NovelToon NovelToon
Arundaya Manggala

Arundaya Manggala

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Penyelamat / Balas Dendam
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Cichio23

Malu terlahir tanpa status? Iya.
Tapi, aku tidak pernah malu terlahir dari rahim perempuan bernama Nimas Ayu. Sosok perempuan cantik mengalami gangguan jiwa yang 18 tahun lalu dihancurkan dan dilecehkan.

Kata-kata itu milik Arundaya Dirandra (Dira). Satu-satunya harapan dari ibu yang dipaksa gila oleh dunia. Dan ketika aib itu dibuka, Dira memilih berdiri. Bukan untuk membantah, melainkan untuk berkata “Aku Bangga Menjadi Putrinya.”

Visual ada di IG author: Cichio23
Bagi yang suka menghayal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cichio23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14 Kucing Kecil, Ndan

Tidak ada sedikitpun reaksi yang diberikan oleh Dira maupun Faza. Ruangan menjadi semakin sunyi dan dingin. Kecuali mata bulat Anjana yang terus mengawasi Dira dan Faza secara bergantian. 

Suasana tidak nyaman itu. Jelas membuat Manik menarik tubuh mungil Anjana dalam pelukannya. 

“Cantiknya Mama, kenapa bisa bicara seperti itu?” 

“Hihihi.” 

Seperti biasa Anjana selalu menampilkan senyum lucu yang membuat semua orang tak berdaya. Seperti saat ini Faza kembali menghembuskan nafasnya. 

Kalau sudah urusan sama Anjana, tidak ada satupun yang berkutik. Termasuk dirinya. 

“Anjana bicara seperti itu karena Pak Lek Faza dan Kakak Dira mulai dari tadi diam-diam saling menatap.” 

‘Astaga,’ batin Dira tidak tenang. 

Jelas saat ini Dira ingin menarik kerudungnya untuk menutupi wajah. Dira benar-benar seperti seorang maling ketahuan mengendap-endap memperhatikan Faza. 

“Benarkah seperti itu?” tanya Manik memastikan. 

“Benar 100 persen, Mama.” 

Anjana memang memiliki kepekaan luar biasa. Tapi, mulut tanpa saringan Anjana lah yang kapan saja bisa menyerang dari segala arah. Dan sasarannya saat ini adalah Dira dan Faza. 

Jika Anjana sudah bersikap seperti itu. Maka, bisa dipastikan Faza dan Dira sama-sama menjadi sosok tertuduh atas hubungan yang mungkin sulit dijelaskan. Dan alasan itulah Manik memperhatikan Dira dan Faza secara bergantian. 

“Kalian saling mengenal?” tanya Manik yang tidak langsung dijawab oleh Dira maupun Faza. 

Justru keduanya saling curi-curi pandang, lalu sama-sama memalingkan wajah bersamaan. Membuat Manik harus memancing keduanya untuk berbicara. 

“Kalian beneran tengah marahan?” tanya Manik yang lagi-lagi tidak dijawab oleh Dira maupun Faza.

“Jangan-jangan, kalian sedang menjalin hubungan terlarang?” 

“Gak, Mbak.” 

“Tidak, Bu Manik.” 

Alis Manik terangkat mendengar penuturan Faza maupun Dira. 

“Kompak sekali jawaban kalian berdua. Seperti sepasang kekasih saja,” ucap Manik menggoda keduanya. 

“Jika memang tidak sedang menjalin hubungan. Kenapa kalian diam seperti sedang marahan?” 

“Kami hanya sebatas teman sekelas. Tidak lebih dari itu, Bu Manik,” jawab Dira karena Faza masih memiliki diam. 

Rasa penasaran masih menyelimuti Manik. Dirinya kini menatap ke Faza yang lebih memilih mengambil buku Anjana. 

“Cover buku milik Anjana bagus banget, Mbak. Jangan sampai ada orang yang tahu!” ucap Faza tanpa melihat ke arah Manik. Apalagi ke Dira yang saat ini terus menatapnya dengan kening mengkerut dalam. 

“Memangnya kenapa sama covernya, Pak Lek?” 

Bukannya Manik yang menanggapi ucapan Faza. Justru si cantik Anjana dengan wajah lucu dibalut rasa penasaran. 

“Rasain kamu,” gumam Manik menahan senyum.

Faza hanya diam sejenak sambil menatap Manik. Sebab, dirinya harus mencari jawaban masuk akal untuk Anjana. 

“Cover buku Anjana gambarnya kucing lucu. Sama persis seperti wajah Blue (kucing kesayangan Anjana).” 

 

“Hihihi, nilai 100 buat Pak Lek Faza,” ucap Anjana penuh bahagia. 

“Blue memang sangat spesial untuk Anjana. Sangking spesialnya hingga menjadi teman bobok,” tawa Anjana sambil bersembunyi di balik lengan Manik.

Namun, apa yang ada di pikiran ajaib Anjana benar-benar diluar prediksi. Ketika wajah comel dengan mulut cerewet Anjana mulai kembali beraksi yang saat ini tengah bergelayut manja. 

“Mama!” 

“Iya, cantiknya Mama. Ada apa? Mau tanya apa?” tanya Manik yang paham betul dengan rasa ingin tahu putrinya. 

“Kakak Dira kan teman Pak Lek Faza. Jadi, sama dong seperti Anjana dan Blue. Karena sama, bolehkah Anjana memberikan kado untuk Kakak Dira?” 

“Buat apa Anjana? Gak perlu,” potong cepat Faza yang mulai kelimpungan menghadapi Anjana. 

“Kenapa gak perlu? Kan Kakak Dira teman perempuan satu-satunya Pak Lek Faza. Apalagi kakak Dira dan Pak Lek Faza saling menatap, hihihihi.” 

“Astaga, aku benar-benar kesulitan bernapas.” 

Jika sebelumnya Dira menyerah menghadapi si cerewet Anjana. Kini Faza yang hampir angkat tangan.Untung ada Manik yang buru-buru mengambil kendali atas diri putri cantiknya. 

“Anjana, sudah cukup ngobrolnya. Sekarang waktunya belajar bersama Kakak Dira.”  

“Baik, tapi ditemani juga sama Pak Lek Faza kan, Mama?” 

Sebagai persetujuan tanpa paksaan. Manik menatap Faza yang hanya menganggukkan kepalanya. Sebagai tanda persetujuan tanpa adanya paksaan. 

“Iya, ditemani sama Pak Lek Faza.” 

“Terima kasih banyak, Mama.” 

“Dira.” 

“Iya, Bu Manik.” 

“Saya tinggal masuk, silahkan dimulai belajarnya.” 

“Baik, Bu.” 

Setelah kepergian Manik, kini ruangan itu meninggalkan Dira, Anjana dan tentu saja Faza. Keberadaan Faza yang duduk tepat di hadapan Dira. Membuat jantung Dira berdetak tidak karuan.

“Apakah wajahku terlalu tampan? Hingga kamu terus menatapku seperti itu.” 

Mata Dira langsung melotot mendengar ucapan Faza. Lagi dan lagi wajahnya kembali memerah. 

“Siapa juga menatapmu? Aku hanya...” 

Dira tidak langsung melanjutkan ucapannya. Otak pintarnya benar-benar dipaksa harus bekerja mencari alasan tepat. 

“Aku hanya melihat cover buku Non Anjana yang kamu pegang,” ucap Dira yang langsung membuat Faza geleng-geleng kepala. 

Dira seperti seekor kucing yang ketahuan mengambil ikan asin. Dan Faza melihat jelas tentang hal itu. 

“Emmm, Non Anjana, ayo kita mulai belajar.” 

“Baik.” 

“Ayo kita mulai belajar berhitung.” 

“Ayo!” 

Dengan penuh semangat Anjana mendengar secara antusias untuk mengikuti perintah yang diberikan Dira. Sedangkan Faza terus mengawasi Dira yang lebih suka menunduk dibanding melihat kearahnya. 

Drrrt… drrrt.

Suara getar yang berasal dari handphone milik Faza. Langsung mencuri perhatian Dira. Membuat Dira yang sebelumnya menunduk. Kini melihat kearah Faza yang berjalan keluar ruangan untuk mengangkat telepon. 

“Ada kucing kecil, Ndan.” 

Sayup-sayup suara Faza menyinggung keberadaan kucing. Membuat Dira mencari keberadaan Blue kucing kesayangan Anjana yang sama sekali tidak terlihat ujung ekornya. 

“Kucing kecil? Mana ada kucing kecil di ruangan ini? Dasar gak jelas,” gerutu Dira sambil terus memperhatikan Faza. 

‘Ada apa dengan kamu, Dira? Tujuanmu datang di tempat ini bekerja untuk melunasi hutangmu ke dia. Bukannya fokus memperhatikan dia,’ batin Dira mencoba fokus kembali ke tujuan awal. 

Cukup lama Faza mengangkat panggilan dari seseorang yang dipanggil Ndan. Hingga secara tiba-tiba Dira yang tengah melamun, dikagetkan keberadaan Faza yang tiba-tiba di hadapannya. 

“Anjana,” panggil Faza sambil mengusap lembut rambut Anjana. 

“Iya, Pak Lek. Ada apa?” tanya Anjana sambil menyelesaikan tugasnya. 

“Pasti Pak Lek Faza mau pergi lagi. Anjana sudah hafal,” ucap Anjana tanpa melihat Faza. Membuat Faza hanya tersenyum sambil mengusap lembut wajah Anjana. 

“Iya, belajar yang pintar! Titip salam buat Mama dan Papa.” 

“Oke, siap.” 

“Assalamualaikum,” pamit Faza tanpa sedikitpun melihat kearah Dira. Lalu keluar ruangan menuju parkiran tempat motornya berada. 

“Waalaikumsalam, Pak Lek Faza yang ganteng. Anjana siap melaksanakan tugas dari Pak Lek Faza untuk Mama dan Papa.” 

Hanya Anjana saja yang dipamiti oleh Faza. Membuat Dira langsung cemberut merasakan hal aneh yang susah dijelaskan.

GREEENG! 

Suara nyaring motor milik Faza yang mulai menjauh. Menandakan jika laki-laki itu sudah pergi. 

“Pak Lek Faza nakalin kakak Dira, ya?”

Pertanyaan tiba-tiba yang keluar dari mulut mungil Anjana. Lagi-lagi membuat Dira gugup sekaligus salah tingkah.

“Eh, maksudnya Non Anjana apa?” 

“Kakak Dira lagi berantem sama Pak Lek Faza, ya?” tanya Anjana mengulangi pertanyaan yang belum dijawab oleh Dira maupun Faza. 

Dira benar-benar diam tak berkutik. Dirinya benar-benar bingung harus menjawab apa. 

“Kakak Dira tenang saja. Pak Lek Faza orangnya sangat baik dan penyayang. Mungkin sedang capek kerja saja.”

“Capek kerja?” gumam Dira bertanya-tanya. 

“Selain fokus ke pendidikan. Pak Lek Faza juga bekerja?” tanya Dira memastikan. 

“Opsss, sepertinya begitu. Hihihi,” tawa Anjana kembali fokus dengan bukunya. 

“Maksudnya Non Anjana apa?” tanya Dira penasaran. 

“Anjana lagi mengerjakan soal dari Kakak Dira. Tolong jangan ganggu Anjana ya Kakak Dira yang cantik.” 

“Oh baik, maafkan saya, Non.” 

Meskipun diliputi rasa penasaran. Namun, rasa itu harus dibuang jauh-jauh saat ini. 

Karena dirinya harus kembali fokus dengan pekerjaan. Jangan sampai mengecewakan Miss Panda yang telah merekomendasikan dirinya. 

“Yeeee! Akhirnya selesai juga,” teriakkan ceria dari Anjana menandakan jika waktu sudah selesai.

“Cantiknya Mama sudah selesai belajarnya.” 

Suara Manik yang tiba-tiba menyeruak. Membuat Dira langsung berdiri. 

“Iya, Mama. Lihat, Anjana dapat nilai 100 dari kakak Dira.” 

“Waaah, hebat sekali cantiknya Mama.” 

“Apakah ini benar-benar nilai Anjana, Dira?” tanya Manik memastikan. 

“Kemampuan Non Anjana melebihi usianya, Bu. Sepertinya di pertemuan selanjutnya saya akan memberikan materi baru sesuai dengan kemampuan Non Anjana.” 

“Terimakasih banyak Dira. Saya pun juga merasa jika Anjana memiliki kemampuan diatas usianya,” tutur Manik.

“Pak Lek Faza ada dimana, Sayang?” tanya Manik tiba-tiba ketika tidak melihat keberadaan Faza. 

“Seperti biasa Mama, Pak Lek Faza sibuk. Tadi titip salam buat Mama.” 

Kata sibuk dari Anjana kembali menggelayuti diri Dira. Semakin menambah daftar pertanyaan menyelimuti pikirannya tentang sosok Faza. 

“Dira, kenapa kamu melamun? Apakah kamu sakit?

“Eh, saya sehat, Bu. Saya izin pamit.” 

“Apakah perlu saya minta sopir untuk mengantarmu pulang?” tanya Manik mencoba memberikan penawaran. 

“Tidak perlu, Bu. Saya bawa sepeda,” tolak Dira sopan. 

“Ini gaji harian kamu. Sesuai yang aku katakan ke Miss Panda.” 

“Terima kasih banyak, Bu Manik. Tapi, sepertinya jumlahnya lebih,” tutur Dira saat tahu amplop teraba lebih tebal. 

“Bonus buat kamu.” 

“Terima kasih banyak, Bu Manik.” 

“Hati-hati di jalan, Dira.” 

“Baik, Bu. Assalamualaikum,” salam Dira.

“Waalaikumsalam.” 

“Dadah kakak Dira. Sampai ketemu lagi.” 

“Sampai ketemu kembali nona cantik dan pintar.” 

Sambil mencangklong tas, Dira keluar dari kediaman Manik. Kembali mengayuh sepeda keluar dari perumahan mewah kediaman Manik menuju ke suatu tempat. Sebuah toko roti yang katanya enak tapi harganya terjangkau. 

“Alhamdulillah, dapat bonus dari Bu Manik. Lumayan bisa buat beli kue untuk Miss Panda, sebagai ucapan terima kasih telah memberiku pekerjaan,” ucap penuh bahagia Dira melihat isi amplop dari Manik. 

Setelah mendapatkan kue yang diinginkan. Dira mencoba mengingat-ingat kediaman Miss Panda yang letaknya tidak jauh dari komplek mewah kediaman Manik. 

Sebuah komplek pejabat tinggi kepolisian. Membuat Dira masuk di kediaman Miss Panda harus melewati keamanan ganda hingga tiga lapis. 

“Sepertinya hari ini aku harus melewati keamanan berlapis,” ucap Dira tersenyum sambil kembali mengayuh sepedanya. 

“Selamat pagi menjelang siang, Pak,” salam Dira di pos penjagaan terluar. 

“Siang, mau ketemu siapa? Di blok mana??” tanya beruntun satpam penjaga komplek saat melihat kedatangan Dira. 

“Ingin ke rumahnya Miss Panda, Pak.” 

“Blok mana?” 

“Aduh saya lupa alamat blok nya, Pak,” jawab jujur Dira. 

“Nama lengkapnya Miss Panda itu Panda Aulia Wirawan. Bapak pasti tahu.” 

Saat nama lengkap Miss Panda disebut. Langsung membuat satpam dan petugas yang berjaga langsung waspada. 

“Jika tidak ada izin sama sekali dari Miss Panda. Adik dilarang masuk.” 

“Saya hanya ingin memberikan ini kepada Miss Panda sebagai ucapan terima kasih,” tutur Dira sambil menyodorkan kue yang baru dibeli. 

“Apalagi bawa makanan. Tidak boleh masuk. Semua harus melewati keamanan. Lebih baik bawa kuenya kembali.” 

“Beneran gak bisa, Pak?” 

“Beneran gak bisa, Dek. Wajib bikin janji terlebih dahulu.” 

Disaat rasa sedih menyelimuti Dira. Tiba-tiba suara motor yang terdengar tidak asing mencuri perhatiannya. 

GREEENG!

“Faza,” gumam Dira tidak percaya saat melihat Faza bisa masuk dengan mudah ke komplek pejabat kepolisian di negara ini. Mengingat penjagaan berlapis-lapis.

“Aku gak sedang salah lihat, kan?” gumam Dira masih belum percaya dengan penglihatannya. 

“Kok dia bisa masuk dengan mudah,” gumam Dira heran. Hingga dirinya diam sejenak sambil terus memperhatikan Faza hingga bayangan laki-laki itu hilang dari pandangan. 

1
Susy Koes
Sisil dan emaknya benar-benar duo racun
Hatijah Cantik
semoga tidak banyak masalah disekolah author sebaiknya keluar dari alur cerita yg bisa di tebak dan cerita yg sama dgn novel2 lain yg biasa pemeran utama di bully author harus bikin yg beda.
Cichio23: Siap, Kak.
total 1 replies
Hatijah Cantik
lanjut
Nanik Setya
up nya harus nya sehari 5 nanggung baca nya
Cichio23: Nanti ya kak, othor kasih double update. Kalau banyak yang kasih like, komen, dan subscribe. Apalagi banyak yang kasih kopi,,, wah langsung gas pol 🤭😊😄🤣
total 1 replies
Susy Koes
gemes banget sama mulut si Siti, pingin kasih cabe aja tuh mulut
Susy Koes
wuihhh... seru banget, ada apa antara Nimas dan Wilona Thor... jadi kepo
Susy Koes
wilona benar benar wanita munafik yg menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya
Susy Koes
makin seru Thor. ditunggu double up nya
Cichio23: Siap🤭
total 1 replies
Bunaya
Kak, semangat 💪
Ceritanya keren 👍
Cichio23: Terima kasih banyak Kak Bunaya 😍
total 1 replies
Susy Koes
Semoga Dira selalu kuat menghadapi beratnya kehidupan. semangat Dira. Semangat juga ya othor up nya. ditunggu
Susy Koes
keren othor ceritanya, suka banget
Cichio23: Makasih banyak sudah mampir kaka🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!