Kehidupan punya kenyataan, karena hidup terus mengikuti takdir. Seperti kehidupan yang dijalani oleh gadis bernama Jingga. Di saat usianya masih remaja, dia harus kehilangan ibunya.
Namun Jingga tak pernah menyerah untuk menjalani kehidupannya. Walaupun dia harus menerima kenyataan bahwa ayahnya menikah lagi dengan seorang wanita yang tidak dia sukai.
Beruntung saat dia berusia dewasa, dia dipertemukan dengan seorang laki-laki yang sangat mencintainya. Hingga tak butuh waktu lama untuk Jingga menyandang status sebagai istri dari seorang manager restoran bernama Ken. Namun lagi-lagi dia harus menelan pil pahit, saat suaminya harus menikahi seorang gadis yang sedang mengandung anak dari suaminya.
Jingga berusaha mempertahankan rumah tangga yang baru dibangun, dia juga rela harus berbagi suami dengan wanita lain. Tetapi, kehidupan Jingga yang sebenarnya baru dimulai saat itu, saat dia harus rela melihat rumah tangganya yang hancur. Sampai dia berada dititik keputusasaan, hadirlah seorang laki-laki tampan bernama Ray Alfendra. Seorang pengusaha muda yang tampan, dengan ketulusannya dia bisa membawa Jingga pada kebahagiaan yang diimpikan Jingga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuriyyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34
Hari terus silih berganti, Ken segera berangkat ke Malang setelah dia mendapatkan informasi bahwa orang yang melakukan penculikan pada Jingga sudah mengakui semuanya, termasuk siapa dalang dari semua itu.
Ken sengaja berangkat sendiri, tak mengizinkan Jingga ikut, karena dia masih khawatir masih ada orang yang ingin berbuat jahat pada istrinya.
Sebenarnya pihak polisi menyarankan Ken agar tidak pergi ke Malang, mereka bisa saja memberitahukan informasinya langsung pada Ken, tapi Ken tidak mau. Dia bukan hanya penasaran pada dalang semua kejadian itu, tapi dia juga tak sabar ingin melihat orang yang ingin mencoba memperkosa istrinya.
Seandainya bisa, Ken akan mematahkan tulang leher orang yang berani menyentuh istrinya itu.
Sedangkan didalam rumah, Resti begitu gelisah. Dia terus mondar-mandir karena dia tak tahu harus melakukan apa. Baru saja kemarin dia begitu senang, tapi dengan cepat Ken mempercayai istrinya lagi, dan itu membuat Resti naik darah.
Belum sempat kemarahannya itu reda, sekarang dia cemas, karena tadi anak buahnya memberi kabar bahwa mereka terpaksa harus berkata yang sebenarnya. Bahkan Resti sudah mengancam mereka dengan keselamatan keluarganya pun, mereka tetap akan memberitahukan pada Ken, dengan alasan bahwa polisi akan menjamin keselamatan keluarganya dari ancaman Resti.
Dia juga heran, kenapa rencana dia dan rencana kakak sepupunya itu tidak ada yang berhasil, dan dia harus siap dengan konsekuensinya. Dia juga takut akan diceraikan oleh Ken.
"Aduh, bagaimana ini?" monolog Resti dengan wajah cemasnya.
Begitu melihat Jingga yang melewati kamarnya, Resti segera menemuinya.
"Kak Jingga!" ucap Resti setelah dia duduk di sofa dimana Jingga sedang duduk.
"Iya Res, ada apa?" tanya Jingga sambil melirik ke arah Resti.
"Kak aku gak mau diceraikan mas Ken," jawab Resti dengan wajah memelasnya.
"Maksud kamu apa?" tanya Jingga dengan wajah bingungnya.
"Ya, aku cuma gak mau mas Ken menceraikan aku. Aku gak mau anak aku lahir tanpa ayahnya," jawab Resti.
"Kamu jangan ngomong yang aneh-aneh Res, mana mungkin mas Ken akan menceraikan kamu, sementara sebentar lagi kamu akan melahirkan," ucap Jingga.
"Pokonya nanti kalo mas Ken tiba-tiba menceraikan aku, Kakak tolongin aku ya! Aku gak mau melahirkan tanpa suami Kak," ucap Resti terus meyakinkan Jingga.
"Mana mungkin Res, percayalah, mas Ken tidak akan menceraikan kamu. Udah jangan berpikir seperti itu, ibu hamil tidak boleh banyak pikiran," ucap Jingga yang sebenarnya masih heran dengan sikap Resti yang tiba-tiba seperti itu. Memangnya ada apa sampai dia takut diceraikan oleh Ken? pikir Jingga dalam hati.
"Iya Kak. Kakak janji yah harus bantuin aku," ucap Resti lagi. Walaupun Jingga sebenarnya masih tak mengerti dengan maksud Resti, akhirnya dia hanya mengangguki ucapan Resti.
...----------------...
Di perjalanan pulang, wajah Ken terlihat memerah karena menahan amarahnya. Bahkan urat-urat rahangnya terlihat jelas.
Setelah dia mendengarkan penjelasan dari pelaku yang mencoba memperkosa istrinya, emosinya benar-benar tak bisa dikontrol.
Pelaku itu babak belur karena Ken terus memukul pada semua bagian tubuh mereka. Jika saja itu bukan di kantor polisi, bisa dipastikan bahwa pelaku itu akan habis ditangan Ken.
Saat ini pikirannya tengah fokus pada yang akan dilakukannya setelah sampai di rumah. Dia benar-benar tak habis pikir, kenapa Resti bisa melakukan hal gila itu?
Tidak cukupkah dia menjadi duri dalam rumah tangganya dengan Jingga, dan sekarang dia dengan gilanya membayar orang untuk memperkosa Jingga. Benar-benar tak tahu malu, dengan baiknya Jingga menerima dia sebagai madunya, dan sekarang balasan dia malah seperti itu, pikir Ken tak habis pikir.
"Awas saja saat aku sampai dirumah, akan ku buat perhitungan padanya," monolog Ken yang benar-benar dikuasai oleh emosinya.
Ken terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, karena dia tak sabar ingin memberi perhitungan pada istri keduanya itu.
Beruntung jalanan saat itu tidak macet, sehingga Ken tidak membutuhkan waktu lebih lama untuk segera sampai dirumahnya.
Tanpa memberi salam terlebih dahulu, Ken langsung masuk ke dalam rumahnya dengan langkah yang begitu cepat. Ken membuka pintu dengan kasar, sampai membuat suara yang begitu keras.
Jingga dan Resti yang tengah santai menonton televisi pun langsung dibuat kaget. Sontak saja mereka mengalihkan pandangan mereka ke arah pintu.
"Astagfirullahaladzim, buat kita kaget aja Mas," ucap Jingga dengan raut wajah yang masih terlihat kaget.
Sedangkan Resti susah menelan air salivanya sendiri. Dia bisa melihat dengan jelas, kemarahan pada raut wajah suaminya itu.
"Maafkan Mas sayang, tapi Mas ingin segera memberi pelajaran pada wanita itu," ucap Ken marah sambil menunjuk hidung batang Resti, sampai membuat Resti terlonjak kaget.
"Maksud kamu apa Mas?" tanya Jingga tak mengerti.
"Kamu tahu sayang, wanita ini yang sudah membayar orang untuk menculik dan memperkosa kamu," ucap Ken lagi sambil melangkah, mendekati Resti yang berdiri ketakutan.
Jingga membesarkan matanya setelah mendengar ucapan dari suaminya. Dia sedikit kaget, namun dia juga tak habis pikir jika memang benar, Resti adalah dalang dari kejadian yang menimpanya kemarin.
"Itu semua bohong!" ucap Resti langsung.
"Apanya yang bohong, jelas-jelas kamu adalah dalang dibalik kejadian itu. Mau mengelak apa lagi huh!" teriak Ken marah. Jingga yang mendengar itu langsung kaget, dia teringat kemarin saat suaminya juga berteriak marah seperti itu.
"Kamu percaya begitu aja sama mereka Mas. Bisa aja mereka hanya mengarang cerita agar aku disalahkan. Lagi pula untuk apa aku melakukan itu," ucap Resti membela diri.
"Cih! Ternyata kamu benar-benar wanita licik yang pandai mengelak. Setelah semuanya terbongkar, kamu masih saja membela diri. Saya benar-benar tak habis pikir dengan hal gila yang kamu lakukan itu. Bisa-bisanya kamu ingin menodai istri saya!" ucap Ken lagi dengan suara besarnya, bahkan tangannya sudah siap akan melayangkan tamparan pada Resti yang sudah menutup matanya refleks.
Namun Jingga lebih cepat menahan suaminya agar tidak menampar wanita yang tengah hamil itu.
"Mas, kamu tahan emosi kamu. Bukan kamu saja yang marah, aku juga bisa marah dengan semua kejadian ini. Tapi kamu harus ingat satu hal, masih ada anak kamu yang dipertaruhkan didalam kandungannya Resti," ucap Jingga langsung sebelum Ken benar-benar memberi tamparan pada Resti.
"Tapi sayang, dia sudah berbuat jahat sama kamu. Lihatlah! Dia membalas kamu dengan perbuatan menjijikannya itu, setelah apa yang dia terima dari kebaikan kamu. Kamu harus rela berbagi suami dengan dia, kamu juga menerima dia tinggal disini, tapi dia dengan tak tahu malunya, malah membalas kamu dengan rencana jahatnya," ucap Ken yang hanya bisa mengusap kasar wajahnya. Sekarang dia tak tahu harus berbuat apalagi dengan wanita iblis yang ada didepannya.
"Iya Mas, aku tahu. Tapi bisakah kita menyelesaikan ini dengan kepala dingin? Mending sekarang kamu istirahat dulu, karena kamu baru saja habis dari perjalanan jauh, kita bisa bicarakan lagi besok," ucap Jingga menenangkan Ken yang sudah terkuasai oleh emosinya.
"Baiklah sayang," ucap Ken akhirnya. Dia langsung pergi kekamarnya diikuti oleh Jingga.
Sedangkan Resti hanya menatap kepergian mereka dengan ekspresi kesalnya. Dia merasa menyesal, tapi dia bukan merasa menyesal pada perbuatan yang sudah dilakukannya.
Resti menyesal karena kecerobohannya, seandainya dia bisa menjalankan rencananya dengan baik, sudah pasti saat itu juga, dia berhasil menyingkirkan Jingga.
Tak ada bahasa penyesalan dalam kamus kehidupan Resti, yang seolah perbuatan gilanya itu bukanlah hal yang besar.
Dia memang wanita licik, yang pandai membuat orang langsung kagum saat melihatnya. Namun sayang, Ken dan Jingga telat menyadari kelicikannya itu. Sehingga sekarang, mereka harus menghadapi rencana jahatnya Resti.
mampir ya
lanjutan ceritanya harus dobel lho tho, kalian lama nggak up nya
semoga urusan real nya cpt kelar
dan bisa update lagi 💞