NovelToon NovelToon
BIMA LOVERS

BIMA LOVERS

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi
Popularitas:1M
Nilai: 4.9
Nama Author: NOVIA IP

Bimatara Reza Winajaya tumbuh menjadi pria tampan yang amat di kagumi semua wanita yang melihat. Tapi kisah cintanya tidak semulus di bayangkan banyak orang. Meski fisik mendukung tapi soal wanita dia kurang beruntung.

Banyak orang yang mencintai tapi cintanya hanya untuk wanita di masa lalunya. Clara Mariana Argata.

Pertemuan dengan wanita yang mirip wanita di masa lalu menghantuinya. Ciara Hanaria Azata. Memiliki banyak rahasia yang wanita itu sembunyikan. Hingga wanita itu diam-diam mengagumi Bima saat pertemuan pertama.

Apa Bima akan melupakan sosok wanita yang di cintai selama hidupnya? Atau wanita yang mirip dengan masa lalunya yang akan mengubah segalanya, menjadi cinta baru...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NOVIA IP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Acara Kondangan

Sebelumnya minal aidzin walfaidzin guys, untuk yang merayakan. Episode ini hampir 3200k panjang banget kan? Jangan bilang pendek ya. 

Selamat membaca

Jangan lupa Vote, Komen dan Jempolnya (👍)

***

Setelah perdebatan mereka beberapa hari yang lalu, ternyata bukan perdebatan terakhir. Malah mereka sekarang tiada hari tanpa adanya perdebatan. Kadang mereka sering berdebat sesuatu yang tidak ada penting, alias Gazebo. Tapi hal itu tidak membuat kinerja mereka berpengaruh. Malah karena hal itu mereka menjadi kompak dan kenal satu sama lain akan sifat dan sikap keduanya. Apalagi tepat malam ini, adalah jadwal Bima dan Hana menghadiri acara penting yaitu, acara kondangan pernikahan.

Hana bernafas berat saat melihat pakaian berserakan di ranjangnya. Semua pakaian dalam lemari di keluarkan yang cocok untuk acara kondangan namun sampai detik ini belum ada pakaian pun yang merasa cocok untuknya. Beginilah wanita segalanya harus perfect. Padahal pakaian Hana sangat banyak dalam lemari mau non formal maupun formal. Ia melirik ponselnya sejak tadi berbunyi.

@Audy_Kutil: Guys nongkrong yuk!

@Felix_Kepo: Tumben malam minggu ngajakin nongkrong. Gak di apalin Bang Polisi.

@Audy_Kutil: Biasa tugas negara. Sekali-kali kita bertiga ngumpul malam minggu, sekalian nemenin kalian berdua yang jomblo tiada akhir. 

@Felix_Kepo: Sorry ya, kejombloan aku bakal berakhir, di tunggu guys. Calon iman sudah di depan mata menatap masa depan.

@Audy_Kutil: Pret.. 

@Hana_Kece: Pret.. 

@Hana_Kece: Sorry aku gak bisa guys mau acara kencan nih.

@Audy_Kutil: Ngengas banget si Hana. Ngaku mau kencan tapi cowok aja gak punya. Kencan sama siapa? Sama Bang Togar? 😁✌

@Felix_Kepo: Mungkin Hana lagi mode halu.

@Hana_Kece: Astagfirullah, aku bilangin Bang Togar biar di aduk pake coet biar tuh mulut diam.

@Felix_Kepo: Jangan dong, pecel dia paling enak, Na. 

@Audy_Kutil: Nanti gak bakal gratisan lagi kalau ke sana. 

@Hana_Kece: Kalian berdua ada maunya sama Bang Togar. Lagian pada gak percaya amat si sama aku, guys. Di bilang mau kencan juga. 

@Audy_Kutil: Musyrik, lagian kencan sama siapa Hana? Ada cowok yang mau sama modelan kamu? 

@Felix_Kepo: Hahaha Hana please jangan jadi jomblo ngenes tambah halu, Na. Sadar. Istighfar.

@Hana_Kece: Wah kalian berdua awas aja ya, aku mau kencan sama Bos galak ke kondangan.

@Audy_Kutil: What? 

@Felix_Kepo: Serius? 

@Hana_Kece: Tau ah, mau siap-siap, bye!

Ada rasa kesal dan geli saat melihat chat di grupnya. Mereka tidak percaya kalau Hana akan kencan dengan Bos galaknya meski hanya kondangan yang namanya jalan berdua apa coba namanya kalau bukan kencan? Mungkin Hana terlalu percaya diri. Maklum dia jomblo.

Hana melempar ponselnya ke atas ranjang asal. 

Dia mengambil Ruffle Signature Dress yang berwarna hitam dengan kerah Ruffle putih. Da memilih pakaian tersebut. Lumayanlah untuk di pakai nanti malam. Entah kenapa Hana tidak percaya diri untuk menemani Bosnya. Pasti di acara pernikahan di sana banyak sekali wanita cantik yang pasti akan mengagumi Bosnya. Dia meringis saat membayangkannya.

Waktu sudah menunjukan pukul empat sore, Hana merapikan kembali kekacauan yang di perbuatnya. Melipat dan memasukan pakaian kedalam lemari.

Selesai dengan beres-beres kamarnya, Hana melenggang turun ke lantai bawah dan melesat langsung ke dapur. Ia merasa lapar dan mencari bahan makanan di kulkas. 

Niatnya ingin memasak tapi keburu males, Bik Sumi datang dengan belanjaan di tangannya.

"Habis belanja, Bik?" Tanya Hana, kemudian mengambil minuman kaleng soda dan membukanya.

"Iya, Non. Tadi Bu Safira bawa, Bibi ke swalayan buat beli belanjaan bulanan." Jelas Bik Sumi membuka bungkusan beberapa belanjaan ke dalam lemari nakas. 

Hana meneguk sodanya. Mengelap bekas minuman di bibir.

"Oh, Bik, buatin Hana mie goreng, laper nih." Keluhnya seraya mengelus perut ratanya sudah berontak minta di isi.

"Siap, Non. Tunggu ya."

***

Selesai makan Hana memutuskan untuk bergabung dengan yang lain sedang duduk mengobrol. Jarang-jarang dia bisa berkumpul dengan keluarganya karena sibuk kerja. Hanya weekend hari yang Hana dambakan setiap harinya. Ia duduk dan mengambil posisi di tengah berada antara Azata dan Safira. Sedangkan Tyana duduk di single sofa sebelah kanan Azata. Hana meletakan kepalanya di bahu Safira.

"Jadi beneran Bos kamu minta di dampingi ke acara pernikahan?" Safira buka suara. Hana sudah memberitahu Bundanya perihal itu.

Azata memandang Hana penuh arti. Dia menyadari pandangan dari Ayahnya. Namun dia lebih dulu menjawab perkataan Bundanya. Ia menghela nafasnya. "Yes, Bun. Itu acara pernikahan rekan bisnis dan aku gak bisa menolak. Karena...Bunda tahu, sekretaris harus selalu mendampingi Bosnya kemana saja."

"Bunda hanya gadis habis pikir, Bosmu itu kan masih muda kenapa tidak kekasihnya saja yang menemaninya. Walaupun ada sedikit menyangkut pekerjaan nanti saat acara, dia bisa kan menghubungi kamu nanti."

"Dia jomblo, Bun. Hana saja gak tahu maksud dia ngajak aku." Cetus Hana. 

Safira tertawa pelan. "Kamu yakin? Dia itu tampan loh. Masa tidak punya kekasih sih. Kalau kamu sih, Bunda maklumi."

Hana mendengus tidak suka. Mengangkat kepala yang bersandar di bahu Safira. Mendekati Azata meminta pembelaan. 

"Yah, Bunda tuh, masa anaknya di hujat melulu. Mentang-mentang aku masih jomblo." Keluhnya pada Azata. 

"Jangan salahkan Bunda dong, kamu salah sendiri masih jomblo sampai sekarang. Jangan-jangan masih belum move on dari一dia." Kata Azata mengelus rambut Hana, melirik hati-hati ke arah Hana.

Yah, kenyataannya dia sudah move on. Tapi masih tidak terima akan penghianatnya. Hana bukan wanita yang lemah harus jungkir balik saat mendapat penghianat dari pria itu. Dia tidak bisa larut dalam kesedihan. Ia tidak bisa membenci pria itu lebih dalam, karena kalau ia lakukan sama saja dia membenci…sekilas Hana melirik Tyana masih duduk dan fokus pada Tab nya. Lemah, Hana mencoba untuk menjadi wanita kuat. Wanita yang bisa menghadapi segala sesuatu dengan tegar. 

"Ayah sok tau deh, aku masih nge-jomblo begini karena ingin cari yang benar-benar sayang dan cinta sama aku, aku gak mau salah memilih lagi." Bukan mendapatkan pembelaan, malah menambah hujatan. Hana pasrah, jomblo selalu saja salah di mata dunia. Hana mendekap dan memeluk Azata. Mengingat kembali hal itu terasa sakit dan perih.

"Ayah paham, kami menghargai hal itu. Pilihan ada di tangan kamu. Jadi Ayah dan Bunda harap kamu bisa mendapatkan pendamping yang mencintaimu tulus." Jelas Azata. 

Safira tersenyum lirih. Hana adalah putrinya begitu kuat. Wanita yang selalu berkorban demi kepentingan orang lain hingga lupa kalau dirinya tersakiti. Ibarat kata paling kejam Hana itu adalah bayangan seseorang. Hana bisa tersenyum dan tertawa tapi hati wanita itu rapuh. Ia sangat pintar menyimpan perasaannya.

"Jadi, Bosmu akan menjemputmu?" tanya Safira, karena tahu kalau percakapan sebelumnya terlalu mencekam. Apalagi membuka luka lama anaknya.

"Iya, Bos bilang bakal jemput."

"Tentu saja dia harus izin sama Ayah dan Bunda, saat anak orang akan di bawa pergi." Sahut Azata tiba-tiba.

"Ya, ampun, Ayah posesif banget sih. Cuma mau kondangan juga. Bukan mau bawa Hana kabur. kalau kabur ke pelaminan Hana mau aja sih." Lontaran receh Hana membuat keduanya geli. Kehaluan anaknya keluar.

Azata mengacak rambut Hana. "Maunya kamu!"

***

Hana menyambar handuk hitam. Ritual mandi adalah momen paling menyenangkan. Ia bisa berendam di bathtub menghirup aroma wangi lavender yang menenangkan. Pikirannya sudah kembali normal dan berganti dengan pikiran lain yang menyenangkan. Ia harus banyak memikirkan yang baik-baik. Adapun dia harus bisa jaga image nanti saat di acara pernikahan.

Selesai dengan ritual mandinya yang memakan waktu 30 menit, Hana memakai handuknya dan berjalan menuju lemarinya. Menyiapkan pakaian yang sudah di pilihnya tadi.

Pakaian sudah di pakai. Make up tipis sudah menempel cantik di wajahnya. Hana memutuskan untuk tidak berpenampilan berlebihan karena memang itu bukan gayanya.

Ponsel Hana berdering tanda panggilan masuk. Layar ponselnya tertera nama Bosnya. Hana menggeser tombol hijau, menerima panggilan Bos galaknya itu. 

"Sebentar lagi saya sudah sampai di rumah kamu." Katanya tanpa basa-basi. 

"Iya, pak. Saya sudah siap." Balas Hana sedikit gugup tidak karuan. Ini pertama dalam beberapa tahun ia akan berpergian dengan pria meski hanya sekedar menghadiri acara pernikahan.

"Bagus kalau begitu. Karena saya tidak mau lama menunggu." Kata Bima cepat. Kemudian mengakhiri sambungan begitu saja tanpa memberi kesempatan Hana bersuara kembali. 

Dasar Bossy.

Hana melihat pantulan bayangannya di cermin. Penampilannya bisa di katakan sempurna. Ia memegang dadanya terus saja bergejolak dan bergetar. Meski tadi perasaan sedikit dongkol akan sikap Bos galak yang seenaknya sendiri. 

"Mau kondangan aja, segala cenat-cenut..." Gunamnya pelan. Hana tersenyum seakan semuanya akan baik-baik saja.

Safira memasuki kamar Hana yang sebelumnya sudah lebih dulu mengetuk pintu. Melihat Hana masih berdiam diri di depan cermin membuat Safira mengernyit.

"Kok malah melamun?" Suara Safira menyadarkan Hana yang sedikit melamun. 

Hana menoleh ke arah suara. "Eh, Bunda...Hana cuma lagi mastiin penampilan Hana kok."

Wanita paruh baya berhijab itu melihat anaknya dari atas sampai bawah. 

"Oke kok. Anak Bunda mau di apain aja tetap cantik... " Safira memberi penilaiannya.

Hana tersenyum malu. "Makasih, Bunda."

"Ayo turun, Bima sudah datang." 

Bima? Di bawah? Perasaan baru tadi telepon sekarang sudah berada di rumahnya, yang benar saja.

"Beneran, Bun?" Tanya Hana memastikan kembali. Rasanya tidak percaya kalau Bosnya benar-benar sudah datang.

"Makanya ayo turun, mereka sedang mengobrol di ruang tamu."

"Mereka?"

"Ayah sama Tya menemani Bima di sana. Ayo turun banyak tanya. Kapan turunnya."

Hana nyengir.

Mereka berdua turun dan melihat ketiganya sedang mengobrol seraya tertawa seakan mereka sudah kenal lama sehingga tawa mereka menggema dalam ruangan. Kedatangan Hana dan Safira membuat ketiga memandang ke arah mereka berdua. 

"Pak Bima kok sudah datang aja, perasaan tadi baru telepon?" tanya Hana penasaran.

"Oh tadi saya telepon ada di depan gerbang rumah kamu." Ucap Bima santai sedangkan Hana masih sedikit bingung dengan Bosnya yang memang susah di tebak dalam segala hal.

"Tante, mau kencan sama Om ganteng?" Cela Tyana polos. Orang dewasa yang mendengar malah terdiam bisu, karena mendengar celotehan gadis kecil yang seharusnya tidak tahu apa-apa.

"Sembarangan kalau ngomong. Tya gak boleh bilang begitu. Masih kecil, tahu apa sih." Cetus Hana menatap Tyana sedikit melotot. 

Tapi dalam hati mengaku-ngaku dan membenarkan hal itu. Maaf saja sudah lama tidak merasakan yang namanya kencan.

"Maaf, Tya cuma tebak aja. Kata si endut kalau cowok sama cewek jalan namanya kencan." Belanya sendiri. 

"Jangan dengerin kata orang, Tya." Hana menasehati kemudian mengalihkan pandangan pada Bosnya. "Maaf pak, Tya masih polos jadi gak tahu sama yang di bicarakannya." 

"Saya mengerti, Tya masih kecil."

Beberapa menit mereka masih dalam situasi yang mendadak hangat dengan perbincangan. 

Bima beranjak dari tempat duduknya, di ikuti pula Azata dan Tyana masih memandang Bima tanpa berkedip saking terpesona. "Kalau begitu kita berangkat, Om, Tante... " Katanya sebelum mengajak Hana pergi. 

"Baiklah, jaga Hana, jangan pulang malam-malam." Azata menitip anaknya pada Bima. 

Pria tampan itu mengangguk. "Iya, saya bakal jagain Hana."

Bisa kalian bayangkan bagaimana merah merona pipi Hana sekarang dan malunya wajah Hana. Bima seakan meminta izin sebagai pacar bukan sebagai Bos. Sungguh membuat Hana berbunga-bunga bagai kupu-kupu yang bertebrangan di atas puncak bunga.

Resmikan dong, Pak. 

***

Setelah menempuh perjalanan setengah jam lamanya, malam ini Bosnya menyetir sendiri tidak biasanya di tambah mobil yang di pakainya bukan mobil biasanya, dia membawa Range Rover warna putih. Mereka memasuki ballroom hotel berjalan beriringan yang sudah terlihat ramai. Hana menatap Bima dari samping berharap kalau pria itu peka dan menggandeng tangannya. Ayolah ini acara pernikahan bukan acara amal. Untuk apa dia menemani Bima kalau pria itu malah datar dan dingin. Hana berasa kacung yang selalu menemaninya tanpa melakukan apapun.

Memasuki Ballroom saja tatapan terus tertuju pada Bima dan Hana menunduk malu. Terutama pandangan para wanita menatap memuja pada pria di sebelahnya. Bima memang tampan apalagi pakaian yang di pakai, setelan berwarna bermerek brand Dior, berwarna hitam dan kaos putih polos sebagai dalamnya. Terlihat casual dan elegan.

Kalau Hana lihat baju mereka tampak serasi. Apalagi warna yang di dasari warna hitam. Sungguh kebetulan yang tidak di sengaja. 

"Bi, kamu datang juga sama Hana? Aku kira bakal datang sendirian." Hana melihat sahabat Bima yang pernah berkunjung ke kantornya kalau tidak salah namanya Fando yang selalu memakai kacamata, satunya lagi yang sering mengedip matanya, Arsen. Dan entah satu lagi terlihat pendiam, Hana belum pernah melihatnya. 

Lamunan pun buyar saat Bima bersuara. "Katanya mau bawa partner, terus partner kalian mana? Jangan-jangan kalian bohongin aku, ya?" Kata Bima membidik tajam ke arah ketiga sahabatnya.

Ketiga tertawa mengejek.

"Kamu tahu sendiri kita bertiga jomblo mana ada partner." Ucap Arsen tampak santai memegang gelas di tangannya.

"Shit... Tahu gitu aku gak akan bawa Hana."

"Eh?"

Hana tampak kesal dengan ucapan Bima.

"Saya juga gak akan datang kalau bapak gak maksa. Mending saya malam mingguan sama sahabat saya lebih faedah." Kata Hana kesal menatap Bima. 

"Saya juga gak tau bakal begini. Harusnya kamu senang saya ajak kemari. Lebih berfaedah bersama saya. Kalau dengan sahabat kamu yang ada kamu cuma duduk ngobrol makan doang. Unfaedah banget." Bima tidak ingin kalah.

Hana menghela nafas siap-siap menjawab ucapan Bima yang tidak enak di dengar, mengatainya. Namun sebelum membalas suara seseorang terlebih dahulu menyalipnya. 

"Kok kalian malah ribut sih." Jegah Arvind. "Kita belum kenalan, aku Arvind." Sodornya pada Hana dan di sambut hangat.

"Hana."

Bima terlihat tidak suka. "Sudah, karena terlanjur ada di sini. Kita salaman dulu sama mempelai pengantin." 

Tarikan tangan Bima membuat Hana sedikit kaget. Bagaimana tidak Bima menggenggam erat tangannya.

Sedangkan ketiga sahabatnya masih memandang keduanya yang sedang bersalaman dengan Elgar dan Istrinya.

"Dasar, posesif banget tuh anak." Ungkap Fando dan di angguki Arsen dan Arvind.

"Bagus dong berarti dia sudah mulai move on. Heran lihat Bima masih ngarepin Clara yang gak tahu di mana keberadaannya dan batang hidungnya aja gak kelihatan." Cetus Arsen merasa kasihan pada Bima yang begitu mencintai Clara sampai seperti ini. Bima malah menutup hatinya saat ada orang yang siap untuk mengisi hatinya yang kosong. 

"Namanya cinta. Cinta buat orang gila. Termasuk Bima. Kalau aku pikir Hana benar-benar mirip banget hanya saja tatapan mata Clara lebih tajam dan Hana lebih lembut. Semoga saja Hana bisa membuat Bima melupakan Clara." Ujar Arvind membahas adanya persamaan dan perbedaan antara Clara dan Hana. 

"Setuju." Arsen dan Fando bersamaan. 

***

Jantung Hana berdetak lebih cepat dan telapak tangan terasa dingin kini terasa hangat. Genggam tangan Bima terasa pas. Kata orang kalau seseorang menggenggam tangan pasangannya dan terasa pas itu namanya jodoh. Amin, Ya Allah, batinnya. Hana hanya tersenyum diam-diam menahan rasa bahagianya. 

Tapi tidak dengan para wanita yang sedari tadi menatapnya. Bilang saja mereka iri karena ia bisa bergandengan dengan pria macam Bosnya yang rupawan nan kaya ini. Merasa aneh mendapat tatapan begitu mengintimidasi.

"Kenapa?" Suara Bos galaknya membuyarkan khayalan dan lamunan Hana.

Eh? Hana hanya menatap Bima diam. 

"Jangan melamun. Nanti kesambet dedemit, saya gak akan tanggung jawab." Celoteh Bima masih menatap Hana lembut. 

Hana memukul bahu Bima, berani. "Ngomong suka sembarangan. Dedemit teman saya. Yang ada bapak yang di ganggu sama dedemit bukan saya." Hana kesal dan asal jeplak membuat Bima bergidik ngeri kalau membahas makhluk halus.

"Ok, jangan bahas itu. Kamu pengen pulang?"

Hana menggeleng. 

"Saya cuma risih di lihatin sama para wanita di sini." Keluh Hana merajuk. Tapi Bima tidak merasa risih akan sikap sekretarisnya. Bima hanya tersenyum.

Bima sekilas mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Memang sih sejak mereka datang pandang mereka tertuju pada keduanya. Tepatnya hanya Bima. Bukan sombong tapi memang pesona seorang Winajaya tidak ada tandingannya.

"Pak, penampilan saya gak anehkan? Gak malu-maluin. Apalagi sama make up saya, gak menorkan? Atau baju saja yang salah kostum atau mungkin一"

"Cukup Hana." Bima memotong ucapan Hana yang panjang lebar dan menatap Hana. Sebelum kembali bersuara. "Kamu malam ini cantik, gak ada yang bakal ngatain kamu atau menghina kamu."

Ucapan Bima membuat Hana diam. Apalagi wajah Hana sudah pasti merah. 

"Benar pak saya cantik?" Hana memastikan kembali takut telinganya salah dengar.

"Iya kamu cantik." Bima tersenyum simpul. "Masa saya bilang kamu ganteng sih. Nanti mereka bilang saya pria gak normal." lanjutnya seketika senyum Hana hilang. 

Benar dia tidak boleh percaya dengan Bos galaknya. Pak Bima bikin aku baper tau gak? Hana meringis kebodohannya.

Wanita itu cemberut enggan menatap Bima.

"Kamu marah?"

Hana tidak menjawab.

"Saya minta maaf, tadi saya cuma bercanda,-"

Kemudian Hana mendongak menatap Bosnya kesal. Apa kata Bima bilang tadi? Bercanda? Jadi dia bilang Hana cantik itu hanya sebuah candaan. Bima keterlaluan setelah membuat Hana baper, sekarang membuat Hana galau gegana.

"Saya bukan bahan berca─"

"Saya belum selesai bicara. Kalau soal kamu cantik, memang benar adanya. Itu bukan bercandaan. Tapi setelah kata itu, baru bahan bercandaan. Kamu jangan salah paham. Semua pria di sini pasti setuju kok kalau malam ini kamu cantik." Ucapan Bima terlontar begitu saja. Entah Bima sadar atau tidak tapi Bima memang tidak bohong kalau Hana tampil sangat cantik malam ini.

Bima saja tidak tahu kenapa ia semakin hari semakin nyaman dengan keberadaan Hana. Berbeda saat pertama kali mereka bertemu rasa tidak nyaman begitu jelas.

Semuanya berubah. Sejak saat itu... Saat dia, ingin melindungi Hana pada acara pesta beberapa minggu lalu. 

"Saya gak bohong, saya gak ada niatan buat kamu baper ataupun galau."

Hana mengerut kening seakan Bima tahu isi hatinya. Cenayang kali Bosnya. Hana menggeleng pelan.

"Apaan sih, Pak... " Hana tidak sanggup membalas ucapan Bosnya saking bahagianya. 

Lebay. 

"Ayo kita temui seseorang."

Hana mengangguk mengikuti Bima kemanapun, ke pelaminan untuk ijab kabul pun Hana siap lillahitaala...

***

"Hai Putra, Apa kabar?" Sapa Bima masih di temani Hana dan masih setia menggenggam tangan sekretarisnya.

Sebelum keduanya menghampiri kedua pasangan. Bima lebih dulu menasehatinya agar tidak terlalu formal dalam berbicara. Entah kenapa permintaan ini membuat Hana sedikit curiga. 

Hana melihat seorang sepasang kekasih begitu serasi berada di hadapannya. Membuat Hana iri akan kedekatan mereka berdua. 

"Hai, Bima, aku baik. Kamu?" sapa Putra sopan dan menyapa kabar balik. Keduanya saling bertatap pandangan sekilas meliriknya dan Hana balas dengan senyum. 

"Baik. Sama siapa kesini?" kata Bima seakan minta memperkenalkan wanita itu yang bersama Putra. Boleh tidak Hana cemburu. Apalagi wanita yang bersama Putra tampak masih muda dan cantik.

"Ini Viana, calon istriku." Putra dengan tegas memperkenalkan calon istrinya pada Bima. 

Bima tidak merasa terganggu akan hal tersebut. Putra dan Bima memang selalu bersaing dalam segala hal tapi tidak dengan urusan wanita. Mereka tidak pernah bersaing.

"Berarti kamu menyusul dong setelah Elgar?"

Putra menggaguk. "Doakan saja, aku berharap kamu juga cepat menyusul dengannya." Putra menunjuk wanita disebelah Bima. 

Pria itu baru sadar kalau Hana bersamanya. Sedangkan Hana sejak tadi mendengus sebal.

Bima tampak ragu. "Ini...Hana pacarku."

What? Pacar? Bima sepertinya gegar otak atau mabuk? Kenapa malah memperkenalkan Hana sekretarisnya sebagai pacarnya. 

Hana hanya tersenyum kikuk. Pasti Bosnya hanya pura-pura saja. Jangan sampai baper untuk ketiga kalinya. Karena dalam sehari Bosnya sudah membuat Hana baper berkali-kali. Mentang-mentang dia jomblo seenaknya mengklaim Hana sebagai pacarnya. Untuk Hana sih tidak masalah. Malah di aminin aja. Tapi tidak begini juga kali. Pemberi harapan palsu. 

Kedua wanita itu saling memperkenalkan diri mereka dan mengobrol. Bima dan Putra pun larut dalam obrolan mereka. Hana mengobrol dengan Viana, sangat menyenangkan, ternyata mereka mempunyai hobi yang sama yaitu membaca novel. Mereka berdua pun bertukar nomor membicarakan mengenai novel. Ada rasa senang bertemu dengan seseorang yang mempunyai hobi yang sama.

Mereka berpisah. Bima dan Hana memutuskan untuk kembali bergabung dengan sahabat mereka. Sedangkan Putra dan Viana sudah tidak tahu keberadaannya. 

"Tadi ngobrol serius banget sama Putra, Bi?" Fando buka suara saat Bima dan Hana baru menghampiri mereka. 

"Mengenang masa lalu kita berdua." ucap Bima terdengar ambigu. 

Hana mengernyit. "Pak Bima punya hubungan sama yang namanya Putra?"

Jangan salahkan Hana kalau pikirannya negatif apalagi ucapan Bima terdengar ambigu susah diartikan. 

Ketiga sahabat Bosnya tertawa terbahak mendengar perkataan Hana. Memangnya ada yang lucu? Ini bukan hal lucu tapi serius apalagi ini menyangkut harga diri Bosnya.

"Kamu ngatain saya gay?" Ketus Bima menatap manik mata Hana yang terlihat sendu. 

"Bu─kan, saya cuma..."

Bima mendekati wajah Hana. Jarak mereka sangat dekat sehingga Hana bisa merasakan deburan nafas Bima dan wangi mint dalam mulutnya. 

Ia menelan salivanya. Apalagi sahabat Bima terus saja memojokinya dan meledeknya. 

"Kasih bukti dong sama Hana, kalau kamu bukan pria yang ada dalam pikirannya."

Bima tersenyum simpul masih menatap sekretarisnya masih diam dan menunduk seperti anak itik kehilangan induknya.

Kuatkan hambu-Mu ini, takut khilaf...

Bima mengangkat dagu Hana. Keduanya saling bertatapan. Tatapan mereka saling terkunci. Hingga tidak sadar kalau mereka masih ada di Ballroom. "Saya bukan gay yang kamu pikirkan, kamu mau bukti?"

***

Ada Viana dan Putra yang udah baca My Doctor pasti tahu siapa mereka berdua..

Panjangkan episode ini, spesial buat kalian

Terima kasih sudah membaca 🙏😘😁

1
reea
blangkar or brankar bukan trolly thor🤣😭
Vy Maniez
saya sudah baca berulang x tapi belum ada jga lanjutannya.
Hardiana Rahim
othorrnya kmana ini?sdh brp tahun ini gk prnh up?mirisnya/Grimace//Smug/
ros
ceritanya gantung belum di selesaikan
adm dome
udah 1thn ga ad update an thor.
Desi Nofita Sari
ad yg tau thornya kemn
Desi Nofita Sari
kemna si author nya kok gak pernah up date n gak ad keterangan juga, padahal suka sm novel karya thor
Zulfha Barawas
halo thor .. apa kabar .. kangen cerita nya .. udab lama gak up 😭😭😭😭
Desi Nofita Sari
kok blm update juga kaj
Desi Nofita Sari
kemna kah gerangan author ini kok gak update2, msh ditunggu untuk selesai ni thor, kmu sehat kan
Desi Nofita Sari
kak thor kok gak up2 si kasih tau dong kenapa,,,, kamu sehatkan
Herlan Budiman
ini author'y kmna ya? ko ga pernah d lanjut
Khey Rachmat
kok ga update lg thor sudah mau setahun.. aku kangen bima
Hana Rohana
gantung ,bolak balik cek ga ada up terus
Lia ajalah 💋
otor ba'a kabanyo nih...kok gak pernah up lagi,gantung deh ceritanya tor ✌️😥
Anonim
Lanjut thor penasaran dengan cerita selanjutnya
Anonim
bima
Anonim
Yang A thor
Anonim
Visual siapa thor?
Desi Nofita Sari
thor knm ni da lm banget gak up date
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!