NovelToon NovelToon
Bony Sang Scooter

Bony Sang Scooter

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Teen / Komedi / Romansa-Teen school
Popularitas:25.8k
Nilai: 4.7
Nama Author: dheocto

Hai, namaku Akbar umurku 17 tahun dan baru masuk kelas 1 SMA, ya, anda tidak salah baca, aku memang "terlambat" untuk mendaftar sekolah, diusiaku ini seharusnya sudah berada di kelas 3 SMA. kalian jangan berfikir kalau aku sering tinggal kelas, itu salah! aku selalu naik kelas dengan lancar, peringkatku selalu bagus. ada alasan tersendiri kenapa aku baru mendaftar sekolah, itu yang akan aku ceritakan nanti.
dan juga akan aku ceritakan semua petualanganku bersama Bony, dia bukan manusia, bukan pula hewan, apalagi makhluk ghaib XD
Bony adalah sahabat baikku dia selalu menemani aku dikala susah dan susah. hahahaha ga ada senengnya kalo sama Bony, yah walaupun dia sering "ngambek" cerita ini adalah ungkapan rasa rinduku untuk Bony.
***
"Jangan lupa follow,like and rate ya gaes, *ngomong a la yutuber masa kini
kalo kalian suka ceritaku share ke teman teman kalian.. Thanks

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dheocto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ch.35 – Korban Pertama di Wono Rojo

"Kebersamaan bukan tentang siapa yang paling kuat, tetapi siapa yang tetap bertahan saat semua mulai kesulitan."

— Quotes

Upacara penyambutan akhirnya selesai.

Suara peluit terakhir dari Kak Hisyam menjadi tanda seluruh peserta mulai bergerak menuju area kelompok masing-masing.

Lapangan yang tadi dipenuhi barisan rapi mendadak berubah ramai.

Ada yang sibuk mencari carrier.

Ada yang kebingungan membawa perlengkapan.

Ada pula yang baru sadar topinya tertinggal di truk.

Aku ikut memanggul carrier ke punggung.

Baru beberapa langkah...

talinya mulai terasa menekan bahu.

Kalau ada yang bilang carrier itu nyaman dipakai, kemungkinan dia belum pernah jalan menanjak sambil membawa isi satu lemari. Atau jangan-jangan carrier miliknya memang kosong.

"Hooo..."

Aku menarik napas panjang.

Udara Wono Rojo terasa berbeda.

Lebih dingin.

Lebih lembap.

Dan entah kenapa...

bau tanahnya terasa lebih kuat dibanding kampungku.

Mungkin karena semalam hujan baru saja turun.

Daun-daun pinus yang basah sesekali bergoyang tertiup angin.

Dari kejauhan terdengar suara tonggeret saling bersahutan.

Belum lagi suara peserta yang saling memanggil nama temannya.

Suasananya langsung hidup.

"Kelompok Elang!"

Suara panitia terdengar dari depan.

"Ikut jalur sebelah kanan!"

Kami pun mulai berjalan mengikuti kakak panitia.

Jalur menuju area tenda ternyata tidak serata yang kubayangkan.

Tanah merah.

Sedikit menanjak.

Di beberapa bagian bahkan dipenuhi akar pohon yang muncul ke permukaan.

Belum lima menit berjalan.

Topan sudah mulai mengeluh.

"Bar..."

"Hmm?"

"Carrier-ku kayak nambah berat."

Aku meliriknya sekilas.

"Bukannya nambah."

"Kamu aja yang mulai capek."

"Ck..."

Topan mendecak pelan.

Hogy yang berjalan di belakang langsung menyahut.

"Baru lima menit."

"Masih dua hari lagi."

Topan langsung berhenti melangkah.

"Aku mau pulang."

Aku dan Hogy saling pandang.

Lalu tertawa bersamaan.

"Belum juga pasang tenda."

kataku sambil geleng-geleng kepala.

Topan menghela napas panjang.

"Kalau tahu jalannya begini..."

"Kenapa?"

"...aku bawa becak."

"Yang narik siapa?"

"Kalian."

"Enak aja."

"Yang punya ide siapa?"

"Aku."

"Yang capek siapa?"

"Kalian."

Aku hanya menggeleng pelan.

Kadang aku benar-benar bingung.

Logika Topan itu muncul dari mana.

***

Sekitar beberapa menit kemudian...

kami akhirnya sampai di area tenda putra.

Tempatnya cukup teduh.

Beberapa pohon pinus berdiri berjajar di sekelilingnya.

Tanahnya memang tidak rata.

Sedikit miring mengikuti kontur bukit.

Topan kembali mengangkat tangan.

"Kak!"

Panitia menoleh.

"Iya?"

"Ini bisa tukar tempat gak?"

"Kenapa emangnya?"

Topan menunjuk tanah.

"Miring."

Panitia ikut melihat ke bawah.

"Iya."

"Memang."

"Lha..."

"Kalau tidur nanti gelinding."

Kakak panitia tersenyum tipis.

"Ya berarti kalau tidur sambil diganjel."

Beberapa peserta langsung tertawa.

Topan hanya menggaruk kepala.

Aku ikut tersenyum kecil.

Baru hari pertama...

kami sudah belajar satu hal.

Ternyata hutan tidak dibangun pakai waterpass.

***

"Silakan carrier ditaruh dulu!"

"Jangan dibuka sebelum aba-aba!"

Kami segera meletakkan carrier masing-masing.

Topan langsung menjatuhkan carrier miliknya ke tanah.

"Alhamdulillah..."

Suara benturannya cukup keras.

"Bruk!"

Dia langsung mengusap bahunya.

"Bar..."

"Hmm?"

"Ternyata yang berat bukan carrier."

"Lalu?"

"Beban Hidupku."

Aku tertawa kecil.

"Halah..."

"Kalau baru segini sudah ngeluh..."

"Nanti gimana pas jelajah malam?"

Topan langsung membelalakkan mata.

"Jelajah malam?"

"Iya."

"Jauh?"

Aku mengangkat bahu.

"Nggak tahu."

Topan langsung menoleh ke Hogy.

"Hog..."

"Kalau aku pura-pura pincang..."

"Kira-kira boleh nggak?"

Hogy menatapnya datar.

"Boleh."

"Wah serius?"

"Iya."

"Asal pincangnya sampai lulus."

Topan langsung manyun.

Aku kembali tertawa.

Entah kenapa...

baru beberapa jam berada di Wono Rojo...

rasanya suasana hati kami sudah kembali seperti biasa.

Mungkin benar kata orang.

Tempat baru memang sering membawa cerita baru.

***

Suara peluit kembali terdengar nyaring.

Preeet...!

"Setiap kelompok segera membuka perlengkapan tendanya!"

"Lima belas menit mulai sekarang!"

"Kalau belum berdiri..."

"...siap menerima konsekuensinya!"

Mendengar kalimat terakhir, suasana yang tadinya santai langsung berubah.

Semua buru-buru membuka carrier masing-masing.

Ada yang mencari pasak.

Ada yang membuka gulungan tenda.

Ada pula yang malah sibuk membaca petunjuk pemasangan.

Aku ikut membuka carrier.

Ponco.

Sarung.

Jaket.

Nesting.

Kotak P3K.

Semuanya masih tersusun rapi seperti waktu berangkat tadi pagi.

Sementara di sebelahku...

Topan sudah membongkar isi carrier sampai separuhnya.

"Bar..."

"Hmm?"

"Celanaku tinggal satu."

Aku melirik carrier miliknya.

"Emang bawa berapa?"

"Dua."

"Lha satunya?"

"Nggak tahu."

Aku ikut membantu melihat isi tasnya.

Tidak ada.

Topan mulai panik.

"Waduh..."

"Kalau tiga hari nggak ganti celana..."

Hogy langsung menyahut.

"Tenang."

"Apa?"

"Yang pingsan duluan bukan kamu."

Topan mengernyit.

"Terus?"

"Kami."

Aku langsung tertawa.

Topan melempar gulungan kaus kaki ke arah Hogy.

Dasar.

Belum juga mulai...

sudah ribut.

"Eh..."

"Ini apaan?"

Topan mengangkat sebuah benda berbentuk kantong kain.

Aku menoleh.

"Itu nesting."

"Oalah..."

"Aku kira helm."

Aku menahan tawa.

"Helm kok aluminium."

"Ya siapa tahu model baru."

Hogy menggeleng pelan.

"Model baru dari mana..."

"Itu buat masak."

Topan langsung memasukkan kembali nesting ke dalam carrier.

"Syukurlah."

"Kenapa?"

"Kirain aku lupa bawa helm."

Aku dan Hogy saling pandang.

Lalu tertawa bersamaan.

Kadang aku curiga...

Topan memang sengaja lahir untuk membuat hidup orang lain lebih ramai.

***

"Kak!"

Salah satu anggota kelompok mengangkat gulungan tenda.

"Ini dibuka sekarang?"

"Iya."

"Buka saja."

Gulungan tenda langsung dibuka.

Lima detik kemudian...

Semua terdiam.

Di hadapan kami hanya ada...

kain besar.

Tiang.

Pasak.

Dan tali yang kusut.

Tidak ada satu pun yang bergerak.

Topan memecah keheningan.

"Bar."

"Hmm?"

"Ini mulai dari mana?"

Aku ikut menatap tenda itu.

Lalu menjawab setenang mungkin.

"Dari dibuka."

"YA UDAH DIBUKA!"

Semua langsung tertawa.

Aku ikut nyengir.

"Iya juga."

***

Salah seorang teman mencoba menyambungkan tiang.

Yang lain menarik kain.

Hasilnya...

tiangnya malah terbalik.

"Eh..."

"Bukan situ!"

"Yang itu!"

"Lho..."

"Ini depan apa belakang?"

Topan langsung menunjuk salah satu sisi tenda.

"Ini depan."

Aku menggeleng.

"Bukan."

"Lho kok tahu?"

"Kalau itu depan..."

"Pintunya di mana?"

Topan langsung terdiam.

"Eh..."

"Iya ya..."

Hogy menepuk pundaknya pelan.

"Untung rumahmu nggak kamu bangun sendiri."

Kalau tidak...

kemungkinan pintunya menghadap langit.

Topan langsung mengambil pasak.

"Udah."

"Nggak usah banyak komentar."

"Aku yang pasang."

Dia mengambil batu sebesar kepalan tangan.

Lalu mengangkat pasak.

"Awasss..."

Tak!

"Bukan pasaknya yang kena."

Melainkan...

jempolnya sendiri.

"AW!"

Topan langsung melompat-lompat sambil memegangi tangannya.

Aku berusaha menahan tawa.

Hogy malah sudah jongkok sambil tertawa sampai memegang perut.

"Gimana?"

"Pasaknya masuk?"

Topan meringis.

"Enggak."

"Jempolku yang hampir masuk."

Aku akhirnya ikut tertawa.

Lumayan lama.

Sampai perutku terasa pegal.

Setelah suasana sedikit tenang, aku kembali melihat gulungan tenda di depan kami.

Aku mencoba mengingat-ingat.

Dulu...

waktu masih latihan silat.

Guru pernah mengajarkan cara mendirikan tenda sederhana.

Memang bukan model yang sama.

Tapi kurang lebih prinsipnya mirip.

Aku mengambil dua batang tiang.

Lalu menyusunnya perlahan.

"Coba..."

"Tiangnya jangan disilang dulu."

Salah satu teman mengikutinya.

"Begini?"

"Iya."

"Lalu kainnya tarik pelan."

Topan yang masih mengusap jempol ikut membantu.

"Yang sini?"

"Iya."

Beberapa menit kemudian.

Rangka tenda mulai terlihat.

"Lho..."

"Bisa juga."

Aku hanya mengangkat bahu.

"Kayaknya."

"Memang begitu."

Hogy langsung menyeringai.

"Jawabanmu selalu kayak orang yang udah lahir duluan sepuluh tahun."

Aku tertawa kecil.

"Padahal sama-sama baru pertama di sini."

"Tapi kamu sok tenang."

Aku mengangkat kedua tangan.

"Kalau panik..."

"...tendanya tetap nggak bakal berdiri."

Semua kembali tertawa.

Di kejauhan, angin kembali bertiup pelan.

Daun-daun pinus bergesekan.

Sementara tenda pertama kami...

akhirnya mulai menyerupai sebuah rumah.

***

Perlahan...

kerangka tenda mulai berdiri.

Satu orang memegang tiang.

Dua orang menarik tali.

Sisanya sibuk mencari pasak yang sejak tadi entah berpindah ke mana.

"Awas..."

"Tarik pelan..."

"Iya... iya..."

"Eh..."

"Jangan terlalu kencang!"

Belum sempat kalimat itu selesai...

Bruk!

Seluruh rangka tenda kembali roboh.

Hening.

Semua saling pandang.

Lalu...

Topan menghela napas panjang.

"Aku curiga..."

"Apa?"

"Tenda ini belum ikhlas berdiri."

Aku spontan menimpali.

"Mungkin masih ngantuk."

Seketika semua kembali tertawa.

Kadang aku juga heran.

Kenapa hal-hal seperti ini justru terasa lucu kalau dikerjakan ramai-ramai.

Kalau dipikir sekarang...

mungkin bukan tendanya yang membuat kami tertawa.

Tapi orang-orangnya.

***

"Udah..."

"Coba sekali lagi."

Aku mengambil kembali dua batang tiang.

Kali ini kami bekerja lebih pelan.

Tidak saling berebut.

Topan memegang salah satu sudut.

Hogy membantu menarik kain tenda.

Aku memasang pasak sedikit demi sedikit.

"Yang sini agak masuk lagi."

"Iya."

"Talinya jangan terlalu tegang."

"Siap."

Entah bagaimana...

kali ini semuanya terasa lebih mudah.

Beberapa menit kemudian...

tenda itu akhirnya benar-benar berdiri.

"Jadiii!"

Topan langsung mengangkat kedua tangan.

Seolah baru saja menjuarai lomba mendirikan tenda tingkat dunia.

Aku tertawa kecil.

"Hasil kerja kelompok."

"Iya..."

"Kelompok yang hampir bubar."

balas Hogy.

Tak jauh dari tempat kami.

Seorang kakak panitia berjalan perlahan melewati setiap kelompok.

Beliau sesekali berhenti.

Mengoreksi letak pasak.

Merapikan tali.

Memberi arahan seperlunya.

Saat tiba di kelompok kami...

beliau berhenti.

Kak Hisyam.

Matanya memperhatikan tenda kami beberapa detik.

Lalu melihat simpul yang kupasang di salah satu tali.

"Kamu yang buat?"

Aku mengangguk pelan.

"Iya, Kak."

"Belajar dari mana?"

"Waktu latihan silat dulu pernah diajarin."

Beliau mengangguk kecil.

"Simpulnya sudah benar."

"Cuma talinya kurang dikendurkan sedikit."

"Oh..."

"Iya, Kak."

Tanpa banyak bicara, Kak Hisyam kembali berjalan menuju kelompok lain.

Aku langsung mengendurkan sedikit tali yang beliau tunjuk.

Benar juga.

Tendanya langsung terlihat lebih rapi.

Topan menyenggol lenganku pelan.

"Bar..."

"Hmm?"

"Kamu dipuji."

Aku menggeleng.

"Bukan dipuji."

"Dibenerin."

Hogy langsung menyahut.

"Minimal masih dibenerin."

"Lah kalau kamu..."

"Biasanya langsung disuruh ulang."

Topan mendecak.

"Kalian ini sahabat apa panitia?"

Aku dan Hogy kompak menjawab.

"Panitia."

"Lho kok kompak?"

"Karena yang dikerjain kamu."

Topan hanya bisa menggeleng pasrah.

***

Di sisi lain bumi perkemahan...

Aisyah baru saja selesai membantu kelompoknya membentangkan alas tenda.

Saat hendak mengambil tali tambahan...

tanpa sengaja pandangannya mengarah ke area tenda putra.

Suara tawa kembali terdengar.

Tidak sulit menebak siapa penyebabnya.

Tiga anak itu.

Yang satu masih sibuk mengusap jempolnya.

Yang satu tertawa sambil memegangi perut.

Sedangkan yang satu lagi...

masih memasang wajah datar.

Padahal beberapa detik sebelumnya ikut melontarkan candaan.

Aisyah tanpa sadar tersenyum kecil.

"Kenapa ya..."

"Kalau mereka bertiga berkumpul..."

"Pasti ada saja yang terjadi."

Entah mengapa...

suasana di sekitar mereka selalu terasa lebih ramai dibanding kelompok lain.

"Aisyah."

Suara salah seorang kakak panitia memanggil.

"Iya, Kak."

Ia segera berbalik.

Senyum kecil itu perlahan menghilang.

Masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.

***

"Alhamdulillah..."

Topan langsung membuka resleting tenda.

"Tak coba dulu."

"Boleh."

"Tapi hati-hati."

Aku bahkan belum sempat menyelesaikan kalimatku.

Topan sudah lebih dulu menerobos masuk.

Duduk.

Menyandarkan punggung.

Lalu menarik napas lega.

"Nah..."

"Begini kan enak..."

Creeek...

Terdengar suara kecil dari depan.

Aku menoleh.

Salah satu pasak perlahan tercabut dari tanah yang terlalu gembur.

"Lho..."

Belum sempat siapa pun bergerak.

Brak!

Bagian depan tenda kembali melorot.

Topan yang berada di dalam langsung berteriak.

"WOI!"

"Gelap!"

Aku spontan memegangi perut.

Hogy sampai terduduk di tanah karena terlalu keras tertawa.

Bahkan beberapa kelompok di sebelah ikut menoleh.

"Topan..."

kataku sambil menahan tawa.

"Kamu itu peserta kemah..."

"...apa penguji ketahanan tenda?"

Dari balik kain tenda terdengar suara kesal.

"Ini tendanya yang lemah!"

Hogy langsung membalas.

"Bukan."

"Kamunya yang kebanyakan makan."

"Fitnah!"

Kami kembali tertawa.

Kalau dipikir-pikir...

baru setengah hari berada di Wono Rojo.

Korban pertamanya ternyata bukan manusia.

Melainkan...

tenda kami sendiri.

***

Tak lama kemudian...

suara adzan Dzuhur berkumandang dari mushola kecil di dekat sekretariat.

Allahu Akbar...

Allahu Akbar...

Suasana bumi perkemahan yang tadi riuh perlahan mulai tenang.

Para peserta menghentikan pekerjaannya.

Ada yang membersihkan tangan.

Ada yang mengambil sarung.

Ada yang berjalan menuju tempat wudhu sambil membawa sandal.

Aku menepuk-nepuk telapak tanganku.

Tanah merah masih menempel di sela-sela jari.

Topan ikut melihat tangannya sendiri.

"Bar..."

"Hmm?"

"Kalau begini..."

"...aku cuci tangan dulu apa cuci muka sekalian?"

Aku menunjuk wajahnya.

"Itu dulu."

"Kenapa?"

"Tanahnya pindah semua."

Topan langsung mengusap pipinya.

Hogy kembali tertawa.

Aku ikut tersenyum.

Lalu kami bertiga berjalan menuju mushola.

Melewati antrean peserta yang mulai mengular di tempat wudhu.

Aku sempat melirik antrean itu.

Lalu tanpa sadar tersenyum sendiri.

Kalau kalian mengira tantangan pertama saat kemah adalah mendirikan tenda... percayalah... antre MCK nanti jauh lebih menguji kesabaran.

1
Dinasti Khaida
ditunggu kak
dheocto [online]: maaf nunggu lama, udah up ya beb hehe
total 1 replies
Ran_kudo
nahh lohh..
pilih dewie apa aisyah??
Ran_kudo
jangan maruk bar..
smua pengen di embat..
pilih salah satu aja..😁😁
nEVe®_ENd
aku malah penasaran sama emak 😄
nEVe®_ENd
singkong goreng...😁
Susan Sinuraya
hallo .. aku mampir lagi ...
go go.. semangat...

sehat terus ya thor
sukses berkarya ...

Salam DANAU CINTAKU
nEVe®_ENd
author ini kayaknya seangkatan sama aku... lagunya jadul semua..tp masih bersemayam di hati 🤣🤣
nEVe®_ENd
nggak banyak typo kok thor...
opo gak ono iki mau🤔🤔
halah emboh lali wes terbawa suasana 🤣🤣
Icha
hhhehdhp
nEVe®_ENd
apek iki ceritane 😊
nEVe®_ENd
wul...tiwul owal awul 🤣🤣🤣
nEVe®_ENd
Bony...namanya keren... nggak taunya itu singkatan to..bokonge muni 😄😄😄

suka aku bahasanya, nggak kaku....kayanya wong jowo ini authornya😁😁
Ayunina Sharlyn
oke thor
Shanty Fadillah
hay thor aku sudah mampir di karyamu

yuk mampir juga di karya pertamaku.
"cinta tanpa syarat Da💘Ra"

aku sudah bom like di stiap babnya
Rain04
waooo kk ceritanya menarik semangat terus jangan lupa mampir dicerita aku " Anak Motor" Saling support thorr♥️♥️
Ayunina Sharlyn
sering ketemu. novel diawali tokohnya dibangunin ✌🤩
nhiaarKMD_19
semangat thor aku mampir jangan lupa feedback yah
devita_•
hahaha ceritanya lucu thor
emaknya akbar kek mm gue aja
Khasiatun Setiyo Rini
author belum on lagi
Nenk Rina Olive
manggilnya jgn wul dong thor.. dh ky tiwul aja.. 🤭🤭 tp kok jd sedih c 😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!