NovelToon NovelToon
Archive Zero

Archive Zero

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Action / Tamat
Popularitas:291
Nilai: 5
Nama Author: sena himura

Di dunia tempat takdir manusia tercatat dalam sebuah Arsip, seorang pemuda terbangun tanpa data apa pun tentang dirinya.
Saat rahasia dunia mulai terbuka, ia menjadi satu-satunya orang yang tidak seharusnya ada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sena himura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34 — Di Antara Bayang dan Cahaya

Archive Zero

Bab 34 — Di Antara Bayang dan Cahaya

Perjalanan melintasi ruang dan waktu membawa mereka ke tempat yang sangat berbeda dari dunia-dunia cerah yang pernah mereka kunjungi sebelumnya. Saat cahaya menyelimuti wujud mereka perlahan memudar, Ren, Anya, dan Kai mendapati diri mereka berdiri di tepi sebuah dunia yang diselimuti kabut kelabu tebal, di mana langit tidak memiliki matahari, melainkan hanya diterangi oleh cahaya remang-remang yang entah dari mana asalnya. Tanah di bawah mereka berwarna gelap, gersang, dan berbatuan, sementara di kejauhan, tampak siluet bangunan-bangunan tinggi yang suram dan sunyi.

Suasana di sana terasa berat, dingin, dan penuh kesedihan yang mendalam, seolah seluruh dunia itu sedang berduka. Tidak ada suara burung, tidak ada suara air mengalir, bahkan angin pun berhembus pelan dan lesu.

"Dunia ini..." bisik Anya, merasakan getaran energi yang kacau dan lemah di sekelilingnya. Ia merangkul lengannya sendiri, meski wujudnya adalah cahaya yang tak bisa kedinginan. "Penuh dengan keputusasaan. Seolah harapan sudah lama meninggalkan tempat ini."

Kai mengangguk, matanya meneliti sekeliling dengan saksama, hatinya terasa sesak melihat kekosongan yang ada di sana. "Menurut jejak yang kita ikuti, di sinilah letak kisah baru yang sedang tumbuh. Tapi... bagaimana mungkin kebaikan bisa lahir di tempat yang begitu gelap dan sunyi ini?"

Ren berdiri tegak, menatap lurus ke arah kota yang suram di kejauhan. Di matanya, tidak ada rasa ragu, melainkan hanya tekad yang lembut namun kuat.

"Di tempat yang paling gelap, cahaya sekecil apa pun akan terlihat paling terang," ucap Ren pelan namun tegas. "Mungkin di sinilah keberanian yang sesungguhnya akan diuji. Mari kita masuk. Ada jiwa di sini yang memanggil kita. Aku bisa merasakannya."

Mereka pun berjalan maju, wujud mereka melayang rendah di atas tanah yang keras, bergerak menuju pusat kota yang sunyi itu. Semakin jauh mereka masuk, semakin jelas mereka melihat kondisi dunia itu. Penduduknya hidup dalam diam, wajah-wajah mereka muram dan tanpa ekspresi, berjalan perlahan seolah beban berat sedang mereka pikul. Tidak ada tawa, tidak ada percakapan hangat, tidak ada senyum. Di sini, semua makhluk hidup hanya sekadar ada, bertahan hidup tanpa tujuan, tanpa sukacita.

Di sebuah alun-alun luas yang kosong dan berdebu, mereka melihat sosok seorang pemuda yang duduk sendirian di tangga sebuah bangunan tua yang megah namun sudah rusak dan kusam. Pemuda itu masih sangat muda, mungkin berusia sekitar enam belas tahun, mengenakan pakaian sederhana yang sudah lusuh. Ia menunduk dalam, bahunya terguncang pelan, menahan tangis yang tertahan.

Di sampingnya, duduk seorang gadis kecil, berusia sekitar sepuluh tahun, memegang ujung baju pemuda itu dengan erat. Wajah gadis itu juga sedih, namun matanya masih memancarkan sedikit cahaya yang tak mau padam.

"Kak, kenapa dunia kita jadi begini terus?" tanya gadis itu lirih, suaranya bergetar. "Dulu Kakek pernah bercerita, katanya zaman dulu dunia ini cerah, ada matahari, ada bunga, dan semua orang tertawa. Kenapa semua itu hilang, Kak? Kenapa kita jadi begini terus?"

Pemuda itu mengangkat wajahnya perlahan. Matanya merah dan basah, tatapannya kosong dan lelah.

"Aku tidak tahu, Lira," jawabnya parau. "Kakek bilang, ribuan tahun lalu, dunia ini runtuh karena pertengkaran besar. Cahaya keseimbangan kita padam, dan sejak saat itu, kita hidup dalam kabut abadi. Tidak ada yang bisa mengubahnya. Tidak ada yang bisa memperbaikinya. Kita terlahir di sini, dan kita akan mati di sini, dalam kelabu yang sama. Itu takdir kita."

Gadis kecil bernama Lira itu menggeleng keras, air mata mulai menetes di pipinya.

"Aku tidak percaya!" serunya lantang, meski suaranya masih kecil. "Aku tidak percaya kalau takdir kita harus sedih begini terus! Kakek juga pernah bilang... kalau legenda itu benar. Kalau suatu saat nanti, saat kita benar-benar tidak punya harapan lagi... akan datang pertolongan. Akan datang Pengembara Cahaya yang membawa kembali keseimbangan itu!"

Pemuda itu tersenyum getir, menepuk kepala adiknya pelan.

"Itu cuma dongeng, Lira. Kisah kuno yang dibuat supaya anak-anak tidak takut. Tidak ada yang akan datang. Tidak ada yang bisa mengubah dunia ini. Kita sendirian."

Di balik kabut tipis yang menyembunyikan keberadaan mereka, Ren, Anya, dan Kai berdiri diam, mendengarkan setiap kata itu dengan hati yang tersentuh.

"Itulah dia," bisik Kai, suaranya bergetar karena haru. "Legenda tentang kita... sampai juga ke sini. Bahkan di dunia yang paling gelap dan terasing pun, nama dan kisah kita masih hidup di dalam kenangan mereka, meski hanya tinggal sepotong dongeng masa lalu."

Anya melangkah maju selangkah, matanya menatap tajam namun penuh kasih ke arah gadis kecil itu.

"Lihatlah Lira. Meski semua orang sudah menyerah, meski dunia sudah mati rasa... dia masih percaya. Dia masih memegang harapan itu erat-erat. Harapan itulah benih yang kita cari. Harapan itulah yang akan menumbuhkan kisah baru di sini."

Ren mengangguk mantap. Ia melangkah maju, keluar dari balik kabut, wujudnya perlahan menjadi terlihat samar-samar, berkilauan dengan cahaya lembut berwarna ungu yang hangat. Di belakangnya, Anya dengan cahaya biru dan Kai dengan cahaya hijau juga muncul, berdiri bersisik, memancarkan sinar yang perlahan menembus kelabu yang menyelimuti dunia itu.

Pemuda itu dan Lira tertegun. Mata mereka membelalak lebar, menatap keajaiban yang tiba-tiba muncul di depan mata mereka. Cahaya itu begitu indah, begitu hangat, dan begitu damai, sesuatu yang belum pernah mereka lihat seumur hidup mereka.

Lira adalah yang pertama bereaksi. Ia bangkit berdiri, tangannya menutup mulutnya karena takjub, matanya berbinar-binar di antara air mata.

"Kalian..." serunya terbata-bata. "Kalian... Pengembara Cahaya? Yang diceritakan Kakek?"

Ren tersenyum lembut, senyum yang seolah bisa menghapus segala beban berat di hati siapa pun yang melihatnya. Ia mengangguk perlahan.

"Kami datang karena kami dipanggil," jawab Ren, suaranya merdu dan bergema lembut, terdengar jelas meski tidak keras. "Kami datang karena ada hati yang masih percaya, ada jiwa yang masih berharap. Kami datang... untuk mengingatkan kalian kembali, bahwa tidak ada kegelapan yang abadi, dan tidak ada takdir yang tidak bisa diubah."

Anya melangkah maju, berlutut di depan gadis kecil itu, menatapnya setingkat mata. Cahaya biru yang memancar dari dirinya perlahan menyentuh tanah gersang di sekitar mereka, dan seketika itu juga, tunas-tunas kecil berwarna hijau segar mulai tumbuh cepat dari celah-celah batu, mekar menjadi bunga-bunga indah yang berkilauan.

"Kau sangat berani, Lira," ucap Anya lembut, menyeka air mata di pipi gadis itu dengan sentuhan cahaya yang hangat. "Kaulah pahlawan sesungguhnya di sini. Karena kau berani berharap, saat semua orang sudah berhenti berharap. Kaulah yang memanggil kami datang."

Kai melangkah ke sisi pemuda itu, yang masih diam kaku karena kaget dan takjub. Ia meletakkan tangan di bahu pemuda itu, dan seketika itu juga, rasa lelah dan putus asa yang membebani hati pemuda itu selama ini lenyap begitu saja, digantikan oleh semangat baru dan kejernihan pikiran.

"Namamu siapa?" tanya Kai ramah.

"Da... Danel," jawab pemuda itu terbata-bata.

"Danel," ucap Kai lembut namun tegas. "Keputusasaan itu bukanlah kebenaran, itu hanya ketidaktahuan. Kalian memiliki kekuatan besar di sini, di dunia ini. Cahaya keseimbangan itu tidak pernah hilang, tidak pernah padam. Dia hanya tertidur, menunggu seseorang yang cukup berani dan cukup baik hati untuk membangkitkannya kembali. Dan aku yakin... kalian berdua, kau dan adikmu... adalah orang-orang itu."

Ren mengangkat tangannya ke atas, dan dari telapak tangannya, melesatlah tiga berkas cahaya kecil berwarna ungu, biru, dan hijau. Cahaya itu terbang perlahan, menembus langit kelabu yang tebal, dan seketika itu juga, terjadi keajaiban. Kabut tebal itu mulai bergerak, berputar, dan terbelah. Di baliknya, terlihatlah langit biru yang indah, matahari yang bersinar terang, dan sinarnya turun menyinari dunia yang kelabu itu untuk pertama kalinya dalam ribuan tahun.

Sorak-sorai pelan mulai terdengar dari kejauhan. Penduduk yang diam dan muram itu mulai keluar dari rumah-rumah mereka, menatap langit dengan takjub dan bingung, merasakan kehangatan matahari yang sudah lama mereka lupakan.

Ren kembali menatap Danel dan Lira, yang kini berpelukan gembira di tengah rintik-rintik air bahagia.

"Kami tidak akan tinggal lama di sini," ucap Ren lantang, agar didengar oleh keduanya dan seluruh makhluk yang mulai berkumpul di alun-alun itu. "Tapi ketahuilah, jejak kami ada di sini sekarang. Kekuatan keseimbangan telah kembali. Dan sekarang... tugas menjaga dan menumbuhkan keindahan dunia ini ada di tangan kalian. Kalianlah yang akan menulis kisah baru, kisah tentang bangkitnya harapan dari dalam kegelapan."

Anya menunjuk ke dada mereka berdua, di mana kini bersinar samar simbol tiga lingkaran yang saling terikat.

"Kekuatan kami menjadi milik kalian sekarang, bukan untuk dikuasai, tapi untuk dibagikan. Jadilah penengah, jadilah pelindung, dan jadilah sahabat bagi semua makhluk hidup di sini. Seperti yang kami lakukan, seperti yang diajarkan oleh legenda kami."

Kai tersenyum riang, menatap ribuan wajah yang kini penuh harap dan kagum menatap mereka.

"Dan ingatlah selalu, di mana pun kalian berada, seberat apa pun masalah yang kalian hadapi... kami selalu ada. Di cahaya matahari, di hembusan angin, dan di dalam hati kalian yang paling dalam. Kami adalah sahabat kalian, selamanya."

Perlahan, wujud mereka bertiga mulai memudar kembali, berubah menjadi cahaya lembut yang menyebar ke seluruh penjuru dunia itu, menyatu dengan udara, tanah, dan air, menjadi bagian dari kehidupan baru yang sedang tumbuh. Namun, sebelum hilang sepenuhnya, suara Ren terdengar lembut namun jelas, bergema di hati setiap penduduk dunia itu:

"Teruslah berjalan. Teruslah berbuat baik. Karena meski kami tak terlihat, kami selalu mendampingi kalian. Dan kisah indah kalian... kini telah menjadi bagian abadi dari kisah kami."

Dunia kelabu itu kini telah hilang, berubah menjadi dunia yang cerah, penuh warna, dan penuh kehidupan. Di sana, kisah baru dimulai, kisah tentang Danel dan Lira, tentang kebangkitan dan harapan, yang akan diceritakan turun-temurun, bersanding dengan kisah Ren, Anya, dan Kai.

Dan jauh di luar sana, di antara bintang-bintang, tiga berkas cahaya indah kembali meluncur cepat, melintasi ruang dan waktu, menuju keajaiban-keajaiban lain yang menunggu.

Karena di mana pun ada kegelapan yang ingin sirna... di sanalah akan ada mereka. Pengembara Cahaya, Penjaga Keseimbangan, dan Penulis Kisah Abadi.

Perjalanan belum berakhir. Kisah masih terus ditulis.

BERSAMBUNG

1
Protocetus
Mampir ya ke novelku Remontada
sena himura
siap
sena himura
ok,
Uday
semangat mas, alur ceritanya bagus.

jangan lupa berkunjung ke novelku mas judulnya "Ovrien"
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!