"Luka ini masih menganga, kata maaf dan khilaf tidak bisa menguburkanya. Pengkhianatan ini terlalu pahit, hingga aku susah untuk lupa!"
Ini adalah kisah Isana, seorang wanita yang dikhianati Andreas dengan begitu pahit, saat sedang mengandung anaknya. Namun menemukan kisah manis dibalik Cupcake kegemarannya, bersama Althaf Rafardhan, seorang chef yang terkenal dingin dan tidak banyak bicara.
Andreas yang terpuruk karna menyadari, cintanya hanyalah untuk Isana, bukan Risa perempuan penggoda. Ingin kembali lagi, memperbaiki hubungan yang kandas. Mencoba membujuk Isana untuk rujuk, dengan dalih sebagai Ayah biologis anak laki-laki mereka.
Akankah Althaf membiarkan wanita yang ia cintai itu kembali pada pria yang sudah mengahancurkanya?
Dan apa keputusan Isana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tulisan_nic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah Aku Apa?
*
*
*
"Sayang, hei ... Bagus banget ..."
Suara manja dan tawa Risa terdengar dari seberang telpon Andreas. Pria yang beberapa menit lalu menyandang jabatan Project Director, kini tersenyum lebar menatap papan nama diatas meja kerja.
"Aku nggak suka kamu satu mobil sama Angga. Jadi, aku beliin mobil itu buat kamu. Gimana, kamu suka?"
"Kok kamu tahu sih, aku suka HRV?"
Andreas mengulum senyum, pria itu merasa begitu dibutuhkan oleh wanita yang entah sejak kapan menjadi salah satu orang yang kini ia usahakan kebahagiaannya.
"Tahu, apa yang aku nggak tahu dari kesukaan kamu?" tanyanya sembari duduk dikursi baru, yang jauh lebih empuk dari miliknya diruangan yang dulu. "Aku juga tahu kalau kamu sukanya aku peluk kamu semalaman kan?"
"Sayang, kenapa sih semakin lama aku semakin sayang sama kamu. Aku sampe nggak bisa jauh dari kamu. Tapi sepertinya, hari ini sampe nanti malam aku nggak bisa peluk kamu. Karna kamu pasti sibuk, sama keluarga kamu."
Andreas menaikkan sudut bibirnya, menatap arloji yang tadi pagi dipakaikan oleh Isana. "Gimana kalau sekarang aja? Kamu lagi ada janji bertemu tim desain untuk membahas konsep resort kan?"
"Udah selesai sayang, jadi ya ... bisa lah kita bertemu, sebelum aku balik ke Kantor. Aku reservasi sky suite, gimana?"
"No ... Itu terlalu beresiko." Andreas menggeleng, meski tidak terlihat oleh Risa. "Aku sudah pikirkan semuanya, Aku pakai uang bonus kelahiran Ghazi dan bonus kenaikan jabatan buat DP penthouse di daerah Kemang. Sekalian kita lihat ke sana ya."
"Serius?" Suara Risa terdengar kaget.
"Serius, aku share lokasinya setelah aku sampai kesana."
Tanpa mendengar jawaban Risa, Andreas mematikan sambungan secara sepihak.
Setelah ponsel ditangannya benar-benar padam. Ia menaruhnya pelan. Jemarinya mengetuk-ngetuk layar ponsel tersebut dengan sorot mata menembus jendela.
***
Di rumah Isana,
Wanita itu tengah merapikan penampilanya dikamar. Sebelum menuju kerumah mertuanya.
Gerakanya terhenti ketika ponsel ditangannya berkedip. Menampilkan kontak bernama Gendis sedang melakukan panggilan.
Isana langsung menggeser tombol hijau—menerima panggilan.
"Halo Dis?"
"Isa, aku sudah melacak nomor yang kamu kirim." Gendis menjawab to the point. "Aku sudah tahu dimana alamat showroom sales mobil HRV yang kamu temukan di Emailnya Andreas."
Isana tidak langsung menjawab. Tangannya yang memegang ponsel perlahan mengencang. Suara Gendis di seberang terdengar jelas, tapi seperti datang dari tempat yang jauh—tertahan oleh sesuatu yang menekan dadanya dari dalam.
Matanya berkedip pelan. Mencoba untuk menetralisir, namun tidak ada yang berhasil meredakan getaran halus di seluruh tubuhnya.
"Sa ...? Kamu masih denger aku kan?"
Suara Gendis terdengar lagi, sedikit lebih pelan, seolah mulai menyadari ada sesuatu yang berubah di sisi sana.
Isana menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering, berat, seperti ada batu kecil yang tersangkut dan tidak mau turun.
"Iya ... Iya Dis" suara Isana keluar, tapi tidak stabil "Terus apa yang kamu temukan disana?"
"Aku pura-pura tanya, tentang mobil yang sama persis dengan iklan yang terlampir di Email Andreas sama pihak showroom dan ..." Gendis menjeda kalimatnya, ia yakin jika mengatakan ini pasti akan membuat Isana terguncang.
"Dan, apa Dis?" Isana mendesak.
"Mobil itu sudah sold out" suara Gendis diam sebentar, "Pembeli atas nama Risa Anjani."
Keheningan menutup seluruh suara di dunia dalam satu kali tekan.
Di telinga Isana, nama itu tidak langsung terasa seperti kata. Ia hanya berubah menjadi bunyi samar yang berulang-ulang di kepalanya.
Risa Anjani.
Nama itu lagi, nama yang terlalu sering menusuknya berkali-kali di luka yang masih basah. Ingatan tentang aroma parfum dan jepit rambut masih segar dikepalanya. Kini ditambah dengan fakta nama Risa sebagai daftar pembeli mobil HRV, sedang nama suaminya sebagai pihak yang bernegosiasi.
Isana tertawa hambar dan menangis bersamaan. Ia menelan ludah, tapi tenggorokannya terasa kosong.
"Isa?" suara Gendis terdengar lagi, kali ini benar-benar khawatir. "Isa Kamu masih disana kan?"
Isana membuka mulut. Tapi tidak ada suara. Ia mencoba sekali lagi. Tetap tidak ada. Tangannya bergerak pelan ke dada, menekan bagian yang terasa terlalu sesak, seolah bisa menghentikan sesuatu yang sedang tertusuk di dalam sana.
"Dis…" Akhirnya suara itu keluar, meski bergetar dan hampir runtuh. "Kirim… lokasinya."
"Aku sudah minta bantuan Aditya. Buat menghubungi orang dalam di showroom itu, dengan alasan pengecekan unit HRV yang pernah diiklankan. Dan Aditya sudah punya data internalnya. Nanti aku sama Aditya ke rumah kamu ya. Andreas nggak ada dirumah kan?"
Isana tertegun, teringat dengan salah satu sahabatnya yang bernama Aditya. Sebagai supervisor di perusahaan leasing.
"Sa?"
Isana tersadar, "Iya Dis, Mas Andreas nggak ada dirumah. Aku tunggu ya."
"Oke, Aku sebentar lagi on the way. Aku tutup telponnya ya ..."
"Take care, Dis. Thanks ..."
Tangan Isana yang tadi memegang ponsel perlahan melemah. Benda itu hampir jatuh. Namun ia tidak menyadarinya.
Pandangannya kabur oleh air mata yang memaksa tumpah. Kepalanya berdenyut, seolah ada sesuatu yang baru saja memukulnya.
Ia menatap Ghazi yang tengah tertidur, akhir-akhir ini saat ia merasa lemah justru ia mencari kekuatan diwajah mungil itu.
Wajah mungil yang tidak tahu apa-apa, dan begitu polos tenggelam dalam mimpinya.
Ponsel Isana yang hampir jatuh tiba-tiba kembali menyala. Sebuah notifikasi pesan dari Andreas.
< Isa, nanti kamu ke rumah Mama duluan saja sama Bik Marni. Aku pulang agak sore. Karna aku harus bertemu tim desain untuk proyek baru. Aku usahakan pulang secepatnya, setelah urusan ini selesai. I love you.>
Isana menatap layar itu lama. Tangannya tidak lagi bergetar. Hanya kosong. Sudah tidak berselera membalasnya. Yang ada hanya rasa jijik dengan kalimat akhir pada pesan itu.
"I love you?" Isana tersenyum sinis.
"Kenapa harus seperti ini…" bisiknya lirih.
Air matanya jatuh, satu per satu, tanpa suara.
"Kalau memang sudah tidak mencintaiku… kenapa tidak jujur saja, kenapa harus menusukku berulang-ulang dengan kebohongan?"
Isana menarik nafas dalam-dalam, mengisi paru-parunya yang sejak tadi berteriak kesakitan.
"Bahkan aku masih merindukan pelukannya, masih menikmati belaiannya lembut di kepalaku. Aku masih mencintainya, tapi kenapa ..."
"Salah aku apa?" bisiknya pelan.
Isana duduk ditepian ranjang. Jemarinya meremas ujung hijab cream yang serasi dengan gamis yang ia gunakan.
"Aku salah apa?" suara Isana tertahan, serak. "Bahkan aku rela meninggalkan pekerjaanku demi melahirkan keturunan untukmu. Tapi kenapa justru kamu berpaling saat keturunanmu ini hadir?"
Isana berdiri, melangkah pelan. Mendekati meja rias disudut kamar. Tangannya terulur, gemetar sebelum menyentuh salah satu pigura yang berisi foto dirinya. Memakai seragam pramugari yang rapi, dengan senyum simpul yang begitu anggun.
Ia angkat pigura itu, meraba permukaannya. Dan setitik air mata, jatuh membasahi permukaan kaca pigura.
"Salah aku apa?"
*
*
*
~Salam hangat dari Penulis 🤍
...kok ga keliatan dia