Takdir tak akan berubah jika kau tak ingin merubahnya, berjuanglah untuk mendapatkan kebahagiaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhaze, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab34
Taksa pun kembali ke rumah, dia bersiul di sepanjang jalan, dia sangat senang bisa bertemu Ivy.
Saat sampai di halaman rumahnya tampak Ren tengah duduk di teras di temani adiknya.
Lala pun bangkit lalu mengecup punggung tangannya. Dia lantas masuk kedalam, untuk mebuatkan Taksa minuman.
"Dari tadi lu?" tanyanya seraya duduk dan melepaskan jaketnya.
"Ngga sih" jawab Ren lantas mematik kembali rokonya. Itu adalah putung ke tiga yang ia hisap saat menunggu Taksa.
"Sekalut itu lu ampe ngeroko segitu banyaknya" tukas Taksa sambil melihat arah asbak.
"Si Liam kagak ngikut?" Taksa pun ikut mematik batang rokonya. Tak lama adiknya itu membawakan ia minuman, dan mengambil jaket Taksa untuk ia taruh.
Ren hanya menggeleng, sambil menyugar rambutnya kebelakang.
"Gw kagak ngerti taro di mana otak si Nuna!" Ren mulai mencurahkan isi hatinya.
Taksa hanya mengangguk-angguk mendengarkan keluhan sahabatnya itu.
"Dia cuma pertahanin harga dirinya kali" jawab Taksa sambil menaikkan bahunya.
"Harga diri, ***kucing!!" umpatnya, "dia ngga mikir klo kalah tambah ancur aja tuh harga diri."
Mereka memang tak tahu apa yang di pikirkan gadis itu, tapi sepertinya ini akan menjadi pembahasan yang panjang jika harus membahas itu, dan Taksa lebih memilih menyegarkan diri mereka dahulu.
"Mandi dulu gih, biar segeran otak lu!" perintah Taksa.
Ren pun tak membantah ia segera bangkit menuju kamar Taksa, Taksa masih di teras sambil meregangkan kaki dan tangannya, mengingat Ivy, dia pun tersenyum sendiri, kemudian bangkit menyusul sahabatnya itu.
Di kamar, Taksa merebahkan diri, menunggu Ren menyelesaikan mandinya.
Ia pun membukan galeri photo yang ada di hpnya, dia melihat photo Ivy yang diam-diam dia ambil saat di cafe Fay tadi, dia memperhatikan jika gadis itu tersenyum sangat manis, gumamnya.
Ren keluar dari kamar mandi sudah mengenakan pakaian lengkap, kaus dan celana kolornya, untungnya saat akan menginap di rumah sahabatnya ini dia pulang dahulu untuk berpamitan ke pada ibunya sekaligus membawa baju ganti.
"Oi— senyum-semnyum sendiri... gila lu!" Ren berusaha melirik hp sahabatnya, dia melihat Taksa melihat photo seorang gadis, tapi tak jelas siapa.
"Vangke, bikin buyar aja lu" omel Taksa segera bangkit duduk, dan meletakan hpnya di nakas.
"Wih dah persiapan nih, bawa baju ganti segala" ejek Taksa.
"Hp gw mati, ya sekalian lah gw pamit ma ibu" jelas Ren.
Dia pun duduk di samping Taksa sambil mengeringkan rambutnya " lagi jatuh cinta lu Sa?" tanyanya.
"Dih cinta apaan, dah ahh gw mo mandi" elaknya, Taksa tak tahu dengan perasaannya apa dia jatuh cinta dengan Ivy atau hanya mengaguminya saja, jadi dia belum bisa menceritakannya kepada Ren.
Ren pun tertawa mendengar elakan sahabatnya itu, tapi terlihat dari gerak-geriknya Taksa menghindari pertanyaannya.
Ren pun mengambil hpnya sendiri dan mencasnya. Saat dia menyalakan Hpnya, ada puluhan panggilan tak terjawab dari Nuna, dan 1 dari Fay.
Dan ada beberapa pesan dari Nuna yang Ren abaikan, dia memilih membaca pesan dari Fay.
Hanya pertanyaan sederhana, Fay bertanya apa dia sudah pulang dari bengkel, dan untuk mengingatkannya agar tak lupa jika esok mereka akan makan bersama di warung ibunya Ren.
Ren tersenyum, saat ia hendak membalas, Taksa keluar dari kamar mandi sekarang giliran dirinya yang mengejek Ren "tadi lu ngatain gw gila, senyum-senyum sendiri, sekarang lu pulak gila cengengesan sendiri."
Ren tak jadi membalas pesan Fay, tapi di layar nampak Fay sedang mengetik pesan untuknya.
*Fay : pesan gw di baca doang?😤
Me : wih idungnya keluar asep🤣*
(Ren malah membalas chat Fay dengan candaan)
Fay pun akan membalas chatnya kembali, tapi Ren merasa lama sekali, apa gadis itu sedang mengetik pesan yang panjang, atau menghapus pesannya berkali-kali.
"Siapa Ren?" tanya Taksa, sambil mengenakan kausnya.
"Si Fay" jawab Ren singkat.
Tak lama panggilan masuk di hp Ren menampakan nama Fay, jadi gadis itu memutuskan untuk menelponnya saja.
*"Ren besok lu mau makan apa, gw berencana beli seafood buat besok, kata ibu, lu suka makan seafood" tanya Fay.
"Kepiting boleh, apa aja gw suka klo makanan laut mah."
"Ok deh, lu lagi dimana Ren? udah balik kan?"
"Udah, lagi di rumah Taksa."
"Ren*, (Fay bergumam hendak menanyakan sesuatu tapi dia bingung) *"ngga usah deh ntar aja."
"Ok"
"Bye Ren."*
Ren pun hanya bergumam menjawabnya dan mematikan panggilan mereka. Ren mengernyit mengingat perkataan Fay tadi, sepertinya ada yang ingin gadis itu tanya, atau beritahu padanya, terkanya.
Taksa pun mengajak Ren untuk makan malam, mereka memutuskan untuk makan malam di luar, menu pecel ayam yang jadi pilihannya.
Ren pun mengangguk setuju, dan sekarang waktunya dia yang membayar makanan Taksa dan adiknya.
Ren dan Taksa meninggalkan rumah untuk mencari makanan yang mereka sepakati tadi, tak lupa Ren pun mengajak Lala turut serta.
Kasihan jika meninggalkan gadis itu di rumah saat mereka makan, walaupun sudah biasa Lala di tinggal sendiri, tapi mengingat jika sekarang waktunya jam makan malam, Ren pun memilih untuk mengajaknya turut serta.
Saat sudah sampai, mereka semua duduk di kursi yang di sediakan pemilik warung dan memesan makanan mereka, tapi Lala memutuskan mengganti menunya saat melihat ada pedagang sate di sebelah warung pecel ayam ini.
"Bang— Lala mau sate aja ya" pintanya menatap kakanya Taksa.
"Pesen aja La" sela Ren, yang membiarkan gadis itu memilih makanannya sendiri.
Lala pun berlalu dan menghampiri pedagang sate, dia memesan untuk dirinya sendiri.
Makanan Ren dan Taksa sudah siap, sedangkan sate milik Lala belum, jadilah Ren dan Taksa makan terlebih dahulu.
Lala pun memilih meminum jeruk hangatnya dan melihat media sosial miliknya.
Taksa pun melirik sekilas apa yang di lihat oleh adiknya itu, ternyata dia sedang melihat media sosial cafe milik Fay, Moist.
"Ngapa lu La, liat tuh cafe" tanya Taksa di sela makannya.
"Keren bang cafenya, temen aku dah kesana bang, aku belum pernah" keluhnya, Lala mendengar harga makanan dan minuman di sana, dan itu tak sepadan dengan uang sakunya.
"Kenapa emangnya?" tanya Taksa bingung.
"Ishhh abang.....minuman di sana mahal lah bang, mana cukup uang saku Lala buat nongkrong di sana" ucapnya.
"Cafe mana emang?" tanya Ren.
"Moist" jawab Lala.
Ren dan Taksa tertawa dengan keluhan gadis itu, memang cafe Fay makanan dan minumannya tak cocok dengan isi kantong mereka.
Ren dan Taksa sudah selesai menyantap makan malam mereka, sedang Lala hidangannya pun belum selesai sama sekali, karena memang warung sate itu sedang ramai pengunjung.
"La, bungkus aja lah, kita kan dah kelar masa ia lu makan sate di warung pecel" usul Taksa.
Lala pun mengangguk, lantas Ren memberinya uang berwarna merah untuk gadis itu membayar makanannya.
Lala tak menolak, Taksa pun membiarkannya saja, bukan apa-apa dia tahu Ren tak terima penolakan.
Saat mereka semua telah selesai, mereka memutuskan untuk segera kembali kerumah, mengistirahatkan badan.
"Bang nih kembaliannya" ucap Lala saat mendekati motor mereka terparkir.
"Udah simpen aja buat tambahan jajan" sambil mengusap kepala gadis itu.
"Makasih bang" ucap Lala senang, dia memang menyukai Ren, tapi dia tak pernah secara blak-blakan mendekatinya, karena Taksa pernah memperingatinya.
.
.
.
...****************...
-YOU'RE MINE, SERRA
-POSESSIVE PILOT
-"AFFAIR WITH UNCLE++"
-My best friend's Daddy is my husband
-Pengantin Pengganti Tersakiti