NovelToon NovelToon
BAYANG-BAYANG MASA LALU Kembar Rahasia Sang Artis Cantik

BAYANG-BAYANG MASA LALU Kembar Rahasia Sang Artis Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Single Mom / Mengubah Takdir
Popularitas:976
Nilai: 5
Nama Author: Nina Jaya

Alena Kirana adalah seorang aktris papan atas yang berada di puncak popularitasnya. Namun,
sebuah kesalahan yang terjadi di satu malam yang dilakukan bersama seorang pria misterius yang ternyata adalah sutradara
sekaligus pewaris tunggal konglomerat dan sangat kejam kepada wanita yg berani menganggu hidupnya, Adrian Dewangga. Ketakutan akan hancur karirnya tidak dia pedulikan asalkan dia selamat dari pria ini . Alena memilih mengundurkan diri dan menghilang total dari panggung hiburan, bersembunyi sangat jauh dari orang-orang yang dia kenal.
Di sana, dia hidup dalam kesunyian, dia melahirkan dan membesarkan dua anak perempuan kembar yang cantik Kiara dan Kiana. Enam tahun berlalu, rahasia yang terkunci rapat itu mulai koyak ketika takdir
membawa Adrian kembali ke hadapannya, menuntut jawaban atas malam kelam yang tak pernah bisa dia lupakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Jaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kedatangan Sang Patriark

Suara deru mesin mobil-mobil mewah yang berhenti di pelataran depan rumah Menteng terdengar bagai dentang lonceng kematian di telinga Alena. Bel gerbang utama yang ditekan secara konstan dan kasar menciptakan gelombang kepanikan yang instan di dalam rumah yang biasanya sunyi itu. Petugas keamanan yang masuk dengan wajah sepucat kapas dan napas yang memburu sudah cukup menjadi indikator bahwa tamu yang datang bukanlah orang sembarangan.

Baskoro Dewangga. Sang patriark, pria yang memegang kendali penuh atas gurita bisnis Dewangga Group, sekaligus ayah kandung Adrian.

Alena merasakan seluruh persendiannya mendadak kaku. Sendok di tangannya terlepas, berdenting keras di atas piring porselen sebelum jatuh ke atas meja makan. Rasa mual yang sejak pagi membayangi rahimnya kini berganti menjadi rasa sesak yang menghimpit dada. Ia tahu, cepat atau lambat, benteng pertahanan yang dibangun Adrian akan menghadapi ujian terbesar dari dalam keluarganya sendiri.

Namun, ia tidak pernah menduga bahwa ujian itu akan datang secepat ini, bahkan belum genap dua puluh empat jam setelah foto pernikahan mereka dirilis ke publik.

"Alena, tetap di sini. Jangan bergerak dari kursimu," perintah Adrian. Suaranya mendadak berubah menjadi sangat dingin, datar, dan sarat akan otoritas yang mutlak.

Adrian berdiri dari kursi makan, merapikan kemeja katun biru mudanya yang sedikit kusut, lalu melangkah menuju lobi utama untuk menghadang sang ayah. Namun, sebelum Adrian sempat mencapai pintu penghubung ruang tengah, sosok yang ditakuti itu sudah melangkah masuk terlebih dahulu dengan kawalan dua orang pria berbadan tegap yang mengenakan setelan safari hitam.

Baskoro Dewangga melangkah dengan tongkat berkepala perak di tangan kanannya, meskipun langkah kakinya masih tampak sangat tegap dan kokoh untuk pria berusia kepala enam. Rambutnya yang memutih disisir rapi ke belakang, dan sepasang matanya yang tajam bak elang langsung menyapu seluruh ruangan sebelum akhirnya mengunci sosok Alena yang duduk mematung di ujung meja makan. Aura kekuasaan yang memancar dari pria tua itu begitu menindas, seolah-olah udara di dalam ruangan itu tersedot habis hanya oleh kehadirannya.

"Jadi, di sini kamu menyembunyikan mainan barumu, Adrian?" suara Baskoro menggelegar, rendah namun bergaung kuat di antara dinding-dinding marmer ruang makan. Tidak ada riak emosi dalam suaranya, hanya ada nada penghinaan yang sangat pekat.

Adrian langsung memasang badan, berdiri tepat di jalur pandang sang ayah untuk menutupi Alena dari tatapan intimidatif tersebut.

"Ayah, ini rumah pribadiku. Jika ada urusan bisnis atau masalah korporasi yang ingin dibahas, kita bisa membicarakannya di kantor dewan komisaris besok pagi, bukan dengan cara menerobos masuk seperti ini."

Baskoro menghentikan langkahnya tepat dua langkah di depan Adrian. Ia menatap putranya dengan senyuman sinis yang membuat bulu kuduk siapa pun yang melihatnya meremang.

"Bisnis? Pernikahan kilatmu dengan seorang aktris yang penuh skandal ini sudah menjadi urusan bisnis terbesar keluarga Dewangga minggu ini, Adrian. Kamu pikir aku tidak tahu apa yang sedang kamu rencanakan dengan tim humasmu?"

Baskoro mengangkat tangan kirinya, memberikan isyarat kepada salah satu pengawalnya. Pria tegap itu maju dan menyerahkan sebuah map dokumen kulit berwarna hitam tebal kepada Baskoro. Dengan gerakan lambat yang sengaja dibuat untuk membangun ketegangan, Baskoro melemparkan map tersebut ke atas meja makan kaca, tepat di samping piring sarapan Alena yang belum habis.

Brak!

"Siska, mantan manajer agensinya, sudah mengirimkan salinan dokumen laboratorium medik wanita ini ke email pribadiku tadi subuh sebelum tim pengacaramu menurunkan utas internet itu, Adrian," ujar Baskoro dengan nada suara yang kini terdengar sangat tajam, menembus langsung ke dasar jantung Alena.

"Wanita ini hamil. Dan kamu dengan bodohnya menyerahkan lehermu, menyerahkan nama baik keluarga kita yang sudah dibangun selama tiga generasi, hanya untuk menjadi pahlawan kesiangan bagi seorang wanita murahan!"

Mendengar kata "wanita murahan" keluar dari mulut sang patriark, Alena merasakan air matanya mendesak keluar di pelupuk mata. Penghinaan itu terasa begitu nyata, merobek seluruh sisa harga diri yang mati-matian ia pertahankan sejak dua garis merah itu muncul di hidupnya. Ia mengepalkan kedua tangannya di bawah meja hingga kuku-kukunya memutih, menahan diri agar tidak terisak di depan pria yang sedang menatapnya bagai seonggok sampah yang mengotori istananya.

"Jaga ucapanmu, Ayah!" bentak Adrian.

Suara Adrian naik satu oktav, memecah kesunyian rumah Menteng dengan ledakan emosi yang jarang sekali ia tunjukkan di depan publik. Rahangnya mengeras, dan sepasang matanya menyalang penuh amarah yang membara. Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah hidupnya Adrian berani membentak sang ayah secara terbuka di depan orang lain.

"Alena adalah istriku yang sah.

Dia adalah Nyonya Dewangga yang baru, dan anak yang dikandungnya adalah anakku! Darah dagingku sendiri!" lanjut Adrian dengan suara berat yang bergetar karena menahan amarah yang mendidih di dalam dadanya. "Apa yang terjadi di antara kami di masa lalu adalah urusan privasi kami sebagai suami istri. Pernikahan ini dilakukan untuk melindungi masa depan keluarga kecilku, dan aku tidak akan membiarkan siapa pun, termasuk Ayah, merendahkan atau mengintimidasi istriku di dalam rumahku sendiri!"

Baskoro tertegun selama satu detik. Ia menatap putranya dengan pandangan yang dipenuhi rasa tidak percaya sekaligus kemarahan yang tertahan. Selama dua puluh enam tahun hidupnya, Adrian selalu menjadi putra mahkota yang penurut, seorang eksekutif muda yang dingin, rasional, dan selalu menempatkan kepentingan bisnis Dewangga Group di atas segalanya.

Namun kini, di hadapannya, Adrian berdiri dengan urat-urat leher yang menegang, siap berperang habis-habisan demi melindungi seorang aktris yang baru dinikahinya kemarin pagi.

"Darah dagingmu, kamu bilang?" Baskoro berjalan memutari Adrian, mendekati sisi meja tempat Alena duduk. Tongkat peraknya mengetuk lantai marmer dengan irama yang menekan psikologis. "Adrian, kamu adalah seorang aktor, tapi tampaknya kamu terlalu banyak membaca naskah drama hingga kehilangan akal sehatmu di dunia nyata. Berapa kali kamu tidur dengan wanita ini sebelum pernikahan mendadak ini terjadi? Sekali? Dua kali? Di dunia hiburan yang kotor itu, bagaimana kamu bisa seyakin itu bahwa janin di dalam rahimnya bukan hasil dari hubungannya dengan pria lain?"

"Cukup, Ayah!" Adrian menerjang maju, mencengkeram lengan jas Baskoro untuk menariknya menjauh dari Alena. Tatapan mata Adrian kini begitu menakutkan, memancarkan naluri protektif seorang pria yang wilayah teritorinya diganggu. "Jangan paksa aku untuk melupakan tata krama sebagai seorang anak. Keluar dari rumahku sekarang juga sebelum aku meminta tim keamanan untuk menyeret pengawal-pengawalmu keluar!"

Baskoro melepaskan cengkeraman tangan Adrian dari lengannya dengan satu sentakan kasar. Ia merapikan kembali kerah jas mewahnya, lalu menegakkan tubuhnya. Tatapan matanya beralih dari Adrian kembali ke arah Alena yang kini sudah menundukkan kepalanya, air matanya menetes satu per satu di atas permukaan meja kaca.

"Kamu memilih jalur perang denganku hanya demi wanita ini, Adrian. Baik," ujar Baskoro, suaranya kembali berubah menjadi sangat tenang—sebuah ketenangan yang jauh lebih berbahaya daripada bentakan badai tadi. Pria tua itu berjalan menuju pintu keluar lobi, namun menghentikan langkahnya di ambang pintu untuk memberikan ultimatum terakhirnya.

"Aku tidak akan membatalkan pernikahan ini atau mengumumkannya ke media massa sekarang, karena aku tidak ingin harga saham Dewangga Group anjlok akibat skandal domestik putranya," kata Baskoro tanpa menoleh kembali. "Tapi dengarkan ultimatumku baik-baik, Adrian. Mulai hari ini, aku mencabut seluruh hak aksesmu terhadap dana darurat konsorsium keluarga. Wanita ini, Alena Putri, tidak akan pernah mendapatkan satu persen pun saham, aset, atau hak waris dari garis utama keluarga Dewangga."

Baskoro membalikkan badannya sedikit, menatap Alena dengan pandangan meremehkan yang sangat dingin. "Dan setelah anak itu lahir ke dunia sembilan bulan lagi, aku sendiri yang akan membawa tim medis independen untuk melakukan tes DNA secara rahasia. Jika hasil tes itu membuktikan bahwa ada satu kebohongan kecil saja dari wanita ini tentang asal-usul anak itu... aku akan memastikan kalian berdua hancur, kehilangan seluruh karier kalian di industri, dan hidup menggelandangan di jalanan tanpa memegang satu rupiah pun. Ingat itu, Adrian."

Setelah mengucapkan kalimat kutukan yang sarat akan ancaman finansial dan sosial tersebut, Baskoro Dewangga melangkah pergi diikuti oleh para pengawalnya. Suara pintu gerbang besi depan yang tertutup dengan dentuman keras menandakan bahwa sang penguasa telah meninggalkan medan perang pertamanya, meninggalkan keheningan yang begitu pekat dan mencekam di dalam rumah Menteng.

Alena tidak mampu lagi menahan beban emosional yang menghimpit batinnya sejak tadi. Begitu suasana rumah kembali sunyi, seluruh kekuatan tubuhnya seolah menguap. Bahunya terguncang hebat, dan isak tangisnya yang tertahan akhirnya pecah memenuhi ruang makan yang luas itu. Penghinaan dari Baskoro terasa begitu menyakitkan, menusuk langsung ke bagian paling rapuh dari harga dirinya sebagai seorang wanita dan calon ibu.

Adrian tidak membuang waktu. Ia langsung melangkah cepat mendekati kursi Alena, lalu mengambil posisi berlutut di samping wanita itu. Tanpa keraguan atau kecanggungan yang biasa mereka miliki sebagai rekan tim, Adrian mengulurkan kedua belah tangannya yang kekar, menarik tubuh Alena yang bergetar ke dalam pelukannya yang erat.

"Maafkan aku... Alena, maafkan aku. Maafkan atas semua ucapan kejam ayahku," bisik Adrian dengan suara yang parau, tepat di dekat telinga Alena.

Adrian membekap kepala Alena di dadanya, membiarkan air mata wanita itu membasahi kemeja katun birunya. Tangan kanan Adrian mengusap punggung Alena dengan gerakan yang lambat dan konsisten, mencoba mengalirkan kehangatan serta rasa aman yang sempat hancur oleh kedatangan Baskoro tadi. Genggaman tangan dan kekuatan pelukan Adrian pada detik itu terasa bagai satu-satunya tempat perlindungan yang nyata bagi Alena di tengah dunia yang mendadak berubah menjadi monster yang ingin mencabik-cabiknya.

Alena mencengkeram erat kain kemeja di dada Adrian dengan kedua tangannya, menangis sejadi-jadinya di sana. Rasa takut bahwa bayinya akan dianggap sebagai aib, rasa takut bahwa ia akan diasingkan oleh keluarga besar suaminya, semua tumpah dalam tangisan yang memilukan. Di balik dinding kaca sangkar emas ini, ia baru menyadari bahwa musuh yang ia hadapi bukan lagi sekadar Siska dan agensi lamanya, melainkan sebuah dinasti raksasa yang tidak memiliki belas kasihan jika menyangkut masalah nama baik korporasi.

Namun, di tengah badai air mata itu, ada satu hal yang mulai tertanam dengan kuat di dalam benak Alena. Pria yang sedang memeluknya saat ini pria yang awalnya ia takuti karena keterlibatan mereka dalam malam tragis dua minggu lalu telah memilih untuk berdiri tegak di depannya, menantang ayah kandungnya sendiri, dan mempertaruhkan seluruh hak waris serta posisinya di perusahaan demi melindunginya.

Ikatan "rekan tim" yang mereka sepakati di bawah jam dua belas malam kemarin kini telah resmi dibaptis oleh air mata dan konfrontasi darah, berubah menjadi sebuah komitmen nyata yang menolak untuk goyah di hadapan ancaman dunia luar. Badai telah resmi dimulai, dan di dalam pelukan hangat Adrian, Alena bersiap untuk bertahan demi kehidupan kecil yang detak jantungnya baru saja mulai berdenyut di dalam rahimnya.

1
Jessica
manager nya berkuasa banget
Aisyah
hamil tiba tiba
Aisyah
novel nya yang bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!