Zara gadis cantik yang merasakan patah hati karena cinta pertama dalam hidupnya telah meninggalkan dirinya untuk selamanya.
Baba atau Ayah Zara meninggal dunia karena penyakit jantung.
Belum usai masa berkabungnya, kini gadis malang itu harus kembali merasakan patah hati untuk ke dua kalinya.
Serkan Sayisman, pria yang selama 3 tahun ini mengisi hari-harinya telah memutuskan hubungan mereka yang abu-abu karena kesenjangan sosial yang jauh.
Zara memilih pulang ke negara asal Ibunya dan memulai hidup baru disana berharap bisa dengan cepat melupakan Serkan.
Jantung Zara berdetak kencang kala menatap pria berwajah tampan dan manis yang berdiri di depannya.
Angga Adnan Prayoga,
pria misterius dengan sejuta pesona yang mampu menggeser posisi Serkan di hati Zara.
Namun, Zara harus berjuang keras saat Angga mengatakan;
"Apa kau siap mengetahui siapa diriku yang memiliki orientasi BERBEDA?"
Deg!!
Perjalanan cinta Zara Khayatian Al Rasyid mengejar cinta Angga Adnan Prayoga di mulai!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NalaLa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Learning by doing.
...Aku mulai semuanya dari awal....
...Aku berharap bila Yang Esa mau memberi ku kesempatan untuk lebih baik dan berada di jalan yang benar....
...Bismillah....
Angga sedang duduk di ruang tamu di sebuah rumah bergaya Joglo yang semua terbuat dari kayu jati tua berkualitas bagus. Angga di antar oleh Delon ke rumah seseorang yang mengerti tentang keyakinan yang dianut oleh Zara, yaitu Islam.
Angga berpikir akan berguru di pondok pesantren atau semacamnya, namun ternyata Delon membawanya ke sebuah Desa yang ada di daerah Bandung dan berakhir di rumah ini.
"Assalamualaikum Warahmatuhllahi Wabarakatuh" salam Bapak Anwar sang pemilik rumah.
"Waalaikumsalam," jawab Angga sebisanya.
"Jauh Nak perjalanan kesini?" Tanya Pak Anwar sembari duduk di depan Angga.
"Tidak Pak, lancar ini tadi," jawab Angga sopan.
"Alhamdulillahi rabbil 'alami kalau lancar. Nak Angga sudah sarapan?" Tanya Pak Anwar lagi.
"Eehm, sudah Pak," jawab Angga.
"Oow begitu. Baiklah langsung saja, Abah ingin bertanya kepada Nak Angga. Niatan Nak Angga ingin belajar Islam itu apa?" Tanya Abah Anwar.
Angga diam!
"Nak Angga?" Panggil Abah Anwar lagi.
"Jujur saya ingin belajar Islam, karena saya mencintai seseorang. Saya ingin sekali menjadikan dia milik saya. Saat pertama kali saya melihatnya, hati saya langsung berdebar dan ingin terus menatap mata indahnya. Itu alasan pertama saya dan yang kedua, saya ingin meyakini sesuatu yang mampu membuat hati saya tenang dan damai. Hidup saya sejak kecil sudah amburadul, saya lahir sebagai seorang Katholik namun karena suatu hal saya memilih untuk tidak meyakini apapun. Saya memiliki otak yang luar biasa dengan IQ 140, saya selalu mengandalkan otak saya untuk bertindak apapun itu. Tapi, lama kelamaan hati saya merasa kosong dan hampa," jawab Angga menjelaskan.
Abah Anwar tersenyum mendengar penuturan pria tinggi tampan itu.
"Apa selain dua alasan itu, ada alasan lain?" Tanya Abah Anwar tersenyum ramah.
Angga menundukkan kepalanya.
"Coba ceritakan," ujar Abah Anwar menambahkan.
Dengan perlahan akhirnya Angga menceritakan kisah hidupnya, dari kecil hingga sekarang. Angga juga jujur tentang perasaan yang dimilikinya kepada Nathaniel Jarvis atau El, bagaimana hatinya sangat mencintai El dan susah lepas dari Pria tampan yang sudah memiliki Istri.
Abah Anwar merasa iba dengan Angga. Walau memiliki wawasan luas, harta melimpah, paras rupawan tapi dibalik itu semua Angga adalah pria rapuh yang butuh perhatian dan ingin didengarkan.
Abah Anwar memberikan sedikit wawasan tentang Islam dan pandangan Abah tentang kisah Angga. Angga merasa nyaman dan tenang saat Abah Anwar bercerita, tidak ada kesan menggurui, sok paling tahu dan benar. Abah Anwar menjelaskan Islam dari berbagai sudut pandang, secara logika dan keilmuan.
Angga adalah tipe orang rasional dan selalu berpikir logis, jadi saat Abah menjelaskan Angga langsung paham dan masuk semua ke logika Angga. Angga seperti melihat Kakek Alan (Kakeknya El) di diri Abah Anwar, berwibawa, pintar dan mengayomi.
"Apa Nak Angga sedikit banyak sudah mengerti?" Tanya Abah Anwar.
"Iya Bah, Insya Allah saya mengerti," jawab Angga belajar mengerti Islam.
"Iya bagus. Semakin sering diucapkan setiap saat, itu akan menempel dan melekat di diri kita tentanv ajaran-ajaran Islam," ujar Abah Anwar.
"Iya Bah," balas Angga.
"Saya hanya akan berbagi sedikit ilmu dan pengetahuan yang sama miliki kepada Nak Angga. Untuk urusan Nak Angga ingin masuk Islam atau tidak itu nanti hati Nak Angga sendiri yang memberikan jawaban," ujar Abah Anwar.
Angga begitu kagum dengan kesederhanaan yang dimiliki Abah Anwar.
"Iya Bah," jawab Angga.
"Nak Angga harus yakin, semua yang ada di alam semesta ini pasti ada yang menciptakan tidak mungkin tiba-tiba ada dengan sendirinya. Abah meyakini bahwa semua yang terjadi kepada setiap makhluk hidup pasti sudah direncanakan oleh Yang Di Atas, jadi Nak Angga mungkin berada di titik hampa. Nak Angga membutuhkan yang bisa membuat Nyaman dan damai, yaitu dengan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Nanti bila sudah waktunya, Nak Angga akan mengerti," ujar Abah Anwar.
Angga diam dan otak cerdasnya mulai mencerna setiap perkataan Abah Anwar. Memang benar semua kenikmatan dunia yang dia miliki tidak bisa membuat hatinya damai selalu saja ada rasa kosong dan hampa.
Setelah berbincang dan bertukar pikiran dengan Abah Anwar. Delon ternyata sudah datang menjemput.
Angga berpamitan dengan Abah Anwar dan akan bertemu lagi minggu depan.
Angga berjalan menuju mobil Delon, dan...
Bruuakk!!
Aduhh!!
Angga berlari ke arah kanannya karena melihat seorang gadis muda jatuh dari sepedanya.
"Nona tidak apa-apa?" Tanya Angga seraya membantu gadis berkerudung hitam itu.
"Aa, saya tidak apa-apa Mas. Terima kasih," jawab si gadis berkerudung hitam itu.
Angga mengangguk dan membantu mengangkat sepeda gadis tsb.
"Sameera, kamu tidak apa-apa Nak?" Tanya Abah Anwar yang berjalan cepat menghampiri Angga dan gadis berkerudung hitam tsb.
"Alhamdulillah Meera tidak apa-apa Abah," jawab gadis tsb yang ternyata bernama Sameera.
"Nak Angga terima kasih sudah membantu putri bungsu saya," ucap Abah Anwar.
"Iya sama-sama Abah," jawab Angga tersenyum manis.
"Subhanallah, indah sekali ciptaan Mu Ya Allah," batin Sameera menatap kagum kepada Angga.
"Ayo Meera kamu masuk dulu," ujar Abah Anwar membuyarkan lamunan Sameera.
"i..ya Abah. Permisi, Assalamualaikum," salam Sameera.
"Waalaikum salam warahmatuhllahi wabarakatuh," jawab Angga dan Abah Anwar bersamaan.
"Ya sudah, saya permisi pulang dulu Bah. Insya Allah minggu saya kesini lagi," pamit Angga.
"Iya Nak hati-hati di jalan," jawab Abah Anwar.
"Assalamualaikum," salam Angga seraya masuk ke dalam mobil.
"Waalaikum salam warahmatuhllahi wabarakatuh," jawab Abah Anwar.
Brumm...
Mobil Delon melaju perlahan...
Sementara dibalik jendela ada seorang gadis ayu berwajah khas tanah parahiyangan menatap mobil mewah yang membawa pria tampan yang telah mencuri perhatian gadis bernama
Zakiyah Sameera Anwar itu.
Meera biasa gadis ayu itu dipanggil, merupakan putri bungsu Abah Anwar yang berusia 23 tahun. Meera lulusan dari Universitas Islam Madinah Arab Saudi dengan jurusan Syariah. Meera termasuk gadis yang ceria dan mudah bergaul, Meera sudah bekerja sebagai Dosen Muda di salah satu Universitas Islam swasta di Kota Bandung.
"Meera? Kamu kenapa nak?" Tanya Ibu Ratna yang tak lain adalah Ibu Meera.
"Aa.. Tidak Umi. Hehhehe, eeehm tadi Abah sama siapa Umi?" Ujar Meera seraya bertanya.
"Ooow, dia Nak Angga. Orang Jakarta, ingin belajar tentang Islam," jawab Ibu Ratna.
"Eehm begitu. Sepertinya baik ya Umi, soalnya tadi Meera di tolong pas jatuh dari sepeda," balas Meera.
"Sepertinya begitu Ibu juga tidak tahu," ujar Ibu Ratna.
"Lagi ngomongin apa ini hayo?" Tanya Abah Anwar yang baru saja masuk rumah.
"Ini lo Meera tanya siapa tadi yang bertamu," jawab Umi Ratna.
"Angga Adnan Prayoga, Wakil Direktur Utama perusahaan besar yang memprakarsai pembangunan perumahan mewah di dekat rumah Om Wisnu," ujar Abah Anwar.
"Oow ..." Jawab Meera.
Abah Anwar mengajak anak istrinya untuk sholat Dzuhur bersama.
Sementara di dalam mobil Delon.
"Anak Abah Anwar langsung terpesona sama wajah manis loe," ujar Delon.
"Haa? Nggak lah, muka gue yang manis ini hanya untuk Zara," jawab Angga.
"Ckk.. nggak percaya," balas Delon.
"Udah gak usah ngomongin itu, sekarang yang harus kita pikirkan untuk segera mengungkap kelakuan si bangs*t itu," ujar Angga.
"Gue sih ayo aja, kapan loe mau eksekusinya?" Balas Delon.
"Gue liat perkembangan dulu, ntar gue kabari loe. Gue ada pemikiran, gimana kalau si cewek itu di bawa?" Ujar Angga.
"Eehmm, boleh juga. Gue eksekusi besok," balas Delon.
"Oke," sahut Angga.
"Aku akan memperjuangkan mu Zara. Aku akan menjadikan mu istri ku."
Tbc,
.malu sm hijab mu..tdk tau adab..
😃😃😃