Aku yang selalu ada bukan dia?
Aku yang setia mendampingimu bukan dia?
Tapi kenapa kamu memilih dia bukan aku?
~
Cinta tak selamanya berakhir dengan indah dan bahagia.
Cinta juga terkadang seperti duri yang menyakitkan, apabila duri itu dicabut maka akan menimbulkan luka. Namun jika dibiarkan pun akan menyebabkan rasa sakit yang luar biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruang hampa
Hujan turun rintik-rintik membasahi bumi, membuat hati yang dingin semakin sunyi bagai tak berpenghuni. Kehangatan itu seakan sudah sirna dari dalam dirinya. Tak ada lagi sesuatu yang membuat hatinya bersenandung penuh cinta seperti dahulu.
Asa menguap terbawa lara yang menjauh, rasa itu sirna tenggelam terbawa arus yang deras tak berujung. Cahaya itu redup tenggelam di dalam kubangan penyesalan. Rindu. Memang dia sangat merindukan sosoknya. Sosok itu yang selalu mengulas senyum manisnya ketika berhadapan dengannya.
Gadis cantik berambut hitam panjang itu, kini telah hilang untuk selamanya dari pandangan matanya. Membawa seluruh rasa yang masih menggerogoti hatinya, menyiksa batinnya sampai saat ini.
"Abang belum tidur?"
Naja menoleh, ia melihat gadis itu tersenyum manis padanya. Tiba-tiba saja Naja meringis melihat senyum itu. Tangannya melambai menyuruh sang adik supaya lebih dekat padanya.
"Kamu sendiri kenapa belum tidur?" bukannya menjawab, Naja malah balik bertanya pada sang adik. Tangannya mengusap lembut puncak kepala gadis itu.
"Ih Abang, ditanya malah balik bertanya. Sheril baru saja kelar nugas. Memangnya Abang, belum tidur karena masih mikirin Kak Abel." goda Sheril yang sukses membuat wajah kakaknya itu merona.
"Sok tahu."
Naja memalingkan wajahnya, menatap riak air kolam renang yang tampak lebih indah dengan cahaya bulan.
"Dih pake nggak mau ngaku, bilang aja iya. Gitu aja susah!" cibir Sheril lagi.
"Kamu ini, dasar adik Abang yang nakal." ucap Naja, ia menggelitik pinggang gadis berusia dua puluh dua tahun itu.
Sheril menggelinjang kegelian, tawanya pecah. Mengiasai malam sunyi Naja. Memang selama ini hanya Sheril yang selalu bisa membuatnya tertawa.
"Abang, Adek. Tidur sudah malam!"
Terdengar sang Papa berteriak dari balkon kamarnya di lantai dua. Pria yang mulai berumur itu sudah menggunakan piayama tidur, ia bertolak pinggang memandang kedua anaknya di bawah.
"Tuh, Abang sih. Papa jadi kebangun kan." Sheril mencubit lengan sang kakak, bibirnya mengerucut.
"Papa tuh habis kerja, bukannya ke bangun." jawab Naja, ia meninggalkan Sheril, menuju ke kamarnya.
Kening Sheril berkerut dalam mendengar ucapan kakaknya. Ia melihat jam yang tergantung apik di dinding, kemudian pikirannya kembali lagi pada ucapan kakaknya.
"Papa kerja apa jam satu dini hari. Bukannya Papa sudah tidak seaktif dulu di kantor." gumamnya berbicara pada diri sendiri.
"Sheril, tidur." teriak Naja, membuat gadis itu terlonjak kaget.
"Abang." pekiknya dengan kesal ia berlari mengejar sang kakak.
"Abang, tadi Papa kerja apa sampai larut begini?" Sheril menerobos pintu kamar Naja.
Naja yang baru saja membuka kemejanya itu pun menoleh, bibirnya terlipat menahan tawa. Kenapa gadis yang telah memasuki usia dewasa itu masih mempunyai pikiran sepolos itu, padahal Sheril sudah mempunyai kekasih. Tapi meski begitu Naja senang, bahwa ia tahu jika adiknya itu tidak pernah macam-macam di luaran bersama kekasihnya.
"Anak kecil nggak usah tahu. Sudah sana tidur!" Naja mendorong paksa tubuh Sheril supaya meninggalkan kamarnya.
"Abang ih, Sheril bukan anak kecil lagi. Kenapa main rahasia-rahasiaan sih?" gerutu Sheril, ia masih bersikukuh pengin tahu apa maksud ucapan Naja tadi.
"Kamu mau tahu?"
Sheril menghentikan langkahnya, ia berbalik menatap Naja dengan mata berbinar. Kepalanya mengangguk cepat.
"Nikah dulu, nanti kamu pasti bakal tahu."
"Maksud Abang?" tanyanya terdengar ambigu.
Naja mendengus kasar, masa dia harus menjelaskan secara detail pada adiknya itu.
"Sudah sana tidur, kapan-kapan Abang jelasin."
Naja menutup paksa pintu kamarnya. Membiarkan gadis itu terus mengetuk pintu karena masih penasaran.