🧭 96 km season 1 ⏰
16+
Mina, si langit timur yang mengawali munculnya cahaya, dipertemukan semesta dengan Nagi, si langit barat yang menenggelamkan cahaya.
Mereka memiliki kisah kehidupan yang serba mudah dan megah di pulau kecil. Ambisi jiwa terhadap logika, harta, dan tahta adalah tujuan mereka. Walaupun berbeda cara meraihnya.
Namun, mereka mendapat masalah mengenai ambisi terhadap rasa!
Sekat sejauh 96 kilometer hadir di antara mereka, membuat cahaya kedua langit mulai meredup.
Suatu hari, mereka berhasil menembus jarak dan menyatu!
Tapi hal tersebut justru membuat mereka semakin jauh. Hingga muncullah rasa penyesalan dan berharap bisa membalikkan waktu.
Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang menyebabkan semesta justru memisahkan mereka, di saat telah menyatu?
Cahaya dari kedua langit itu, adalah cinta. Ayo ikuti kisah romansa bertajuk petualangan ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noejan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Partner Kerja
...“Aku bukan hanya butuh kamu,...
...Aku juga butuh partner kerja....
...Tapi hatiku tetap untukmu.”...
September 2038. Tahun ke-2, semester 3.
Benar saja kata Arman, kegiatan pelatihan di himateksip cukup santai. Hal itu tidak mengganggu kuliah Nagi.
Nagi mem-posting fotonya bersama teman-teman dari divisi ristek. Ia ingin dunia tahu bahwa dirinya berada di divisi ristek.
Mina melihat foto yang Nagi bagikan di sosmed. Ia tertawa dan menggelengkan kepalanya. Ia bergumam, Orang cerdas memang unik seleranya!
Lalu ia memutuskan untuk mengirim pesan kepada Nagi. “Mengapa kamu memilih divisi ristek, Nag? Ngga sibuk? (emoticon laugh)”
Sembari menunggu balasan dari Nagi, Mina menunjukkan foto yang Nagi posting kepada Ova yang duduk di sampingnya.
“Nih! Lihatlah Va, haha!”
“Siapa itu, Mi?”
“Teman SMA ku, Va. Tapi aku suka sama dia. Sekarang dia kuliah di kota Hijau.”
“Terus itu kenapa foto berang-berang, eh, bareng-bareng?” tanya Ova sembari melihat keterangan di bawah foto Nagi.
Beberapa menit kemudian, Ova baru paham. “Oh... dia anggota himpunan ya.”
“Iya! Ya ampun. pantesan sibuk, ish. Atau mungkin dia lagi mencari gebetan ya?” bisik Mina.
“Hm... Awas diambil orang tuh gebetanmu! Haha!” olok Ova.
Mina memanyunkan mulutnya, dan memukul Ova dengan pelan karena kesal.
Kemudian, dosen memasuki kelasnya dan memulai kelas hari ini. Mina segera meletakkan gawainya dan mengikuti kelas hari ini.
...***...
Saat di kelas, Nagi memainkan gawainya sembari menunggu dosen datang ke kelasnya. Ia melihat pesan dari Mina dan menjawab, “Iya, Mi. Aku mencari divisi yang kerjaannya santai, hehe.”
Diam-diam, Mina segera membalas pesan Nagi. “Lah, di sana ristek ngga sibuk, Nag?”
Nagi mengatakan tidak, santai saja.
...***...
Sorenya, Nagi dan kedua teman wanitanya kembali berkumpul di kafe. Sebelumnya, mereka telah membagi proyek lomba KTI-nya menjadi 3 bagian. Dan sekarang, saatnya mereka bekerja dengan serius!
Nagi dan kedua temannya sibuk mencari-cari referensi di jurnal-jurnal maupun buku elektronik.
Lalu Nosa meminta maaf pada mereka. “Eh, maaf ya....”
Nagi dan Ima bertanya, "Ada apa?"
Nosa melanjutkan ceritanya. “Dari esok hari sampai tujuh hari ke depannya, aku akan ikut para pecinta alam pergi ke gunung.”
“Oh... ngga apa, Sa,” ucap Ima.
Nagi hanya mengangguk dan tersenyum tanpa menoleh padanya. Nosa berjanji dirinya akan segera menyelesaikan bagiannya dan segera mengirimkannya kepada kedua temannya itu.
Mina dan para anggota seni teater berkumpul di lapangan gedung unit kegiatan mahasiswa (UKM). Mereka mengadakan rapat untuk pertunjukan yang akan dilakukan di daerah pedesaan terdekat.
Rapat seni teater berjalan selama 2 jam. Mina duduk berdekatan dengan Raja sembari mengobrol.
“Ja, nanti berangkat ke sana naik apa ya?” tanya Mina.
“Tadi sih bilangnya... desanya itu dekat dengan laut, mungkin nanti kita naik perahu,” jawab Raja.
Mereka cekikikan sebentar. Lalu Mina berhenti ketika ada yang memamerkan suara merdunya dengan menyanyikan sebuah lagu.
Perahu kertas mengingatkan ku~
Betapa ajaibnya hidup ini~
Mencari-cari tambatan hati~
Kau sahabat ku sendiri~
Ku bahagia~
Kau telah terlahir di dunia~
Dan kau ada~
Di antara milyaran manusia, dan ku bisa~
Dengan radar ku, menemukan mu~
Tanpa sadar, mata Mina berkaca-kaca mendengar lagu itu. Hatinya juga berbisik, Kita teman, tapi aku ingin lebih dari itu.
Kepanitiaan seni teater kali ini akan membawakan kisah berlatar belakang desa, sehingga pertunjukan akan dilakukan di desa. Pertunjukan itu diiringi lagu yang baru saja dinyanyikan oleh para anggota bidang orkestra.
“Min, setelah kepanitiaan ini selesai, kita ikut belajar orkestra yuk! Biar ketemu sama cewek-cewek cakep! Hihi,” bisik Raja yang membuyarkan lamunan Mina.
Ucapan Raja desainer itu membuat suasana sedih Mina berubah menjadi pukulan yang menyuruh Raja untuk diam.
...***...
Hari Jumat,
Nosa tidak masuk kuliah karena mendapatkan dispensasi untuk mengikuti para pecinta alam pergi berpetualang.
Ima mengatakan pada Nagi kalau nanti sore tidak perlu ke kafe, cukup di perpustakaan saja. Nagi mengangguk dan mengiyakan perkataan Ima.
Siang harinya, Mina berangkat menuju rumah neneknya untuk melepas penat setelah kuliah. Butuh waktu setengah jam menempuh perjalanan menuju rumah neneknya, menggunakan sepeda motor yang telah dikirim pos oleh ayah dan ibu dari kota Bunga.
Sampai disana, dia bertemu nenek dan adik sepupunya bernama Sasa. Adik sepupunya itu kini masih kelas 1 SMP.
Mina bercerita kepada nenek dan Sasa kalau minggu depan persis di hari yang sama yakni hari jumat, dirinya harus berangkat ke desa untuk pertunjukan seni teater.
...***...
Menjelang sore, Nagi dan Ima masih berada di perpustakaan kampus. Mereka juga masih berada di depan laptop masing-masing.
Sebuah pesan masuk di gawai Nagi. Ia segera membukanya, ternyata dari dosen pembimbing (Dosbing) untuk lomba KTI. Karena Nagi adalah ketua tim, jadi dosbing lebih sering menghubunginya. Ia segera membalas pesan dari dosbingnya itu.
Sasa meminjam gawai Mina dan memainkannya. Mina yang melihat Sasa sedang asyik berswafoto menggunakan gawainya, diam-diam mendekat dan memberitahukan sesuatu.
“Sa, nih liat... cakep ngga?” tanya Mina sembari menunjukkan foto wisudanya bersama Nagi.
“Wih... Cie! Hahaha!” sorak Sasa.
“Cakep ngga?” tanya Mina sekali lagi.
“Namanya siapa mbak Na?”
“Namanya Nagi, hihi.”
“Wah!! Mbak ku sudah ngga jomblo!” serunya.
“Ish, bukan gitu! Aku yang suka. Kalau dianya, aku ngga tahu,” jelas Mina.
“Tanya dong Mbak! Biar tahu. Haha!”
Mina hanya menggelengkan kepalanya dan melangkah pergi menuju nenek yang sibuk memasak di dapur. Dia membiarkan adik sepupunya itu memainkan gawainya.
Di dapur, Mina membantu Nenek dengan memotong sayur sembari memikirkan perkataan Sasa. Cara untuk tahu, ya dengan bertanya. Tapi, jika nanti Nagi semakin menjauh, bagaimana? Huhu!
Sasa mengirimkan hasil berswafotonya dari gawai Mina ke kontak Sasa di aplikasi chatting supaya foto-foto itu dapat ia simpan dalam gawainya. Gadis remaja itu beranggapan kalau kamera gawai Mina lebih bagus ketimbang kamera gawai miliknya.
Setelah itu, Sasa melihat di aplikasi chatting Mina terdapat nama 'Nagi'. Dia tersenyum jahil saat menemukan nama pria di kontak kakak sepupunya itu.
Nagi kembali mengetik dan berselancar di internet setelah membalas pesan dari Dosbing. Kemudian gawainya kembali bergetar tanda pesan masuk.
Nagi membukanya dan notifikasi itu sukses mengukir senyum di wajahnya. “Ada apa, Mi?” Setelah terkirim, Nagi meletakkan kembali gawainya dan fokus ke layar laptop.
Mina telah selesai membantu Nenek, lalu dia melangkah menuju ruang keluarga. Mina melihat Sasa kini duduk di ruang tamu dan meletakkan gawai Mina di meja ruang keluarga.
Mina mengambil gawainya. Setelah beberapa menit menatap layar, dia berteriak, “Sasa!! Kenapa kamu iseng sih?!”
Sasa tertawa dengan keras tanpa rasa bersalah. Mina segera berlari ke ruang tamu dan melemparkan bantal pada Sasa yang terus haha hihi kepadanya.
“Menyebalkan!” protes Mina sambil memanyunkan bibirnya.
“Hehe, mangkanya tanya dong!"
“Iya!” kata Mina yang fokus melihat pesan dari Nagi.
Mina mengetik pesan yang berisi, “Maaf, Nag. Tadi adik sepupuku iseng hehe.”
Tak lama kemudian, Nagi membalas, “Ah masa’ sih? Bilang aja kangen aku, haha.”
Mina mengetik, “IYA, KANGEN BANGET POL!”
Tapi ia menghapusnya.
Dia memilih mengirim stiker kucing dengan pose memohon ampun yang super imut. Nagi juga membalas pesan si pengukir senyumannya dengan mengirim stiker kucing yang terdapat tulisan Bye.
Iya, percakapan lewat aplikasi chatting telah selesai. Tapi perasaan mereka belum selesai terjawab.
“Cie! Chatting-an sama siapa itu?” tanya Sasa dan Ima.
Mina dan Nagi kompak mengatakan, “Apaan sih, hm....”
...***...
maaf merusuh😂
salam sayang selalu ❤️
💌To: kak noejan kembaran nama Arsy
kakak dari planet Saturnus yang ketemu di bumi imajinasi
💌
Kangen selalu kak💌
Instagram diriku peluh babalope kakak 😂
Btw, jangan lupa gantian spam novel remahan biskuit Roma kelapa adik❤️
pulau kecil kisah nano-nano ~~~~~
next ❤️
otw spam biar kak noejan nyamuk😅
lama banget hibernasi nya kak.. uhuk.. nunggu new yang tadi di chat❤️❤️❤️
lagi
lagi
saling dukung dan saling mengisi
ayo jangan malas komen
agar semua karya bisa jadi terdepan
seharusnya 841
jejak selalu ada
semoga rating makin meningkat
tapi menuju 21200 like
semoga menjadi 2100 bahkan lebih