Ditinggalkan tepat dihari pernikahan membuat Elisabeth hidup tak tentu arah. Ia akhirnya bertemu dengan sosok pria tampan yang baik hati. Si pria muslim pengidap anhedonia. Menikah? Kenapa tidak? Toh kami sama sama tak bisa memiliki cinta. Apa bedanya menjadi teman seumur hidup, dalam bingkai sebuah rumah tangga?
Tapi saat benih cinta mulai tumbuh. Bagaimana seorang Elis akan mencintai si anhedonia sedangkan si anhedonia terus tersiksa karena cinta nya terhadap Elis. Berhasil kah mereka? Yuk baca kisah mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NCY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IAAM-034
Khafi menekan pedal gas mobilnya memasuki halaman sebuah klinik bersalin. Pada jam macet seperti itu, klinik itulah tempat pertolongan pertama yang bisa ditemuinya di sepanjang jalan.
Khafi mengangkat tubuh Elis masuk ke bangunan semi rumah yang ramai akan pengunjung. Sebuah ruang tindakan klinik tersebut menyiapkan beberapa tenaga kesehatan seperti perawat, bidan dan terdapat juga dokter ahli kandungan.
“Dok tolong istri saya, dia hampir pingsan karena kesakitan. Tolong saya dok,” ucap Khafi pada beberapa orang perawat dan bidan dalam ruangan itu. Ia meletakkan tubuh Elis diatas pembaringan yang telah tersedia diruang itu, ia begitu cemas dan panik.
“Panggil dokter Siska,” teriak seorang wanita paruh baya berseragam putih.
“Istrinya kenapa, keguguran? Atau?” tanya seorang bidan yang melihat Elis begitu pucat menahan sakit pada perut.
Mereka menebak Elis mengalami keguguran? But what ever lah, sedikit banyak mereka pasti tau memeriksa seorang pasien. Jika tak ada tempat ini berarti Khafi harus menempuh sekitar sekilo meter lagi baru ketemu apotik yang ada dokter prakteknya.
Dokter Siska keluar dari ruangannya dengan stetoskop sudah menempel ditelinga nya.
“Mbak mbak,” dokter Siska memanggil Elis agar menoleh padanya.
Elis pun menoleh sembari meringis menahan nyeri.
“Apa keluahan yang dirasakan?” tanya dokter itu lagi.
“Perut saya kram dok, saya sedang menstruasi,” terang Elis.
“Apa sudah biasa sakit perut seperti ini saat menstruasi?” tanya dokter Siska sambil menekan nekan bagian perut Elis. Stetoskop kemudian menempel disana.
“Sangat jarang. Dalam setahun saya biasa mengalaminya sekali atau dua kali. Biasa nya setelah minum obat saya langsung merasa enakan dok,” jelas Elis.
“Tadi sudah minum obat?” tanya dokter.
“Sudah tadi jam sepuluh.”
Dokter memencet lambung dan bagian perut lainnya.
“Hari ini terakhir makan jam berapa?” tanya dokter.
“Jam tujuh pagi tadi.”
“Lian bawakan pasien segelas susu hangat, dengan ekstra gula ya. Sepertinya ia butuh energi lebih,” ucap dokter Siska pada seorang perawatnya.
“Mbak siapa namanya?” tanya dokter lagi pada Elis.
“Nama saya Elis.”
“Mbak Elis. Saat tubuh kita mengeluarkan banyak tenaga maka sangat diperlukan tambahan suply dari luar. Apalagi saat kondisi sedang haid seperti ini. Darah terus keluar. Pekerjaan dan aktivitas mbak pasti akan menguras lebih banyak energi dari dalam tubuh,” dokter terus mengoceh akan kelalaian Elis menjaga kesehatannya.
“Sudah berapa kali ganti pembalut hari ini?” lanjut tanya dokter bak seorang detektif yang sedang menginterogasi seorang tersangka.
“Empat dok,” jawab Elis.
“Saat haid, kecapean biasanya akan lebih menguras tenaga. Saya akan berikan vitamin penambah darah sekarang. Dan sebaiknya mbak Elis beristirahat dirumah dulu selama beberapa hari kedepan. Saya akan berikan surat keterangan ijin sakit beberapa hari untuk mbak Elis,” jelas dokter Siska.
“Sudah punya anak?” tanya dokter Siska lagi.
“Belum,” jawab Elis pelan.
“Umur berapa?” tanya dokter lagi.
Elis membuang wajahnya ke arah Khafi. Wajahnya merengut akan keaktifan si dokter bertanya.
“Usianya 23 tahun dok,” jawab Khafi.
“Wanita saat menstruasi biasa mengalami hal seperti ini. Ini hal biasa, nggak usah panik. Jika mbak Elis makan tepat waktu tadi mungkin nggak akan separah ini nyeri perutnya. Saya buatkan resep dulu.” Dokter Siska berjalan menuju sebuah meja diruangan itu.
Beberapa saat kemudia perawat yang membuat susu hangat tiba disitu.
“Dok susunya?” ucap perawat.
“Berikan pada mbak Elis.”
Khafi mengambil segelas susu dari tangan perawat kemudian membantu Elis untuk minum.
“Sudah saya tuliskan beberapa resep. Jika mbaknya masih mau istirahat disini, bisa. Saya tinggal dulu, ada pasien yang masih menunggu saya.” ujar dokter Siska.
“Dok apa saya sudah bisa pulang sekarang?” tanya Elis.
“Tapi kamu masih kesakitan,” tolak Khafi dengan wajahnya yang masih khawatir.
“Insya Allah setelah minum obat Elis sudah pulih. Istirahat disini dan dirumah pasti lebih nyaman dirumah,” ucap Elis.
“Ya sudah, mbak Elis bisa pulang. Setelah makan, diminum vitaminnya. Oh ya karena lambung sudah seharian kosong sebaiknya makan bubur saja dulu. Dan jangan lupa istirahat adalah yang paling penting,” saran dokter Siska.
“Baik dok.”
“Baiklah, saya permisi sekarang.” Dokter Siska menyerahkan sebuah amplop berisi surat keterangan sakit dan selembar resep untuk ditebus di apotik depan.
“Terimakasih dok,” kata khafi.
“Ayo kita pulang, Elis ga nyaman terus disini. Pengen cepet cepet nyampe rumah,” ajak Elis. Ia merasa risih jika tak segera mengganti pembalut. Jika tak diganti sekarang mungkin saja haidnya akan merembes keluar.
“Nur tunggu sini dulu, Khafi tebus resepnya diapotik depan baru kesini jemput Nur.”
“Tu tunggu, aku..” ucap Elis ragu ragu. Titip sekalian beliin pembalut dia mau ga ya?
“Kamu ingin sesuatu?” tanya Khafi.
“Hmm itu, Elis butuh itu untuk ganti. Stok Elis habis.” Elis sedikit ragu mengucapkan keinginanannya.
“Itu apa? Kenapa ngomong jadi malu malu gitu?” ucap Khafi.
“Pembalut.”
“Pembalut?” Khafi berpikir sejenak.
Hmm ucap pembalut aja susah. But Pembalut itu seperti yang ada iklannya di tv. Bersayap, tak bersayap. Panjang pendek, Tipis or tebal. Dia pakai tipe apa kira kira?
“Ukuran apa?” tanya Khafi sambil menggaruk kepala bingung.
Dia tau pembalut ga sih? Kok malah tanya ukuran.
“Sudah lah, kamu cowok mana paham. Biar Elis singgah beli di mini market dekat rumah,” ucap Elis.
“Udah sakit gitu masih pura pura kuat ke mini market,” Khafi mengusap kepala Elis. Ia tersenyum melihat istrinya yang masih malu malu meminta bantuannya.
Khafi pun menuju apotik sehat selalu. Bangunan yang berada di paling depan halaman klinik tersebut. Ia menebus resep obat dari dokter Siska kemudian membeli beberapa keperluan yang dibutuhkan Elis.
Satu buah kantong besar belanjaan berhasil diangkutnya masuk ke dalam mobil. Setelah semua siap ia kembali menemui Elis.
“Kita pulang sekarang?” tanya Khafi.
Elis mengangguk.
Khafi dan Elis pamit dengan beberapa perawat diruangan itu.
Seketika itu tubuh Elis sudah diangkat Khafi. “Ak aku bisa jalan sendiri, turunkan aku.”
“Pasti jalanmu lambat, begini lebih cepat. Khafi sudah minta teteh buatkan bubur ayam. Supaya saat sampai rumah kamu bisa langsung makan kemudian minum obat. Beberapa hari kedepan aku akan pantau, saat dikantor kamu sudah makan atau belum. Ternyata setelah sibuk kerja kamu jadi lupa diri juga,” oceh Khafi dengan wajah datar.
Kedua lengan Elis bergantung pada leher Khafi. Matanya terus menatap wajah yang sedang mengangkatnya. Ia tak ingin mengucapkan sepatah kata lagi. Jika ia mengucapkan sesuatu mungkin ocehan panjang lebar dari pria moodian itu akan terus menerobos masuk ke telinganya.
Tanpa sadar mata Elis terus menatap wajah Khafi. Ia seperti terhipnotis tak ingin melepaskan pandangan matanya dari wajah pria itu. Ia tersadar akan situasi saat itu setelah berada disamping pintu mobil.
“Sudah puas liatnya?” tanya Khafi sambil merogoh kunci mobil dari kantong celananya.
Ups. Dia tau aku menatapnya tapi pura pura cuek. Dia menjebak ku.
Rasa malu dan canggung langsung menghampiri Elis. Ia segera berbalik badan menghadap ke pintu mobil, menunggu suara remot berbunyi kemudian ingin segera melompat masuk ke dalam mobi.
Tapi kenyataannya, Khafi membuka pintu dan membantu Elis masuk ke dalam mobil. Khafi menarik safety beli dari kursi kemudian mengaitkan ke pinggang Elis.
Apa ini juga sengaja. Dia sengaja menempel seperti ini agar aku semakin malu. Sejak kapan aku pakai safety belt?
“A aku bisa pasang sendiri,” ucap Elis namun saat itu safety belt sudah terpasang dengan rapih melingkar dipinggangnya.
*Next **🔜*
g ky khafi...
bkn nya g boleh y mengucapkan salam kpd non muslim 🙏
klo hanya dr pakaian kan,blm bs mnntukan seseorang itu muslim atau tidak🙏
pi bngung cz da yg menyangkut agama, dri awal dgreja trus da rang azan n dia nyebut allah, agama si cewek sbnernya apa?
saran j.. jka begronny brat y brat n pergaulan bbasny j jngn bwa2 agama🙏🙏🙏
saya baca sambil belajar logat batak lho kak😁😁