Kisah seorang wanita yang di sia-siakan oleh lelaki yang paling di cintai nya.
"Tega sekali kamu Andra, aku sudah berkorban banyak sekali untuk mu, aku meninggalkan Ayah dan Ibu ku demi kamu, bahkan Ibu ku hampir bunuh diri demi kamu bisa di terima oleh Ayah ku, tapi apa balasan kamu, kamu menyakiti aku"
Indah Paramita.
"Aku tidak pernah meminta mu untuk berkorban untuk ku, Aku tidak pernah memaksa mu untuk meninggalkan orang tua mu demi aku dan aku tidak pernah memaksamu untuk menikah dengan ku. Jadi jangan kau anggap kau hebat atas pengorbananmu, ingat! aku tidak pernah memintanya.
Andra wirawan
Lalu bagai manakah kisah selanjutnya?
Akankah Indah akan tetap mempertahankan cinta yang lama yang kini mulai menyakitinya.
Ataukah Indah lebih memilih pergi dengan mencari cinta yang baru dan meninggalkan kenangan lama yang awalnya bahagia tapi akhirnya hampa.
Ataukah Indah akan pergi namun tidak lagi percaya dengan laki-laki karena Indah sudah sangat benci dengan laki-laki karena Ia menganggap lelaki semua penghianat!
Inilah kisahnya
TALAK TIGA (Perjalanan Cinta Indah)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IPAK MUNTHE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
POV Andra
Hari ini aku senang sekali penatian ku selama dua puluh enam tahun akhirnya membuahkan hasil. Beberapa bulan yang lalu aku mengirim Ibu ku dan Romi sahabat sekaligus orang kepercayaan ku, ke Jerman untuk menjalani pengobatan gangguan jiwa yang di derita Ibu ku.
Tapi sebelum itu Ibu ku sudah menjalani pengobatan dulu di Indonesia, dan saat di bawa ke Jerman, ke adaannya sudah baik Dokter telah menyatakan Ibu ku sudah sehat dan kembali normal seperti dulu lagi.
Namun aku hanya Ingin memastikan keadaan Ibu ku sudah benar-benar sehat seperti dulu, Maka dari itu aku memutuskan untuk mengirim Ibu ku ke Jerman agar aku lebih yakin lagi, dan setelah satu bulan Ibu ku menjalani pengobatan di sana akhirnya Dokter di sana juga mengatakan Ibu ku sudah benar-benar pulih.
Selama aku lahir kedunia ini aku belum pernah merasakan kasih sayang seorang Ibu.
Dan dari itu lah aku selalu ingin Ibu ku sembuh agar aku bisa merasakan kasih sayang dari wanita yang melahirkan aku.
Jujur aku bukan hanya merindukan kasih sayang seorang Ibu saja. Tapi aku juga merindukan kasih sayang seorang Ayah. Ya aku sangat menginginkannya, tapi satu yang mengganjal di hati ku. Aku tidak pernah tau siapa Ayah ku. Di Akta kelahiran yang di buat Nenek angkat ku tertulis nama Ayah ku anak laki-lakinya. Namun Nenek ku itu menjelaskan itu hanya di buat agar aku memiliki Akta kelahiran. Dan teman-teman ku tidak menghina ku, kalau aku tidak memiliki Ayah.
Aku pernah bertanya pada Nenek angkat yang merawat ku sejak aku masih bayi. Dan juga Nenek ku itu yang merawat Ibu ku selama Ibu ku mengandung ku. Namun ia pun tidak pernah tau siapa Ayah ku.
Aku sangat berterimakasih, pada Nenek angkat ku itu, karena dia yang sudah merawat dan membesarkan aku, dan kata Nenek ku itu sejak aku lahir dan usia ku menginjak enam bulan, di situlah Ibu ku di ponis Dokter terkena depresi karena trauma yang ia miliki.
Aku selalu bertanya pada Nenek angkatku, Apa penyebab trauma Ibu ku, Namun ia tidak bisa menjawab dengan pasti, dan aku yakin dia menutupi suatu rahasia tentang aku, karena ia tidak mau aku sedih bila mengetahui siapa diriku.
Namun pernah aku bertanya, mengapa Ibu ku selalu berteriak menyebut nama Fatimah dan Abdullah, Nenek ku menjawab, kalau dulu Ibu ku pernah bercerita padanya, kalau Fatimah dan Abdulah lah penyebab penderitaan Ibu ku.
Dan dari saat itu lah aku mencari tau, siapa orang yang di maksut Ibu ku, sampai akhirnya aku menemukan liontin milik Ibu ku yang tersimpan Fhoto Fatimah dan Ibu ku. Tapi aku masih bingung karena di fhoto itu merela saling merangkul, seolah mereka adalah orang yang sangat dekat.
"Ibu ayo naik" aku menjemput Ibu ku di bandara.
"Ya, terimakasih" jawab Ibu ku lalu ia masuk ke dalam mobil.
"Ibu minta maaf ya Ndra" kata Ibu ku.
Aku bingung kenapa Ibu ku meminta maaf pada ku, aku terus mengemudikan mobil ku menuju rumah, agar Ibu ku cepat ber-istirahat aku yakin ia pasti lelah.
***
POV Author
"Ayo masuk Bu," Andra membuka pintu dan mepersilahkan Ibu nya masuk.
"Ini rumah mu Nak?" tanya Ibu Andra.
"Iya Bu"jawab Andra.
"Selamat sore" tiba-tiba Dinda datang dan masuk ke dalam rumah itu.
Mendengar suara itu Andra dan Ibunya melihat siaapa yang datang.
"Dinda?" Andra sedikit terkejut karena meliaht Dinda yang datang.
"Ibu perkenalkan saya Adinda" Dinda mencium pungung tangan Ibu dari Andra itu.
"Ada apa kamu kemari" tanya Andra to the point.
"Aku hanya ingin memberikan ini" Dinda memberika sebuah amplop dan di terima oleh Andra.
"Ibu Andra ke kamar dulu, Ibu mau langsung Andra antar ke kamar atau mau di sini" tanya Andra karena ia malas bertemu Dinda.
"Biar aku aja yang antar Ibu kekamarnya, Aku kan tau di mana saja letak kamar di sini." kata Dinda.
"Baik lah terserah kau saja" Andra pergi berlalu menuju kamarnya dengan membawa amplop yang di berikan Dinda di tangannya.
"Apa ini!"
"Indah kau benar-benar membuat ku kembali seperti singa lagi" kata Andra, terliahat jelas emosi di wajahnya karena melihat isi amplop yang di berikan Dinda.
Kranggg!!.
Andra membanting fhoto pernikahannya dengan Indah.
***
"Assalammualaikum" Indah sudah sampai di rumah setelah selesai dengan makan di Restaurant tadi ia langsung pulang dan beristirahat.
Namun mata Indah menangkap dua orang wanita yang duduk di sofa, Indah mengenali satu orang di sana namun yang satu lagi Indah tidak tau itu siapa.
"Dinda sedang apa kau di sini?" tanya Indah, karena dua wanita itu menatapnya tajam.
"Oh, jadi kau putri Abdullah Abraham" Ibu itu bangun dari duduknya, dan mendekati Indah yang berdiri di depan pintu yang terbuka.
"Ya Bu benar, dan Ibu siapa?" Indah bertanya dengan sangat sopan.
Namun wanita itu tidak menjawab ia hanya memandanggi Indah secara inten.
"Bu saya ke atas dulu mau ke kamar, saya mau ke kamar mandi sebentar, setelah itu kita bicara lagi" kata Indah. dan ia berlajalan menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua.
"Dari mana kamu" Suara Andra mengejutkan Indah saat Indah sudah berada di lantai dua namun masih di tangga yang tinggi itu.
"Aku dari kantor" jawab Indah karena ia merasa bingung dengan pertanyaan Andra.
Lalu Dinda dan Ibunya Andra juga ikut menaiki tangga itu dan merwka semua berdiri di depan tangga itu.
"Lalu ini apa" Andra melepar lembaran-lembaran fhoto Indah sedang di peluk oleh laki-laki dan Indah melihat kalau laki laki itu Dino.
"Jadi selama ini kau ada main dengan tangan kanan Ayah mu itu" tanya Andra dengan emosi. Indah terus memandangi satu persatu fhoto itu.
"Ini aku bisa jelaskan" kata Indah, karena dirinya pun merasa bingung kenapa fhotonya saat ia di tabrak orang dan Dino menolongnya, sampai di tangan Andra.
"Oh, jadi ini jebakan" batin Indah.
"Jadi anak yang kau kandung bukan anak ku?" tanya Andra dengan emosi.
"Tutup mulut mu Andra, jangan kau samakan aku dengan diri mu yang suka tidur dengan wanita murahan di luar sana" kini Indah menjawab karena ia merasa terhina denfan ucapan Andra.
"Apa maksud mu" Dinda bertanya, sepertinya wanita itu merasa tersinggung.
"Kenapa kau ikut campur dalam rumah tangga ku, ah aku tau, kau kan salah satu wanita murahan yang pernah tidur dengan suami ku" kata Indah kini ia pun sudah tidak bisa menahan amarah yang selama ini ia tahan.
"Hey jangan kurang ajar" Dinda membetak Indah.
"Heh, dunia sudah terbalik pelakor lebih galak dari pada Istri sah ya?" Indah tersenyum miring meremehkan Dinda.