Pada masa putih abu-abu. Jeviza menjalin cinta dengan Keandra, tetapi baru 1 tahun pacaran, hubungan keduanya harus berakhir karena sebuah kesalah pahaman. Lalu keduanya dipertemukan lagi setelah 2 tahun berpisah, lebih gilanya, Jevi dan Kean berada di satu rumah. Seatap dengan mantan itu lah yang terjadi setelah perpisahan.
Mantan tapi masih cemburu, cinta tapi gengsi menjadi bumbu kehidupan keduanya setelah berada di satu rumah yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riria Raffasya Alfharizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memperhatikan Dalam Diam
Udara malam di sekitar kamarnya terasa begitu nyata, semakin sunyi dan menenangkan, namun ketenangan di sekitar Jeviza tidak berlaku untuk gadis itu sekarang.
Kata-kata Puspa tadi terus menggrogoti pikirannya, memaksa Jeviza untuk mencari tahu lebih dari sekedar apa yang dikatakan Puspa tadi. Tentang "tuntutan"
Jeviza membalikan diri, kakinya di atas bantal, berbanding terbalik dengan kepalanya.
"Maksud kak Pus, apa sih?"
"Kak Kean dituntut? Dituntut apa? Dia kan sudah pintar," gumamnya.
Lalu ingatan Jeviza kembali pada moment dimana ketika mereka masih di bengkel, menunggu hujan di luar reda, Kean memang kerap sekali fokus pada layar laptopnya, terlihat sangat serius sekali. Tetapi ketika hujan mereda dan Jeviza meminta untuk pulang, Keandra langsung mengiyakan, menutup laptopnya yang mungkin berisi pekerjaannya.
"Gue nggak tahu, apa yang lo lalui kak, dua tahun selama ini," gumamnya lagi.
Ada perasaan bersalah ketika mengingat penjelasan keandra kemarin malam. Bahwa, ternyata selama ini Jeviza salah paham dan lebih memilih pergi dari pada meminta penjelasan langsung. Ada keinginan dalam hatinya, jika ia akan meminta maaf atas apa yang sudah terjadi.
Keandra sudah meminta maaf secara langsung dengannya, sementara Jeviza memang belum mengatakan apa-apa.
Ia mengambil ponsel miliknya. Berniat mengirim chat pada Bela, namun ia urungkan, ada keraguan yang merayap dalam dadanya.
Selama ini, Bela selalu mencari tahu tentang Keandra, dan setiap kali Bela ingin memberitahu informasi tentang Keandra, Jeviza dengan tegas menolak, bahkan kampus tempat Keandra melanjutkan kuliahnya pun sebenarnya Bela sudah mengetahuinya, hanya saja Jeviza selalu dibutakan oleh kesalah pahamannya itu. Ia menolak dengan keras apapun berita tentang Keandra Nabastala. Cowok yang ia kira telah mengkhianatinya.
Siapa sangka dari sikap masa bodohnya Jeviza itu, ia justru terperangkap sendiri, berada di satu kampus yang sama, dan bahkan tinggal di rumah yang sama dengan Keandra.
Jeviza menggulir layar ponselnya agar rasa ngantuk datang padanya, tetapi untuk kedua kalinya, entah suatu kebetulan atau memang telah direncanakan oleh takdir, salah satu akun milik teman Keandra, cowok yang Jeviza juga kenal mengunggah sebuah foto dengan latar belakang kafe milik cowok itu sendiri, Gio. Akun Gio tiba-tiba muncul begitu saja di beranda.
"Kak Kean ke kafe, kak Gio?" gumamnya masih dengan sorot mata lekat pada foto Keandra yang terlihat tertidur di sofa.
Pantas saja Keandra belum menampakan dirinya, rupanya kepergian Keandra tadi untuk menemui teman-temannya, tetapi ada perasaan menggelitik melihat salah satu komentar dari teman Keandra yang akhir-akhir ini cukup gencar mendekatinya.
Sebenarnya biasa saja tulisan komentar tersebut, tetapi kata "pekerja keras" membuat ingatan Jeviza jatuh pada obrolan bersama dengan Puspa tadi.
Rasa penasaran semakin melingkupi diri Jeviza. Apa sebenarnya yang terjadi dengan Keandra? Kenapa Jeviza merasa seperti ditarik lagi pada kehidupan cowok itu? Padahal sudah sangat jelas jika kisah keduanya telah lama usai.
...****************...
Keandra terbangun sekitar pukul 11 malam. Tidak jauh dari tempatnya tidur, Gio dan Januar sedang bermain game di ponsel, sementara Bian fokus pda layar laptop di depannya.
"Bangun juga lo," ujar Gio melirik Keandra sekilas, sebelum fokus kembali pada layar ponselnya.
Keandra duduk dengan diam, lalu melirik Bian yang sama sekali tidak terusik, Bian hampir sama dengan dirinya, selalu menomor satukan tugas kuliah atau pun pekerjaannya, berbeda dengan Gio dan Januar yang terlampau santai, bahkan dosen pembimbing Januar dibuat geleng-geleng kepala karena cowok itu.
"Gue balik," ujar Keandra meraih jaket miliknya, lalu memakainya sebelum melangkah pergi.
"Tidur sini aja lah, Ke. Baru bangun takut nggak fokus gue," celetuk Gio.
Tidak ada jawaban dari Keandra membuat Gio mendongak, menatap Keandra yang sedang memasukan ponsel miliknya.
"Pulang ke apart, lo?" tanyanya lagi.
Keandra menggeleng, ia lebih memilih pulang ke rumah Arlo meski jaraknya paling jauh. Ada seseorang yang membuat Keandra lebih betah di rumah itu sekarang, tetapi juga ancaman setiap kali ia larut memperhatikan Jeviza begitu dalam.
Terkadang Keandra merasa tidak bisa mengontrol dirinya, keinginan untuk menarik Jeviza kedalam dekapannya sangat lah besar, dan itu salah satu alasan yang membuat Keandra tiba-tiba pergi tadi.
Dada Keandra bergemuruh sangat hebat di dalam sana, ia tenggelam dalam keinginannya sendiri.
"Jangan ngaco lah Ke, rumah mas Arlo jauh, udah malam gini." kini Januar yang ikut berkomentar. Lalu melirik pada Bian yang tidak bereaksi apa-apa.
"Aman, gue balik dulu, nggak enak sama mas Arlo."
Keandra benar-benar pergi meninggalkan teman-temannya yang menggeleng karena kepergiannya.
"Batu banget dibilangin, yakin gue kalau mata-mata bokapnya tahu, bakal diceramahi pasti." Gio mendengus antara kesal dengan Keandra yang keras kepala, juga khawatir.
Motor Keandra memasuki gerbang rumah sekitar tengah malam. Keadaan rumah sudah sangat sepi dan juga gelap. Keandra mengambil kunci cadangan rumah itu, lalu masuk dengan sangat tenang, seakan setiap langkahnya yang bersuara mampu membangunkan penghuni rumah yang sudah terlelap.
Sudah menjadi kebiasaan, setiap kali Keandra berdiri di depan pintu kamarnya, ia pasti akan menatap pintu kamar Jeviza sebelum benar-benar menghilang dari balik pintu kamarnya.
Pagi harinya. Jeviza bangun lebih awal karena Puspa sempat menelponnya dan memberitahu jika ia dan Arlo pergi ke pasar pagi untuk membeli seafood.
Jeviza tidak bisa tidur lagi dan memilih untuk keluar kamar, ia menatap pintu kamar Keandra yang tertutup rapat, penasaran apakah Keandra sudah pulang atau menginap di luar.
"Sumpah, otak gue kenapa ke dia, mulu sih?"
Dengan malas Jeviza turun ke lantai bawah, berniat mendinginkan otaknya agar lebih bisa berpikir dengan jernih, tanpa berniat membersihkan diri terlebih dahulu.
Suasana rumah masih sangat sepi, bahkan belum ada tanda-tanda sinar matahari muncul dari balik celah jendela, di luar juga masih cukup gelap.
Jeviza mengambil air minum, lalu setelah meneguk sampai tandas, bukannya pergi ke kamarnya malah ke ruang tengah, ia merebahkan diri di sofa dan kembali memejamkan mata. Melanjutkan tidur di sofa ruang tengah tanpa memikirkan seseorang yang baru saja masuk dengan setelan baju olahraga kini berdiri di depannya. Menatap wajah damai Jeviza dengan rambut yang sedikit menutupi wajah cantiknya.
Keandra mendekat, berlutut di depan wajah Jeviza yang terlelap, tangannya terangkat untuk menyingkirkan rambut nakal yang menutupi wajah cantik itu. Tanpa sadar, jemarinya menyapu permukaan wajah Jeviza, membuat gerakan kecil pada Jeviza karena sentuhan halus Keandra, tetapi mata Jeviza masih tertutup, dan bahkan mencari posisi yang semakin nyaman.
Napas Keandra tercekat saat tanpa sadar Jeviza memperlihatkan belahan bibirnya yang terbuka. Bibir semanis cerry yang dulu sering ia rasakan, kini ada di depan matanya, tetapi untuk menyentuh pun Keandra masih tahu batasan.
"Sial," umpatnya beranjak.
Ia melirik Jeviza dengan jakun naik turun, lalu berbalik badan untuk mendinginkan diri. Menghilangkan gejolak yang hampir merenggut kewarasannya.
bomloppp deh😍
tahan ke,,, tahan!!!