Akibat jebakan obat di malam perjamuan, Aruna berakhir di ranjang bos besarnya yang dingin, Adrian. Namun, sebuah garis dua di testpack mengubah segalanya. Batasan profesional di atas kertas itu perlahan runtuh saat seorang anak kecil—buah cinta kandung dari malam penuh skandal itu—hadir di antara mereka, memaksa hubungan ini berjalan jauh melampaui batasnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agatha soul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Jarum jam di dinding sudah hampir menunjukkan pukul dua belas siang. Di sofa, Aruna masih berkutat dengan beberapa lembar terakhir yang kuberi tadi. Suasana ruanganku mendadak tenang, hanya diiringi suara ketikan keyboard-ku dan sesekali helaan napas pasrah dari sekretaris baruku itu.
BRAK.
Pintu ruanganku tiba-tiba didorong terbuka dengan kasar tanpa ada ketukan sama sekali. Kepala Gavin langsung menyembul dari balik pintu dengan cengiran khasnya.
"Ian, makan siang bareng—"
Kalimat Gavin langsung terputus di udara. Langkah kakinya yang tadinya lebar mendadak mandek di tempat. Di sofa, Aruna otomatis melonjak kaget sampai pulpen di tangannya hampir terlepas. Dia menatap Gavin dengan mata membelalak, jelas syok melihat ada orang yang berani masuk ke ruangan Direktur Utama seperti mendobrak pintu kamarnya sendiri.
Gavin pun tidak kalah syok. Matanya bergerak bergantian menatapku yang duduk di balik meja, lalu beralih menatap Aruna yang duduk dikelilingi tumpukan map di atas sofa. Ekspresi jenaka langsung tercetak jelas di wajah sahabatku itu. Dia tahu betul aturan mutlak yaitu ruangan ini adalah wilayah steril. Selama perusahaan berdiri, mau sebanyak apapun pekerjaan yang menumpuk, tidak pernah ada satupun sekretaris yang diizinkan bekerja di dalam ruangan pribadiku selagi aku ada di sana. Kecuali Gavin.
Tapi sekarang, melihat Aruna di sini, Gavin langsung paham ada pengecualian baru yang sedang terjadi.
Sialan. Senyum miring penuh arti mulai terukir di wajah Gavin. Dia melangkah masuk, sengaja berjalan memutar melewati sofa tempat Aruna duduk sambil melemparkan senyuman ramah yang kelewat manis.
Aruna yang merasa canggung refleks membalas senyuman Gavin dengan sopan, sebelum akhirnya buru-buru menundukkan kepala dan kembali berpura-pura fokus pada kertas di pangkuannya. Wajahnya agak merona, mungkin merasa tidak enak karena tertangkap basah menginvasi ruangan bos besar oleh manajer operasional.
"Ada apa?" tanyaku dingin, sengaja memasang suara berat untuk menghentikan tatapan menggoda Gavin pada sekretarisku.
Gavin menghentikan langkahnya di depan mejaku, bersandar dengan santai. "Ya mau ngajak lo makan sianglah. Kebetulan tugas operasional yang gue kerjain semalam sudah beres. Lo belum makan, kan?"
Aku mengalihkan pandangan dari Gavin, lalu melirik ke arah sofa. Aruna tampak sesekali mencuri pandang ke arah jam dinding, lalu bergantian menatap dokumen di tangannya dengan wajah lelah. Dia pasti sudah kelaparan karena sejak pagi hanya mengganjal perut dengan bisik-bisik gosip dan beberapa patah kata denganku. Mengingat dia juga sudah membelikanku roti cokelat tadi, kurasa tidak adil kalau aku menahannya lebih lama lagi di sini.
Aku menghela napas panjang, lalu menutup laptop. "Ya. Kebetulan ada beberapa hal yang mau dibahas juga."
Aku berdiri dari kursi, merapikan sedikit kemejaku yang masih agak kusut, lalu mengalihkan perhatianku sepenuhnya pada gadis di sofa.
"Aruna," panggilku datar.
Dia langsung menegakkan punggung. "Iya, Pak Adrian?"
"Kamu boleh istirahat sekarang. Bereskan dokumentasi," perintahku tegas. "Dan ingat, jam satu siang nanti ada rapat internal lanjutan dengan divisi operasional. Jangan sampai telat. Saya tidak suka sekertaris yang tidak disiplin waktu."
"Baik, Pak. Dimengerti," jawabnya cepat, binar lega langsung terpancar dari kedua matanya.
Dengan gerakan cekatan, Aruna langsung menyatukan lembaran-lembaran kertas itu, memasukkan pulpen ke saku kemejanya, dan merapikan tumpukan map ke sudut sofa. Setelah berpamitan singkat padaku dan Gavin, dia langsung melesat keluar ruangan dengan langkah kaki yang terdengar sangat riang.
Begitu pintu menutup, Gavin langsung menyenggol lenganku sambil berbisik kencang, "Kerja di dalam ruangan, Ian? Serius lo? Kemajuan pesat, nih!"
"Diam, Gavin. Jalan atau gue potong anggaran divisi lo bulan depan," ancamku ketus, berjalan mendahuluinya keluar ruangan demi menyembunyikan detak jantungku yang mendadak tidak karuan. Gavin mengekor di belakangku.
Begitu kami melewati meja sekertaris yang di luar kosong, Gavin langsung mempercepat langkahnya hingga sejajar denganku di depan lift.
"Ian, lo utang penjelasan sama gue," bisik Gavin, nadanya tidak lagi bercanda seperti tadi di dalam, melainkan penuh selidik. Dia melipat tangan di dada saat kami menunggu pintu lift terbuka. "Gak biasanya sekretaris dibolehin kerja di dalam ruangan pribadi lo. Jangankan kerja di sofa, Ariana dulu mau naruh dokumen di meja lo aja harus buru-buru keluar karena takut lo semprot. Tapi barusan? Aruna bahkan nyebar berkas di sofa lo kayak di rumah sendiri."
Aku tetap menatap lurus ke depan, memperhatikan angka lift yang bergerak naik ke lantai direksi. Wajahku dikondisikan sedatar mungkin, tidak boleh ada celah sedikitpun yang bisa dibaca oleh si keparat peka ini.
"Dia itu staf junior, Gavin. Baru satu bulan di bagian admin, lulusan SMA pula," sahutku logis, menyusun pembelaan yang sudah kusiapkan sejak tadi. "Hari ini hari pertama dia pegang dokumen direksi yang bahasanya rumit. Dari pada harus terus-terusan ngetok pintu dan bolak-balik masuk cuma buat menanyakan hal-hal sepele yang gak dia mengerti."
Pintu lift berdenting terbuka. Aku melangkah masuk terlebih dahulu, disusul Gavin.
"Konsentrasi gue keganggu makanya gue suruh dia duduk di sofa. Jadi kalau ada istilah yang dia gak paham, dia tinggal tanya dari sana. Efisiensi waktu," lanjutku panjang lebar, menekan tombol lobi utama dengan gerakan tegas. Aku merasa alasan ini sangat profesional dan tidak terbantahkan.
Namun, Gavin tidak sebodoh itu. Dia ikut melangkah masuk ke dalam lift, berbalik menghadapku, lalu bersandar pada dinding lift dengan senyum miring yang sangat menyebalkan.
"Efisiensi waktu, pantatmu!" cibir Gavin pelan, menatapku dengan mata yang menyipit jenaka. "Ian, gue kenal lo bukan baru sebulan dua bulan. Lo itu manusia paling perfeksionis dan gak suka diganggu kalau lagi kerja. Kalau sekretaris lain yang banyak tanya kayak gitu, hari pertama pasti udah lo lempar balik ke HRD kaya si Ariana dulu juga gitu kan pas hari pertama kerja banyak tanya, nggak lo ladenin tuh sambil lo tontonin dari balik laptop."
Aku mengalihkan pandangan, mendadak merasa udara di dalam lift ini agak gerah. "Gavin, gue cuma gak mau kekacauan yang dibuat Ariana ini makin terhambat karena ketidaktahuan dia."
"Gak sesederhana itu, Adrian," potong Gavin, nadanya bergeser jadi lebih santai tapi telak menusuk egoku. Dia menepuk pundakku dua kali tepat saat lift berdenting sampai di lobi. "Alasan lo masuk akal buat orang lain, tapi gak buat gue. Ada yang beda dari cara lo ngelihat anak baru itu. Lo... kelihatan jauh lebih hidup hari ini daripada tiga hari kemarin waktu lo stres sendirian."
Gavin melangkah keluar lift duluan sambil tertawa renyah, meninggalkanku yang sempat terpaku selama beberapa detik di dalam lift. Sialan. Tebakannya terlalu tepat sasaran sampai membuat tenggorokanku mendadak kering.