Vivian tidak pernah menyangka jika hatinya akan terpaut pada sahabatnya sendiri. Vivian jatuh cinta pada Leon sejak 10 tahun yang lalu. Tapi tak mudah bagi Vivian memenangkan hati Leon. Sudah ada orang lain dihatinya.
Jika saja yang Leon cintai sama seperti dirinya. Mungkin akan lebih muda bagi Vivian untuk memenangkan hatinya. Tapi sayangnya Leon mencintai kakak kandungnya sendiri.
Mampukah Vivian bertahan dalam sebuah hubungan yang dipenuhi luka dan air mata, ataukah Vivian akan menyerah karena tidak sanggup? Hanya Waktu Yang bisa menjawabnya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lusica Jung 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seperti Ibu Dan Anak
Tokk! Tokk! Tokk!!
Ketukan keras pada pintu kamarnya membuat perhatian Vivian teralihkan. Gadis itu bangkit dari posisi berbaringnya, wajahnya jelas menunjukkan jika ia sangat kesakitan. Meninggalkan kamarnya dan pergi untuk membuka pintu. Vivian penasaran siapa tamunya yang datang.
Cklekk!
Pintu terbuka, dan wajah sinis seorang wanita yang tidak asing untuknyalah yang pertama tertangkap oleh manik hazelnya. "Mau apa kau datang kemari?" tanyanya to the poin. Nadanya terdengar dingin dan kurang bersahabat.
"Beginikah caramu menyambut kedatangan Ibumu ... Putriku!!"
"Tidak usah banyak basa-basi, jika kau datang kemari hanya untuk mencari masalah denganku, sebaiknya kau pergi saja. Bukanlah sudah jelas jika diantara kita tidak ada ikata apa-apa, kau bukan Ibuku dan aku bukan Putrimu. Jadi pergilah dengan cara baik-baik," pinta Vivian sambil mempersilahkan wanita itu yang tak lain dan tak bukan adalah Sarah Janu.
"Tapi sayangnya aku tidak berminat untuk pergi sebelum aku mendapatkan apa yang aku inginkan,"
"Apa maksudmu?"
"Sudah saatnya kau membalas budi padaku karna sudah membesarkanmu. Untuk itu ikutlah denganku dan terima perjodohan yang aku siapkan untukmu!"
Vivian menyeringai sinis. "Oh, maksudmu kau ingin menjualku? Tapi sayangnya aku tidak berminat untuk menjadi bonekamu Nyonya, Janu, yang terhormat! Lagi pula bukankah kau memiliki putri yang begitu kau sayangi, kenapa tidak kau gunakan dia saja sebagai alat untuk meraup sebuah keuntungan dari rencana perjodohanmu itu!!"
"VIVIAN ASTORIA!!"
Plakk!!
Vivian menahan pergelangan tangan Sarah sebelum tangan wanita itu berhasil menyentuh wajahnya lalu menghempaskannya begitu saja.
"Dasar wanita tidak punya hati! Pergilah dari sini sebelum kesabaranku benar-benar habis. Dan jika kau tidak pergi sekarang juga maka jangan salahkan aku jika aku berteriak dan menyebutmu sebagai wanita dari sindikat penculikkan para gadis muda. Dan kau pasti akan tau sendiri bagaimana ending yang kau miliki. Jadi silahkan pergi sebelum kesabaranku benar-benar habis,"
"Vivian Astoria, ingat baik-baik. Sampai kapan aku tidak akan melupakan penghinaan ini! Ingt itu,"
Brugg!
Vivian menjatuhkan tubuhnya pada lantai yang terasa dingin dan keras. Dadanya terasa begitu sesak.
Bulir-bulir air mata mengalir dari sudut matanya. Gadis itu menangis dan menumpahkan semua air matanya. Rasa sesak yang terpendam di dalam dadanya tumpah bersama seluruh air matanya. Gadis itu menangis tersedu-sedu.
"Vivian," Leon yang baru saja kembali dari membeli makanan terkejut melihat Vivian menangis sambil bersimpuh dilantai.
Mendengar suara yang begitu familiar, Jia mendongakkan wajahnya dan mendapati sosok pemuda dengan style premannya berada di depannya. "Leon," tubuh pemuda itu terhuyung kebelakang karena terjangan Vivian yang sangat tiba-tiba.
"Ada apa? Kenapa kau tiba-tiba menangis? Apa ini karna ulah Ibu angkatmu? Aku melihat dia baru saja meninggalkan rumah ini." Vivian mengangguk.
Leon melepaskan pelukkannya dan mata kirinya mengunci sepasang mutiara hazel milik Vivian yang penuh air mata. "Sekarang ceritakan," Leon menghapus bulir-bulir bening itu dari mata kekasihn5a.
Akhirnya Vivian pun menceritakan semuanya pada Leon tanpa ada satu pun yang terlewatkan termasuk tentang kisah masa lalunya.
Vivian menceritakan bagaimana orang tua angkatnya bercerai hingga akhirnya dia memutuskan untuk tinggal sendirian dan alasan kenapa dulu dia sampai berjualan bunga di pinggir jalan. Kedua orang tuanya berpisah saat Vivian berusia 12 tahun.
Berkali-kali sang Ayah membujuknya supaya Vivian mau tinggal bersamanya tapi dia menolaknya. Vivian pun tak menyentuh sepeser pun uang pemberian ayahnya dan malah menyimpannya.
Dia berfikir jika suatu saat uang-uang itu akan berguna untuknya saat dia sudah dewasa. Dan untuk sehari-hari, Vivian kecil bertahan hidup dengan berjualan bunga.
Meskipun mereka sudah lama saling mengenal, tapintak sedikit pun Leon tidak tau tentang keluarga gadis itu dan begitu pula sebaliknya. Vivian tidak tau siapa Leon sebenarnya dan berasal dari keluarga seperti apa dia.
Yang dia tau Leon adalah pemuda sederhana dan apa adanya. Vivian memang tau jika Leon memiliki seorang kakak laki-laki dan sejak kecil mereka berdua sudah di tinggal oleh Ibunya yang meninggal saat melahirkan Leon
Vivian memeluk lengan kirinya sambil sesekali mengusapnya. Senyum miris tersungging dibibir tipisnya.
"Aku melewati hidupku dengan begitu berat. Terkadang aku merasa jika Tuhan tidak adil padaku. Dan di saat terpuruk, kau datang dan membawa lentera benderang dan menerangi hidupku yang kelam."
"Dan dari situlah aku menyadari jika hanya kau satu-satunya pria yang selalu aku inginkan disisiku. Dan keinginaku pun akhirnya terwujud ya meskipun penuh luka dan air mata."
Leon terdiam mendengar setiap kata yang keluar dari bibir Vivian, ia sungguh tidak menyangka jika gadis yang ia kenal sangat tegar ternyata memiliki kisah masa lalu yang sangat kelam.
Leon menarik Vivian kedalam pelukannya dan membiarkan gadis itu melepaskan semua beban dan kesedihannya di atas bahunya.
"Jika kau ingin menangis lagi, maka keluarkan semuanya dan jangan ada yang ditahan. Kau tidak sendirian lagi karna aku ada bersamamu," bisik Leon. Vivian menutup matanya dan membalas pelukkan Leon. Leon sedikit merisingis saat Vivian tidak sengaja menyentuh luka di bahu kanannya.
"Leon," panggil Vivian lirih.
"Hm!"
Kemudian Vivian melepaskan pelukkannya. Gadis itu mengangkat tangannya dan dengan ragu jari-jarinya menyibak poni menyamping yang menutupi sisi wajah Leon.
Jantungnya berdegup kencang, semoga apa yang dia lihat tadi itu salah. Semoga Leon tidak benar-benar terluka dan cidera. .
"Ya Tuhan!" dan betapa terkejutnya Vivian saat mendapati sebuah perban berukuran lebar dan lumayan tebal menutup mata kanan Leon dengan darah segar melumuri kasanya. Vivian menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Le-Leon, ma-matamu. Apa yang terjadi pada matamu? Ke-kenapa bisa begini?"
"Nanti saja aku ceritakan. Sebaiknya sekarang kau makan dulu dan kemudian minum obatnya. Jangan terlalu banyak bergerak supaya cidera pada bahumu tidak semakin parah,"
Vivian memantap Leon dengan sendu."Bergentilah membuatku cemas, Leon Arcello. Apa kau tau bagaimana cemas dan takutnya diriku saat melihatmu pulang dalam keadaan seperti ini. Dan apakah cidera ini berakibat fatal? Lalu berapa lama matamu tertutup peban seperti ini? Pasti tidak hanya satu-dua hari saja,"
"Dokter menyarankan supaya mata sialan ini tetap tertutup. Paling sebentar dua minggu dan paling lama satu bulan bahkan lebih, semua itu tergantung. Sudah kau tidak perlu memikirkan apapun. Cepat makan sebelum semakin dingin." Vivian tersenyum kemudian mengangguk.
"Baiklah,"
🌹
"Ya Tuhan!! Leon, kau demam!!"
Vivian memekik kerasa saat hendak membangunkan Leon untuk sarapan dan malah mendapati pemuda itu menggigil sambil terus merintih. Suhu tubuhnya lumayan tinggi dan Vivian berani bersumpah itu karna luka pada mata dan bahunya.
Vivian mendesah berat. "Kenapa kau selalu membuatku cemas," Vivian menakup sisi wajah Leon dan meninggalkannya begitu saja.
Vivian pergi kekanarnya untuk memgambil dompet dan tasnya. Dia harus pergi ke Apotek dan membeli obat untuk Leon. Vivian tidak bisa membiarkan Leon terus-terusan kesakitan seperti itu. Bisa saja dia membawanya ke rumah sakit tapi pasti Leon akan langsung menolaknya.
"Vivian?"
Vivian menghentikan langkahnya saat mendengar panggilan seseorang yang berkaur di dalam telinganya. Sontak Vivian menoleh. Senyum dibibirnya mengembang lebar. "Bibi, Maria," keduanya pun berpelukkan selama beberapa saat. "Apa yang Bibi lakukan di sini?"
"Membeli obat. Carell, mengalami diare parah setelah memakan makanan pedas 100 cabai yang dia siapkan untukku. Awalnya dia ingin mengerjaiku tapi endingnya makanan itu malah dia sendiri yang memakannya. Senjata makan tuan. Lalu, kau sendiri sedang apa di sini?"
"Temanku demam dan terluka. Aku kemari untuk membelikannya obat."
"Maksudmu brandalan tampan itu?" Vivian mengangguk. "Kau sangat perhatian sekali padanya. Dan kalian terlihat sangat cocok. Jika saja putriku masih hidup pasti aku sudah menjodohkan dia dengan pemuda itu. Hahaha! Aku hanya bercanda, kenapa kau serius sekali. Sudahlah ayo kita masuk," Maria meraih pergelangan tangan Vivian dan keduanya berjalan beriringan memasiki Apotek.
Dan sementara itu ....
Sarah Janu yang tidak sengaja melihat kebersamaan Maria dan Vivian tampak begitu terheran-heran. Dia tau dan mengenal putri keluarga Valentino itu dengan baik.
Maria bukanlah tipe wanita yang mudah dekat dengan orang lain apalagi dia orang asing. Tapi melihat kedekatan Maria dan Vivian tentu membuat Sarah begitu penasaran. Sarah tidak akan tinggal diam dan dia akan berusaha mencari taunya.
"Kenapa mereka terlihat seperti Ibu dan anak. Vivian Astoria, siapa kau sebenarnya? Kenapa hidupmu penuh sekali dengan teka-teki?"
.
.
BERSAMBUNG.