Reyhan, Hasby Nugraha, Dera, Nanda dan Baron. Mereka bersahabat sejak kecil, tumbuh bersama, menikah dan berstatus duda bersamaan.
Siapa sangka, di balik keceriaan dan kekonyolan mereka. Tersimpan misteri masa lalu yang rumit.
Siapa menduga, salah satu diantara mereka putra salah satu jutawan. Siapa yang mengira, salah satu diantara mereka putra seorang mafia yang di takuti dan telah membunuh salah satu ibu sahabat kelima duda tersebut.
Akankah persahabatan mereka tetap abadi hingga maut memisahkan? atau misteri masa lalu akan terkuak dan memecah belah persahabatan mereka?
Kunci dari jawaban itu semua terletak pada orang tua masing masing.
Bagaimana kisah selanjutnya yang akan mewarnai perjalanan mereka? asmara, wanita, dan pertengkaran diantara mereka akan menjadi batu sandungan persahabat kelima duda tersebut.
Semua tokoh terinspirasi dari member grup chat. Yuk ikuti kisahnya, jangan lupa vote, like dan komen ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penculikan
Setelah mempelajari dengan teliti semua berkas data warga komplek Permai Indah, Wiliam akhirnya mengetahui tempat tinggal para musuh lamanya yang ternyata tinggal dalam satu komplek perumahan yang sama.
Tanpa membuang waktu lagi, Wiliam bergerak cepat bersama kedua anak buahnya dan mulai melancarkan aksinya. Malam ini Wiliam berencana menculik Patma untuk memancing kemunculan kawan-kawan Patma yang lain seperti Wina, Komeng dan Jarwo.
Wiliam menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Patma, dan langsung menyuruh kedua anak buahnya untuk keluar dari dalam mobil dan langsung menculik Patma. Sementara Wiliam tetap berada di dalam mobilnya, sambil terus memantau keadaan.
"Cepat selesaikan pekerjaan kalian, jangan sampai ada keributan dan mengundang kecurigaan warga. Bila perlu ikat tangannya, lakban mulutnya." Perintah William.
"Siap Bos!" sahut kedua pria yang sudah menggunakan topeng.
Sementara Patma yang lagi asik makan cemilan sambil menonton film india kesukaannya. Mulutnya mengunyah, matanya berkaca kaca hanyut kedalam alur cerita film India yang ia tonton. Samar samar ia mendengar suara langkah kaki dari belakang, ia pikir itu Reyhan pulang dari bermain.
"Emang ngak da ahlak lu ya? Salam kek masuk rumah itu, kaya kagak pernah di ajarin lu." Umpat Patma tanpa menoleh ke belakang.
"Eehh tunggu, kalian siapa??" Patma terkejut, tiba tiba kedua tangannya di cengkram kuat dari belakang. "Apa apaan ini, lepasin kagak!"
Patma berusaha melepaskan diri. Namun usahanya sia sia, salah satu dari mereka memukul tengkuk Patma hingga jatuh pingsan. Lalu dengan mudah kedua orang asing tersebut meringkus Patma lalu membawanya masuk ke dalam mobil yang sudah di tunggu oleh William.
"Kerja bagus, ayo kita pergi!" perintah William.
Selang beberapa menit setelah mobil milik William meninggalkan rumah Patma. Reyhan pulang pulang dan memasuki rumahnya yang tak terkunci.
"Kebiasaan makk suka teledor." Rutuk Reyhan lalu menutup pintu.
Awalnya Reyhan tidak memperdulikan, namun melihat cemilan kesukaan Patma berserakan di lantai, tv yang terus menyala membuat Reyhan curiga dan berpikir kalau Patma tengah mengerjainya.
"Makk!!" panggil Reyhan menatap ke arah pintu kamar pribadi Patma.
"Makk!!" panggil Reyhan lalu berjalan mengendap, membuka pintu kamar lebar lebar.
"Darrr!!" Namun Reyhan tidak menemukan Patma sama sekali, lalu ia kembali keluar kamar dan mencarinya di setiap sudut ruangan.
"Makkk!!"
Satu jam berlalu, Reyhan berkeliling sekitar rumah namun keberadaan Patma tidak di temukan. Akhirnya ia memutuskan untuk bertanya pada orang sekitar yang masih berada di luar rumah. Namun tak satupun yang melihat Patma. Kemudian Patma menghubungi Hasby, apakah emaknya ada di rumahnya atau tidak. Namun semuanya sia sia, tak satupun yang tahu di mana Patma berada.
"Mungkin Makk pergi ke toko buat beli cemilan, sebaiknya aku tunggu di sini." Gumam Reyhan lalu duduk di kursi depan tv, beberapa menit kemudian Reyhan tertidur lelap di depan tv.
****
Sementara mobil yang membawa Patma, di tengah perjalanan berhenti mendadak. Di depan terjadi keributan dan dua buah motor ambruk menghalangi jalan yang akan di lalui oleh mobil milik William. Berkali kali sang sopir membunyikan klakson namun tak di gubris oleh mereka yang tengah ribut adu mulut, sampai sopir pribadi William harus berteruak dan keluar dari pintu mobil menghampiri mereka yang sedang bertengkar.
"Lu duluan nyenggol motor gue!!" seru salah satu pria berkepala plontos menatap tajam ke arah Jarwo dan Komeng.
"Etdah ni bocah kagak tahu sopan santun! babeh lu kagak ngajarin apa yak??!" balas Komeng geram.
"Heh pak tua, jangan bawa bawa orang tua gue!" tunjuk salah satu pria berambut gondrong yang tak lain dua preman komplek tersebut, bernama Risol dan Gaplek.
"Wah ngece si Gaplek," timpal Jarwo. "Ni, gua gini gini juga masih bisa pacarin janda kembang komplek sebelah!" sungut Jarwo menepuk dada.
"Serius Wo?" bisik Komeng.
"Kagak, mana gue sanggup. Encok gue bisa kumat tiap malam." Balas Jarwo pelan di akhiri tertawa terkekeh.
"Maaf bapak bapak, kami mau lewat. Bisa kalian singkirkan motor kalian?" pinta sopir pribadi William yang bernama Pastel.
"DIAM!!" tunjuk Jarwo dan yang lain ke arah Pastel.
Pastel terhenyak kemudian ia meminta dengan sopan sekali lagi.
"Kami-?"
"DIAM!!" tunjuk Jarwo dan yang lain.
"Rupanya ka-?"
"DIAM!!" bentak Komeng. "Rupanya lu cari gara gara, Risol, Gaplek, tutup mulutnya!"
"Baik Beh!!" sahut Gaplek dan Risol berbalik arah menyerang Pastel.
William yang berada di dalam mobil, akhirnya meminta anak buahnya untuk menyelesaikan masalah. Namun pada akhirnya, mereka terlibat perkelahian tiga lawan empat.
Siapa yang tak kenal Komeng? Jawara no satu yang di takuti pada jamannya, begitu juga dengan Jarwo, di tambah dua preman komplek. Anak buah William mulai kewalahan dan tersudutkan.
William yang berada di dalam mobil mulai gelisah, ia keluar dari pintu mobil dan memanggil anak buahnya untuk berhenti berkelahi. Namun tanpa William sadari, Patma yang mulai sadar dari pingsannya berusaha keluar dari pintu mobil yang terbuka meski tangannya terikat dan mulutnya di lakban.
Patma bergegas berlari menghampiri Jarwo dan yang lain. Melihat Patma berhasil melarikan diri, William semakin panik, akhirnya ia memutuskan untuk membiarkan Patma kabur. Ia dan anak buahnya memilih pergi dari pada harus mendapatkan masalah.
"Mmmmm!" Patma meminta tolong kepada Jarwo dan Komeng untuk di lepaskan lakban di mulutnya.
"Hahahah! lu kurang kerjaan apa ya?" goda Komeng tertawa, ia belum mengetahui situasi yang terjadi pada Patma.
'Mmmm!!" Patma kembali meminta tolong, dengan memutar tubuhnya memperlihatkan kedua tangannya yang di ikat.
Jarwo dan Komeng saling pandang sesaat, lalu membantu Patma melepas ikatan tali di tangan dan membuka lakban di mulutnya.
"Sialan lu!!" rutuk Patma seraya memukul tangan Jarwo dan Komeng. "Bukannya di bantuin malah di ketawain!!"
"Lah, gue pikir lu lagi bercanda Patma." Kata Jarwo.
"Iye, gue pikir juga begitu." Timpal Komeng.
"Mak Patma, ada ape?" tanya Risol.
"Diam lu cemilan gue, lu juga sama saja!" bentak Patma menatap tajam Risol. Kemudian Patma menceritakan apa yang terjadi padanya.
"Jadi? yang tadi itu?" ucap Jarwo baru memahami setelah Patma bercerita.
"Wah, komplek kita mulai tidak aman." Timpal Geplak.
"Cepat, kalian harus berjaga sekitar komplek, soal uang gampang!" perintah Jarwo.
"Siap Beh!" sahut Geplak dan Risol, kemudian mereka mengangkat motor miliknya dan meninggalkan tempat.
"Lu kenal? siapa yang nyulik lu?" tanya Jarwo.
"Gue kagak kenal!" sahut Patma kesal.
Jarwo dan Komeng saling pandang satu sama lain. Siapa di balik penculikan Patma?
baru baja udah srek Ama bahasenye
top markotop dah
B...
Msh muda bgt dah men'Duda'??
Ikutan nimbrung ma Mas mas Duda
🙏🤺🏃🥰