NovelToon NovelToon
BAYANG-BAYANG MASA LALU Kembar Rahasia Sang Artis Cantik

BAYANG-BAYANG MASA LALU Kembar Rahasia Sang Artis Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Single Mom / Mengubah Takdir
Popularitas:990
Nilai: 5
Nama Author: Nina Jaya

Alena Kirana adalah seorang aktris papan atas yang berada di puncak popularitasnya. Namun,
sebuah kesalahan yang terjadi di satu malam yang dilakukan bersama seorang pria misterius yang ternyata adalah sutradara
sekaligus pewaris tunggal konglomerat dan sangat kejam kepada wanita yg berani menganggu hidupnya, Adrian Dewangga. Ketakutan akan hancur karirnya tidak dia pedulikan asalkan dia selamat dari pria ini . Alena memilih mengundurkan diri dan menghilang total dari panggung hiburan, bersembunyi sangat jauh dari orang-orang yang dia kenal.
Di sana, dia hidup dalam kesunyian, dia melahirkan dan membesarkan dua anak perempuan kembar yang cantik Kiara dan Kiana. Enam tahun berlalu, rahasia yang terkunci rapat itu mulai koyak ketika takdir
membawa Adrian kembali ke hadapannya, menuntut jawaban atas malam kelam yang tak pernah bisa dia lupakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Jaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Konfortasi Di Meja Makan

Suara bantingan pintu gerbang besi di depan halaman rumah Menteng masih menyisakan gaung yang bergetar di dalam dada Alena. Sisa-sisa kehadiran Baskoro Dewangga seolah meninggalkan jejak hawa dingin yang membekukan seluruh ruangan, merenggut kehangatan sinar matahari pagi yang sedari tadi menerobos masuk lewat celah gorden. Di atas meja makan marmer, sebuah piring berisi roti gandum panggang yang baru digigit sekali kini tampak menyedihkan, bersanding dengan sebuah map dokumen kulit berwarna hitam pekat yang ditinggalkan sang patriark bak sebuah vonis mati.

Alena masih menyandarkan kepalanya di dada Adrian, bahunya naik-turun seiring dengan sisa isak tangis yang mulai mereda. Genggaman tangan Adrian di punggungnya perlahan mengendur, memberikan ruang bagi Alena untuk menarik napas dan menegakkan kembali tubuhnya yang terasa ringkih.

Adrian perlahan melepaskan pelukannya, namun kedua tangannya tetap bertumpu di atas kedua bahu Alena, memastikan wanita di hadapannya itu tidak jatuh lunglai. Mata hitam pekat milik Adrian menatap lekat-lekat wajah Alena yang sembab. Ada guratan rasa bersalah yang amat dalam di sana sebuah ekspresi yang sangat langka bagi seorang aktor papan atas yang biasanya selalu mampu menyembunyikan emosinya di balik topeng ketenangan yang dingin.

"Kamu tidak apa-apa?" tanya Adrian, suaranya terdengar sangat parau, seolah-olah ada bongkahan batu yang mengganjal di tenggorokannya.

Alena menghapus sisa air mata di pipinya menggunakan punggung tangan, lalu mengangguk pelan. "Aku tidak apa-apa, Adrian. Hanya saja... kata-kata ayahmu tadi... itu sangat..." Kalimat Alena menggantung di udara. Ia tidak sanggup melafalkan kembali rentetan kata penghinaan yang baru saja dilontarkan oleh Baskoro. Setiap kata itu bagaikan sembilu yang mengiris-iris harga dirinya sebagai seorang wanita.

Adrian menarik napas panjang, lalu berdiri dari posisi berlututnya. Ia berjalan mendekati meja makan, tatapannya tertuju langsung pada map hitam milik ayahnya. "Ayahku adalah seorang pria yang hidup di dunia angka dan kalkulasi korporasi, Alena. Baginya, manusia hanyalah baris-baris angka di dalam laporan keuangan. Reputasi dan nama baik Dewangga Group adalah segalanya. Dia tidak akan segan-segan menggilas siapa saja yang dianggapnya sebagai ancaman atau liabilitas bagi bisnis keluarga."

Adrian mengulurkan tangan kanannya, mengambil map hitam tersebut, lalu membukanya dengan sentakan pelan. Di dalamnya, terdapat beberapa lembar kertas laporan medis resmi, lengkap dengan kop surat dari laboratorium klinik swasta tempat Alena melakukan pemeriksaan darah darurat dua minggu lalu. Di lembar paling belakang, terdapat salinan email privat yang dikirimkan dari sebuah alamat surel anonim menuju alamat email pribadi Baskoro Dewangga.

"Siska benar-benar bermain kotor," desis Adrian seraya membalik lembar demi lembar dokumen tersebut dengan rahang yang kembali mengeras. "Dia tidak hanya menyebarkan rumor buta di forum internasional tadi malam. Dia sengaja mengirimkan dokumen asli ini kepada ayahku karena dia tahu betul bagaimana kepribadian Ayah. Siska ingin meminjam tangan ayahku untuk menghancurkanku dan mengusirmu dari hidupku."

Alena berdiri dari kursinya, berjalan mendekati Adrian dengan langkah yang agak goyah. Ia melirik ke arah kertas-kertas yang dipegang Adrian. "Bagaimana Siska bisa mendapatkan salinan hasil laboratorium itu, Adrian? Bukankah tim hukummu, Baskara, sudah menyita semua berkas asli dan salinan digital dari klinik tersebut minggu lalu?"

Adrian membalikkan tubuhnya menghadap Alena, tatapannya berubah menjadi sangat tajam dan analitis. "Klinik swasta tempat kamu memeriksa kandungan pertama kali adalah salah satu klinik yang berada di bawah jaringan bisnis kesehatan kelas menengah. Siska memiliki koneksi yang sangat luas di kalangan pemilik modal. Kemungkinan besar, sebelum Baskara datang membawa surat perintah hukum dan perjanjian kerahasiaan, Siska sudah terlebih dahulu membayar salah seorang staf administrasi di sana untuk menduplikasi file digitalmu ke dalam sebuah diska lepas (flashdisk)."

Adrian melemparkan kembali map itu ke atas meja dengan gusar. "Ini adalah kecerobohanku. Aku terlalu fokus membentengi media massa arus utama di Indonesia, sampai aku lupa bahwa Siska adalah tipe ular yang akan mencari lubang sekecil apa pun di bawah tanah untuk menyuntikkan racunnya."

Alena menatap map hitam itu dengan pandangan yang kosong. Ancaman Baskoro tentang pencabutan hak waris, pembekuan dana darurat, hingga ancaman tes DNA paksa setelah bayinya lahir kembali terngiang-ngiang di kepalanya, menciptakan gumpalan kecemasan baru yang tidak kalah mengerikan dari ancaman Siska.

"Adrian... tentang apa yang dikatakan ayahmu tadi... tentang hak warismu, tentang sahammu di Dewangga Group... apakah semuanya benar-benar akan dicabut karena pernikahan ini?" tanya Alena dengan suara yang sangat lirih. Ia menatap suaminya dengan rasa bersalah yang amat besar. "Gara-gara aku, kamu kehilangan posisimu sebagai putra mahkota di keluargamu sendiri. Kamu kehilangan segalanya yang sudah kamu bangun di dunia bisnis."

Adrian terdiam selama beberapa saat. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana kain hitamnya, lalu berjalan mendekati jendela besar ruang makan, menatap halaman depan rumahnya yang kini sepi setelah kepergian rombongan mobil ayahnya. Matahari pagi yang kian meninggi memantulkan bayangan siluet tubuh Adrian yang tegap di atas lantai marmer.

"Uang dan saham bisa dicari kembali, Alena," jawab Adrian tanpa membalikkan badannya. Suaranya terdengar sangat tenang, sebuah ketenangan yang lahir dari sebuah prinsip hidup yang kuat. "Dewangga Group memang raksasa, dan ayahku mengendalikan sebagian besar aliran dananya. Tapi aku bukan pria lemah yang hidup hanya dari belas kasihan warisan orang tua. Aku memiliki agensi produksiku sendiri, aku memiliki investasi pribadi di luar negeri yang tidak bisa disentuh oleh sistem hukum ayahku, dan aku masih memiliki nama besarku di industri hiburan."

Adrian berbalik, menatap Alena dengan sebuah senyuman tipis yang sarat akan tekad yang bulat.

"Pencabutan dana darurat konsorsium itu hanya gertakan awal dari Ayah untuk melihat apakah aku akan berlutut dan memohon ampun kepadanya. Jika aku mundur sekarang, jika aku menceraikanmu dan membiarkan anak ini dibuang ke Singapura seperti rencana Siska, maka pada detik itulah aku benar-benar kehilangan segalanya aku kehilangan harga diriku sebagai seorang pria."

Adrian melangkah mendekati Alena, mengikis jarak di antara mereka hingga Alena bisa mencium kembali aroma parfum maskulin yang menenangkan dari tubuh suaminya. "Kita sudah menandatangani perjanjian pranikah itu, Alena. Di hadapan hukum, di hadapan Tuhan, dan di dalam rumah ini, kita adalah rekan tim yang sah. Ancaman Ayah tentang tes DNA sembilan bulan lagi... biarkan saja. Kita tahu betul siapa orang tua dari anak ini. Kita tidak menyembunyikan kebohongan apa pun terkait asal-usul janin ini. Jadi, untuk apa kita harus takut?".

Mendengar penuturan Adrian yang begitu rasional namun penuh dengan perlindungan emosional, Alena merasakan sebuah kekuatan baru merayap masuk ke dalam jiwanya. Kecemasan yang sempat membumbung tinggi perlahan melandai. Pria di hadapannya ini tidak hanya memberikan perlindungan berupa materi dan status hukum, melainkan memberikan sebuah kepastian batin yang membuat Alena merasa tidak lagi berjalan sendirian di dalam labirin yang gelap ini.

"Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang terhadap dokumen ini?" tanya Alena, menunjuk ke arah map hitam di atas meja.

"Aku akan membawa dokumen ini ke kantor Baskara siang ini," jawab Adrian seraya mengambil kembali map tersebut dan memasukkannya ke dalam tas kerja kulitnya.

"Kita harus melacak siapa staf klinik yang telah membocorkan data ini kepada Siska. Kita akan menggunakan jalur hukum pidana murni untuk menjebloskan staf tersebut ke dalam penjara atas tuduhan pelanggaran rahasia medis dan undang-undang informasi transaksi elektronik. Setelah staf itu tertangkap, kita akan menggunakannya sebagai kartu as untuk menuntut Siska atas tindakan konspirasi dan pemerasan."

Adrian melirik jam tangan mewahnya yang melingkar di pergelangan tangan kiri. Waktu menunjukkan pukul sepuluh lewat lima belas menit pagi. "Jadwal syutingku di Bogor akan dimulai pukul satu siang. Aku harus pergi sekarang untuk menyelesaikan sisa adegan drama kita. Kamu tetaplah di rumah, selesaikan sarapanmu bersama Bi Asih. Jangan biarkan pikiran negatif merusak kesehatan fisikmu."

"Iya, Adrian. Hati-hati di jalan," ujar Alena lembut.

Adrian memberikan sebuah anggukan kecil yang mantap, lalu melangkah pergi meninggalkan ruang makan menuju pintu depan, di mana mobil sedan mewahnya sudah menunggu dengan mesin yang menyala.

Sepeninggalan Adrian, Alena kembali duduk di kursi makannya. Suasana rumah terasa kembali sunyi, namun kali ini kesunyian itu tidak lagi terasa menekan seperti tadi malam. Kehadiran Bi Asih yang datang membawa segelas teh jahe hangat baru membantu Alena untuk sedikit lebih rileks.

"Nona Alena... minumlah teh ini selagi hangat," ujar Bi Asih dengan senyuman keibuan yang tulus. "Tuan Adrian sangat mengkhawatirkan Anda. Sejak subuh tadi sebelum dokter datang, Tuan tidak berhenti memeriksa kondisi dapur untuk memastikan semua makanan yang disiapkan ahli gizi tidak memicu rasa mual Anda."

Alena menerima gelas teh tersebut dengan kedua tangannya, merasakan kehangatan menjalar dari telapak tangannya hingga ke dalam dadanya. "Terima kasih, Bi. Adrian... apakah dia memang selalu seprotektif ini terhadap orang-orang di sekitarnya?"

Bi Asih terdiam sejenak, tampak berpikir sebelum menjawab. "Tuan Adrian adalah pria yang tumbuh di lingkungan keluarga yang sangat kaku dan dingin, Nona. Sejak kecil, beliau dididik oleh Tuan Besar Baskoro untuk selalu bersikap sempurna, tanpa cela, dan tidak boleh menunjukkan kelemahan emosional di depan orang lain. Itu sebabnya di depan kamera atau di depan publik, Tuan Adrian selalu terlihat seperti patung es yang tidak tersentuh."

Bi Asih menghela napas pendek, sorot matanya melembut menatap Alena. "Tapi sejak Nona Alena datang ke rumah ini... saya melihat ada perubahan besar pada diri Tuan. Cara beliau menatap Anda, cara beliau menggenggam tangan Anda saat mendengarkan detak jantung bayi tadi pagi... itu adalah ekspresi paling hidup dan paling tulus yang pernah saya lihat dari Tuan Adrian selama bertahun-tahun saya bekerja di sini. Beliau mungkin belum menyadarinya, Nona, tapi di dalam hatinya, Anda dan calon bayi itu sudah menjadi bagian dari hidupnya yang paling berharga, sesuatu yang siap beliau pertahankan meskipun harus mengorbankan posisinya di keluarga Dewangga."

Mendengar cerita dari Bi Asih, Alena tertegun. Ia memandangi permukaan teh jahe di dalam gelasnya yang beriak tenang. Pernikahan mereka memang diawali oleh sebuah tragedi kesalahan satu malam di kamar hotel yang gelap dua minggu lalu sebuah insiden yang awalnya mereka sesali dan ingin mereka hapus dari garis waktu kehidupan mereka. Namun kini, di balik dinding-dinding kokoh rumah Menteng ini, dari balik selembar kertas perjanjian pranikah yang kaku, sebuah realitas baru mulai bertumbuh dengan cara yang tidak pernah mereka duga sebelumnya.

Mereka bukan lagi sekadar dua aktor top yang sedang beradu peran di depan kamera jurnalis demi menyelamatkan reputasi masing-masing. Di dalam sangkar emas ini, di bawah ancaman senyap dari Siska dan tekanan absolut dari dinasti Baskoro Dewangga, mereka telah resmi bertransformasi menjadi sepasang orang tua yang terikat oleh satu detak jantung yang sama di dalam rahim Alena.

Alena meletakkan gelas tehnya, lalu membawa telapak tangan kanannya ke atas perutnya yang masih rata di balik gaun tidurnya yang longgar. Rasa hangat yang tipis mengalir dari sana, menguatkan kembali hatinya yang sempat goyah oleh badai konfrontasi pagi tadi. Konfrontasi di meja makan ini bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sebuah gong pembuka dari sebuah pertempuran panjang di balik layar industri hiburan yang harus mereka hadapi bersama sebagai satu tim yang utuh.

Dan dengan Adrian yang berdiri sebagai perisai di depannya, Alena tahu ia tidak akan lagi membiarkan dirinya jatuh dan menangis dalam ketakutan. Hari esok mungkin akan membawa tantangan yang lebih besar, namun langkah pertamanya di dalam labirin takdir ini telah resmi dimulai dengan sebuah keberanian baru yang lahir dari naluri seorang ibu.

1
Jessica
manager nya berkuasa banget
Aisyah
hamil tiba tiba
Aisyah
novel nya yang bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!