Danu gemar berorganisasi, dari SMA hingga masa kuliah, Danu selalu asyik jika menyangkut Organisasi, saat SMA Danu memiliki hubungan khusus dengan Juli, karena kedekatan dan kisah indah masa lalu kedua orang tua mereka, Danu dan Juli tunangan saat mereka selesai SMA. Walau demikian, Danu dan Juli kuliah di PT berbeda, bahkan kost yang jauh jaraknya, Danu yang aktifis meneruskan kegemarannya berorganisasi di Kampus, Juli tak bisa melarang, keingintahuannya dengan kegiatan Danu membawa Juli menerima tawaran menjadi Wartawati Kampus.
Fokus Danu dalam kegiatan Organisasi sering membuatnya lupa, termasuk janji dengan Juli, fokus inilah yang kemudian membawa Danu menjadi begitu terpuruk, waktunya yang banyak tersita untuk organisasi membuat Danu harus menerima kenyataan pahit, kehilangan Juli. Bahkan untuk prosesi terakhir pun Danu melewatkannya.
Fahmi teman Danu sejak SMA memaksa Danu meninggalkan Medan menuju kampung halaman ibunya, Apakah Danu bisa menemukan kembali kembali kata Bahagia ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syamsuddahri Pulungan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mendengar Kisah Rahman
1999.
Hari ini tepat sudah sebulan penuh Danu berada di kota kecil Sibolga tanah kelahirannya, sudah banyak cerita yang berhasil ia torehkan, pancaran kembang api yang menghiasi langit Sibolga hanya dipandangi Danu dari balkon rumah kostnya bersama sama dengan Bisma, Burhan dan Rahman. Sedangkan penghuni lainnya lebih memilih langsung berada di Lapangan Simaremare yang menjadi tempat utama berlangsungnya kegiatan menyambut tahun baru.
Tapi, kebersamaan mereka tak berlangsung lama, saat kembang api tak intens lagi, Bisma menyusul Burhan menuju peraduan, sehingga menyisakan Danu dan Rahman yang sepertinya belum memiliki niat meninggalkan tempat, Danu memang tak punya niat beranjak karena rasa kantuk benar benar tak ada dimatanya, pikirannya masih terus melayang entah kemana, sama persis dengan Rahman yang dari tadi bahkan menguap saja tidak pernah.
“Sebenarnya umur Abang sudah berapa”. Danu memulai pembicaraan.
Rahman menoleh sebentar dan tersenyum kecil. “Masih 36 Tahun”.
“36 tahun kok pake masih Bang ?”.
“Kan belum 40 tahun”. Jawab Rahman enteng.
Danu jadi ikut tertawa kecil, tapi menurutnya 36 tahun itu bukan usia yang muda lagi, sehingga kurang tepat ada kata masih di pangkalnya. Seharusnya menurut Danu di 36 tahun seseorang sudah berkeluarga, punya anak dan istri yang menunggu di rumah, bahkan Danu dulu berencana akan menikahi Juli saat mereka menyelesaikan kuliahnya, itu berarti usianya paling kuat baru 23 tahun, walau harapan itu kini sudah benar benar sirna, akan tetapi menurut Danu beliau adalah pengecualian, dan itu mungkin tidak normal.
“Kenapa belum menikah Bang ?”.
Rahman lama memandangi wajah Danu yang tampak serius, tapi sejurus kemudian Rahman kembali memalingkan wajah ke arah terminal, kali ini tampak ada perubahan garis di wajahnya, bahkan ia mematikan HP yang ada di tangannya sekaligus menyimpan ke dalam kantongnya, Danu menjadi penasaran, ini kali pertama ia melihat wajah serius milik Rahman, sebelumnya ini tidak pernah terjadi.
“Kenapa Bang ?”.
Rahman buang nafas berat. “Itu pertanyaan yang sampai hari ini terasa sulit. Walau saya tahu apa jawabannya tapi terasa begitu berat menemukan cara dan kata untuk memberi gambarannya”.
Danu sedikit tersentuh. “Ada kisah Bang ?”.
Rahman menoleh kearah Danu sebentar dan anggukkan kepala. Danu tentu menjadi tambah penasaran, dalam hati Danu akhirnya memiliki banyak tebakan, termasuk salah satunya adanya kemungkinan Rahman punya cerita yang sama dengannya, di tinggalkan orang yang disayang yang kemudian merubah hidupnya yang ceria menjadi begitu gundah gulana, membalikkan keadaan dan suasana hatinya yang penuh dengan rasa bahagia menjadi sarang penuh luka. Ini tentunya terus memompa rasa penasaran Danu yang ingin tahu apa dan bagaimana cerita cinta Rahman.
“Kadang hidup itu memang aneh. Saya sarankan, jika sekarang kamu punya pacar atau bentuk lainnya, belajarlah mencinta apa adanya, jangan terlampau berharap, karena jika itu lari dari apa yang diharap, hidup kita bisa tiarap”. Jelas Rahman masih dengan senyum dan tawa kecilnya.
“Saya jadi tertarik Bang. Sumpah”. Sambut Danu sambil merobah gaya duduknya menghadap Rahman.
“Belum tentu itu penting”. Sanggah Rahman.
“Tapi, berbagi pengalaman itu bagus Bang”. Danu masih ngotot.
Rahman kembali tersenyum kecil, mengulut rokok, menghisap dalam dan membuangnya dengan kekuatan penuh, menggambarkan ada beban berat yang sedang bermain di dadanya. Sikap ini membuat Danu semakin yakin jika Rahman punya cerita yang sama seperti dirinya, jauh dari kata bahagia.
Namanya Rahma Salsabila, Rahman mulai bercerita. Mereka pacaran sejak duduk di kelas II SMA, teman satu kelas yang cantik jelita, bolehlah dikatakan Salsa adalah kembang sekolah yang banyak di incar lawan jenisnya, tapi cerita menempatkan Rahman sebagai pemenang utama, dimana Rahman dengan upaya yang tidak begitu menyulitkan dapat memproklamirkan diri sebagai kekasih hati Salsabila, yang saat itu membuat Rahman bagai melayang diudara.
Double Ra, itu gelar yang disematkan banyak temannya, apalagi setelah Rahman dan Salsa keluar sebagai pasangan Pemenang Utama sekaligus sebagai pasangan ideal Pavorite pengunjung dalam kegiatan bertajuk Valentine Day’s yang dilaksanakan salah satu radio swasta di kotanya. Rahman bahkan dengan mudah begitu dekat dengan keluarga kekasihnya, dengan kedua orang tua Salsa, Kakak dan Adik Salsa, bahkan dengan banyak sepupunya Rahman juga terlanjur dekat layaknya keluarga.
Kisah cinta Rahman dan Salsa tampaknya akan semakin membaik dan diperkirakan banyak orang akan lanjut hingga ke batas yang terbaik setelah keduanya memutuskan melanjutkan pendidikan di kota kecil mereka, Rahman dan Salsa memilih kuliah di salah satu sekolah tinggi yang tak jauh dari rumah keluarga Salsa di Kelurahan Pasar Belakang.
Kedekatan Rahman dengan orang tua Salsa, terutama ayahnya tergolong diatas rata rata, ayah Salsa yang seorang pedagang sate di Jalan Patuan Anggi Terminal bawah bahkan tidak segan meminta Rahman untuk mendorong gerobak satenya pulang ke Pasar Belakang setelah selesai berjualan. Teman teman Rahman bahkan sudah terbiasa melihat pemandangan itu, biasanya semuanya hanya menghadiahi Rahman dengan tawa dan melebelinya sebagai calon menantu idaman, calon menantu diluar kebiasaan. Walau ada juga yang menambahnya dengan kalimat calon menatu takut calon mertua.
Kisah tak sedap dimulai saat mereka duduk di semester V, saat adik kandung Salsa yang bernama Nadia memilih nikah muda, Nadia dan pacarnya melangsungkan akad nikah bahkan saat Nadia belum tahu apakah ia lulus atau tidak di jenjang SMA, karena pernikahan itu berlangsung hanya dua minggu setelah pelaksanaan Ujian Nasional (UN) berakhir. Entah apa yang ada di pikiran Salsa, ia merasa keberatan tapi tak memiliki kekuatan untuk melakukan pencegahan.
“Kita menikah juga kenapa Bang ?”.
Rahman tampak terkejut. “Sa, kita ini baru semester V”.
“Nadia baru tamat SMA”.
Rahman tersenyum kecil. “Apa hubungannya ?”.
“Salsa berfikir kenapa kita tak menikah saja”.
Rahman hanya geleng geleng kepala merasa heran dengan apa yang menyusupi isi kepala Salsa, Rahman tentu bukan tak ingin menikah, tapi rasanya saat ini bukan waktu yang tepat untuk mewujudkannya, bukan hanya karena terlampau muda, akan tetapi nanti istri dan anaknya mau di beri makan apa, untuk biaya kuliah saja Rahman masih sering meminta subsidi keluarganya, bagaimana mungkin malah memutuskan untuk berumah tangga.
“Sa…”.
Salsa sama sekali tak menoleh. “Salsa malu”.
Kening Rahman berkerut. “Malu ?”.
Salsa anggukkan kepala. “Malu Bang”.
“Kenapa Malu”.
“Dilangkahi”.
Rahman sedikit mendengus, jawaban Salsa menurutnya hal yang terlampau berlebihan, apalagi status mereka yang masih mahasiswa semester V, apa yang harus dimalukan, bahkan menurut Rahman Nadia lah yang seharusnya malu, menikah seperti terburu buru dan terkesan memaksakan diri, justru menurut Rahman Nadia lah yang layak dicegah bukan malah merasa kalah.
“Sa, menurut Abang, bukan Salsa yang menikah terlambat, tapi Nadia yang menikah terlalu cepat”.
Salsa masih belum punya senyum. “Tapi Salsa malu Bang”.
Rahman buang nafas agak berat. “Abang pikir Salsa nggak perlu malu, semua orang akan tahu jika pun ada kesalahan, maka yang patut disalahkan adalah Nadia, bukan Salsa, dan bahkan menurut Abang, jika kita malah memilih menikah sebelum selesai kuliah, kita sama saja dengan Nadia, tak sabaran dan terburu buru”.
“Entahlah Bang, tapi Salsa merasa malu”.
Kata malu yang disampaikan Salsa sudah puluhan kali, dan puluhan kali pula Rahman membuang nafas berat berupaya mengurasi rasa kesal yang tiba tiba datang menjadi penguasa di dadanya, Rahman sebenarnya sudah mulai tak kuasa menahan gejolak geram yang ikut memompa dadanya, tapi Rahman tetaplah Rahman yang berusaha biasa saja, mengalihkan cerita dan mencoba membuat suasana tidak bertambah tegang.
Malam bertambah larut, Rahman dan Salsa berdiri bersamaan, Rahman meraih tangan Salsa dan menggenggamnya dengan penuh kelembutan, Rahman terus mengulas senyum, entah sudah berapa lama, barulah Salsa membalas senyum Rahman walau hanya tipis, sangat tipis, tipis sekali, bahkan nyaris tak terlihat.
“Okey, kita komitmen dengan konsep awal kita, kita akan menikah setelah berhasil menyelesaikan kuliah kita dengan baik, bila perlu kita menikah tanpa harus menunggu acara wisuda. Percayakan semua dengan hati yang tenang. Abang mencintaimu Sa, sangat mencintaimu”. Tegas Rahman.
Salsa kembali tersenyum, kali ini lumayan lebar. “Baik Bang”.
“Kita tak perlu tergesa gesa, kita bangun mimpi dulu, nanti setelah kita benar benar terjaga, kita tinggal menikmatinya saja”.
Salsa tak lagi menjawab, hanya ada anggukan kecil, ia perlahan melepaskan genggam tangan Rahman dan beranjak pergi bersama dengan teman sekaligus tetangganya Amira kembali kerumah. Baru setelah Salsa dan Amira hilang dari pandangan Rahman saat langkah mereka menikung masuk ke Jalan Hijrah baru Rahman juga melangkahkan kaki menuju kostnya di Jalan S.M. Raja.
……. Bersambung ….
"Salahkah Cinta?" atau tinggal klik profil aku aja ya