NovelToon NovelToon
The Farmer'S Muse

The Farmer'S Muse

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir / Cintapertama
Popularitas:690
Nilai: 5
Nama Author: Lia Lby

【Tina gadis yang tangguh×Andry pengusaha kaya penyayang+Cinta Pandangan Pertama+Keluarga, Komedi Romantis】

Rumah yang seharusnya menjadi tempat bernaung justru menjadi sumber beban batin bagi Tina. Ia terjebak dalam dinamika keluarga yang timpang​Kehidupan Tina mulai terusik oleh kehadiran seorang pemuda kota kaya yang diam-diam kagum akan ketangguhan dan ketulusannya. Tanpa diduga, pemuda tersebut datang membawa rombongan besar untuk melamar Tina.​Bagi orang lain, pernikahan ini mungkin dianggap sebagai tiket emas untuk lolos dari penderitaan. Namun, sebagai wanita dewasa yang realistis, Tina tidak langsung mengiyakan. Ia tahu pernikahan bukanlah pelarian, melainkan babak baru yang penuh tanggung jawab. Di hadapan lamaran itu, Tina berdiri dengan sejuta tanya: apakah ini awal dari kebahagiaannya, atau justru awal dari badai yang baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 27

Satu minggu telah berlalu dengan begitu cepat sejak hari di mana pekarangan rumah Pak Rahman mendadak menjadi panggung tontonan warga desa. Kejutan lamaran Andry yang menghebohkan itu perlahan mulai mengendap, namun riaknya belum sepenuhnya hilang. Bagi Tina, hari-hari setelahnya adalah ujian kesabaran, sebab ke mana pun kakinya melangkah, bisik-bisik ramah maupun tatapan penuh selidik dari para tetangga selalu mengikuti bayangnya.

Hari yang baru pun tiba, membawa semburat fajar yang hangat di ufuk timur Desa Sukamaju. Seperti biasanya, Tina sudah bersiap-siap dengan pakaian rapi dan jilbab kainnya yang disetrika halus. Hari ini ia harus berangkat ke sekolah PAUD.

"Tina, kamu sudah mau berangkat, Nak?" tanya Bu Aminah, muncul dari arah dapur membawa selembar kain lap. Wajah wanita tua itu kini jauh lebih segar dan gurat pucat akibat sakitnya sudah hilang tak berbekas.

"Iya, Ma. Hari ini Tina hanya sebentar saja di sekolah, karena hari ini cuma mau menyerahkan ijazah kepada orang tua siswa yang lulus tahun ini," jawab Tina sembari merapikan letak tas kainnya di atas meja tengah.

Bu Aminah menatap meja makan yang baru saja ia tata. "Tapi kamu belum makan pagi, Nak. Ini Mama sudah goreng tahu dan buat sambal tomat."

Tina tersenyum manis, melangkah mendekat lalu mencium punggung tangan ibunya dengan takzim. "Nanti saja, Ma, kalau Tina sudah pulang. Lagian aku cuma sebentar kok di sana, tidak sampai tengah hari sudah selesai. Assalamu’alaikum."

"Wa’alaikumussalam. Hati-hati di jalan, Nak," sahut Bu Aminah menatap punggung putrinya yang mulai meninggalkan halaman rumah.

Semilir angin pagi menyambut Tina begitu ia melangkah keluar dari pekarangan rumah. Jalanan desa masih tampak sepi, hanya ada satu dua petani yang berjalan kaki membawa cangkul menuju sawah. Namun, ketenangan Tina tidak bertahan lama. Baru saja ia berjalan sekitar dua ratus meter dari rumahnya, tepat di dekat persimpangan pohon tua, sesosok wanita paruh baya berwajah ketus tiba-tiba muncul dari arah berlawanan.

Itu adalah Tante Ros, adik kandung dari abahnya. Wanita yang selama ini jarang sekali menginjakkan kaki di rumah Pak Rahman, bahkan hampir tidak pernah kelihatan batang hidungnya saat Bu Aminah terbaring kritis di rumah sakit kemarin.

"Eh, Tina! Kamu mau ke sekolah?" sapa Tante Ros dengan suara sengau yang sengaja dikeraskan.

Tina menghentikan langkahnya, mencoba menyunggingkan senyum sesopan mungkin meskipun hatinya mendadak merasa tidak nyaman. "Iya, Tan. Mau menyerahkan ijazah anak-anak."

Tante Ros melipat kedua tangannya di depan dada, matanya menatap Tina dari ujung kaki hingga ujung jilbab dengan pandangan menilai. "Bagaimana? Bagaimana?"

Tina mengernyitkan dahinya, merasa bingung dengan pertanyaan yang melompat tanpa arah itu. "Bagaimana... bagaimana apanya, Tan?"

Tante Ros berdecak lidah, wajahnya menunjukkan ekspresi gemas yang dibuat-buat. "Hih, kamu ini sok polos banget, deh! Itu loh, lamaran dari orang kota yang minggu lalu datang bawa barang mewah sekampung. Kamu jadi enggak sama dia? Gimana kelanjutannya?"

Tina menarik napas pendek, mencoba menahan diri agar suaranya tetap terdengar tenang. "Tina... masih memikirkannya, Tan. Menikah kan bukan perkara yang bisa diputuskan dalam semalam."

Mendengar jawaban Tina, Tante Ros langsung mencibir, bibirnya miring ke samping. "Eh, Tina! Kalau ada lelaki kaya yang datang kayak begitu, langsung terima saja! Jangan sok jual mahal, deh. Zaman sekarang susah cari orang kaya yang mau sama anak gadis desa. Jangan sampai nanti dia bosan menunggu lalu berpaling sama gadis desa lain," ucapnya lalu tertawa mengejek, sebuah tawa hambar yang terasa menyengat di telinga Tina.

Dada Tina berdesir perih, namun ia tetap menegakkan kepalanya. "Iya, Tan. Tapi bagi Tina, nikah itu cuma sekali seumur hidup. Kalau kita salah pilih dan terburu-buru hanya karena silau harta, hidup setelah nikah nanti kita bahagia."

Tante Ros langsung mengibaskan tangannya di udara dengan wajah masam. "Alah, sok tahu kamu! Masih kecil sudah menceramahi orang tua. Sudah ah, bicara sama kamu cuma buang-buang waktu saya saja!"

Tanpa pamit atau sekadar berbasa-basi lagi, Tante Ros langsung membalikkan badannya dan berjalan pergi mengentakkan kaki di atas tanah kering, meninggalkan Tina yang masih terpaku di pinggir jalan.

Tina mengembuskan napas berat, mengurut dadanya yang terasa agak sesak. *"Astaghfirullah... kan yang mengajak mengobrol duluan dia, kenapa dia yang marah?"* batin Tina miris.

Ada rasa perih yang menyelusup ke relung hatinya ketika menyadari kenyataan pahit itu. Minggu lalu, saat ibunya bertaruh nyawa di ICU rumah sakit, tantenya itu bahkan tidak pernah mengirim pesan menanyakan kabar. Namun begitu ada berita tentang lamaran pria kaya, dia menjadi orang pertama yang datang menghakimi.

Setelah menguasai emosinya, Tina kembali melanjutkan perjalanan menuju sekolah PAUD yang terletak di dekat balai desa. Setibanya di sana, suasana hangat anak-anak dan senyum tulus para wali siswa yang sudah datang perlahan menyembuhkan rasa kesalnya. Beberapa saat kemudian, para orang tua siswa mulai berdatangan satu per satu ke dalam ruang kelas, duduk dengan tertib menanti giliran untuk mengambil ijazah anak-anak mereka yang akan melanjutkan ke tingkat sekolah dasar.

Namun, ketenangan di dalam ruang kelas beralas karpet karakter itu mendadak terusik oleh suara kasak-kusuk dari arah halaman depan. Beberapa wali murid yang sedang berdiri di teras luar tampak saling menyenggol lengan satu sama lain, mata mereka tertuju lurus ke arah gerbang kayu sekolah.

Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam metalik—mobil yang sudah sangat familiar di mata Tina—perlahan memasuki pekarangan sekolah yang berpasir. Kendaraan itu berhenti dengan anggun tepat di bawah pohon peneduh.

Andry keluar dari dalam mobil. Pria kota itu tampak sangat berwibawa mengenakan kemeja katun rapi dengan lengan yang digulung hingga siku. Kedatangannya yang tiba-tiba membuat para wali siswa yang belum pulang langsung saling berbisik-bisik heboh. Dalam sekejap, halaman sekolah PAUD itu mendapatkan bahan gosip baru yang segar untuk dibawa pulang ke rumah masing-masing.

Andry melangkah mantap menaiki selasar kelas, mengetuk pintu kayu yang terbuka dengan sopan. "Assalamu’alaikum."

"Wa’alaikumussalam," sahut Tina beserta para orang tua siswa yang ada di dalam ruangan.

Mata Tina melebar sempurna. Rasa canggung yang luar biasa mendadak menyerang dirinya, dan dalam satu kedipan mata, memori tentang kejadian seminggu yang lalu di mana Andry berlutut di rumahnya kembali berputar otomatis di otaknya. Wajah Tina seketika terasa hangat.

"Ada... ada apa ya, Pak Andry?" tanya Tina, berusaha keras menjaga suaranya agar tetap profesional di depan para wali murid yang kini matanya sudah membelalak tajam menonton mereka.

Andry tersenyum tipis, sebuah senyuman yang teramat sopan. Ia melangkah mendekat tanpa mengurangi rasa hormat, lalu menyerahkan sebuah amplop cokelat tebal yang ada di tangannya.

"Begini, Tina... maaf mengganggu waktumu yang sedang sibuk," ucap Andry lembut, menyerahkan amplop yang rupanya berisi dokumen pengajuan resmi untuk program bantuan fasilitas sekolah. "Ini adalah berkas pengajuan resmi untuk renovasi gedung PAUD ini. Pihak yayasan kami sudah menyetujui anggaran untuk perbaikan atap dan pengadaan buku-buku baru."

Tina menatap amplop itu, lalu beralih menatap deretan ibu-ibu wali murid yang telinganya sudah tampak memanjang ke depan karena penasaran. Keadaan ini benar-benar tidak kondusif untuk membicarakan urusan serius.

"Ah... begini, Pak. Saya minta maaf sebelumnya karena saya harus melayani para wali siswa ini dulu untuk penyerahan ijazah. Kalau... kalau Bapak tidak keberatan, Bapak bisa menunggu saya dulu di dalam kantor guru?" tanya Tina dengan nada tidak enak hati.

Andry mengangguk paham, sama sekali tidak merasa tersinggung. "Ah, tidak masalah, Tina. Selesaikan saja dulu tugasmu, anak-anak dan orang tua mereka jauh lebih penting. Saya akan menunggu di dalam."

Tina pun berjalan beberapa langkah ke samping, mengantar Andry menuju pintu kantor guru yang terletak tepat di sebelah ruang kelas utama, sebelum akhirnya kembali ke mejanya untuk melanjutkan pembagian ijazah.

Begitu punggung Andry menghilang di balik pintu kantor, ruangan kelas langsung meledak oleh suara bisik-bisik yang tertahan. Ibu-ibu wali murid yang tadinya duduk rapi kini langsung bergerak condong ke depan, mengerumuni meja meja guru tempat Tina duduk.

"Tina! Itu... itu calon suamimu yang waktu itu melamar ke rumah, kan?" tanya Mak Sumi, salah satu wali murid dengan mata yang berbinar-binar heboh.

"Iya, Tina! Tampan sekali ya aslinya. Gagah, orang kota lagi!" timpal Ibu RT yang kebetulan ikut mengantar cucunya. "Kalian kapan nikahnya? Jangan lama-lama digantung, nanti diambil orang, lho!" tanya ibu-ibu itu bertubi-tubi dengan nada penasaran yang menggebu-gebu.

Tina yang mendengar rentetan pertanyaan frontal itu merasa darahnya berdesir hebat ke wajah. Wajah manisnya yang putih bersih kini berubah menjadi merah padam seperti kepiting rebus. Ia hanya bisa menundukkan kepala, membolak-balik lembaran ijazah di tangannya dengan gugup demi menyembunyikan rasa malunya yang teramat sangat. "A-ah, bukan begitu, Ibu-ibu... itu... itu cuma urusan yayasan sekolah," jawab Tina terbata-bata, mencoba mengalihkan pembicaraan meskipun usahanya sia-sia karena sorakan menggoda dari para wali murid justru semakin ramai.

Sementara itu, di dalam ruangan kantor guru yang hanya berjarak satu dinding, Andry duduk di atas kursi kayu. Suara riuh rendah dari ruang kelas sebelah, termasuk pertanyaan-pertanyaan menggoda dari ibu-ibu wali murid tentang kapan mereka akan menikah, terdengar dengan sangat jelas di telinganya.

Pria kota itu tidak marah. Alih-alih merasa terganggu, sebuah senyuman lebar yang sangat tulus dan penuh kemenangan perlahan terukir di wajah tampannya. Mendengar bagaimana warga desa mulai menjodoh-jodohkannya dengan Tina membuat dadanya berdesir hangat. Di dalam keheningan kantor guru itu, Andry berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan melakukan apa saja untuk mengubah suara gosip ibu-ibu itu menjadi sebuah kenyataan yang indah di pelaminan nanti.

1
Mamah Dini11
ya mendingan di ambil tin kan gajinya gede ,jdi bisa bantu ortumu. kalau masalah paud carikan dulu penggantimu, ya setidaknya kalau gajinya gede kan bisa mengurangi bebanmu
Mamah Dini11
kenapa gk ngontrak aja tin atau ngekos gitu biarkan kakamu yg malas dan benalu itu yg ngerjain di rumah itu , permisi thor mampir ni...moga ceritanya menarik 🙏
Imi Omi
yah ngayal 🤣
Imi Omi
aku suka ceritanya, lanjut terus Thor 👍
Imi Omi
😤
Imi Omi
katanya nunggu tapi kalau ngak di terima kayaknya dia bakalan buat rencana gila lagi🤣
Imi Omi
jadi bahan gosip sekampung🫠
Imi Omi
mungkin yang di maksud Lisa tu, aku atau kak Tina 🤣🤣🤣
Imi Omi
🤣
Imi Omi
waduh di lamar dong 🤭
Imi Omi
😭😭
Imi Omi
Akhirnya dia sadar juga😭
Imi Omi
baru juga dinasehati udah nasehatin orang 🤣
Imi Omi
Dimarahin Bu Yuna gak tuh🤣
Imi Omi
uwah ketahuan
Imi Omi
ngak tahu diri banget si jadi anak laki-laki 😤
falea sezi
buruk bgt cerita muter doank g jelas. MC. nya bodoh mood baca jd anjlok
falea sezi
MC oon semua😒
falea sezi
🤣🤣 tina goblok novel apaaan ini muter doank😒 MC nya bloon kok lulusan sarjana lulusan SD. kali. makanya oon ma adek g bs tegas. ma. ortu jg gt
Imi Omi
🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!