Karena jalan yang lama sudah tidak bisa digunakan. Maka dibuatlah jalan yang baru. Sebuah jalur baru untuk para pemudik yang selalu rindu ingin pulang ke kampung halaman.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon David Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Murid
Pria pendek berperut gendut menunggu di ruang tamu yang hening.
Bersama senyuman-senyuman ramah dari para pemilik rumah di dalam bingkai foto keluarga.
Terasa masih panas gelas air teh yang baru saja disuguhkan.
Kebulnya masih terlihat tipis melayang-layang.
Darmo sedang berkunjung ke tempat guru spiritual dari banyak orang-orang di daerahnya.
Seorang pintar yang sedang top masa kini.
Bersertifikat dan memiliki bukti-bukti kesuksesan yang membuatnya terlampau percaya diri.
Namanya Ki Susuk.
"Ki Susuk sedang bersemedi",
"Mohon ditunggu sebentar nggih",
Itulah pesan anak sulung Ki Susuk satu seperempat jam yang lalu.
Darmo yang datang dari jarak yang jauh sudah menghabiskan minuman manis yang disajikan.
"Maaf ya sudah menunggu lama",
"Aku baru saja bangun",
"Iya, tidak apa-apa Ki Susuk",
Darmo yang mengantuk karena lama menunggu langsung melek begitu pemilik rumah yang dinantikan keluar menyambut.
"Belum dibuatkan minum???",
Mungkin karena gelasnya sudah kosong jadi tidak terlihat.
"Nduk, buatkan kopi 2 ya",
Seru Ki Susuk kepada anaknya yang perempuan.
"Akhir-akhir ini aku lagi sering begadang dan bangun kesiangan",
"Ki Susuk sedang banyak pasien Ki?",
"Bukan karena itu"
"Sekarang kan sedang ada piala dunia",
Darmo pikir karena sibuk tirakat.
"Aku Darmo Ki Susuk",
"Darmo?",
"Darmo?",
"Darmo yang mana ya?",
"Sebentar aku ingat-ingat",
"Darmo yang jual bibit tanaman?",
"Iya Ki, masih ingat Ki",
"Ya masih lah",
"Pohon di halaman depan itu kan hadiah dari kamu Darmo",
"Sekarang sudah tumbuh subur",
"Terimakasih ya",
"Buahnya manis-manis",
"Sama-sama Ki Susuk",
"Ada perlu apa kamu jauh-jauh datang kemari Darmo?",
"Jadi begini Ki Susuk",
Darmo menceritakan semua kejadian horor yang dialami oleh istrinya belakangan ini.
Dan juga kejadian horor yang baru-baru ini dialami oleh Darmo sendiri.
Kejadian yang Darmo tidak pernah ceritakan kepada istrinya supaya tidak menambah runyam perdebatan diantara pasangan suami istri di dalam rumah tangga.
"Bahaya itu Darmo",
"Kemudian apa lagi?",
"Seperti apa kejadian horor yang kamu alami sendiri?",
"Seperti ini kronologinya Ki Susuk",
Malam itu Darmo baru saja pulang dari acara pengajian yang diadakan tetangganya yang melangsungkan aqiqah putranya.
Sudah jam sembilan lewat. Pintu rumah Darmo sudah terkunci rapat.
Darmo pun membawa kunci sendiri.
Darmo panik.
Kunci pintu rumahnya yang disaku di kantong celana tidak ada.
Kantong samping kanan, kantong samping kiri, kantong belakang, semua kantong sudah diperiksa.
Juga kantong baju koko yang ada dua.
"Ini kuncinya",
"Tadi jatuh di jalan",
Kuntilanak yang memberikan kuncinya kepada Darmo.
"Ada satu lagi Ki Susuk",
Subuh hari Darmo diminta oleh istrinya untuk mengganti tabung gas hijau yang habis.
Sembari mengantuk dengan mata yang masih sayup-sayup.
Darmo mengganti tabung gas elpiji 3kg.
Biasanya sebentar saja langsung terpasang dan kompor bisa menyala.
Tapi kali ini agak susah untuk berhasil.
Apa mungkin ada yang salah dengan tabung gasnya?
Atau karetnya?
Darmo membuka matanya yang masih mengantuk lebar-lebar.
Dan ternyata terlihat dengan jelas bahwa Darmo salah ambil tabung.
Walaupun yang dipegang Darmo sama-sama bundar.
Tapi itu bukan tabung gas elpiji hijau tiga kilogram.
Tapi gundul peringis.
Kepala botak, wajahnya jelek, senyumnya meringis.
Tanggapan Ki Susuk
"Dari cerita yang barusan kamu sampaikan Darmo",
"Ini termasuk gawat darurat",
"Sangat berbahaya",
"Sekarang juga aku akan ke rumah mu",
"Terimakasih Ki Susuk",
Rumah Darmo
Dua jam kemudian barulah Ki Susuk bersama Darmo sampai di sebuah desa yang terpencil.
Belum juga masuk ke dalam rumah.
Ki Susuk sudah geleng-geleng kepala di halaman depan rumah Darmo.
"Mari Ki masuk dulu",
"Tidak perlu",
"Dari sini saja aku sudah paham apa yang terjadi dengan rumah mu",
"Ada apa dengan rumah ku Ki Susuk?",
"Tidak akan aku ceritakan sekarang",
"Malam ini kamu sebaiknya jangan tidur di rumah",
"Bawa anak dan istrimu mengungsi dulu",
"Sebelum mereka main fisik",
"Mereka akan semakin menggila",
"Masalah rumah mu ini tidak bisa aku selesaikan sendiri",
"Besok pagi aku akan kembali dengan membawa bala bantuan",
"Baiklah kalau begitu Ki Susuk",
"Sekarang juga aku dan keluargaku akan mengungsi",
"Malam ini kami akan menginap di rumah bapak dan ibu kami",
"Bagus Darmo",
"Terimakasih Ki",