Rio adalah siswa berbakat yang belajar di Akademi Guardian yang bertujuan melawan serangan Alien. Semenjak kotanya dihancurkan ia berusaha merebutnya kembali, bersama rekan-rekannya mereka menemukan fakta tersembunyi yang tidak banyak diketahui orang lain. Soal seseorang dari luar angkasa termasuk planet yang baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isekai Fantasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35 : Pertempuran Di Jakarta pusat Bagian Kedua
Bola-bola bercahaya mulai bersinar di langit yang kini mulai padam, itu berasal dari sebuah ledakan misil, dibarengin cahaya senja yang memukau para unit Guardian pemerintah mulai membuka jalan untuk kami semua.
Sebuah teriakan terdengar dari dalam salah satunya.
"Majulah wahai anak muda."
Dia?
"Jika kalah aku akan menendang bokongmu."
Suara pertama berasal dari Mayor Jerry dan yang kedua adalah Pak Cinta dari instruktur beladiri Akademi Guardian.
Di saat itu kami bertiga melesat terbang menuju ke arah sang ratu, aku mulai mengetik beberapa kode di atas layar sementara Liliana mengayunkan pedang untuk menebas para Inside yang datang, Stella dan Isabel telah jauh di depan kami.
Mereka berdua menembakan api dan es secara bersamaan.
"Bagaimana Rio?" tanya Liliana.
"Tidak ada Inside yang bersembunyi di bawah tanah."
"Baiklah, aku akan mendekat ke target kita."
Setelah cukup dekat aku mulai menembakan misil dari seluruh tubuh Guardian dibantu Stella dan Isabel yang menyerang dari samping.
Ledakan saling menyahut satu sama lain menghasilkan teriakan sang ratu yang dicampur kemarahan.
"Apa berhasil?" tanya Stella.
"Masih belum... menghindar," atas peringatanku semua orang menjauh, tak hanya menggunakan kakinya, sang ratu mengeluarkan sebuah tentakel yang pernah membunuh Nakamura dari seluruh tubuhnya.
Stella mengayunkan pedang apinya memotong beberapa tentakel yang mengejarnya, di sisi lain Isabel juga melakukan hal sama kemudian mengarahkan pedangnya lalu menembakan sebuah sinar yang membekukan seluruh tertakel.
"Sekarang Bu Liliana."
"Siap bergerak."
Liliana menggunakan jet pendorong di bagian belakang Guardian melesat ke atas punggung sang ratu, dia menancapkan pedangnya yang mana membiarkan pedang itu membelah sesuai jalur yang dia ambil.
Ketika mencapai akhir aku kemudian menembakan misil, kemudian di tambah dengan bola petir yang diambil dari kekuatanku.
Sang ratu meledak dengan bunyi," Boom." meski demikian dia masih belum tumbang, sebagai balasan serangan kami, sang ratu menembakan bola-bola bersinar ke arah kami yang akan meledak jika itu mengenai sedikit tubuh dari Guardian yang kami kendalikan.
Bola-bola itu mirip sebuah gelembung yang terus melindungi pemiliknya.
"Kita tak bisa mendekat lagi."
Sebuah tentakel menjerat kaki Guardian milik Stella lalu membantingnya jatuh ke bawah.
"Stella?" panggilku.
"Aku baik-baik saja, tentakel itu mengalirkan listrik yang mampu merusak sistem, jangan sampai lengah."
Beberapa tentakel meluncur ke arah aku dan Liliana, sebelum mengenaiku Isabel telah berdiri menghadang, dia sempat menggunakan pedangnya meski begitu tentakel itu terlalu banyak untuk di hadapinya dan akhirnya dia tumbang menyusul Stella.
"Itu sangat sakit."
Dia baik-baik saja.
Aku berkata ke arah Liliana.
"Aku sendiri yang akan melawan sang ratu, lemparkan aku ke sana."
"Itu terlalu berbahaya."
"Sudahlah... aku akan baik-baik saja."
Aku memaksa berdiri untuk memindahkan pantat Liliana, ketika ruangan pengendali terbuka aku melompat keluar.
Liliana berkata ke arahku dengan tekad kuat.
"Jangan mati."
"Aah, aku akan menyelesaikan operasi ini "
Ruang pengendalian tertutup dan aku melompat ke tangan Guardian, aku melirik ke arah Liliana yang berada di balik mesin.
"Aku siap."
Tangan robot itu mulai menggenggamku, kemudian melemparkanku dengan kecepatan tinggi, aku menambah kekuatan petir di tubuhku untuk menambah kecepatannya.
"Lebih cepat lagi."
"Lebih cepat."
"Lebih cepat."
Aku mengatakan hal itu pada diriku sendiri.
Tubuhku mulai terurai seperti petir seharusnya, itu menembus gelembung peledak lalu menusuk tepat di kepala sang ratu mirip sebuah peluru kemudian keluar dari belakang tubuhnya.
Entah itu sang ratu atau aku, kami berdua jatuh, di saat tubuhku hampir mengenai tanah sebuah tangan raksasa menangkapku.
Suara Liliana terdengar lega.
"Kau berhasil Rio."
Isabel keluar dari Guardiannya dan berlari ke arahku yang terbaring tak bergerak, dia memelukku sangat erat.
"Rio."
"Aku baik-baik saja."
"Syukurlah."
Aku mengalihkan pandangan ke arah Stella.
"Stella kau masih bisa bergerak?"
"Aku cuma kehilangan kakiku serta sistem jetnya."
"Liliana bawa Stella bersamamu dan hancurkan sarangnya."
"Laksanakan."
Seperti yang aku minta Liliana membawa Stella pergi bersamanya, di atas sarang raksasa itu Stella mulai mengarahkan pedangnya, dari ujung bilahnya tercipta sebuah api merah yang mulai membentuk dirinya menjadi sebuah bola.
Ketika dijatuhkan, sarang tersebut meledak dahsyat hingga membuat kawah raksasa setelahnya.
like diri sendiri ✔️
😂😂
cepet banget perasaan baru baca sejam
catet²