NovelToon NovelToon
Canda Pagi Dinanti

Canda Pagi Dinanti

Status: tamat
Genre:Romantis / Patahhati / Konflik Rumah Tangga-Konflik Etika / Obsesi / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Tamat
Popularitas:1.1M
Nilai: 5
Nama Author: Anissah

Pemerkosaan yang terjadi dengan dirinya, membuat Canda harus menikah dengan pelaku yang merebut kesuciannya. Sayangnya, pelaku tersebut adalah kakak dari kekasihnya. Hingga hubungannya dengan kekasihnya kandas, karena Canda kini menjadi kakak ipar kekasihnya.

Tidak sampai di situ saja. Kini pendidikannya terhenti, karena dirinya menjadi seorang istri dari Ananda Givan. Suaminya adalah wujud laki-laki egois, yang memiliki harga diri yang tinggi. Ia tidak kuasa mengakui, bahwa dirinya amat tersiksa dengan pernikahan ini. Karena sebelumnya dirinya hidup seorang diri, dalam kurungan tembok pesantren. Ia tidak tahu harus pulang ke siapa, saat rumah tangganya tidak bisa dipertahankan.

Rupanya belum selesai juga permasalahan masa lalunya dengan mantan kekasihnya, yaitu adik iparnya sendiri yang tinggal satu rumah dengannya. Meski kini adik iparnya sudah memiliki istri dan anak, sama dengan dir

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anissah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CPD35. Makan bersama

Apakah ada yang salah jika aku bekerja?

"Nanti sore Abang cek dokumen kau." putus bang Lendra, menimbulkan rasa senangku.

Benarkah aku akan dibantu untuk mendapat pekerjaan?

"Tapi kerjaannya di lapangan, cek satu tempat ke tempat lain. Makan, minum, ongkos tanggung sendiri. Karena perincian uang makan dan transportnya perbulan." tambah bang Lendra kemudian.

"Abang kan yang megang?" tanya kak Anisa, ia tengah menyiapkan nasi untuk bang Lendra.

"Iya. Abang, Raya, Yuli. Kalau Sari kan, dia bagian nerima laporan, Sari sekertaris pertama sama yang ngarahin kita bakal ke mana. Yuli rekap di lapangan, Raya bantu buat transportnya dan keperluan lainnya. Raya masuknya asisten Abang."

Apakah bang Lendra ini sejenis CEO?

"Sekertaris aja sampai ada dua ya?" bang Dendi geleng-geleng kepala, dengan mulai menyantap makanannya.

"Iya, karena resikonya perorangan. Jadi, kalau kesalahan ada di pihak terkait bakal langsung ketahuan." bang Lendra beralih menatapku, "Kau Abang usahakan masuk. Chandra pun gak apa dibawa ke lapangan. Asal, pas foto untuk bukti Chandra gak usah ikut foto. Terus, pas masuk ke kantor cuma untuk briefing kan Chandra bisa dipegang Enis atau Dendi dulu." jelas bang Lendra kemudian.

"Iyuuung." Chandra merangkak mendekat.

Ia tengah berada di atas tempat tidur. Namun, bang Lendra malah menyambut Chandra. Memberikannya potongan telur, yang ia keluarkan dari mulutnya.

"Lain kali, jangan masak bumbu merah begini. Bumbu putih, kasih kecap, jangan kasih lada, jangan pedes, biar Chandra juga makan. Biar dia terbiasa, makan lauk yang orang tuanya masakan. Banyak loh anak yang dimasakan apa sama orang tuanya, tapi giliran dia mau makan malah minta menu lain. Kalau masakannya gak pedas, suapin lah dia makanan yang kau buat. Rendang contohnya, belum bisa makan dagingnya, kau kasihlah dulu bumbunya aja."

Chandra begitu santai, memakan putih telur yang bumbunya sudah dij*lat oleh bang Lendra.

"Kau bersih tak, Bang? Main kasih ke bayi aja bekas mulut kau!" dari suaranya, bang Dendi seperti tidak terima.

Aku pun sama, tapi aku malah tertegun kaku saat melihat Chandra sudah memakan putih telur tersebut.

Bang Lendra menoleh ke arah tas kerjanya, lalu ia meraih sesuatu dari resleting paling depan yang tidak tertutup.

"Nih." selembar surat yang terlipat bagaikan informasi tunggakan SPP.

Aku mengambil alih kertas tersebut, membuka dan membacanya.

Ini adalah hasil tes kesehatan milik bang Lendra.

"Bikin Id card baru kemarin, repot-repot ngeluarin dana sampai tujuh ratus ribu. Cuma buat tes kesehatan sama tes darah." ucap bang Lendra.

Aku meliriknya, melihat bang Lendra makan hanya dengan bumbu dan kuning telor yang tinggal segigit lagi. Sedangkan Chandra, tangannya asik bersandar pada paha bang Lendra. Matanya fokus untuk memperhatikan putih telur yang ia genggam, sesekali ia masukkan ke dalam mulutnya.

"Ya mana kan, tadi mulutnya bekas kak Anisa."

Aku segera menutup mulutku. Aduh, aku merasa keceplosan telah berkata kurang sopan.

Bang Dendi tertawa lepas. Sayangnya, tawa itu hanya keluar dari mulut bang Dendi.

Kak Anisa dan bang Lendra, tengah memberikan pelototan tajamnya.

"Ambil lagi aja telornya, Bang." aku berpura-pura fokus pada hasil masakanku.

"Ngalihin kau!" ketus bang Lendra, yang masih melirik sinis padaku.

"Aku bersih lah. Kau kira, aku sekotor itu?!" ternyata ia adalah rupa orang yang tersinggungan.

"Bersih, Bang. Sayang aja hitam." sahutku sembari menambahkan sepotong telur lagi ke piringnya.

Namun, hal yang sama terulang lagi. Bang Lendra hanya mendapat jatah kuning telurnya saja, sedangkan bagian putih telurnya diberikan lagi pada Chandra.

"Habiskan! Cuci tangan, terus bobo. Sore, main sama Om. Kita jalan-jalan ke fotocopyan. Malemnya, Adek sama Iyung ikut Om Dendi ya? Om Lendranya, nanti mau pergi sama Tante Enis." bang Lendra tengah fokus pada Chandra.

"Pak cek aku, Bang. Bukan om." bang Dendi memperjelas sebutan untuk dirinya.

"Iya, terserah kau!"

"Okeh?" bang Lendra seperti menuntut jawaban dari Chandra.

"Nen."

Kami semua terkekeh, karena Chandra malah fokus pada pucuk dada bang Lendra. Salah sendiri, kenapa ia malah bertelanjang dada.

Jari telunjuknya memainkan pucuk kecil tersebut, membuat bang Lendra terkekeh kegelian.

"Jangan Adek!" ucap bang Lendra sembari terkekeh, saat mulut Chandra terbuka. Ia hendak mencaplok pucuk dada yang memiliki rambut tersebut.

"Nen!" nada suara Chandra sedikit meninggi.

Ia melepaskan kembali pucuk dada tersebut, lalu memukulnya dengan telapak tangannya.

"Ehh, ya gak bisa lah Dek. Masa minta nen sama Om." bang Lendra masih begitu renyah tertawa, ia memperhatikan wajah Chandra yang sudah dirundung kekesalan.

"Yum.... Yum, nen." Chandra mulai menangis, kala ia mencoba lagi untuk mendapat asupan ASInya dari pucuk dada bang Lendra.

Semua orang terpingkal-pingkal, melihat tingkah Chandra ini. Ia kira, pada semua orang ia bisa mendapatkan jatah ASI.

"Yuk, nen sama Biyung." aku mengulurkan tanganku, mencoba mengambil alih Chandra yang berada di pangkuan bang Lendra.

"Dasar kau ngantuk! Banyak tingkah." celetuk bang Lendra, saat melihat aku membenahi pakaianku untuk bisa menyusui Chandra.

Kaki Chandra yang menggantung, menendang-nendang pada bang Lendra.

Aku menahan kaki Chandra, "Janganlah! Tak sopan." ucapku lembut, dengan menutupi mulut Chandra yang tengah menikmati ASInya.

"Kesel ya???"

Aku kaget, sang bang Lendra bergerak mendekat ke pipi Chandra. Karena, posisi anakku tengah menyusu. Aku khawatir, bang Lendra malah mencium dadaku.

Setelah mencium pipi Chandra, bang Lendra fokus menatap wajah Chandra yang tengah mabuk ASI ini.

"Mau kah nen sama Om? Sore nanti beli dot sama susu formula ya?" ia mengusap kepala Chandra.

"Jangan banyak tingkah lah, Bang. Aku diupah yang betul, jangan malah beli susu formula. Pabrik ASI masih jalan produktif." sindirku dengan meliriknya sekilas.

Kak Anisa tertawa lepas, "Jeri payah ya, Dek? Ngilangin getah karet di c*l*na d*l*m."

Tawa renyah kami berbaur menjadi satu. Kami paham apa yang dimaksud getah karet itu.

"Iya, tenang aja. Sekalian nanti Abang referensikan, atas nama Abang." bang Lendra menambahkan secentong nasi kembali, ke dalam piringnya.

"Tapi aku tak dipakai juga kan?"

Ups, pertanyaanku sepertinya salah.

"Gak." bang Lendra menoleh ke arahku dan tertawa renyah.

"Kau kira Abang sebegitu gilanya sama kelam*n perempuan kah?" lanjutnya dengan kembali melanjutkan sesi makannya.

"Mana tau ya, Kak?" aku bergulir menatap kak Anisa.

"He'em." jawab kak Anisa, ia terlihat kaku dengan pembahasan ini. Atau memang, ia tidak siap mendengar setiap jawaban dari bang Lendra.

"Abis gilir sama Putri, pulang gilir sama Enis." tambah bang Dendi.

"Lama gak ketemu Putri. Lebaran tahun lalu keknya terakhir ketemu Putri."

Aku bisa melihat dari sudut penglihatanku, kak Anisa langsung berhenti dari aktivitas makannya.

"Paling sering ketemu bapaknya. Kemarin abis ngirim ke Scotlandia, tapi Abang pakai jasa orang lagi, jadi dibagi."

Apa dengan berbicara seperti ini, bang Lendra menyusupkan arti bahwa dirinya bertahan dengan Putri untuk perihal bisnis saja?

Drtttt......

Aku melirik ponsel bang Lendra, yang berada di sebelah piring nasinya. Layar ponsel itu menyala, dengan notifikasi panggilan telepon dari seseorang.

Terlihat di mataku, ia menatap sekilas nama yang tertera di ponselnya. Lalu ia bergulir untuk melirik reaksi kak Anisa.

Jika.....

...****************...

Cuma di novel ini, nama penulis jadi peran pembantu 🤣 mana miris betul nasibnya 😝

1
Adi Sudiro
nih wanita emang lugu atau bego atau bodoh sih gedeg ama pemeran utama tapi ngak ketulungan
Hi Dayah
ngintip canda lagi
falea sezi
aneh situ selingkuh tp berasa korban adi emank tolol
falea sezi
nangis q
falea sezi
hmmmmm putri neh aneh ma. givan uda celup celup
falea sezi
ya allah canda nasib mu apes bgt punya mantan suami g ada yg bner
falea sezi
males bgt balik ma daeng kasih jodoh yg pas lah
falea sezi
mending tinggal ngontrak canda g hargain suami aduh
falea sezi
andai givar lom nikah tp keluarga ini kok aneh givar kek kurang ajar pdhl uda punya istri hadeh
falea sezi
uda punya istri jg givar nih
falea sezi
lower mah artinya gk seret alias uda longgar/Curse//Curse/
fitri ristina
absen ah...biar pihak nt tahu klo cerita kak niss selalu di hati pembacanya...
Lismardiana
😪😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
Lismardiana
aku benci sm gifar tu
Yunia Spm
ampun ... canda 😄
Yunia Spm
meskipun mas givan hebat segitunya tapi kalo nggak bisa menghargai istri ya tetep nyesek...
aq pribadi ya Thor kalo di bentak² suami tetep mikirnya gini.. awas ya kalo aq punya uang tak balikin semua omongan nya...
intinya itu istri pengen di denger Ama di sayang Ama dompet penuh dah itu aja...
aman semuanya 😁
Yunia Spm
ngidam Rossi nggak keturutan itu
Yunia Spm
ampun ya canda😄
Yunia Spm
🤭
Yunia Spm
Luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!