Kepergian kekasihnya membuat Naya menyadari akan kehilangan yang begitu mendalam. Luka yang ditawarkannya pun begitu hebat hingga membuat Naya harus benar-benar pulih dari rasa sakit hati.
Dan seiring berjalannya waktu, Zaki datang dan mengubah kehidupannya yang dulu begitu terasa hampa penuh luka tersebut kini penuh kebahagiaan yang tak pernah ia miliki sebelumnya.
Namun sayangnya, kebahagiaan itu harus mereka perjuangkan bersama agar tetap bertahan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DI HARI KELULUSAN
Tak terasa, hari demi hari pada semester akhir itu meluncur pergi dengan begitu cepat, melesat di antara tumpukan tugas dan rindu yang tertahan. Waktu yang dinanti akhirnya tiba. Zaki telah dinyatakan lulus, dan hari ini adalah momen sakral yang paling dinantikan, sebuah seremoni pelepasan siswa-siswi kelas dua belas. Seluruh warga sekolah, mulai dari jajaran guru hingga staf, tumpah ruah memenuhi area acara. Tak terkecuali Naya. Pihak sekolah pun turut mengundang orang tua murid untuk menyaksikan buah hati mereka melangkah ke gerbang masa depan.
Selama berbulan-bulan ini, Naya dan Zaki telah memainkan peran mereka dengan sangat apik. Hubungan asmara itu mereka simpan rapat-rapat di balik dinding rahasia yang tak tertembus. Di sekolah, hanya Gani dan Daniel yang mengetahui kebenarannya, itu pun karena sebuah keterpaksaan. Ditambah lagi, status Zaki sebagai siswa SMK yang lebih banyak menghabiskan waktu di luar sekolah untuk menjalani program magang di perusahaan, membuat desas-desus di antara guru dan murid lain menguap begitu saja. Semua orang mengira tidak ada apa-apa di antara mereka. Padahal, di balik semua kepura-puraan itu, perasaan mereka justru tumbuh semakin pekat. Sama halnya seperti detik ini.
Ya. Dengan balutan kebaya sama seperti guru lainnya, Naya berdiri anggun di dekat pintu utama aula besar. Bersama beberapa rekan guru lainnya, ia mengemban tugas untuk menyambut kedatangan para wisudawan yang hadir didampingi wali murid masing-masing. Di tengah riuh rendah suara obrolan, tawa bahagia, dan langkah kaki yang menggema di koridor, sepasang mata Naya menerawang jauh. Ia memindai satu per satu wajah yang lewat di hadapannya, mencari satu sosok yang paling ia rindukan, sekaligus mengantisipasi sebuah pertemuan yang mungkin akan menguji keteguhan hatinya hari ini.
Di antara gelombang manusia yang terus mengalir masuk, sosok yang sejak tadi dinanti akhirnya menampakkan diri. Sepasang mata Naya seketika terkunci pada satu titik di ujung koridor dekat gerbang sekolah. Senyum tipis yang semula terpasang formal di bibir Naya perlahan melebar, bertransformasi menjadi binar kehangatan yang tak bisa ia sembunyikan.
Zaki berjalan di sana. Hari ini, pemuda itu tampak begitu berbeda di mata Naya. Aura remaja tanggungnya seolah menguap, digantikan oleh kesan matang yang begitu menawan. Zaki tampak sangat dewasa dalam balutan kemeja batik lengan panjang bermotif elegan yang melekat pas di tubuh tegapnya, dipadukan dengan celana katun hitam yang rapi. Langkah kakinya konstan dan tenang, memancarkan kepercayaan diri seorang pria yang siap menyongsong masa depan.
Namun, detak jantung Naya mendadak berdesir agak ngilu saat pandangannya bergeser pada dua sosok yang berjalan di sisi Zaki.
Ya. Zaki tidak datang sendiri. Ia mendampingi seorang wanita paruh baya yang kemungkinan besar telah menginjak usia kepala lima. Wanita itu berjalan dengan anggun, gurat wajahnya menyiratkan ketegasan sekaligus rasa bangga yang besar hari ini. Di sebelah lainnya, seorang gadis remaja melangkah dengan ceria sesekali menggandeng lengan Zaki.
Itu pasti Ibu dan adiknya, batin Naya menebak dalam diam. Dada Naya mendadak bergemuruh oleh kombinasi rasa haru, kagum, sekaligus secuil rasa cemas yang mendadak menyelinap.
Mengingat kembali bagaimana Zaki pernah menyembunyikan masalah kepulangannya demi melindungi perasaannya, Naya tahu bahwa wanita paruh baya yang sedang berjalan mendekat ke arah pintu aula itu adalah sosok penting yang memegang kunci masa depan hubungan mereka. Dari jarak yang kian mengikis ini, Naya menarik napas dalam-dalam, berusaha menguasai gemuruh di dadanya dan mempersiapkan diri untuk menyambut mereka secara profesional sebagai seorang guru, walau hatinya sudah berteriak ingin menyapa sebagai belahan jiwa.
Zaki perlahan melangkah mendekat, memandu ibunya dan Mira menuju pintu utama aula tempat jajaran guru berdiri menyambut. Sebagai murid yang tahu tata krama, Zaki dengan sopan menghampiri dan menyalami satu per satu guru yang berbaris di sana, mengucapkan terima kasih atas bimbingan mereka selama ini.
Hingga akhirnya, langkah kaki Zaki berhenti tepat di depan Naya.
Deg.
Jantung Naya berdegup begitu kencang, bertalu-talu di balik rongga dadanya hingga ia takut suaranya bisa terdengar keluar. Ia berusaha sekuat tenaga mempertahankan senyum formal seorang guru, meski telapak tangannya mendadak sedingin es.
Lalu, Zaki mengulurkan tangannya. Saat telapak tangan mereka saling bersentuhan, Zaki tidak langsung melepaskannya. Selama beberapa detik yang terasa begitu lama dan intens, ia menatap lurus ke dalam manik mata Naya. Sorot matanya yang dalam seolah sedang menyampaikan beribu kata rindu dan janji yang tak bisa diucapkan dengan lisan di tempat ramai ini. Detik itu juga, dunia di sekitar mereka seolah senyap.
Namun, Zaki lupa bahwa sang ibu adalah sosok yang teramat peka.
Desi yang berdiri tepat di sampingnya menangkap adanya kejanggalan. Ia memperhatikan bagaimana cara putranya menatap guru wanita berwajah anggun di hadapannya ini, sebuah tatapan yang terlalu lekat, terlalu dalam, dan menyimpan sesuatu yang tidak biasa untuk hubungan sebatas guru dan murid. Sepasang mata jeli Desi menyipit, memancarkan kecurigaan yang kentara.
"Zaki," sapa Desi dengan suara rendah namun tajam, memecah kontak mata di antara keduanya.
Zaki tersentak, lalu perlahan menarik tangannya dari jabatatan Naya. Ia menoleh ke arah ibunya, mencoba menguasai raut wajahnya agar tetap tenang dan natural.
"Ma," sahut Zaki pelan, "Kenalin ini..."
"Saya guru Bahasa Indonesia-nya Zaki, Bu," sela Naya kemudian dengan cepat. Ia memotong kalimat Zaki dengan nada suara yang sengaja dibuat seramah dan seprofesional mungkin, demi melindungi rahasia mereka sekaligus menyelamatkan Zaki dari posisi yang serbasalah.
Naya kemudian mengangguk hormat, menyembunyikan jemarinya yang saling bertaut cemas di balik baju.
"Oalah," sahut Desi, suaranya naik satu nada, tatapannya menyapu penampilan Naya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan penilaian yang tajam namun terselubung. "Cantik, muda."
Deg.
Hati Naya mencelos, ada rasa haru yang mendadak menyeruak di balik dadanya yang bergemuruh. Kalimat pujian dari Desi, meski terdengar datar dan sarat akan selubung selidik terasa seperti hantaman lembut yang menggetarkan relung hatinya. Ada rasa haru yang aneh karena akhirnya, setelah berbulan-bulan hanya mendengar nama wanita ini dari cerita-cerita Zaki, Naya bisa berdiri berhadapan langsung, diakui kecantikan dan keberadaannya, walau masih di bawah topeng seorang guru.
"Ibu ini siapa namanya?" celetuk Mira polos, matanya yang jenaka menatap Naya dengan rasa ingin tahu yang murni khas remaja.
Pertanyaan tak berdosa dari sang adik seketika membuat alarm di kepala Zaki berbunyi nyaring. Jantungnya berdesir hebat, ia tahu betul jika pembicaraan ini berlanjut, posisi Naya akan semakin terpojok di bawah tatapan jeli ibunya. Apalagi, kalau sampai Naya menyebutkan sepotong namanya.
"Hmmm... Mir, Bu," sela Zaki secepat kilat, memotong kalimat Mira sebelum Naya sempat membuka suara. "Kita ke dalam sekarang, yuk," ajaknya dengan nada setengah mendesak.
Tanpa menunggu persetujuan dari kedua wanita di sampingnya, Zaki langsung mengambil pergelangan tangan Mira lebih dulu, menuntun adiknya memecah barisan. "Bentar lagi acaranya kayaknya mau mulai, Ma. Takut enggak kebagian kursi di depan," imbuh Zaki setengah menoleh pada ibunya, memberikan alasan paling logis agar mereka segera beranjak dari hadapan Naya.
"Duduknya emang gak sesuai absen?" Tanya Mira.
"Ah udah, ayo!" Seru Zaki. "Jangan banyak tanya jangan cerewet!"
Mira hanya mengulum bibirnya kesal. Sementara, Desi tidak langsung melangkah. Ia sempat melempar satu tatapan terakhir yang sarat akan makna ke arah Naya, seolah tahu ada sesuatu yang sengaja disembunyikan oleh putranya sebelum akhirnya ia pun berbalik mengikuti langkah Zaki masuk ke dalam aula.
Naya yang ditinggalkan di ambang pintu hanya bisa mengembuskan napas panjang yang sejak tadi tertahan di dada. Bahunya meluruh lemas. Ada rasa lega karena situasi menegangkan itu berhasil dilewati, namun ada juga secuil rasa sesak yang tertinggal di hatinya saat melihat punggung Zaki yang kian menjauh bersama keluarganya.
Sepuluh menit berlalu sejak punggung Zaki menghilang di balik pintu aula yang megah. Riuh rendah suara musik gamelan yang sedari tadi silih bertalu dan obrolan para tamu di sekitar seolah berubah menjadi dengung samar di telinga Naya. Fokusnya sama sekali tidak ada di sana. Pikirannya masih tertinggal pada tatapan menyelidik Ibu Zaki dan pertanyaan polos adiknya yang hampir saja mengacaukan segalanya.
Dengan jemari yang sedikit gemetar karena sisa ketegangan tadi, Naya merogoh ponsel dari saku bajunya. Ia Berdiri sedikit menyamping dari jajaran guru lain, menyembunyikan layarnya dari pandangan orang sekitar. Jemarinya dengan cepat menari di atas keyboard, mengetikkan sebaris kalimat yang sejak tadi menyumbat dadanya...
Aku hampir akan mengenalkan diriku pada ibu dan adikmu.
Naya menarik napas panjang, lalu menekan tombol kirim. Ia mengira Zaki tidak akan langsung membalas. Namun, dugaannya keliru. Sedetik berikutnya, ponsel di genggamannya bergetar hebat. Sebuah notifikasi pesan masuk dari Zaki memotong layar utama. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat ketika membaca untaian kata yang dikirimkan pemuda itu...
Jangan sekarang, masalahnya ibuku tahu tentang perempuan yang bernama Naya.
Naya membelalak. Sepasang matanya menatap nanar ke arah layar ponsel, memastikan bahwa ia tidak salah membaca satu kata pun di sana. Huruf demi huruf itu seolah menjelma menjadi hantaman keras yang membuat pasokan udara di sekitarnya mendadak menipis.
Ibuku tahu tentang Naya.
Kata-kata itu terus terngiang, memicu badai kepanikan di dalam kepala Naya. Bagaimana bisa? Sejak kapan Ibunya mengetahuinya? Apakah itu alasan di balik tatapan tajam dan penilaian dingin wanita paruh baya itu saat mereka berhadapan tadi? Rahasia yang selama berbulan-bulan ini mereka jaga dengan taruhan reputasi dan profesionalitas, kini mendadak terasa seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja.
****
Kinan jug ksian krna uda g punya orang tua
Mlah nay tu dr grup sekolahan, bkn dr zaki sendiri