Menikah karena kemauan sendiri dan dengan pilihan sendiri tidak selamanya berbuah kebahagiaan.
Benazir adalah buktinya.
Menikah selama beberapa tahun dengan pria yang berusaha diperjuangkannya, malah menimbulkan luka dan kecewa berkepanjangan. Suaminya bahkan menganggapnya istri yang memalukan dan tak pantas dihargai.
Haruskah Benazir bertahan atau pergi.
Kisah ini akan sedikit menguras air mata.
Berminat ?
ikuti kisahnya yuk...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummiqu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34 ( Menyesal )
Maher dibuat sakit kepala saat mendapati istri dan kedua anaknya tak berada di rumah orangtuanya atau pun mertuanya. Maher kebingungan mencari keberadaan Mutia dan kedua anak mereka yang raib entah kemana.
Untuk menenangkan diri, Maher kembali ke rumah. Ia mencoba mengecek sosial media milik Mutia. Tak ada postingan apa pun di sana yang memberi informasi tentang keberadaan Mutia saat ini. Maher kembali mencoba menghubungi Mutia. Dan kali ini dia harus menelan kecewa karena nomor ponsel Mutia tak lagi aktif.
" Ada apa ini, kok kejadiannya bisa barengan sama Benaz yang minta putus. Jangan-jangan dua kejadian ini ada kaitannya...," gumam Maher sambil mengusak rambutnya kasar.
Maher memejamkan mata. Beberapa saat kemudian ia berdiri lalu melangkah menuju ke dapur untuk menyeduh kopi. Saat melihat dapur, Maher teringat sosok Mutia yang biasanya sibuk di sana. Entah memasak, mencuci piring, atau membuat sesuatu untuk memanjakan perutnya dan kedua anaknya. Dan Maher merasa jika ada sesuatu yang hilang saat tak melihat Mutia di sana.
Seperti lazimnya, keberadaan seseorang yang selalu ada di sisi kita akan terasa lebih berarti jika dia telah pergi meninggalkan kita. Seperti itulah perasaan Maher saat ini.
\=\=\=\=\=
Silvi, Atik, Mika, Elia dan Amanda mendengarkan cerita Benazir tentang kejadian di loby kantor yang membuatnya malu. Silvi dan Atik yang mengetahui jelas 'tragedi' itu hanya diam dan memberi kesempatan kepada Benazir untuk bercerita.
Tapi Mimik wajah mereka sontak berubah saat Benazir juga menceritakan jika ia telah memutuskan hubungannya dengan Maher.
" Sayang banget Naz. Kenapa sih...?" tanya Amanda dengan nada kecewa.
" Iya Naz. Padahal dia cinta setengah mati sama Lo...," kata Elia.
" Gue putusin dia juga ada alasannya. Karena ternyata dia udah nikah dan punya dua Anak. Masa Gue harus jadi pelakor...," sahut Benazir kesal.
" Apa...?!" seru kelima teman Benazir terkejut.
" Kurang ajar, jadi Kita ketipu dong...," kata Elia kesal.
" Ya, gitu deh...," sahut Benazir sambil melengos.
Sejenak mereka berenam terdiam, bingung tak tahu harus berbuat apa. Hingga Silvi melontarkan ide agar mereka berenam pergi ke suatu tempat untuk menghibur Benazir.
" Setuju...!" sahut Amanda dan Mika antusias.
" Gue mah ikut aja...," kata Elia dan Atik bersamaan.
" Mmm, kayanya ga perlu deh. Lebay amat sih. Gue gapapa kok. Lagian kan Gue jadian sama dia karena menghargai Kalian aja...," kata Benazir cuek.
" Iya, iya. Kita percaya kok. Tapi Kita emang perlu refreshing kan...," kata Elia.
" Betul, udah lama ga jalan-jalan. Jadi kangen nih...," kata Amanda.
" Ya udah, terserah Kalian, Gue ikut aja deh...," kata Benazir pasrah.
" Yeeeyy...!" sorak kelima teman Benazir sambil tertawa.
" Gue yang nentuin tempatnya ya...," kata Silvi.
" Siipp...," sahut yang lain setuju.
Semua kembali tertawa dan melupakan kesedihan yang baru saja terjadi. Benazir merasa beruntung karena kelima temannya selalu ada untuknya dalam suka dan duka.
\=\=\=\=\=
Setelah gagal menemukan keberadaan anak dan istrinya, Maher pun makin terpuruk. Apalagi saat ia menerima surat undangan dari pengadilan agama yang memintanya untuk hadir di pengadilan besok.
" Mana mungkin Mutia berani melayangkan gugatan cerai untukku. Mustahil. Pasti ada seseorang yang bantuin dia. Liat aja, Aku bakal hajar orang yang udah bikin Mutia pergi...," gumam Maher kesal.
Maher bertambah kesal saat tak bisa menemui Mutia di pengadilan.
" Kemana Mutia sebenarnya Om...?" tanya Maher kapada Sofyan yang telah dikenalnya sebagai pengacara keluarga Mutia.
" Maaf, atas permintaan Mutia Saya ga bisa kasih tau Kamu. Tapi dia sangat berharap Kamu tak usah mempersulit, hingga perceraian bisa segera terlaksana...," sahut Sofyan.
" Aneh. Kenapa Om malah meminta Saya segera menceraikan Mutia. Dia itu Istri sah Saya dan dia juga membawa Anak-anak Saya. Bagaimana mungkin Saya mempermudah urusan ini...?!" kata Maher marah.
" Yah, Mutia memang Istrimu. Tapi Istri yang tak Kau anggap. Tentang Anak-anak, bukannya Kamu ga pernah menginginkan mereka. Jadi kenapa Kamu malah bingung saat mereka semua ga ada lagi di sekitarmu...?" tanya Sofyan sinis.
Maher terpaku mendengar jawaban Sofyan. Ia merasa ucapan Sofyan sama persis dengan apa yang pernah diucapkannya dulu. Dan Maher hanya bisa menatap kepergian Sofyan dengan tatapan nanar.
Maher terduduk dengan kepala yang terasa nyeri. Ia tak siap kehilangan keluarganya. Keluarga yang keberadaannya selama ini hanya dianggap sebuah aib untuknya.
Maher memang tak pernah mempublikasikan pernikahannya dengan Mutia di kalangan teman-temannya. Ia menganggap pernikahannya dengan Mutia adalah sebuah kesalahan dan berharap pernikahan itu segera berakhir. Tapi nyatanya ia menggauli Mutia dengan alasan bentuk tanggung jawab dan kewajibannya sebagai seorang suami hingga Mutia hamil.
Toh, kehadiran kedua anak lelakinya tak membuat Maher bisa menghargai Mutia apalagi untuk belajar mencintai istrinya itu. Ia masih sering memusuhi Mutia dan memakinya dengan kalimat kasar. Sikap baik jarang sekali ia perlihatkan di hadapan Mutia.
Foto kebersamaannya dengan anak istrinya yang tertawa bahagia pun hanya kamuflase. Semacam pencitraan di depan keluarga besarnya dan Mutia. Sesungguhnya yang terjadi adalah pertengkaran yang kerap terjadi hanya karena rasa tak puas Maher atas apa pun yang dilakukan Mutia. Dan kedua anaknya hanya menjadi penonton setia yang menjadi saksi dari semua pertengkaran mereka selama ini.
Maher mendongakkan wajahnya saat seseorang menyodorkan sepucuk surat untuknya.
" Maaf, Saya lupa memberikan surat ini untukmu. Ini dari Mutia, semoga setelah membacanya Kamu bisa mengerti...," kata Sofyan datar.
" Makasih Om...," sahut Maher lalu bergegas membaca surat itu.
Sofyan tak menjawab, ia segera beranjak dari sana untuk memberi kesempatan kepada Maher membaca surat itu.
Tangan Maher nampak bergetar saat membaca surat yang ditulis tangan oleh Mutia. Nampak tinta yang luntur terkena air di atas kertas itu. Dan Maher yakin jika air mata Mutia lah yang menyebabkan tinta itu luntur.
~ Assalamualaikum Kak Maher.
Saat Kamu membaca surat ini, Aku dan Anak-anak udah pergi jauh.
Aku dan anak-anak memutuskan memberimu kesempatan untuk bahagia bersama orang yang Kamu cintai. Karena Kami tau, Kamu ga bahagia bersama Kami.
Tolong selesaikan semua urusan diantara Kita secepatnya karena Aku ga akan kembali.
Semoga Kamu bahagia dengan pilihan hidupmu Kak.
Wassalam ~
Kedua mata Maher nampak basah dengan air mata. Berkali-kali ia membaca surat itu. Surat singkat yang ditulis Mutia untuknya adalah bukti bahwa Mutia sudah tak ingin lagi bersamanya. Dan Maher sadar ia telah kehilangan istri dan kedua anaknya. Dan di saat yang sama Maher pun sadar jika sesungguhnya ia telah jatuh cinta pada Mutia, wanita yang selama ini menjadi istrinya dan selalu ia abaikan.
Maher pun menangis. Ia menutupi wajahnya yang basah dengan surat itu. Seolah mencari aroma Mutia di sana, aroma wanita yang tak pernah diakui keberadaannya. Maher hanya bisa menyesal walau ia tahu sia-sia menyesali semuanya sekarang.
Setelah puas menangis Maher pun beranjak meninggalkan tempat itu. Ia merasa kalah dan bod*h karena telah menyia-nyiakan keluarga kecilnya selama ini.
bersambung