Dunia baru, aturan baru: yang kuat makan, yang lemah dimakan.
Yudha terbangun di dunia asing dengan membawa Apocalypse Hunger System—kekuatan yang bisa melahap apa saja untuk menjadi lebih kuat, tapi dengan harga: ia harus selalu lapar, atau dunia ini yang akan menanggung akibatnya.
Dingin, pragmatis, dan tidak percaya pada siapa pun, ia hanya punya satu tujuan: bertahan hidup, menjadi yang terkuat, dan tidak akan pernah lagi merasakan kelaparan atau diinjak-injak seperti masa lalunya.
Segalanya berubah saat ia bertemu Carmelia—anak kecil polos yang ia anggap hanya sebagai petunjuk jalan dan alat bantu. Di balik senyum dan sikap lembutnya, tersembunyi sesuatu yang jauh lebih tua, jauh lebih gelap, dan jauh lebih berbahaya daripada sistem yang ada di dalam tubuh Yudha sendiri.
Dari pemangsa, ia perlahan sadar: ia mungkin bukan yang berburu... tapi justru yang sedang diburu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xian Nying, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 : Sonata of Chaos
Pintu batu raksasa lantai lima puluh dua tertutup rapat dengan dentuman yang menggetarkan seluruh fondasi labirin. Debu-debu kuno beterbangan, menari perlahan di bawah cahaya remang yang kian memudar. Di hadapan kami, koridor panjang yang seolah tak berujung terbentang luas—suatu hamparan lantai dari batu obsidian yang memantulkan setiap langkah kami dengan kejernihan yang terasa menyakitkan di mata.
Lantai lima puluh tiga: The Mirror Labyrinth.
Tempat ini bukan sekadar ruangan biasa; ini adalah wujud nyata dari segala trauma dan kelemahan yang selama ini kami sembunyikan rapat-rapat. Baru saja kami melangkah masuk ke tengah aula, pintu di belakang kami langsung tersegel sempurna dengan denting sihir yang terdengar begitu final. Tak ada jalan kembali. Dinding hitam yang mengelilingi kami mulai berdenyut pelan, seolah memiliki detak jantungnya sendiri. Permukaan cermin itu kini tak lagi sekadar memantulkan bayangan, melainkan memuntahkan dua sosok makhluk—duplikasi sempurna kami yang turut membawa biola dan belati yang sama persis.
Tanpa sepatah kata pun, Yudha mundur perlahan kembali ke dalam kegelapan lorong, membiarkan kami terjebak sendirian dalam teka-teki yang membawa maut ini. Suaranya menggema dingin di udara, tanpa sedikit pun rasa ampun. “Lantai ini adalah sebuah cermin. Ia memunculkan versi ‘sempurna’ dari diri kalian. Buktikan padaku apakah kalian ini aset berharga atau sekadar beban tak berguna. Jangan mati sebelum aku memberi izin.”
Pertarungan meletus dalam sekejap mata. Bayangan-bayangan itu mampu mengantisipasi setiap gerakan kami dengan ketepatan yang terasa menghina.
[POV: Lyra]
Aku merasakan sensasi déjà vu yang memuakkan saat sosok bayangan itu meniru setiap gerak-gerikku. Saat aku hendak menarik busur biola untuk memainkan nada penyeimbang, sosok itu sudah lebih dulu memotong aliran frekuensi yang kubangun. Setiap resonansi yang berusaha kususun dihancurkan seketika bahkan sebelum sempat mencapai puncak kekuatannya. Aku mencoba mengatur napas dan fokus, namun bayangan itu terus menekan tanpa henti, memaksaku bertahan dalam posisi defensif yang sangat menguras tenaga.
“Lyra, aku udahhh sampaii bataskuuu!” seru Carmelia.
Suaranya terdengar parau, penuh kepanikan yang jarang sekali kudengar keluar dari mulutnya. Di sebelahku, Carmelia tampak benar-benar terdesak. Bayangan dirinya bergerak dengan kecepatan yang tak masuk akal.setiap tebasan yang dilancarkan murni berupa antisipasi atas apa yang akan dilakukan Carmelia. Aku berusaha melemparkan perisai pelindung, namun bayangan diriku memukul lenganku dengan gelombang energi sonik yang hebat, membuat napasku tercekat seketika. Cadangan manaku semakin menipis, tersedot habis hanya sekadar untuk mempertahankan posisi agar tidak tumbang di tempat.
Aku menatap tajam ke arah biola di tanganku, dibalut rasa benci yang mulai membara di dada. Jika memang ini adalah akhirnya—jika takdirku memang harus berakhir di tangan bayangan diriku sendiri—maka aku takkan mati sebagai sampah yang tak berguna. Aku harus mengambil risiko terbesar dalam seumur hidupku. Aku meletakkan biola itu ke lantai, membiarkan jemariku menyusuri dan membelai lekukan kayu instrumen yang begitu kukenal itu. Dengan napas yang memburu dan berat, aku menyalurkan sisa tenaga manaku ke setiap serat kayunya, memaksanya masuk dan mengaktifkan mode Fase 2.
Kemampuan pemulihan manaku adalah nyawaku. Namun kali ini, aku harus membakarnya sebagai tumbal demi kekuatan yang lebih besar.
Biola ku perlahan terangkat melayang ke udara, diselimuti kabut kegelapan yang mulai menelan sisa-sisa cahaya di ruangan itu. Aku berbisik pelan, namun suaranya menggema nyaring di antara dinding-dinding obsidian."Lantas...kalau memang ini takdirku,kalah secara memalukan oleh bayanganku sendiri karena terlalu lemah..maka...akan ku ubah takdirku...menjadi kekalahan yang terhormat...Kupersembahkan kepada kalian...Lagu ini... berjudul Sonata of Chaos.”
DUAARRR!!!!
Seketika ledakan megah yang mematikan namun indah terpancar membentuk zona domain untukku dan Carmelia
Stacking 1…
Aku memetik senar pertama. Suara yang keluar bukan lagi sebuah melodi indah, melainkan jeritan nyaring yang seolah merobek ruang dan waktu. Sosok bayangan musuh itu sampai terhuyung ke belakang. Di saat yang sama, aku merasakan sensasi aneh di dalam inti tubuhku—aliran mana yang biasanya mengalir deras untuk memulihkan staminaku kini terhenti paksa. Aku memutuskan sendiri sistem pemulihan alami itu demi mendapatkan kekuatan yang tak masuk akal ini.
Stacking 2…
Aku menanggungkan beban berat ke atas jiwaku. Kecepatan pemulihan manaku melambat drastis, nyaris membeku sama sekali. Sebagai gantinya, biolaku mulai memancarkan energi berwarna ungu yang berdenyut liar, hingga membuat seluruh lantai labirin ikut bergetar hebat. Aku menukar kemampuan memulihkan diri di masa depan demi mendapatkan kekuatan dahsyat yang kubutuhkan saat ini juga.
Stacking 3…
Setiap musuh yang belum sempat kutandai, kekuatan dan atribut mereka mulai terlucuti satu per satu. Aku bisa merasakan energi mereka mengalir keluar, tersedot menjadi bahan bakar utama bagi lagu sonata ini. Semakin tinggi jumlah tumpukanku, semakin lambat pula manaku kembali pulih, namun resonansi yang dihasilkan kian lama kian dahsyat dan mematikan.
Stacking 4…
Efek penekanan itu mulai mencekik napas mereka. Para bayangan itu mulai limbung tak berdaya; gerakan mereka tak lagi sempurna seperti awalnya. Mereka mulai membuat kesalahan-kesalahan kecil—sebuah ketidaksinkronan yang justru menjadi celah fatal bagi mereka.
Stacking 5!
Dunia di hadapanku seolah terdistorsi dan berubah wujud. Aku kini berada di puncak kekuatan Fase 2. Efek pemulihan perlahan merambat di sekujur kulitku dan tubuh Carmelia, menutup luka-luka kami yang tadinya menganga lebar. Aku bukan lagi sekadar seorang pemusik; aku adalah konduktor kehancuran yang tak mungkin lagi dihentikan.
[POV: Carmelia]
Saat nada Sonata of Chaos mencapai puncaknya, seluruh insting bertahanku meledak seketika. Kecepatan gerakku meningkat hingga dua kali lipat—dunia di sekitarku terasa seolah berjalan dalam gerakan lambat, memungkinkanku melihat setiap celah kecil yang ada di pertahanan lawan. Berkat kekuatan pendorong dari Lyra, instingku mencapai titik kematangan tertinggi. Tingkat serangan kritis milikku melonjak drastis dari 70% menjadi 90%. Setiap serangan yang kulancarkan sekarang adalah vonis mati yang pasti.
“Ini balasan dariku, Lyra!” seruku lantang.
Aku menghentakkan kakiku ke lantai, memanggil keluar kekuatan wilayah berwarna emas. “Emperor Shield!”
Kekuatan wilayah ini tercipta mengelilingi tubuhku, menahan segala serangan fisik maupun sihir yang menghujam dari segala arah dengan pertahanan yang memiliki sifat unik. Namun, keajaiban yang sesungguhnya justru ada pada sinergi kekuatan ini dengan Sonata of Chaos. Saat para bayangan itu menyerang tamengku dengan putus asa, tenaga serangan mereka tidak hilang begitu saja. Energi kinetik dari setiap benturan keras itu diserap oleh Emperor Shield, lalu dikonversi menjadi aliran energi murni yang kembali memperkuat resonansi biola milik Lyra.
Kekuatan Emperor Shield ini kini menjadi panggung bagi tarian mematikanku. Aku melesat ke sana kemari, menari lincah di sela-sela serangan musuh. Belatiku membelah udara mengikuti ritme yang ditentukan oleh alunan melodi Lyra. Sret! Sret! Setiap tebasan yang kulakukan bukan lagi sekadar serangan biasa, melainkan sebuah eksekusi yang sangat presisi. Sosok-sosok bayangan itu hancur berantakan, tak lagi mampu mengimbangi kecepatan dan kekuatan yang kini kami miliki. Kami tidak lagi sekadar bertahan hidup; kami sedang mendikte jalannya pertarungan ini.
[POV: Yudha]
Aku melangkah keluar dari kegelapan setelah keheningan menyelimuti seluruh penjuru labirin. Pemandangan kehancuran di hadapanku ini terasa sangat memuaskan hati. Lyra berdiri tegak meski pupil matanya tampak memudar, tubuhnya nyaris ambruk karena dia rela mematikan fungsi pemulihan mananya sendiri demi melantunkan Sonata of Chaos itu. Di sampingnya berdiri Carmelia, napasnya teratur dan stabil di balik sisa-sisa cahaya emas kekuatan Emperor Shield yang perlahan memudar.
Kekuatan di Fase 2 itu... apa yang baru saja mereka tunjukkan jauh melampaui dugaanku. Lyra berani mempertaruhkan kestabilan sistem mananya dengan mengorbankan seluruh kemampuan pemulihannya demi mendapatkan daya hancur yang mutlak. Sementara itu, Carmelia telah berevolusi menjadi seekor predator yang tak lagi tersentuh. Aku tak butuh penjelasan teknis mengenai bagaimana sistem penumpukan kekuatan itu bekerja; aku sudah melihat bukti nyata hasilnya di lantai labirin yang kini hancur berkeping-keping.
Mereka bukan lagi sekadar bidak catur yang bergerak hanya karena perintahku. Mereka adalah Abyssal Chord. Mereka adalah senjata yang baru saja ditempa dan diasah tajam dengan darah serta melodi kehancuran. Aku menatap mereka tanpa ekspresi apa pun, meski rasa Kerakusan yang ada di dalam diriku bergejolak hebat karena rasa puas.
“Sonata of Chaos,” ucapku dengan nada dingin, suaraku memecah keheningan di antara sisa-sisa bayangan yang kini telah berubah menjadi debu cahaya. “Kalian telah membuktikan bahwa kalian bukan lagi beban. Akumulasi resonansi dan energi kinetik yang kalian lakukan... itu adalah cara yang cukup efisien untuk menghapus keberadaan musuh sampai ke akarnya.”
Aku menatap mereka dengan wajah datar, mengabaikan kondisi tubuh mereka yang masih bergetar hebat karena sisa tenaga yang terkuras habis. Aku tidak melontarkan sepatah kata pujian pun, karena pujian hanyalah racun bagi mereka yang berambisi mencapai puncak tertinggi.
"Tapi Ingat...Setidaknya kedepan kau harus memastikan bahwa dengan satu lagumu itu membuat musuh mati"
Mereka sudah paham betul apa yang harus dilakukan selanjutnya tanpa perlu aku perintah lagi. Mereka berdiri di sana, dikelilingi puing-puing cermin yang masih berpijar samar, menjadi saksi nyata atas potensi besar yang baru saja mereka lepaskan.
“Berdirilah,” perintahku tanpa menoleh ke belakang. “Lantai lima puluh empat sudah menunggu. Aku sudah memutuskan untuk menempa kalian mulai sekarang...Bersiaplah karena mulai kedepannya...tidak akan semudah sekarang...”
Aku berbalik arah, kembali melangkah masuk ke dalam koridor gelap yang menuju ke tingkat berikutnya. Di belakangku, aku bisa mendengar!...suara langkah kaki mereka—langkah yang terdengar jauh lebih mantap, langkah milik dua orang yang baru saja menyaksikan sendiri sekilas dari potensi sejati diri mereka. Labirin cermin ini telah menguji mereka habis-habisan, dan mereka berhasil memecahkan teka-tekinya dengan gemilang.
Di balik bayang-bayang kegelapan lorong itu, aku menyunggingkan senyum tipis. Ternyata, Abyssal Chord memiliki melodi yang jauh lebih gelap dan jauh lebih indah daripada yang pernah kubayangkan. Pertunjukan ini baru saja memasuki babak yang jauh lebih menarik dari sebelumnya. Kami terus berjalan menjauh, meninggalkan lantai lima puluh tiga yang telah hancur lebur, menuju kedalaman yang lebih dalam lagi, menuju tantangan yang jauh lebih mematikan. Lyra mungkin kini kelelahan parah dengan sistem mananya yang terkunci sementara, namun matanya—tatapan matanya itu menunjukkan bahwa dia tetap siap menyanyikan melodi berikutnya, kapan pun aku membutuhkannya.