NovelToon NovelToon
Bahkan Di 2 Kehidupan Aku Tidak Bisa Memiliki Mu

Bahkan Di 2 Kehidupan Aku Tidak Bisa Memiliki Mu

Status: tamat
Genre:Romansa Fantasi / Reinkarnasi / Romantis / Tamat
Popularitas:494
Nilai: 5
Nama Author: Velin Agustiningtias

Selama 500 tahun, seorang arwah wanita dikutuk oleh dewa menjadi “Roh Bulan” dan disegel di dalam lukisan kuno di sebuah kuil akibat kesalahan fatal yang dilakukannya di masa lalu. Hidup dalam kesunyian abadi, ia hanya bisa melihat dunia dari balik lukisan tanpa mampu menyentuh siapa pun.
Hingga suatu malam, seorang pria tanpa sengaja membebaskannya dari segel kuno. Semakin lama bersama, arwah wanita itu mulai jatuh cinta padanya. Namun keduanya perlahan menyadari bahwa mereka ternyata telah terikat sejak 500 tahun lalu, dan pria itu mungkin adalah alasan sebenarnya di balik kutukan Roh Bulan yang menghancurkan hidup mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 34 30 hari Menuju Kejatuhan Istana

Malam itu hujan turun semakin rapat, membasahi atap kediaman rahasia Cenayang Wu yang tersembunyi di balik hutan tua jauh dari pusat istana. Suara rintiknya jatuh di dedaunan seperti bisikan yang tidak pernah berhenti, menciptakan suasana yang dingin dan penuh tekanan. Di dalam ruangan utama yang hanya diterangi lentera redup dan nyala api kecil di tengah lingkaran, empat sosok duduk saling berhadapan tanpa ada sedikit pun kehangatan di wajah mereka.

Cenayang Wu akhirnya membuka suara, suaranya berat dan tenang. “Waktunya semakin dekat,” ucapnya pelan namun penuh tekanan, membuat udara di ruangan itu terasa semakin sempit. “Shima tidak akan berhenti sampai semua yang menghalanginya benar-benar hilang.”

Selir Ratih langsung menegakkan punggungnya, tangannya mengepal di atas lutut. “Aku tidak peduli apa pun yang terjadi padaku,” katanya lirih namun tegas, matanya bergetar menahan emosi yang sudah lama ia simpan. “Kalau aku harus jatuh sekali lagi… aku akan pastikan Shima ikut jatuh lebih dalam.”

Ayah Arum menunduk pelan, wajahnya terlihat lelah seperti seseorang yang sudah terlalu lama berperang dengan keadaan. “Aku hanya ingin mereka selamat,” ucapnya pelan, suaranya hampir tenggelam oleh suara hujan. “Arum dan Ajeng tidak boleh terseret lebih jauh. Mereka sudah cukup terluka.”

Namun Senayang Yen yang sejak tadi diam akhirnya berbicara, suaranya datar tapi dingin. “Kalau kalian ingin menjatuhkan Shima,” katanya pelan sambil menatap lurus ke depan, “tidak ada jalan tanpa pengorbanan.”

Selir Ratih langsung menoleh cepat, matanya mulai memerah. “Aku tidak akan membiarkan Aruna terlibat!” suaranya sedikit pecah. “Dia sudah kehilangan terlalu banyak hal!”

Cenayang Wu menutup mata sejenak, seolah menimbang beban yang sangat berat, sebelum akhirnya berkata dengan nada rendah yang tegas. “Yang bisa menghancurkan Shima hanya tiga orang,” ucapnya perlahan. “Yudra. Arum. Dan Aruna.”

Ruangan langsung membeku.

Selir Ratih menggeleng keras, suaranya gemetar. “Tidak… mereka masih anak-anak,” ucapnya nyaris seperti permohonan. “Aku tidak mau mereka hidup dalam darah dan dendam seperti kita.”

Ayah Arum terdiam, tangannya mengepal di bawah kainnya sendiri. “Ini terlalu berat untuk mereka,” gumamnya pelan, lebih seperti bicara pada dirinya sendiri.

Namun Yen hanya memejamkan mata sesaat sebelum berkata tenang. “Kalau bukan mereka,” ucapnya dingin, “Shima tidak akan pernah jatuh.”

Selir Ratih menatapnya dengan luka di mata. “Bagaimana kau bisa setenang itu?”

Yen membuka mata perlahan. “Karena aku sudah terlalu lama menyaksikan kehancuran ini,” jawabnya singkat. “Dan terlalu lama membiarkan Shima berjalan tanpa perlawanan.”

Suasana kembali sunyi, hanya suara hujan yang mengisi kekosongan di antara mereka. Selir Ratih akhirnya menunduk, bahunya sedikit bergetar, namun bukan hanya karena amarah—melainkan juga karena sesuatu yang lebih dalam.

“Aku hanya khawatir…” ucapnya lirih, suaranya hampir patah, “pada Yang Mulia…”

Ayah Arum menghela napas panjang, sementara Cenayang Wu menatap api kecil di tengah ruangan dengan sorot mata berat. “Raja sudah tahu semuanya,” katanya pelan. “Tapi ia memilih diam terlalu lama.”

Yen menambahkan dengan suara rendah, “Dan diam itu… yang membuat Shima semakin kuat.”

Api di tengah ruangan bergetar tertiup angin dari celah jendela.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, mereka semua tidak lagi berbicara tentang kemungkinan.

Mereka berbicara tentang sesuatu yang sudah pasti akan datang.

Hujan malam di luar masih turun deras, menghantam atap kediaman rahasia Cenayang Wu dengan suara konstan yang seperti tidak memberi ruang bagi ketenangan. Di dalam ruang pertemuan, api lilin di tengah lingkaran bergetar pelan setiap kali angin dingin menyelinap dari celah jendela kayu, menciptakan bayangan yang bergerak di dinding seperti sesuatu yang hidup. Keempat orang yang duduk di dalam ruangan itu tetap diam beberapa saat, seolah setiap keputusan yang baru saja diucapkan terlalu berat untuk langsung diterima.

Akhirnya Ayah Arum memecah kesunyian dengan suara rendah namun tegas. “Kalau begitu… kapan kita mulai?” tanyanya, matanya tertuju langsung pada Cenayang Wu, penuh kecemasan yang ia coba sembunyikan sebagai seorang ayah. “Kapan kita menghentikan Shima?”

Cenayang Wu perlahan membuka mata, sorotnya dalam dan tidak terburu-buru. “Pada hari pernikahan Putra Mahkota,” jawabnya tenang, tapi kata-kata itu langsung membuat udara di ruangan terasa lebih dingin dari sebelumnya.

Senayang Yen tersenyum tipis, bukan karena senang, tapi karena sudah memperhitungkan semuanya sejak awal. “Hari itu akan menjadi pusat perhatian seluruh kerajaan,” ucapnya pelan. “Dan di saat semua mata tertuju ke istana… kita bergerak.”

Selir Ratih mengepalkan tangannya di pangkuan, wajahnya menegang. “Lalu Ajeng?” suaranya lirih namun penuh kegelisahan. “Dia akan berada di tengah semua itu…”

Ayah Arum menghela napas berat, kepalanya sedikit tertunduk. “Aku harus memastikan Ajeng tidak terseret,” katanya pelan, lebih seperti berbicara pada dirinya sendiri. “Aku tidak bisa membiarkan dia menjadi korban berikutnya.”

Cenayang Wu mengangguk pelan. “Karena itu kita tidak boleh terlambat satu langkah pun.”

Senayang Yen kembali menatap api di tengah ruangan, sorot matanya dingin dan stabil. “Waktu kita tiga puluh hari,” ucapnya datar, membuat angka itu terasa seperti vonis yang tidak bisa dihindari.

Selir Ratih menutup matanya sesaat, dadanya terasa sesak. “Tiga puluh hari…” bisiknya pelan, seperti mencoba menerima kenyataan yang terlalu besar untuk ditanggung sendiri.

Cenayang Wu akhirnya bersuara lagi, kali ini lebih berat. “Dua puluh hari pertama akan digunakan untuk mempersiapkan Arum,” katanya. “Dia harus cukup kuat untuk menahan ritus nanti.”

Ayah Arum langsung menoleh cepat, wajahnya dipenuhi kekhawatiran. “Arum masih belum siap,” ucapnya cepat. “Dia terlalu dipaksa.”

Namun Senayang Yen menatapnya tajam tanpa ragu. “Justru karena itu dia harus dipaksa,” balasnya dingin. “Kalau tidak, dia akan hancur sebelum waktunya.”

Selir Ratih akhirnya menatap mereka semua, suaranya bergetar halus. “Dalam semua rencana ini…” ucapnya pelan, “…siapa yang akan benar-benar terluka?”

Pertanyaan itu membuat ruangan mendadak hening. Bahkan suara hujan di luar terdengar lebih jelas, seperti ikut menunggu jawaban yang tidak ingin diucapkan siapa pun.

Cenayang Wu menundukkan kepalanya sedikit. “Akan ada korban,” jawabnya akhirnya, suaranya berat namun jujur.

Selir Ratih langsung menahan napas. “Siapa?” tanyanya cepat, hampir panik.

Cenayang Wu terdiam sejenak sebelum melanjutkan, “Mereka yang terlibat langsung… tidak akan bisa keluar tanpa luka.” Ia berhenti sesaat, lalu menambahkan lebih pelan, “Cinta mereka… adalah pelindung, tapi juga kelemahan terbesar.”

Ayah Arum mengepalkan tangannya, wajahnya berubah pucat. “Aku tidak peduli dengan rencana itu,” ucapnya lirih. “Aku hanya ingin Arum tetap hidup.”

Namun Cenayang Wu tidak menjawab langsung. Tatapannya hanya jatuh pada api lilin yang terus bergerak tidak stabil.

Di saat yang sama, di aula kecil pelatihan, Arum duduk bersila di tengah lingkaran lilin yang redup. Nafasnya perlahan diatur, tapi pikirannya justru semakin berantakan—antara bayangan Ravin, tekanan dari pelatihan, dan firasat gelap yang terus muncul tanpa alasan jelas. Tangannya perlahan bergerak di atas cahaya lilin, mencoba mengikuti ajaran yang baru ia pelajari, namun getaran di dalam dirinya sulit dikendalikan.

“Aku hanya ingin tenang sebentar…” gumam Arum pelan, lebih seperti berbicara pada dirinya sendiri.

Namun suara langkah kaki membuatnya membuka mata. Seorang cenayang perempuan, Ayu, berdiri di ambang pintu dengan tatapan tegas. “Jangan memaksakan diri kalau belum siap,” ucapnya pelan namun tegas, membuat beberapa cenayang lain di belakangnya ikut memperhatikan.

Arum menarik tangannya dari atas lilin. “Aku tidak memaksakan apa pun,” jawabnya singkat.

Salah satu cenayang lain justru tersenyum sinis. “Atau kau cuma sedang mengejar Himawari?” sindirnya ringan, tapi cukup untuk membuat suasana berubah tidak nyaman.

Arum menatapnya diam beberapa detik. “Aku tidak peduli soal itu,” ucapnya dingin.

Namun cenayang itu tertawa kecil. “Semua orang di sini datang untuk sesuatu,” katanya. “Jangan pura-pura berbeda.”

Arum mengepalkan tangannya pelan. “Aku tidak di sini untuk bersaing,” ucapnya, suaranya mulai bergetar tipis. “Aku hanya…”

Ia berhenti sejenak, menunduk, seolah menahan sesuatu yang lebih dalam.

“…tidak ingin kehilangan seseorang lagi.”

Kalimat itu jatuh begitu saja di tengah aula yang mendadak sunyi. Tidak ada yang tertawa, tidak ada yang menyindir lagi. Bahkan udara terasa berubah lebih berat, karena untuk pertama kalinya mereka melihat bukan ambisi di mata Arum—melainkan rasa takut yang sangat manusiawi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!