NovelToon NovelToon
Terperangkap Cinta Duda Kaya

Terperangkap Cinta Duda Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mengubah Takdir / Duda
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Hidup Dara runtuh dalam satu hari.
Pekerjaannya hilang tanpa peringatan. Perusahaan tempatnya kerja kini terancam bangkrut dan harus mem-PHK semua karyawannya termasuk Dara. Kini Dara merasa hidupnya runtuh, karena disaat yang sama Ibunya sedang di rawat di rumah sakit dan butuh biaya yang sangat besar. Di titik terendahnya, Dara hanya punya dua pilihan: bertahan atau menyerah.
Kini Takdir membawanya ke sebuah perusahaan besar, di sana ia menjadi sekretaris pribadi seorang CEO dingin, perfeksionis, dan penuh rahasia.
Pria itu setelah di khianati mantan istrinya tidak lagi percaya pada cinta. Namun sejak kehadiran Dara, sekretaris baru yang berani, tulus, dan penuh tekad, kini hatinya mulai goyah.
Bagaimana kelanjutan kisah mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 13 : Ikut Ke Surabaya

Ruangan mendadak sunyi, Dara sendiri baru menyadari apa yang baru saja ia katakan. Astaga, kenapa yang keluar malah pertanyaan itu?

Wajahnya langsung memanas. "Saya... maksud saya..." Dara mulai panik.

Alexander masih menatapnya beberapa detik. Lalu menjawab singkat. "Belum."

Dara berkedip. Belum? Entah kenapa jawaban itu membuatnya semakin tidak nyaman.

"Oh..."

Keheningan kembali muncul.

Dara buru-buru menyerahkan map yang dibawanya. "Ini dokumen untuk proyek di Surabaya, Tuan."

Alexander menerimanya. "Terima kasih."

Dara mengangguk cepat. Lalu sebelum sempat mempermalukan dirinya lebih jauh, ia langsung berbalik.

"Kalau begitu saya keluar dulu."

"Hm."

Dara hampir sampai ke pintu.

Namun tiba-tiba...

"Dara."

Langkahnya berhenti.

"Iya, Tuan?"

Alexander menutup map di tangannya. "Kau sudah sarapan?"

Sekarang giliran Dara yang membeku. "Hah?"

Alexander mengangkat sebelah alis. "Hah lagi."

Wajah Dara langsung merah. "I-iya."

"Sudah?"

"Sudah, Tuan."

Alexander mengangguk kecil. "Bagus."

Dara tidak tahu kenapa percakapan sederhana itu membuat jantungnya berdebar lebih cepat. Ia hanya mengangguk lalu buru-buru keluar.

Dara tidak tahu kenapa percakapan sederhana itu membuat jantungnya berdebar lebih cepat.

Ia hanya mengangguk lalu buru-buru berbalik.

"Kalau begitu saya keluar dulu, Tuan."

"Hm."

Dara melangkah menuju pintu. Tangannya sudah menyentuh gagang pintu ketika suara Alexander kembali terdengar.

"Dara."

Langkahnya kembali terhenti.

"Iya, Tuan?"

Alexander meletakkan pulpen di atas meja. "Apa kau hari ini bisa ikut denganku ke Surabaya?"

Deg.

Dara langsung menoleh. "Maaf, Tuan?"

Alexander menatapnya tenang. "Saya ingin kau ikut."

Dara berkedip beberapa kali. "O-oh... saya juga ikut ke Surabaya?"

"Iya."

Jantung Dara langsung berdetak lebih cepat. Pergi ke luar kota. Bersama CEO, ya Tuhan. Namun sebelum pikirannya semakin liar, Alexander kembali berbicara.

"Tenang saja."

Dara mengangkat kepala.

"Kita tidak hanya berdua."

Dara langsung menghela napas lega tanpa sadar.

Alexander memperhatikannya. "Rina juga ikut. Tim legal juga ikut, dan beberapa staf lainnya."

"Oh syukurlah..." Kini Dara benar-benar lega.

Alexander menatapnya beberapa detik. Entah kenapa ekspresi lega yang muncul di wajah Dara membuatnya ingin tersenyum.

"Tampaknya kau sangat khawatir." Wajah Dara langsung memerah.

"Tidak, Tuan!" Dara buru-buru mencari alasan. "Saya hanya kaget."

Alexander tidak berkomentar. Beberapa detik kemudian Dara teringat sesuatu. "Kalau begitu bagaimana dengan Pak Aldi?"

Alexander mengangkat alis. "Aldi?"

"Iya."

"Kenapa dengan Aldi?"

Dara berpikir sejenak. "Apakah Pak Aldi tidak ikut?"

Alexander menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Dia tidak ikut."

"Kenapa?" tanya Dara penasaran.

"Aldi menjaga kantor." Alexander masih menatapnya. Tatapannya perlahan berubah curiga. "Memangnya ada hubungan apa kau dengan Aldi?"

Deg.

Dara langsung membelalak. "Hah?"

Alexander mengangkat sebelah alis. "Kalian sepertinya cukup akrab."

Dara hampir tersedak oleh ludahnya sendiri. "Tidak ada, Tuan!"

"Tidak ada?"

"Sama sekali tidak ada."

"Yakin?"

"Iya."

Alexander masih diam.

Dara mulai panik. "Pak Aldi hanya membantu saya untuk bekerja disini." Dara mulai merasa seperti sedang diinterogasi. "Sungguh tidak ada apa-apa, Tuan."

Alexander akhirnya mengalihkan pandangannya ke dokumen di meja. "Bagus."

Dara berkedip. Bagus? Kenapa terdengar seperti beliau baru saja memastikan sesuatu? Namun sebelum Dara sempat berpikir lebih jauh, Alexander kembali berbicara.

"Penerbangan kita satu jam lagi."

"Iya, Tuan."

"Siapkan semua dokumen."

"Baik, Tuan."

"Kau boleh keluar sekarang."

Dara mengangguk cepat. "Baik Tuan, Permisi."

Begitu pintu tertutup, Dara langsung memegangi dadanya. "Astaga..."

Dara masih berdiri beberapa detik di depan meja Rina sambil memegang map. Rina yang melihat ekspresinya langsung mengernyit.

"Kenapa?"

Dara menghela napas pelan. "Kita berangkat ke Surabaya satu jam lagi."

Rina langsung menegakkan badan. "Hah? Serius?"

Dara mengangguk. "Tuan Alexander baru bilang."

Rina langsung berdiri dari kursinya. "Astaga! Kenapa baru sekarang?"

"Aku juga baru tahu."

Dalam hitungan detik suasana kembali sibuk. Mereka mulai memeriksa dokumen satu per satu. Proposal investasi, laporan keuangan, kontrak kerja sama, hingga berkas cadangan.

"Yang ini masuk, yang itu juga. Flashdisk sudah?"

"Sudah."

"Laptop?"

"Sudah."

Mereka bekerja secepat mungkin. Beberapa staf lain yang ikut berangkat juga mulai mondar-mandir membawa berkas dan koper kerja. Di tengah kesibukan itu...

Ting.

Pintu lift terbuka.

Aldi keluar sambil membawa secangkir kopi. Ia memperhatikan suasana lantai direksi yang mendadak seperti markas perang.

"Kalian kenapa?"

Rina bahkan tidak mengangkat kepala. "Persiapan Surabaya."

"Oh." Aldi berjalan mendekat. "Kalian udah makan?"

"Nanti aja," jawab Rina.

Aldi langsung menggeleng. "Nanti aja, nanti aja. Terus nanti pingsan di pesawat."

Rina mendecak.

Namun Aldi tetap santai. "Ayo makan dulu."

"Kita sibuk, Pak."

"Saya yang traktir."

Kalimat itu langsung membuat beberapa staf menoleh. Dara sampai tertawa kecil.

Aldi lalu menunjuk Dara dan Rina. "Kalian berdua ikut."

Dara menggeleng. "Saya nggak bisa, Pak."

"Kenapa?"

"Satu jam lagi saya ikut ke Surabaya."

Aldi yang sedang minum kopi langsung berhenti. "Apa?"

Dara mengangguk polos. "Tuan Alexander minta saya ikut."

Kini Aldi terlihat benar-benar terdiam. "Kamu ikut? Ke Surabaya?"

"Iya."

Rina yang melihat ekspresi Aldi mulai menahan senyum.

Sedangkan Aldi hanya berkedip beberapa kali. "Oke."

Hanya itu yang keluar dari mulutnya. Namun beberapa detik kemudian pria itu langsung berbalik.

"Pak Aldi?" panggil Dara bingung.

"Sebentar, saya ada perlu sama Bos."

Aldi langsung berjalan menuju ruangan Alexander.

Tok. Tok.

"Masuk."

Aldi langsung membuka pintu tanpa menunggu lama.

Alexander yang sedang membaca dokumen bahkan tidak mengangkat kepala. "Ada apa?"

Aldi menutup pintu. "Lagi sibuk?"

"Seperti yang kau liat." Baru kali ini Alexander mengangkat pandangan. "Ada masalah?"

Aldi langsung duduk di kursi depan meja kerja. "Lo ngajak Dara ke Surabaya juga?"

"Iya."

"Kan udah ada Rina."

Alexander kembali melihat dokumennya. "Memangnya, kenapa?"

"Rina kan lebih senior."

"Terus?"

Aldi mulai kesal

Sedangkan Alexander justru terlihat santai. "Lo sendiri yang memberi rekomendasi supaya Dara menjadi sekretaris pribadi gue."

Aldi terdiam, karena itu memang benar. Aldi sendiri yang menjadikan Dara sebagai Sekretaris Alexander, bahkan tanpa persetujuan Alexander.

"Jadi masalahnya apa?" tanya Alexander.

Aldi menyandarkan tubuhnya ke kursi. Beberapa detik ruangan menjadi sunyi.

Lalu Alexander menyipitkan mata. Tatapannya berubah tajam. "Jangan bilang kau suka sama Dara."

Deg.

Aldi langsung menatapnya, namun tidak menjawab.nHanya ekspresi kesal yang muncul di wajahnya. Alexander memperhatikannya beberapa detik. Semakin lama semakin curiga.

Sedangkan Aldi justru berdiri. "Ya udah sekarang terserah lo. Kan lo bos nya."

"Aldi."

Namun pria itu sudah berjalan menuju pintu.

Brak.

Pintu terbuka.

Sebelum keluar, Aldi hanya menoleh sebentar. "Jangan telat ke bandara."

Lalu ia pergi begitu saja. Meninggalkan Alexander sendirian di dalam ruangan. Pria itu menatap pintu yang sudah tertutup.

Beberapa detik berlalu. Lalu tanpa sadar sudut bibirnya terangkat tipis. "Dasar orang aneh."

Kali ini Alexander mulai bertanya-tanya kenapa Aldi terlihat begitu kesal saat mendengar Dara ikut ke Surabaya.

1
Arditya
gemes banget sama Alexander ngeselin🤣
Amoera
Aaaa... ini Alexander kereennn😍
Amoera
kerenn banget thoor
Amoera
Top banget dara😍
Amoera
Aldi kerenn banget😍
Amoera
Aldi kerenn banget😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!