“Kau tak dapat memilih dengan siapa kau jatuh cinta..., cintalah yang memilihmu..., namun kau dapat memilih sebuah rasa dari cinta...”
Aku memang playboy brengsek tapi aku tidak mau adikku kena karmaku, karena harus berpasangan dengan lelaki yang sama sepertiku - Daichi Matsumoto
Aku hanyalah orang biasa yang tak punya apa-apa dan tak sanggup mencinta karena hatiku sejak dulu telah lama terluka dan mati... - Luna Putri Putranto
Memangnya aku harus bilang siapa aku baru berhak mengusirmu? Yang merasa terganggu itu justru aku. Untuk apa kau mengurusi orang biasa sepertiku? Urusilah urusanmu sendiri! - Kirana Kiseki Matsumoto
Aku akan menaklukkannya dan akan kujadikan ia milikku seutuhnya dengan cara apapun sehingga ia tidak akan pernah bisa lari dariku. Meskipun ia berteriak kesakitanpun aku tak akan melepaskannya hingga aku merasa bosan baru aku akan membuangnya! - Akio Fujiwara
Kusumpahi kalian kena karma jatuh cinta pada gadis yang tidak tertarik pada kalian berdua! Khusus Akio, kusumpahi kau jatuh cinta pada adik dari Daichi senpai! Dan aku menyesali ucapan itu kepada mereka berdua... - Kazuto Hoshi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggun Kartika Mundikasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15-1
"Ini apa Ma?" Kirana menatap bingung dengan koper ukuran sedang berwarna biru miliknya berada sejajar dengan koper berukuran sama dengan Ibunya berada diruang tamu tanpa izin darinya. Ia yang tampak kelelahan karena seharian berkutat dengan mata kuliah dan perasaan patah hati yang berusaha tidak ia tampakan dengan memberikan senyuman palsu dan memaksa di bibirnya, menjadi tak habis pikir apa yang ada dibenak Ibu tercintanya itu menyiapkan semua itu. Ayolah, jangan sampai ide konyol sang Ibu membuat segalanya semakin memburuk.
"Persiapan untuk pergi besok Nak," Jawab Rea santai sambil mengetik naskah novelnya pada laptop yang ia letakkan dipangkuannnya.
"Memangnya kita mau kemana Ma?" Kirana menghela napas panjang dan meletakkan tas punggung coklat yang dibawanya diatas meja ruang keluarga kemudian menuju toilet untuk mencuci tangan dan kakinya. Dengan suasana hatinya saat ini yang membutuhkan waktu untuk menyendiri, rasanya terlalu memaksakan jika ia harus berpergian jauh seolah melarikan diri.
"Kesuatu tempat yang pasti akan kamu sukai!" Jawab Rea sambil mengangkat jempol tangan kanannya tanpa menolehkan tubuhnya yang sedang berduduk santai disofa ruang keluarga.
"Aku tak punya banyak waktu senggang Ma, aku justru ingin menenangkan diriku sendiri dan tidak mau kemana-mana weekend ini," Kirana menghampiri Rea dan duduk disebelahnya. Tak lupa dirinya mencium telapak tangan kanan Mamanya dan dibalas dengan kecupan hangat oleh Rea pada kening Kirana.
"Justru karena weekend Mama ingin mengajakmu pergi keluar, jadi tidak ada waktu mengurung dan meratapi dirimu yang sedih dan patah hati itu," Lanjut Rea.
"Mama nggak akan mengerti perasaanku sekarang," kedua mata Kirana menjadi nanar dan ia berusaha setengah mati untuk menahan air matanya agar tidak jatuh membasahi pipinya setiap kali disinggung ucapan mengenai perpisahannya dari Akio. Hari-harinya tak lagi sama, langkahnya menjadi berat dalam menjalani semua aktifitasnya. Sial! Ia tak pernah menyangka bahwa mengalami patah hati rasanya sesakit ini. Dirinya yang terkenal tangguh dan kukuh meskipun putus hubungan dengan mantan-mantannya dulu akhirnya merasakan apa yang dirasakan mereka ketika putus darinya. Tak ia sangka jatuh cinta begitu menggerogoti tidak hanya harga dirinya namun juga hatinya. Melihat kemesraan yang selalu ditunjukan oleh kedua orang tuanya, ia yakin beliau berdua menjalani percintaan mereka yang cukup rumitnya dengan berpegang teguh untuk menguatkan satu sama lain. Betapa iri dirinya ketika membaca salah satu novel milik Mamanya yang menceritakan tentang kisah cinta mereka dan perjuangan Papanya untuk mendapatkan restu dari Kakek dan Neneknya di Indonesia. Seandainya Akio juga melakukan hal yang sama. Ah, rasanya hal itu seperti angan-angan saja ketika Akio dengan mudahnya melepaskan hubungan yang telah susah payah diperjuangkan pria itu untuk membuka hatinya. Kirana merasa menjadi orang terbodoh di dunia menyadari ternyata betapa mudahnya ia menyerahkan hatinya hingga ia tak menyangka akan terluka. Pria itu lebih mementingkan harga dirinya dan janji konyol dengan Daichi untuk menjauhinya hanya karena alasan yang dinamakan persahabatan dibandingkan mempertahankan hubungan mereka. Setiap kali membayangkan ekspresi wajah dan ucapan kata 'putus' yang diutarakan Akio seolah apa yang mereka jalani hanyalah khayalan semata membuat dadanya nyeri bak ditikam sembilu. Ia menepuk-nepuk dadanya guna meringankan rasa sakit itu.
"Justru karena Mama mengerti perasaanmu Rana," Rea menghentikan ketikan jarinya pada keyboard laptop dan menoleh kearah anak gadisnya yang berwajah kusut nan semrawut karena telah berjuang seharian menipu dirinya dengan berpura-pura semua baik-baik saja. Ia sendiri tak menyangka bahwa Kirana akan jatuh cinta dan berhubungan dengan Akio Fujiwara, pewaris Fujiwara Enterprise yang notabennya tak pernah ingin terikat hubungan serius dengan siapapun sementara Kakeknya sangat getol ingin menjodohkannya dengan Kirana yang tentu saja ditolak mentah-mentah oleh Daiki dan Daichi dengan kompaknya jika karena alasan bisnis yang menjadi dasarnya. Rea mengerti bahwa urusan bisnis tidak dapat dicampur adukkan dengan urusan percintaan berkaca dari hubungannya dan Daiki yang berbeda latar belakang. Namun siapa sangka takdir berkata lain sehingga pria itu sendiri yang datang menghampiri anak gadisnya. Mendengar cerita Kirana, lelaki tersebut dipukuli putranya yang tak terima bahwa ia membuat adik perempuan satu-satunya jatuh cinta dan diminta untuk menjauhinya. Ia yakin Akio sama shock dan putus asanya dengan Kirana. Dirinya pernah muda dan jatuh cinta serta tahu bagaimana rasanya patah ketika sedang cinta-cintanya. Ia jadi penasaran, sebenarnya apa yang terjadi sehingga Daichi tak mengizinkan Akio bersama Kirana? Pemuda itu memiliki latar belakang yang baik. Apa yang jadi masalah? Untuk menemukan jawaban dari semua itu adalah hal yang sudah pasti tidak mudah. Ia mengenal watak putranya yang tidak akan semudah itu ringan tangan terlebih lagi kepada sahabatnya sendiri jika alasannya tidaklah kuat. Namun untuk saat ini lebih baik ia fokus mengurusi anak gadis disampingnya ini yang berjuang keras menahan tangisnya tumpah kembali sejak ia datang kemari. Jika Daiki tahu kondisinya putrinya saat ini, sudah pasti akan terjadi drama yang berlebihan sama seperti putranya yang terlalu overprotective itu. Cukuplah ia menghadapi putranya, tidak keduanya saat ini yang akan membuat kepalanya semakin pusing.
Rea yang tak tega, kemudian menarik kepala anaknya itu untuk bersender dipundaknya. "Sudah, kalau ingin menangis, menangislah, daripada kamu tahan-tahan malah semakin menyakiti hatimu?"
"Ma...," Kirana memeluk erat Rea dan mulai menangis kencang untuk meluapkan emosinya yang selama seminggu ini dirinya tahan. Ia sebenarnya lelah untuk menangis, namun hati ini tak juga mau bersinkronisasi secara harmoni dengan logikanya untuk menerima kenyataan bahwa semuanya telah berakhir, bahwa impiannya yang mulai ia rajut bersama Akio tak mungkin dapat terlaksana karena sikap pengecut pria itu. Ia hanya berharap semoga ini menjadi tangisnya yang terakhir sehingga ia dapat kembali fokus untuk menggapai cita-citanya yang begitu ia bangga-banggakan untuk menjadi dokter. Ia hanya berharap semuanya akan dapat kembali normal seperti sedia kala ketika ia tak mengenal pemuda itu. Ia hanya berharap.
"Iya, anggap saja ini adalah awal dari kebahagiaan yang akan kamu rengkuh kedepannya," Rea mengusap-usap lembut rambut yang senada dengan miliknya. “Puaskanlah tangismu hari ini dan besok kita akan bersenang-senang.”
“Um,” Angguk Kirana dalam tangisnya dan memeluk Rea semakin erat serta menumpahkan segala rasa yang membuncah didadanya.
Tanpa Rea dan Kirana sadari setiap gerak-gerik mereka terpantau oleh kamera CCTV yang terhubung dengan layar komputer di meja kerja Daichi. Katakanlah dirinya gila karena memata-matai setiap gerak-gerik Kirana. Ia tak mau kecolongan untuk kedua kalinya mengenai adik yang sangat disayanginya itu. Biarlah ia dikatakan kejam telah menghancurkan hubungan antara Kirana dan Akio. Lebih baik begini dari pada karma kembali berlaku pada dirinya yang terlalu banyak mematahkan hati hanya karena harga diri.
***
marathon bacanya dr subuh, ampe tamat. 😂
tapi kenapa yang baca masih dikit yaa?!!
semoga semakin banyak pembaca yang bisa menikmati karya indahmu ini Thor...tetap semangat berkarya yaaa..
terimakasih 💕🥰🥰