NovelToon NovelToon
Pewaris yang Kembali Membalas Luka

Pewaris yang Kembali Membalas Luka

Status: tamat
Genre:Wanita perkasa / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas / Putri asli/palsu / Chicklit / Agen Wanita / Tamat
Popularitas:86k
Nilai: 5
Nama Author: Lover

Siapa sangka Bayang, sosok misterius yang kerap membantu polisi membongkar jaringan narkoba pelabuhan, hanyalah gadis berusia delapan belas tahun bernama Alya Maheswari. Setelah dibangkitkan kembali ke masa lalu sebelum kematian tragis di tangan keluarga kandungnya, Alya menerima jemputan keluarga Wiratama yang membuangnya sejak bayi.
Dengan dendam tersembunyi dan kecerdasan di atas rata-rata, ia menghadapi ibu tiri licik penuh intrik, adik tiri bermuka dua, serta tunangan bisnis yang kejam dan tidak setia. Bersama Rafi sang pengawal setia, Alya menyusun langkah demi langkah balas dendam. Tidak ada lagi gadis desa yang lemah tertindas — kali ini, semua orang yang pernah mengkhianatinya akan membayar mahal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5

Bab 5

Butik itu berada di salah satu mal paling mahal di Jakarta.

Maya akhirnya bangun menjelang siang dengan wajah pucat dan kepala berat. Ia tidak menyebut susu, tidak menyebut obat tidur, dan tidak menatap Alya lebih dari tiga detik. Namun begitu makan siang selesai, ia tetap memaksa pergi ke butik.

"Keluarga Santoso akan datang tiga hari lagi," kata Maya di dalam mobil. "Kamu harus punya pakaian yang pantas."

Dinda duduk di samping ibunya. "Kak Alya pasti belum punya gaun untuk acara formal."

Alya menatap jalan. "Belum."

Jawaban jujur itu membuat Dinda tampak puas.

Rafi tidak ikut masuk mobil. Baskara melarangnya, dengan alasan acara perempuan tidak perlu pengawal. Alya tidak membantah. Ia hanya mengirim pesan singkat kepada Rafi.

Ikuti dari jauh.

Balasan Rafi datang beberapa detik kemudian.

Sudah.

Butik itu disambut pegawai dengan senyum lebar. Mereka jelas mengenal Maya dan Dinda. Begitu masuk, pegawai langsung membawa beberapa gaun baru untuk Dinda, bukan untuk Alya.

"Non Dinda, koleksi yang kemarin Non pesan sudah datang."

Dinda tersenyum manis. "Terima kasih. Tapi hari ini kami cari gaun untuk Kak Alya dulu."

Suaranya terdengar baik.

Namun ia berdiri di tengah ruangan dengan tubuh anggun, seolah ingin menunjukkan siapa yang sebenarnya menjadi pusat butik itu.

Maya menatap Alya dari kepala sampai kaki. "Kulitmu putih bersih, tapi gayamu masih terlalu sederhana. Jangan khawatir. Tante bantu pilih."

Ia mengambil gaun warna hijau pucat yang modelnya kuno dan potongannya canggung.

"Coba ini."

Dinda cepat menambahkan, "Warna ini lembut. Cocok untuk Kak Alya yang baru pulang. Tidak terlalu mencolok."

Tidak terlalu mencolok.

Artinya, jangan mengalahkan Dinda.

Alya menerima gaun itu dan masuk ruang ganti. Di dalam, ia tidak langsung mengganti pakaian. Ia memeriksa label, jahitan, lalu melihat bekas kecil di bagian pinggang.

Gaun ini pernah dipakai.

Bukan koleksi baru.

Ia keluar tanpa mengenakannya. "Tidak cocok."

Maya tersenyum kaku. "Kamu belum mencoba."

"Aku tidak memakai gaun bekas yang jahitannya sudah diubah."

Pegawai butik membeku.

Dinda tertegun. "Kak, jangan sembarangan bicara. Butik ini langganan Mama."

Alya menyerahkan gaun itu pada pegawai. "Kalau aku salah, silakan panggil manajer dan tunjukkan catatan koleksi."

Pegawai itu tampak panik.

Maya menatap tajam. "Alya, kamu mempermalukan Tante."

"Tante yang memilih gaun ini."

"Aku tidak tahu itu bekas."

"Berarti pegawai butik ini menipu Tante." Alya menoleh ke pegawai. "Atau memang ada yang meminta menyiapkan gaun seperti ini?"

Pertanyaan itu jatuh pelan, tetapi menghantam semua orang.

Dinda buru-buru berkata, "Sudahlah, mungkin hanya salah ambil. Kak Alya tidak perlu membesar-besarkan."

"Aku tidak membesarkan. Aku hanya tidak mau datang ke acara keluarga pertamaku memakai gaun bekas yang sengaja dibuat buruk."

Maya menarik napas. "Pilih sendiri kalau begitu."

Itulah yang Alya tunggu.

Ia berjalan melewati rak, mengambil satu gaun warna biru gelap dengan potongan sederhana. Tidak terlalu terbuka, tidak terlalu manis. Kainnya jatuh berat dan bersih. Ia juga memilih selendang tipis dan sepatu senada.

Dinda memaksakan senyum. "Kak Alya yakin? Warna itu agak dewasa."

"Bagus. Aku memang bukan anak kecil."

Alya masuk ruang ganti. Kali ini ia benar-benar berganti.

Ketika keluar, percakapan di butik berhenti.

Gaun itu tidak ramai, tetapi justru membuat wajah Alya terlihat lebih tegas. Rambutnya yang hanya ia ikat sederhana memberi kesan dingin. Ia tidak memakai perhiasan selain gelang perak dari Eyang Laras, tetapi entah bagaimana gelang tua itu tampak lebih bernilai daripada kalung yang dikenakan Dinda.

Maya terdiam.

Dinda menggenggam tas kecilnya sampai buku jarinya memutih.

Pegawai butik spontan berkata, "Cantik sekali, Non."

Alya menatap cermin. Ia tidak mencari pujian. Ia hanya memastikan dirinya tidak lagi menjadi gadis bodoh yang dulu berdiri canggung dalam gaun salah ukuran.

Pintu butik terbuka.

Beberapa perempuan masuk sambil tertawa. Salah satunya mengenali Dinda.

"Dinda! Kamu di sini juga?"

Dinda langsung berubah cerah. "Mbak Naya."

Naya adalah sosialita muda, anak pemilik jaringan hotel. Di kehidupan lalu, ia pernah menjadi salah satu orang yang paling keras menertawakan Alya saat acara keluarga Santoso.

Naya menatap Alya. "Ini siapa?"

Dinda merangkul lengan Alya. "Ini Kak Alya. Kakakku yang baru pulang dari Yogyakarta."

Baru pulang dari Yogyakarta.

Kata-kata itu terdengar seperti kode. Beberapa perempuan di belakang Naya saling pandang.

"Oh," kata Naya, nada suaranya berubah. "Yang selama ini tinggal sama nenek di desa?"

Dinda pura-pura tidak mendengar nada itu. "Iya. Kak Alya baik kok, cuma masih menyesuaikan diri."

Alya menatap tangan Dinda di lengannya.

Dinda cepat melepaskan.

Naya memutari Alya dengan tatapan menilai. "Gaunnya bagus. Tapi kalau dipakai di acara Santoso, mungkin terlalu serius. Kamu tahu keluarga Santoso seperti apa?"

"Belum," jawab Alya.

Naya tersenyum. "Mereka tidak suka orang kaku."

"Bagus. Aku juga tidak suka orang palsu."

Senyum Naya berhenti.

Dinda panik. "Kak Alya bercanda."

"Tidak," kata Alya. "Aku sedang menjawab."

Salah satu teman Naya tertawa kecil, bukan mengejek Alya, tetapi menikmati Naya kena balas.

Naya tersinggung. "Kamu berani juga untuk orang baru."

"Orang baru masih boleh bicara, kan?"

Maya akhirnya turun tangan. "Alya, cukup. Naya ini teman Dinda."

Alya menatap Maya lewat cermin. "Kalau begitu Dinda perlu teman yang lebih sopan."

Wajah Dinda merah.

Naya melangkah maju. "Kamu pikir karena kamu anak kandung Pak Baskara, kamu langsung bisa masuk lingkaran kami?"

Alya berbalik. "Aku tidak meminta masuk."

"Lingkaran seperti ini tidak mudah dimasuki."

"Aku percaya. Terlihat melelahkan."

Pegawai butik menahan tawa. Naya mendengarnya dan semakin marah.

"Dinda, kakakmu ini lucu sekali. Baru pulang sudah merasa paling hebat."

Dinda menunduk. "Kak Alya mungkin belum tahu cara bicara di Jakarta."

Alya menatap Dinda. "Kalau cara bicara di Jakarta berarti menghina orang lalu berharap orang itu diam, aku memang belum tahu."

Maya menahan lengan Alya. "Kita pulang."

"Belum bayar."

"Aku yang bayar."

"Tidak perlu." Alya mengeluarkan kartu dari tas kecilnya.

Maya mengerutkan kening. "Kamu punya kartu?"

"Eyang memberiku uang saku."

Itu bohong sebagian. Eyang memang memberinya uang, tetapi kartu itu terhubung dengan rekening kerja Bayang yang tentu saja tidak diketahui siapa pun.

Pegawai memproses pembayaran. Nominalnya tidak kecil, tetapi transaksi berhasil tanpa hambatan.

Dinda menatap mesin EDC seolah benda itu baru saja mengkhianatinya.

Naya mencibir, "Lumayan juga uang saku dari desa."

Alya menerima kartu dan struk. "Kalau iri, bilang saja."

Naya maju satu langkah. "Apa katamu?"

Telepon Maya berbunyi sebelum situasi meledak. Ia melihat layar, lalu wajahnya berubah.

Baskara.

Maya mengangkat. "Mas?"

Entah apa yang dikatakan Baskara, wajah Maya semakin kaku.

"Sekarang? Tapi aku masih di butik."

Ia menoleh ke Alya.

"Baik. Kami pulang."

Panggilan berakhir.

Dinda bertanya pelan, "Ada apa, Ma?"

Maya menjawab dengan suara tertahan. "Keluarga Santoso datang lebih cepat. Mereka sudah di rumah."

Naya langsung tertarik. "Kevin juga?"

Dinda tidak menjawab, tetapi wajahnya berubah.

Alya mengambil tas belanja dari pegawai.

Bagus.

Tamu datang lebih cepat berarti rencana mereka berubah.

Dan rencana yang berubah biasanya membuat orang ceroboh.

Di luar butik, saat mereka berjalan menuju lift, Alya melihat pantulan kaca di seberang.

Rafi berdiri jauh di belakang pilar, memakai topi hitam, seolah pengunjung biasa.

Alya tidak menoleh.

Ia hanya mengetik pesan singkat.

Santoso sudah di rumah. Cari tahu alasan mereka datang lebih cepat.

Balasan Rafi muncul.

Sudah tahu. Kevin membuat masalah tadi malam. Mereka butuh pertunangan cepat untuk menutup berita.

Alya menatap layar beberapa detik.

Lalu ia tersenyum.

Ternyata bukan hanya keluarga Wiratama yang ingin menjualnya.

Keluarga Santoso juga sedang mencari kain penutup untuk bangkai mereka sendiri.

1
Tri Septi
licin ya musuhnya
Tri Septi
duh, tegang terus aku 👏👏🤣🤣🤓
Tri Septi
KK author terima kasih ceritanya bagus....tegang terus, semangat dan sehat selalu👍👍
Tri Septi
lanjut thor👍
Tri Septi
seru👏👏👏 makasih Thor🙏
Tri Septi
tegas, lugas ... suka 👍👍👍
Tri Septi
hmmm senjata makan tuan
Tri Septi
harus Badas jangan mau ditindas 🤣 👏👏👏
Tri Septi
menunggu selama 11 tahun persiapan balas dendam, menjadi gadis yg kuat dan punya skill....semangat berjuang Alya 🔥😍😍😍
・゚・ Mitchi ・゚・
cerita'y bagus thor, cuman kebanyakan nama tokoh'y, jadi mumet ndase thor
Irma Indriani
baru kali ini baca novelnya nagajak berfikir , novel ilmiah 👍
vera tri
pusing baca nya ,terlalu banyak misteri serta konflik..😍
Bella Usop
boring. Cerita bertele-tele
Ce’Scorpio 🦂
Dinda umur 22 tapi ko manggil alya kakak,trus masi sekolah juga..jadi bingung thor 😮‍💨
Jaya Fandi
toko utama yg kuat dan tegas,,aku suka
Ce’Scorpio 🦂
“Bayang” nya ada 2 kah ?
Jaya Fandi
menarik,,i like it,,💪💪
Shinta Teja
ini gimana ceritanya bisa berbalik arah gini?! bukankah di awal cerita si Alya ini yang jadi "bayang"?! bahkan saat Raka bertanya & dia sebutkan kalau dirinya itu "bayang".
sekarang malah jadi Rafi yang berubah jadi "bayang"🤔
Ce’Scorpio 🦂
Raka ini kk kandung alya apa kk kandung dinda ya thor 🤭
Mei Mei
baru baca dah seru aja, bagus ni cerita nya gak bikin bosen
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!