NovelToon NovelToon
Marwah Yang Ternoda

Marwah Yang Ternoda

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Bad Boy
Popularitas:14.8k
Nilai: 5
Nama Author: ayuwidia

"Malam ini Lo hancur! Biar kakak Lo paham, ada harga mahal buat tangan yang berani menyentuh adik gue." --Xavier--

"Aku bersumpah, aku akan jadi neraka terpanjang di hidupmu, Xavier!" --Sukma--

Dunia Sukma runtuh dalam satu malam. Perbuatan nista Hamdan, kakaknya, menyulut api dendam di nadi Xavier--pemimpin Geng Bima Sakti Yang Tak mengenal ampun. Dalam buta amarah, Xavier merenggut paksa kesucian Sukma sebagai balasan atas Marwah adiknya yang hampir ternoda.

Hamdan mengakhiri hidup dengan cara tak diberkati, meninggalkan Sukma sebatang kara.

Kesucian tercabik. Masa depan hancur. Satu-satunya penguat jiwa telah pergi.

Di ambang napas terakhirnya, Gea--kekasih Xavier, menitipkan wasiat yang menjadi belenggu sekaligus penebusan dosa: Xavier harus menikahi Sukma.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 34 Mimpi

Malam merayap turun. Rembulan bertakhta di singgasananya, berteman ratusan bintang--membentuk Maha Karya Ilahi yang teramat indah.

Sayang, malam ini Sukma tidak bisa menikmati keindahan itu, karena jiwanya terbelenggu lara.

Sepasang matanya menatap hampa rupa langit.

Bibirnya terkunci, namun batinnya terus mencetuskan tanya.

Ia didera gelisah.

Resah.

Dilema.

Takut.

Ragu.

Dan... dibayangi trauma.

"Allah..." lirihnya. Ia menekan dadanya yang terasa ngilu sembari memejamkan mata.

Tepat saat kedua matanya terbuka perlahan, sosok yang terus memenuhi ruang pikirnya muncul. Bukan halusinasi, bukan pula mimpi. Dia, Xavier Narendra Aditama, benar-benar ada.

Xavier berdiri di ambang pintu kamar--tempat menginapnya malam ini--yang ternyata berhadapan langsung dengan kamar Sukma. Ia mengulas senyum, menatap teduh wajah wanita yang sudah dua purnama menghilang dari pandangan mata.

Sukma mengerjap, lalu mengusap pelan kedua matanya. Mengira jika sosok yang ia lihat hanya bayangan.

Belum sempat ia menyadari jika yang dilihatnya itu nyata, Xavier sudah berpindah posisi. Lelaki bermata elang itu berdiri di hadapan. Tepat di depan jendela kamarnya.

"Kinan..." Xavier menyapa. Binar di matanya menyiratkan rasa yang mungkin belum sepenuhnya ia sadari.

"Maaf... Gue benar-benar menyesal. Gue..."

"Pergi!" potong Sukma tajam. Nada suaranya rendah, namun penuh penekanan.

"Jangan pernah lagi muncul di hadapanku."

"Please, Kinan. Beri gue kesempatan. Izinin gue buat menebus dosa besar dan bertanggung jawab," pinta Xavier penuh harap. "Please, demi calon anak kita."

Sukma menarik sudut bibirnya. Mengepalkan tangan, mencoba menahan luapan emosi. "Demi calon anak kita atau... demi permintaan seseorang?"

Xavier membeku. Ucapan Sukma menyentil ulu hati, mengingatkannya pada janji yang pernah diucapkannya sebelum Gea menutup mata dan pergi meninggalkan dunia fana.

"Aku nggak butuh kamu bertanggung jawab. Aku nggak butuh rasa ibamu. Aku nggak butuh kepalsuan. Yang aku butuhkan cuma satu: ketenangan. Jadi, tolong, pergi dari hidupku."

"Kinan, gue..."

Sukma segera menutup jendela kamarnya dengan tirai, mengabaikan Xavier yang masih ingin mengutarakan rangkaian kata.

Hening.

Tidak ada kata yang terucap, tergantikan suara desah angin malam yang bertiup pelan.

Xavier masih berdiri di depan jendela, sementara Sukma menyandarkan tubuhnya pada dinding kamar yang dingin. Ia memejamkan mata dan merapal asma Tuhannya. Meminta hati yang istiqamah dan keteguhan untuk menghadapi lelaki yang telah menodai marwahnya tanpa belas kasih.

"Kinan, gue tahu, gue nggak pantas dapetin maaf. Gue juga nggak pantas berada di sisi lo. Bahkan, kalau gue dihukum mati pun, gue nggak bakal bisa menebus dosa besar yang udah gue lakuin," Xavier memecah hening, menuturkan isi hati. "Tapi, satu hal yang mesti lo tahu, gue datang ke desa ini karena keinginan gue sendiri, bukan semata karena permintaan seseorang. Gue... bener-bener menyesal..."

Tidak ada balasan.

Hanya terdengar isak samar dari dalam kamar, yang justru membuat jantung Xavier berdenyut ngilu dan semakin didekap rasa bersalah.

Ia meluruhkan tubuh, bersimpuh di atas tanah, dan kembali merapalkan kata maaf.

"Kinan, bunuh gue, kalau itu bisa bikin hidup lo tenang. Gue... rela mati di tangan lo..."

Sukma kian terisak, tubuhnya berguncang hebat. Namun, denyut halus di dalam perutnya seketika menyadarkannya. Ia menarik napas panjang, memaksa dirinya untuk kuat dan meredam emosi, demi buah hati yang kini menjadi satu-satunya alasan untuk berpijak di atas bumi.

"Maafkan Ibu, Nak..." bisiknya teramat lirih sambil mengusap pelan perutnya, lantas berjalan dengan langkah gontai meninggalkan kamar, dan berpindah ke ruang tamu tanpa memedulikan Xavier yang masih terus-menerus mengucap kata 'maaf'.

Perlahan, ia merebahkan tubuhnya di atas dipan. Memaksa kedua matanya terpejam, berusaha mengempas seraut wajah yang masih terbayang jelas di pelupuk mata.

Malam kian larut. Suara-suara makhluk malam terdengar jelas berpadu dengan gesekan bambu, mencipta orkestra alam yang terdengar mencekam.

Jarum jam dinding yang tergantung di ruang tamu menunjuk angka dua belas malam. Di detik itu, Sukma mulai terlelap. Terbuai mimpi indah, seakan ia berkumpul lagi dengan keluarganya yang utuh. Ayah, Bunda, dan kakaknya--Hamdan.

"Sukma, Kak Hamdan yang salah. Jangan menyimpan amarah dan kebencian terlalu lama. Kasihan anakmu. Dia butuh kasih sayang seorang ayah," tutur Hamdan di mimpi Sukma.

"Tapi Vier teramat jahat, Kak. Dia menodai kesucianku, menghancurkan marwah, dan membunuh Kak Hamdan."

Hamdan menggeleng pelan. "Dia melakukan itu karena teramat sayang pada adiknya. Mungkin, kalau Kak Hamdan berada di posisi Xavier, Kak Hamdan juga akan melakukan hal yang sama."

"Tidak, Kak Hamdan tidak mungkin melakukan perbuatan serendah dan sehina itu."

"Sukma, Kak Hamdan lebih hina dari Xavier. Sudah berulang kali Kak Hamdan melakukan perbuatan asusila dan berkeinginan merenggut paksa kesucian Aluna." Hamdan menjeda sejenak, menatap lekat manik mata adiknya yang berkaca-kaca. "Xavier mungkin bisa bersabar dan menahan emosinya, itu kalau Kak Hamdan cuma melakukannya satu kali. Tapi, karena Kak Hamdan melakukannya berulang kali, Xavier tidak mungkin diam. Dia pasti berkeinginan menghukum manusia amoral seperti Kakakmu ini. Dan naasnya, kamu pun terkena imbasnya, Dek..."

Hamdan merengkuh tubuh Sukma, begitu pula kedua orang tua mereka.

Hangat, namun sesak. Itu yang dirasa Sukma, hingga tanpa sadar air matanya mengalir membasahi pipi.

"Yang kuat ya, Sayang. Hadapi semua ujian yang diberikan Ilahi dengan hati yang lapang, rida, dan ikhlas," tutur Seroja, ibunda Sukma.

Fajar hadir, menggantikan kelamnya malam. Mempersilakan para muazin melantunkan seruan suci, panggilan untuk bersujud.

Sukma membuka matanya, mengerjap, mencari keberadaan keluarganya yang ternyata hanya ada di alam mimpi. Dan hanya sisa basah di pipi yang menjadi bukti bahwa mereka sempat 'hadir' menemaninya.

"Allah..." Sukma mengembuskan napas pelan, lalu menyeka wajahnya dengan ujung jari.

Ia perlahan beranjak dari dipan, berniat untuk mengambil air wudhu.

Sayup-sayup terdengar suara riuh di luar rumah. Seketika menghentikan langkahnya yang terayun menuju kamar mandi.

Ia menajamkan indera pendengarannya, mencoba memastikan bahwa suara itu nyata dan bukan sekadar bisikan samar dari pikirannya yang belum sepenuhnya pulih.

"Xavier, bangun!" teriak suara khas yang sangat dikenalnya.

Sukma sempat ragu, inginnya mengabaikan. Namun, nada panik yang tersirat jelas dari suara itu berhasil memaksanya untuk menghiraukan apa yang sedang terjadi di luar.

"Mas Xavier, kenapa bisa pingsan di sini?"

Itu suara Bi Jayanti.

Jantung Sukma berdegup kencang. Tanpa pikir panjang, ia buru-buru membuka jendela kamarnya.

"Astagfirullah..." ucapnya begitu melihat pemandangan yang tersuguh.

Xavier, lelaki yang semalam terus merapalkan kata maaf dengan penuh penyesalan hingga suaranya parau, kini terbaring tak sadarkan diri.

Tubuhnya tergolek lemah di atas tanah yang dingin, wajahnya pucat pasi. Tangan kanannya masih menggenggam erat tanah, seakan menolak untuk pergi meski kesadarannya telah melayang.

"Vier..." Sukma berucap lirih, memanggil nama lelaki yang masih enggan membuka mata.

Rasa ibanya kembali menang, mengalahkan ego.

Ia bergegas memutar tumit, lalu berjalan keluar menuju pintu belakang. Menghampiri Xavier yang dikerumuni oleh Ryuga, Bi Jayanti, Nara, dan Haidar.

"Cepat bawa dia masuk," pinta Sukma, yang langsung diindahkan oleh Ryuga dan Haidar. Kedua lelaki itu bergegas mengangkat tubuh Xavier yang lemas, lalu membawanya masuk ke dalam rumah joglo.

Bi Jayanti tidak tinggal diam. Ia segera berjalan dengan langkah cepat menuju rumah utama untuk memanggil Oma Kirana agar segera datang memberikan pertolongan.

Dengan tangan gemetar, Sukma membuka kotak P3K. Ia mengambil botol minyak kayu putih, lalu menyodorkannya pada Ryuga tanpa berkata sepatah kata pun. Tatapannya tertuju pada lantai, enggan bertemu dengan mata lelaki yang tengah berusaha menyadarkan Xavier.

Rasa bersalah menyusup ke dalam relung jiwa, meluluhkan hatinya yang sejatinya mudah tersentuh. Namun, akal sehatnya segera berbisik keras, memperingatkannya agar jangan melemah dan menyerah pada rasa iba yang mungkin hanya akan menjebaknya masuk ke dalam lembah nestapa.

🍁🍁🍁

Bersambung

1
Najwa Aini
sini..aku peluk..mbak Raina...
Najwa Aini
Dan putranya mengulang dosa yg sama. Tapi untungnya..sapir punya inisiatif utk bertanggung jawab lbh awal
Najwa Aini
Jangan sampai Sukma nanti seperti Larasati..
Najwa Aini
Sukma kekeuh ingin melupakan. ia juga bertahan agar tdak merasa iba, apalagi tersentuh dengn ketulusan sapir..

intinya..Sukma itu sebenarnya sdah tidak marah. sudah memaafkan. hanya belum disadari. belum dirasakan. atau justru sdah disadari, tapi ditolak..

pertanyaannya, dgn itu, dia lagi menghukum sapir, atau menghukum dirinya sendiri...
Najwa Aini
Yahh..aku mikir gimana cara nyampein salamnya ya...
apa nyampek beringharjo..diam bentar. trus ngomong gitu..aja..ya udah terserahlah..
Ayuwidia: Sebelum ngomong, mampir dulu ke warung soto Pak Muh, Kak. Habis itu baru nyampein salamnya si comel
total 1 replies
Najwa Aini
Nahhh...👍👍👍...
Aku suka ini Sapirr
Nofi Kahza
Woah..teges banget Lo, Pir. tapi gpp. gue dukung. semakin cepat semakin bagus😌😌
Nofi Kahza
omelete plus mayones. Ya Ampun laper aku jadinua/Hunger//Hunger/
Ayuwidia: Gassss bikin 😀
total 1 replies
Nofi Kahza
ish! si Nofi, Lo usil banget jadi cewek. Anak siapa sih?🫣🫣
Ayuwidia: Anak mami 😆
total 1 replies
Queen tie
namanya jg novel,,, kalau direal kehdpnan, sdh pasti Suksma mau dinikahi, lagian jg semua dr awal kesalahan dr kakaknya berimbas keadik, kita ikuti terus pantenginnnnn, semangat2 buat vier sj dah,, si Nyai mah bnrnya nau, cuma trs inget diperkaos,, lagian si ustaz kyk nda ada wanita baik saliha lain🤭😄
Ayuwidia: Woah, makasih Kak 😄
total 1 replies
Nofi Kahza
jaga hati agar tak berpaling dari Sapir kan maksudnya??🤭🤭
Nofi Kahza
kayak nggak rela kalau Xavier harus pulang. kan jadi jauh dengan Sukma..🥹
Najwa Aini
loh..kok disuruh baca istighfar.
sukma itu lagi menemukan salah satu tanda kebesaran Allah..harusnya bertasbih dia, bukan disuruh baca istighfar
Nofi Kahza
ini mah paling kesukaan Kirana, atau kesukaan othornya juga🤣🤣
Ayuwidia: Tau aja
total 1 replies
Nofi Kahza
ciee.. cieee.... udah sayang sayang ajanih si Sapir🤭
Najwa Aini
Udah paten nih ya, Sukma dipanggil Nyai
Najwa Aini
Lumayan lah. dari pada gak sama sekali...🤣
Nofi Kahza
aku baru aja ke Gugel, tanya arti hamba yang papa. Baru tau aku🫣
Nofi Kahza
nah, bentar lagi habis ini jadi imam sholat Sukma ya, Pir...
sekarang kau dh nggk benci lho ma kamu🤭
Najwa Aini
Aku semangatin dari jauh ya Pirr...🌹🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!