Thalia Amradita menikah dengan Rendra, pria ambisius yang bekerja di perusahaan besar milik Arkana Dirgantara, CEO muda yang dingin, berkuasa, dan sulit disentuh.
Di luar rumah, Rendra tampak sebagai suami sempurna. Ia memperlakukan Thalia seperti istri cantik yang patut dibanggakan. Namun di balik pintu tertutup, Thalia hanya menjadi alat: dipamerkan, diarahkan, dan perlahan kehilangan suaranya sendiri.
Namun, semua berubah ketika Rendra membawa Thalia terlalu dekat ke dunia Arkana. Awalnya demi karier, proyek, dan ambisi. Tapi Rendra tidak pernah menyangka bahwa Arkana justru melihat luka yang selama ini Thalia sembunyikan.
Dari perhatian yang seharusnya tidak ada, tumbuh hasrat yang semakin sulit ditahan.
Thalia tahu ia masih istri Rendra. Arkana tahu ia adalah bos suaminya. Tapi semakin mereka menjaga jarak, semakin kuat pula takdir menyeret mereka ke arah yang paling berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. Wajah Asli Rendra
Thalia tidak langsung pulang setelah keluar dari kantor Merry.
Maya sempat menawarkan diri untuk menemaninya lebih lama, tetapi Thalia menolak dengan senyum yang tak pudar. Ia perlu pergi ke satu tempat sebelum kembali memainkan peran sebagai istri yang tenang di hadapan Rendra.
Taksi berhenti di depan rumah keluarga Amradita. Ia turun dari mobil dengan map hitam masih berada di tangannya.
Di ruang tengah, ibunya sedang duduk membaca buku seperti yang biasa sang ibu lakukan. Wanita itu mengangkat wajah begitu mendengar langkah dan tersenyum setelah melihat siapa yang datang.
“Thalia...”
Thalia tersenyum tipis. “Mama.”
Ratih menutup buku perlahan, tersenyum dengan netra terkunci pada wajah sang putri.
"Kamu terlihat lelah."
Kalimat sederhana itu hampir membuat pertahanan Thalia runtuh. Di rumah Rendra, ia harus berpura-pura menjadi wanita penurut, di hadapan Merry ia harus menyusun luka menjadi bukti.
Namun di depan ibunya, ia kembali menjadi anak perempuan yang tidak perlu menjelaskan terlalu banyak tentang apa yang ia rasakan.
Thalia duduk di samping ibunya tanpa mengatakan apapun. Ibunya pun hanya diam menunggu, seaakan sang ibu sudah tahu apa yang akan ia sampaikan adalah hal berat.
Setelah beberapa kali tarikan napas, Thalia membuka suara.
“Ma.”
“Hmm?”
“Aku ingin bercerai.”
Kalimat itu keluar begitu saja tanpa salam pembuka, menciptakan keheningan yang terasa begitu lama
Tidak ada bentakan ataupun teriakan marah yang keluar dari mulut ibunya. Bahkan, keterkejutan di wajah sang ibu hanya melintas sepersekian detik.
“Karena Rendra?”
Thalia mengangguk.
“Karena dia menyakitimu?”
"Tidak dengan tangan," jawab Thalia lirih.
Ibunya menurunkan pandangan pada map hitam di tangan Thalia.
“Apakah sudah kamu pikirkan baik-baik?"
Thalia terdiam. Pertanyaan itu terdengar lebih berat dari yang ia kira setelah sang ibu yang mengatakannya.
“Iya,” jawab Thalia lirih.
Ratih menghembuskan napas pelan, tangannya terulur meraih tangan sang putri untuk ia genggam. Semula, ia melihat Rendra sebagai sosok menantu ideal. Penuh perhatian, menyayangi putrinya, dan selalu memperlakukan putrinya dengan baik. Tapi setelah beberapa lama berlalu, ia bisa melihat sikap menantunya berubah. Dan perubahan itu terlihat lebih jelas dalam diri putrinya yang berubah menjadi lebih pendiam.
“Mama tidak akan bertanya apa saja yang sudah Rendra lakukan terhadapmu. Mama juga tidak akan menyuruhmu untuk bertahan. Jika memang kamu sudah memikirkannya dan membuat keputusan, Mama akan mendukungmu."
Mata Thalia memanas. “Ma…”
Ratih menarik tubuh Thalia ke dalam pelukan, mengusap lembut pungung Thalia yang kini bergetar halus.
“Aku sudah menemui pengacara,” ucap Thalia setengah berbisik.
Ratih menarik diri, menatap lekat wajah putrinya dengan alis bertaut. “Sudah?”
Thalia mengangguk. "Aku menemuinya hari ini bersama Maya, dan tanda tangan surat kuasa.”
Ratih mengangguk pelan. “Kalau begitu, lakukan dengan benar. Jangan gegabah. Jangan biarkan Rendra tahu sebelum waktunya.”
Thalia mengangguk. “Iya, Ma.”
.
.
.
Di saat yang sama, Rendra duduk di ruangannya di Dirgantara Group setelah selesai rapat setengah jam lalu. Di atas meja kerjanya, beberapa dokumen proyek ekspansi tersusun rapi. Namun sejak Saka masuk beberapa menit lalu, fokusnya tidak lagi berada pada angka atau simulasi investasi.
Fokusnya tertuju pada satu lembar permintaan klarifikasi resmi yang di atas mejanya.
Saka berdiri di hadapannya dengan wajah tenang.
“Tenggat dokumen fisik pendukung sampai besok siang,” ucap Saka datar. “Pak Arkana meminta seluruh lampiran pihak ketiga diverifikasi sebelum masuk ke tahap berikutnya.”
Rendra menahan rahangnya agar tidak mengeras terlalu jelas. “Semua dokumen sudah kami kirim secara digital.”
“Digital hanya cukup untuk pemeriksaan awal.” Saka menatap Rendra tanpa perubahan ekspresi. “Tapi tidak cukup untuk dasar persetujuan penggunaan nama dan data aset keluarga Amradita.”
Udara di ruangan itu terasa menipis. Rendra menatap lembar itu.
Dasar persetujuan. Nama Amradita. Dokumen fisik.
Tiga hal yang sejak kemarin membuatnya tidak tenang. Padahal, sebelum ini semua proyeknya selalu berjalan lancar, tapi kali ini hambatan datang silih berganti dan itu hanya berpusat pada satu nama: Thalia. Nama yang sengaja ia lampirkan sejak awal.
“Kami akan siapkan,” jawab Rendra akhirnya.
“Baik.” Saka menutup map di tangannya. “Pak Arkana juga meminta agar dokumen yang diberikan bukan salinan yang sudah disesuaikan ulang setelah permintaan ini keluar.”
Netra Rendra bergerak cepat ke wajah Saka. “Apa maksudnya?”
“Dokumen asli pendukung proyek.” suara Saka tetap tenang. “Dengan tanggal, sumber, dan keterangan yang jelas.”
Rendra tersenyum kaku. “Baik.”
Saka mengangguk singkat. “Kalau begitu, saya tunggu besok.”
Setelah mengatakan itu, Saka meninggalkan ruangan.
Begitu pintu tertutup, Rendra melempar map ke atas meja.
Clara masuk beberapa saat setelahnya. “Pak Saka baru saja keluar dari ruanganmu, apa yang diminta kali ini?”
“Dokumen fisik.” jawab Rendra singkat seraya mengusap wajahnya kasar.
“Dokumen fisik yang mana lagi? Bukankah kamu bilang sudah lengkap dan menunggu final saja?” tanya Clara dengan keterkejutan yang begitu kentara.
Rendra tidak menjawab. Ia sendiri masih tak mengerti mengapa proyek yang ia kerjakan kali ini terasa begitu sulit mendapatkan persetujuan dari Arkana. Tidak seperti proyek sebelumnya yang berhasil membuat ia berada di posisi yang ia dapatkan saat ini.
“Ren... Namaku ada di beberapa revisi lampiran,” ucap Clara cemas.
“Aku tahu." jawab Rendra singkat.
“Kalau mereka memeriksa jalur dokumen, aku bisa ikut terseret,” ucap Clara berusaha menutupi kepanikan yang sudah mendera.
Rendra menatap wanita yang kini berdiri di depan meja kerjanya tanpa perubahan ekspresi. “Kau hanya melakukan bagianmu.”
“Bagian yang kau minta,” tekan Clara mengingatkan. “Jangan sampai nanti semuanya terlihat seperti aku yang mengubah dokumen, sementara kau berdiri di belakang dengan tangan bersih.”
Tatapan Rendra berubah sedingin es. “Jaga ucapanmu.”
Clara terhenyak, ini pertama kalinya Rendra bicara sedingin itu padanya, tetapi ketakutan membuat ia kembali bicara. “Aku tidak mau dikorbankan, Ren.”
Senyum tipis muncul di bibir Rendra. Bukan senyum menenangkan, melainkan senyum yang membuat Clara merasa udara di ruangan mendadak menipis.
“Dikorbankan?” ulang Rendra denan alis terangkat, kemudian tertawa pelan. “Kau pikir, kau berdiri di posisi apa sampai merasa punya hak memilih?”
Kalimat itu membuat wajah Clara memucat. “Apa maksudmu?”
Rendra bangun dari duduknya, berjalan mendekat, dan berhenti tepat di depan Clara. Tangannya ia letakkan di sisi meja, mengurung Clara di antara kedua tangannya.
“Kau ada di proyek ini karena aku membiarkanmu masuk, Clara. Kau lupa? Namamu muncul di revisi karena kau berguna. Dan kalau suatu hari ada yang harus menjelaskan bagian itu…” Rendra menatap Clara lekat, tangannya terangkat menyentuh wajah Clara. “Tentu orang yang menulis revisi harus siap bicara.”
Kedua mata Clara melebar, menatap Rendra dengan rasa tak percaya. “Kau... Kau menjadikan aku sebagai tameng?”
“Jangan dramatis.” Rendra menahan dagu Clara agar tetap menatapnya.
“Rendra!”
“Kau ingin tetap berada di sisiku, bukan?” suara Rendra tetap tenang. “Maka buktikan kau berguna.”
. .. . .
. .. .
To be continued...
Suwi marine 😀
Semangat Rendra ya, ku tunggu dudamu karena aq udah nyiapin tim hore ini 😛💪