malamnya, dia menggoda dan memberikan sentuhan-sentuhan ditubuhku, hingga pertahanan ku runtuh, dan aku melakukan penyatuan dengannya. Mawar tetaplah Mawar, dia selalu memuaskan hasratku di atas ranjang, hingga suatu ketika bayangan Melati muncul, dan aku teringat masa lalu ketika kami melakukannya. Akupun tersadar menyebut nama Melati dihadapan Mawar ketika kami di atas ranjang, entah bagaimana perasaan Mawar saat itu, aku benar-benar tidak perduli dan ku hentikan semuanya sampai disitu.
Memang salahku masih mengingat sosok Melati sebagai istriku, tidak bisa ku pungkiri pula karena wajah keduanya sangat mirip, sehingga aku selalu salah sangka ketika berhubungan dengannya. Mungkin semua yang ku lakukan dulu, karena membayangkan wajah Melati, sehingga aku tidak sadar melakukannya dengan Mawar. Tapi semua sudah terlambat, aku terjebak oleh perbuatan ku sendiri.
Ku langkahkan kaki ke kamar untuk mengambil berkas penting, ku lihat Mawar sedang menangis di sudut kamar. Aku pura-pura tidak melihatnya dan melewati nya begitu saja, sungguh aku tidak ingin menghiraukan keberadaannya di rumah ini, jika bukan karena dia sedang mengandung benih ku.
Mama datang untuk mengajakku memeriksakan kandungan Mawar, tapi aku beralasan ada meeting penting di kantor. Tapi mama terus memaksa hingga aku terpaksa menurutinya. Dokter menjelaskan jika kandungan Mawar sedikit lemah, dan memintaku untuk mengajaknya berlibur supaya perasaan nya kembali bahagia.
Jika bukan karena bayi yang dikandungnya, aku tidak perduli dengan keadannya. Mama memberikan tiket pesawat ke Jogja, karena kebetulan saudara nya ada yang akan menikah. Dengan alasan berlibur kami juga bisa menghadiri acara pernikahan itu, Mawar meminta mbak Salah untuk merapikan beberapa pakaian ke dalam koper. Semenjak kepergian Melati, mbak Saroh bekerja di rumah ini, dibawah tekanan Mawar, yang selalu meributkan ini dan itu. Karena tidak ingin direpotkan dengan Mawar yang akan selalu bersamaku. Aku meminta mbak Saroh untuk pergi bersama kami ke Jogja, meski dengan berat hati mbak Saroh menuruti ku.
Kami semua tiba di Jogja dengan pesawat malam, hari pertama ku putuskan untuk menghirup udara malam di kota gudeg itu. Mawar berusaha mengikuti ku kemanapun, tapi dengan perutnya yang membesar dia kelelahan untuk berjalan. Ku minta mbak Saroh untuk menemaninya duduk di bangku-bangku yang ada di sekitar malioboro. Mawar terlihat kesal tapi tidak berani mengeluh, itu resiko yang harus dia terima karena mengikutiku, hingga aku terkejut ketika melihat seorang perempuan yang tidak asing bagiku.
Perempuan itu sedang duduk di sebuah angkringan dengan seorang lelaki, yang nampak akrab baginya. Aku terbelalak kaget mengetahui jika Melati ada di kota yang sama denganku. Tapi siapa lelaki yang bersamanya saat itu, ketika ku mencoba untuk mendekatinya, ponsel di saku celana ku berbunyi, panggilan telepon dari mama yang memintaku segera membawa Mawar ke hotel, karena tubuhnya tiba-tiba menggigil. Di antara dua pilihan, aku bimbang harus menemui Melati atau membawa Mawar ke hotel, aku terdiam dan memukul tembok yang ada di samping ku, hingga Melati menoleh ke arahku.
...Bersambung....