Masih tahap revisi PUEBI 🙏
Andy Frederica, seorang mahasiswi magang di sebuah perusahaan multinasional. Suatu hari, ia harus berurusan dengan seorang presdir dingin yang sudah memiliki seorang istri.
Takdir mempertemukan mereka terus-menerus dan membuat Andy masuk lebih jauh ke kehidupan pribadi sang presdir. Mampukah ia bertahan dari jeratan cinta yang kapan saja bisa mengambil alih pikiran logisnya? Lantas, bagaimana dengan istri sang presdir?
"Ini bukan sembarang cincin. Bukan cincin pertunangan ataupun pernikahan. Cincin ini adalah simbol kalau aku adalah pembantunya. Dia adalah majikanku. Jangan pernah jatuh cinta pada majikanmu!"
"Apa!"
"Narsis sekali dia bicara begitu. Memang ini bukan cincin pertunangan. Apalagi cincin pernikahan. Ikatan cincin ini lebih sakral karena ini adalah cincin perbudakan!"
[ Andy Frederica ]
Genre : Adult Romance, friendship, family
Setting : Jakarta, Indonesia
Alur : Maju
Status. : Tamat 124 Episode
Cover : Pinterest
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayu Assanna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34 : Obat Tolak Cinta
Berat sekali rasanya kepalaku saat bangun pagi ini. Seperti ada beban satu ton yang menimpanya. Kukucek mata beberapa kali. Lantas duduk bersandar di headboard tempat tidur. Kutunggu beberapa saat. Berharap tubuhku menjadi normal lagi.
"Aakhh...."
Tubuh lemasku perlahan merosot, kembali terbaring di ranjang. Benar-benar tidak kuat. Sepertinya aku memang harus beristirahat hari ini. Mengangkat kepala saja sulit. Apalagi kalau harus bekerja dari pagi sampai sore di kantor.
"Haahh...." Kuhela napas panjang lalu memegang dahiku. Ternyata panas, suhu tubuhku lebih hangat dari biasanya. Mungkin aku demam. Padahal kemarin pagi aku masih baik-baik saja. Bisa jadi karena aku banyak menangis. Menangis sepanjang malam, meratapi nasib sialku.
Kucoba menghubungi Yolanda kemarin malam, teman suka dukaku. Namun, ponsel Yolanda tidak bisa dihubungi. Akhirnya kutelan sendiri semua pil pahit kehidupan.
Kutelepon Mbak Sheryn, sekretaris direktur pemasaran. Setelah beberapa panggilan mengudara, barulah dia menjawab panggilan teleponku. Kuberitahu Mbak Sheryn kalau aku tidak bisa masuk kerja hari ini sebab demam. Kepalaku berat seperti mau pecah.
Permintaan izin tidak masuk kerjaku pun segera disetujui Pak Rudy lewat bantuan Mbak Sheryn yang baik hati.
**
Siang hari di perusahaan G.F Company, Tuan Asland sedang berkutat dengan kertas-kertas dan perangkat komputer di hadapannya. Beberapa dokumen terlihat menumpuk di sisi kiri meja. Terselip juga pena di jari tangan kanan pria yang berprofesi sebagai presiden direktur itu.
Ia terlihat fokus dengan pekerjaannya sampai tiba-tiba, pria itu meletakan pena di atas meja. Duduk menyandar di kursi seraya menggerakannya ke kanan dan ke kiri. Tatapan mata Tuan Asland mengarah ke satu arah. Sekonyong-konyong ia mengambil gagang telepon dari atas meja hendak menghubungi Asisten June.
"Ya Tuan."
"Tolong beritahu sekretaris direktur pemasaran, suruh karyawan magang itu datang ke ruanganku!"
"Baik Tuan."
Tak berselang lama, Asisten June mendatangi ruangan kantor presiden direktur.
"Tuan, Nona Andy tidak bekerja hari ini. Sekretaris direktur pemasaran bilang dia sudah izin tidak masuk bekerja karena sedang sakit."
"Hhmm ... Begitu, ya?"
Tuan Asland menghela napas ringan. Jemarinya saling bertaut, sedangkan sikunya bertumpu di atas meja.
"Asisten June, tetaplah di perusahaan. Aku akan ke apartemen sekarang."
"Baik Tuan."
Asisten June mengangguk patuh. Sedangkan Tuan Asland bergegas pergi ke apartemen Blue Tower Building. Ia bahkan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Andy! Andy!" Ia berteriak memanggil, begitu tiba di apartemen.
"Andy..."
Tuan Asland memanggilku. Suaranya terdengar dekat. Kutarik selimut yang menutupi sekujur tubuhku. Setelahnya mata sayuku mendapati sosok Tuan Asland sudah duduk di tepi tempat tidur.
"Andy, bagaimana keadaanmu?"
"Aku tidakak apa-apa, Tuan."
"Ayo, kita ke rumah sakit!"
Tuan Asland bergerak mendekat, melingkarkan tangannya di punggungku.
"Tidak Tuan, aku tidak mau ke rumah sakit."
"Tapi kamu sedang sakit. Kamu harus ke rumah sakit untuk diobati."
"Tidak Tuan, aku tidak mau ke rumah sakit."
"Tapi kamu harus pergi." Ia melingkarkan tangannya lagi di kedua kakiku hendak mengangkat tubuhku.
"Tidak Tuan, aku tidak mau ke rumah sakit. Aku tidak mau...." Meronta dalam gendongannya.
Tuan Asland memalingkan wajah kesalnya sebelum memarahiku. "Kenapa kamu keras kepala sekali?"
"Aku mau dirawat di rumah saja, Tuan."
"Baiklah!" Tuan Asland menurunkan tubuhku lagi di ranjang. Tak lupa ia menarik selimut hingga ke batas dada untuk menyelimutiku. Setelah itu, Tuan Asland meraih ponselnya hendak bicara dengan Asisten June.
"Halo, Asisten June!"
"Ya Tuan."
"Tolong bawakan dokumen-dokumen di atas meja kerjaku ke apartemen. Aku akan bekerja di sini hari ini..."
"Baik Tuan."
Tuan Asland menutup panggilan teleponnya. Ia berjalan menghampiriku dan duduk di tepi tempat tidur lagi. Punggung tangannya mendarat di keningku, merasakan suhu tubuhku.
"Andy, kamu demam. Kenapa kamu tidak mau kita ke rumah sakit?" Menurunkan tangannya.
"Karena aku tidak terbiasa, Tuan. Kalau sakit begini, aku cukup beristirahat di rumah saja. Nanti sembuh sendiri."
"Bagaimana kakimu?" Tuan Asland bangkit. Membuka selimut yang menutupi kakiku lalu memijat pergelangan kakiku dengan lembut.
"Tidak apa-apa, Tuan. Kakiku sudah lebih baik."
Tuan Asland melihat mataku yang sayu. Tersirat kekhawatiran di raut wajahnya. "Kenapa kamu tiba-tiba demam?" tanyanya penuh perhatian.
"Aku juga tidak tahu, Tuan." Kugelengkan kepala pelan.
"Apa kamu masih memikirkan masalah kemarin?"
"Mungkin ya," jawabku lemah. Kutundukan pandangan agar wajah sedihku tidak terlihat olehnya.
Tuan Asland beranjak dari posisinya dan duduk di tepi tempat tidur seperti semula. Yang tidak kusangka adalah ia meraih tanganku dan menggenggamnya. Bahkan, mengusap punggung tanganku dengan lembut. Aku pun tersentak, serta-merta menyoroti gerakan tangannya.
"Andy, lihat aku!" Tangannya meraih wajahku. Mengarahkanku untuk melihatnya. Mata birunya yang bening menangkap mataku.
"Andy, aku minta maaf tentang kejadian kemarin. Aku tidak bermaksud meninggalkanmu di pinggir jalan. Aku juga tidak mau kamu sakit." Mata Tuan Asland penuh cemas. Tangannya bergerak perlahan mengusap pipiku.
Deggg...
Tetiba jantungku berdetak kencang. Kurasakan kehangatan dari sentuhannya. Aroma wangi dari pergelangan tangannya merasuki hidungku. Hatiku jadi berdebar-debar.
"Ya, Tuan. Aku juga bersalah karena akulah yang minta turun dari mobil Tuan kemarin." Kulepas sapuan lembut tangannya dari pipiku. Meskipun begitu, jujur saja, sepenuh hati aku menyukainya. Hanya saja, aku tidak mau perasaan suka ini berlangsung lama.
"Kamu sudah makan?"
Kugelengkan kepala beberapa kali.
"Kamu mau makan apa?"
"Aku tidak tahu, Tuan. Karena mulutku rasanya pahit. Aku tidak ingin makan."
"Tapi kamu harus makan. Aku buatkan makanan untukmu."
"Eekh...." Lagi-lagi aku dibuat tersentak.
'Sekarang masih jam kerja dan Tuan Asland mau membuatkan makanan untukku?'
"Tuan tidak bekerja?"
"Aku bekerja."
"Tapi Tuan di sini."
"Aku akan bekerja dari sini. Asisten June akan membawakan dokumen-dokumen pekerjaanku."
Aku diam. Tidak menjawab. Tapi mataku masih terus memperhatikannya.
"Kamu istirahat saja dulu. Aku akan buatkan makanan sekarang."
Tuan Asland tersenyum padaku. Hanya dengan satu senyumnya saja sontak mataku segera terpana, tak berkedip dan tak berdaya.
"Hhaaahh...." Kuembuskan napas kuat lalu menggelengkan kepala beberapa kali.
'Sadarlah, Andy? Masa' disenyumin saja sudah kayak kena pelet, sih!'
Mungkinkah senyumnya mengandung ajian mantra jaran goyang? Atau semar mesem? Seharusnya pabrik minuman herbal TOLAK ANGIN juga membuat minuman herbal TOLAK CINTA.
Entahlah, aku tidak tahu. Yang kutahu Tuan Asland sudah tidak terlihat lagi di kamarku. Ia tengah memasak untuk pembantunya yang sakit.
Sudah benarkah kata-kataku? Bukankah pembantu yang merawat majikannya? Kenapa majikan yang merawat pembantunya? Cukup anehkah ini? Bagiku saja atau Tuan Asland juga?
Suara bel apartemen berbunyi. Samar-samar kudengar Tuan Asland berjalan menuju pintu. Mungkin Asisten June sudah datang untuk memberikan dokumen yang Tuan Asland minta.
Beberapa saat kemudian Tuan Asland datang dengan semangkuk makanan hangat di atas nampan. Uap makanan itu mengepul ke atas. Segelas air putih juga sebotol obat.
"Ayo, makan!"
Ia meletakkan nampannya di atas nakas. Tuan Asland turut membantuku duduk bersandar di headboard.
Apa yang Tuan Asland buatkan untukku?
Ternyata presiden direktur G.F Company itu membuatkan bubur ayam lengkap dengan taburan suwir daging ayam dan bawang goreng di atasnya. Tak lupa bubur itu juga dihiasi garnish yang mempercantik tampilannya. Semangkuk makanan elegan itu dibuat khusus untuk pembantunya.
Salahkah aku jika akan berpikiran lebih lagi karena hal ini?
***
BERSAMBUNG...
andykqn udh di katai prlacur di maluin pas tmt orang ramai di katai pembantu
coba andynya tegas sedikit thor punya harga diri gitu
jangan mudah luluh lg dengan aslannya
Apa novel nya sudah direvisi yak ?
coz aku caba dikolom komentar banyak yg bingung sama alurnya 😅
serem² nagih yg modelan begini
bisa untuk d rekom pada teman untuk d bacz