Demi melunasi hutang ayahnya, Naura Aulia Zafira terpaksa menikah dengan Dewa Angkasa Buwana, penguasa mafia yang kejam dan berkuasa. Pernikahan ini bukan atas dasar cinta, melainkan balas dendam masa lalu yang dipendam Dewa pada keluarga Naura.
Di balik kemewahan dan kekuasaan, Naura harus bertahan hidup di tengah kebencian, bahaya, dan sikap dingin suaminya. Namun, ketegaran dan kelembutan Naura perlahan mengguncang hati Dewa, membuatnya terjebak antara dendam kesumat atau cinta yang tumbuh diam-diam.
Saat kebencian mulai memudar dan cinta bersemi, masa lalu kelam kembali mengancam nyawa mereka. Akankah dendam mengakhiri segalanya, atau cinta mampu mengubah takdir dan membawa mereka pada kebahagiaan abadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana L., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertarungan di Bawah Sinar Matahari
Sinar matahari pagi menyilaukan, memantul di permukaan air laut yang luas, namun suasana di lokasi proyek pelabuhan internasional itu jauh dari damai. Bendera-bendera dipasang rapi, panggung megah berdiri kokoh di tengah tumpukan material bangunan, dan puluhan undangan penting mulai dari pejabat tinggi, pengusaha terpandang, hingga awak media telah memenuhi tempat itu. Di permukaan, segalanya tampak seperti perayaan kesuksesan sebuah proyek raksasa. Namun, bagi mereka yang tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik layar, tempat ini hanyalah sebuah arena pertarungan besar yang disamarkan.
Di dalam mobil mewah yang bergerak perlahan mendekati lokasi, suasana hening namun padat dengan energi yang menekan. Dewa duduk tegak di kursi belakang, wajahnya dingin dan tak terbaca, persis seperti sosok penguasa gelap yang ditakuti seisi kota. Jas hitam yang ia kenakan disesuaikan dengan sempurna, menutupi tubuhnya yang kekar dan penuh bekas luka pertempuran, namun tidak mampu menyembunyikan aura kekuasaan yang meluap-luap. Di sebelahnya, Naura duduk dengan tenang, mengenakan gaun elegan berwarna merah anggur yang membuatnya tampak anggun sekaligus berwibawa. Ia bukan sekadar pendamping, ia adalah Nyonya Buwana, separuh jiwa dan kekuatan terbesar dari pria di sampingnya.
Dewa menoleh sejenak, menatap istrinya lekat-lekat. Di matanya yang tajam, terselip kelembutan yang hanya dimiliki wanita ini. Ia meremas tangan Naura yang bertangan sarung tangan sutra, genggaman yang mengandung ribuan janji perlindungan.
"Ingat, Naura. Di mana pun kita berdiri, kau adalah pusat duniaku. Hari ini, Ardiansyah berpikir dia memegang kendali karena dia memilih tempat dan waktu. Dia salah. Di dunia ini, tidak ada tempat yang bukan wilayah kekuasaanku. Di sini, di bawah matahari atau di kegelapan malam, aku adalah hukumnya. Dan siapa pun yang berani menyakitimu, akan kubuat menyesal telah dilahirkan ke dunia ini," ucap Dewa dengan suara rendah namun bergetar penekanan. Nada bicaranya kembali mengeras, kembali menjadi nada seorang pemimpin mafia yang kejam dan tak berbelas kasihan.
Naura tersenyum tipis, mengusap punggung tangan kasar suaminya itu dengan lembut. "Aku tahu, Dewa. Dan aku di sini bukan untuk bersembunyi. Aku di sini untuk berjuang bersamamu, seperti yang selalu kita lakukan. Ardiansyah berpikir rahasia masa lalu adalah senjatanya yang paling tajam. Dia lupa, bahwa masa lalu itulah yang menyatukan kita, yang menguatkan cinta kita, dan yang memberikannya alasan untuk bertahan. Biarkan dia bicara. Biarkan dia mengungkit kebencian. Pada akhirnya, kebenaran yang kita miliki akan menjadi pedang yang memenggal kekuasaannya sendiri."
Mobil mereka berhenti tepat di depan pintu masuk utama. Saat pintu dibuka dan Dewa melangkah keluar lalu memapah Naura turun, suasana seketika berubah. Bisik-bisik terdengar di mana-mana, tatapan penuh rasa hormat, kagum, namun juga ketakutan tertuju pada mereka berdua. Kehadiran Dewa Angkasa Buwana selalu memberikan dampak seperti itu seolah udara di sekitarnya menjadi lebih berat, lebih dingin, dan penuh tekanan.
Dengan langkah tegap dan penuh wibawa, pasangan itu berjalan menyusuri karpet merah menuju panggung utama. Di sana, berdiri sesosok pria paruh baya dengan senyum yang terlihat lebar namun matanya sama sekali tidak ikut tersenyum. Itu Ardiansyah. Pria yang selama bertahun-tahun menjadi dalang di balik segala penderitaan mereka, otak di balik kebohongan yang memisahkan dua keluarga besar, dan kini musuh terakhir yang harus disingkirkan.
Ardiansyah maju beberapa langkah, mengulurkan tangan seolah menyapa tamu kehormatan, namun sorot matanya berkilat penuh kebencian dan kemenangan palsu.
"Ah, Tuan dan Nyonya Buwana. Akhirnya kalian datang. Saya kira keberanian kalian sudah habis seiring runtuhnya kekuasaan teman-teman saya yang lain," ucap Ardiansyah dengan nada manis yang dipaksakan, namun penuh sindiran tajam.
Dewa tidak menyambut uluran tangan itu. Ia hanya menatap pria di hadapannya dengan pandangan datar yang mengerikan, pandangan seolah sedang menatap seekor serangga yang sudah mati.
"Aku datang bukan karena aku takut pada ancamanmu, Ardiansyah. Aku datang karena aku ingin melihat langsung saat kau mengakui kekalahanmu. Kau pikir acara ini dan semua orang di sini bisa menyelamatkanmu? Kau lupa siapa aku. Aku adalah Dewa Angkasa Buwana. Aku bisa membuatmu lenyap dari muka bumi ini detik ini juga, bahkan sebelum kau sempat berkedip," jawab Dewa dingin, suaranya rendah namun cukup jelas terdengar oleh Ardiansyah, membuat wajah pria itu memucat sesaat sebelum ia kembali memasang topeng ramahnya.
"Masih seangkuh biasanya ya, Dewa. Baiklah... mari kita lihat siapa yang akan tertawa di akhir acara ini," gumam Ardiansyah, lalu berbalik menuju mimbar pidato.
Acara dimulai dengan pidato-pidato basi dari para pejabat dan mitra bisnis Ardiansyah, membicarakan kemajuan, pembangunan, dan kesejahteraan. Namun Dewa dan Naura hanya diam, duduk di kursi kehormatan, mengamati setiap gerak-gerik, setiap orang yang hadir, dan setiap celah yang bisa menjadi bahaya. Dewa bisa merasakan keberadaan anak buahnya yang disamarakan Rian dan pasukan elitnya tersebar di kerumunan, di atap gedung, di balik tumpukan barang, siap bertindak seketika jika ada bahaya yang mengancam nyawa wanita di sampingnya.
Saat giliran Ardiansyah berbicara, suasana menjadi hening total. Pria itu berdiri di depan mikrofon, menatap tajam ke arah Dewa dan Naura, lalu tersenyum licik.
"Hadirin sekalian... banyak dari kalian yang bertanya-tanya, bagaimana bisa keluarga Buwana dan Zafira yang dulu saling bermusuhan, saling membunuh, dan penuh dendam, kini bersatu begitu kuat dan berkuasa? Kalian semua hanya tahu kisah indahnya saja. Tapi hari ini... saya akan buka tabir besar yang selama ini disembunyikan rapi di balik kemegahan itu."
Ardiansyah mengangkat selembar kertas di tangannya, suaranya meninggi dan bergema ke seluruh penjuru tempat.
"Dulu, ada sebuah perjodohan yang bukan didasari cinta, melainkan didasari kebencian dan dendam warisan. Dewa Angkasa Buwana dipaksa menikahi Naura Zafira hanya untuk mengikat dua keluarga agar saling menghancurkan. Dulu mereka saling membenci, saling menyakiti, dan di situlah saya berperan... memastikan kebencian itu terus tumbuh agar saya bisa mengambil keuntungan di tengah pertikaian itu. Mereka mengira mereka bijak, mereka mengira mereka kuat. Padahal selama ini mereka hanyalah boneka yang bergerak mengikuti benang yang saya pegang!"
Desis kaget terdengar di mana-mana. Para tamu saling pandang, penuh kebingungan dan rasa ingin tahu. Ardiansyah tertawa puas, merasa rencananya berjalan sempurna. Ia berpikir dengan merusak kehormatan mereka di depan umum, nama Buwana akan jatuh, dan kekuasaannya akan runtuh.
Namun, di tengah keributan itu, Dewa berdiri perlahan. Gerakannya tenang namun begitu berwibawa hingga seketika semua mata tertuju padanya. Aura dingin dan menakutkan kembali meledak, membuat bahkan angin yang bertiup pun seolah berhenti sejenak. Ia meraih tangan Naura, mengajak istrinya berdiri di sampingnya, tepat di hadapan ribuan pasang mata.
Ardiansyah tertegun, sedikit panik namun tetap berusaha bertahan. "Kenapa, Dewa? Kau mau menyangkal kebenaran ini? Kau mau bilang kau tidak dulu membencinya? Kau mau bilang kau tidak dulu ingin membunuh keluarganya?"
Dewa tersenyum miring, senyum yang membuat nyaris semua orang yang melihatnya bergidik ngeri. Ia melangkah maju satu langkah, lalu suaranya yang berat dan berwibawa bergema kuat, menenggelamkan segala keraguan.
"Kau benar, Ardiansyah. Semua yang kau katakan itu fakta. Dulu aku memang membencinya. Dulu aku memang menganggap pernikahan ini sebagai kutukan terbesar dalam hidupku. Dulu aku memang hidup dalam kegelapan, dalam kebencian yang kau dan orang sepertimu tanamkan agar kami lemah dan bisa kau kuasai."
Keributan kembali terjadi, namun Dewa mengangkat tangan kanannya sedikit, dan seketika keheningan kembali terjadi—kekuasaan mutlak seorang penguasa. Ia menoleh menatap Naura dengan pandangan sohib dan penuh cinta, lalu kembali menatap kerumunan dan Ardiansyah.
"Tapi ada satu hal penting yang kau lupa sebutkan, dan itu adalah hal terbesar yang tak pernah bisa kau pahami dengan otak busukmu itu. Kau lupa menyebutkan... bahwa di tengah kebencian itu, di tengah kebohongan yang kau sebarkan, cinta lahir dan tumbuh begitu kuat hingga mampu meruntuhkan segala rencanamu. Kau menjadikan kami musuh, tapi kami menjadikan pernikahan ini awal dari kebangkitan kami. Kau berpikir kami boneka? Tidak, Ardiansyah. Kaulah yang menjadi alat kami. Segala kejahatan yang kau lakukan, segala kebohongan yang kau buat, semuanya kini menjadi bukti bahwa kaulah musuh sebenarnya, kaulah parasit yang menghisap kekayaan negeri ini, dan kaulah penjahat sesungguhnya yang bersembunyi di balik topeng pengusaha sukses!"
Dewa memberi kode kecil dengan matanya. Detik itu juga, layar besar di belakang panggung yang awalnya menampilkan gambar pelabuhan, berubah seketika menjadi deretan dokumen, foto, dan bukti-bukti otentik. Semua transaksi korupsi, pemerasan, penggunaan lahan ilegal, hingga perintah pembunuhan yang dilakukan Ardiansyah selama bertahun-tahun, terpampang jelas di hadapan mata semua orang. Wajah Ardiansyah seketika menjadi pucat pasi, kakinya lemas, dan mulutnya ternganga tak percaya.
"Kau pikir hanya kau yang punya rahasia?" desis Dewa mendekati pria itu, suaranya kini rendah, berbahaya, dan penuh ancaman maut. "Selama ini aku diam, aku membiarkanmu bicara, aku membiarkanmu merasa menang... hanya agar kau menunjukkan semua kartumu. Dan sekarang... kau tidak punya apa-apa lagi. Namamu hancur, asetmu sudah kami bekukan, koneksimu sudah kami potong. Dan sekarang... kau ada di hadapanku, di wilayahku, tanpa satu pun pelindung."
Ardiansyah yang sudah terpojok dan panik sepenuhnya, tiba-tiba mengeluarkan pistol tersembunyi dari balik jasnya, mengacungkannya gemetar ke arah Naura. Aksi itu terjadi begitu cepat hingga banyak orang berteriak kaget dan berlarian menjauh.
"Jangan mendekat! Jangan berpikir aku akan menyerah begitu saja!" teriak Ardiansyah histeris. "Dia penyebab segalanya! Kalau saja wanita ini tidak ada, kalau saja keluarga Zafira musnah dulu, aku pasti aman! Mundur, Dewa! Atau aku tembak dia sekarang juga!"
Namun ancaman itu sama sekali tidak membuat Dewa gentar. Justru sorot matanya berubah menjadi merah padam karena amarah yang meluap, amarah yang murni berasal dari naluri seorang suami dan seorang penguasa yang dilawan oleh sampah yang sudah waktunya dibuang.
"Berani kau mengacungkan senjata di hadapan istriku..." bisik Dewa, kalimat itu terdengar like doa kematian bagi Ardiansyah. "Kau berpikir benda besi itu bisa membuatku takut? Aku telah membunuh ratusan orang dengan tanganku sendiri. Aku telah bertarung melawan pasukan bersenjata lengkap sendirian. Dan kau... kau hanyalah tikus pengecut yang mengandalkan uang dan penipuan."
Tanpa ragu sedikit pun, secepat kilat Dewa melangkah maju. Sebelum Ardiansyah sempat menarik pelatuk, Dewa sudah berada tepat di depannya, menepis tangan yang memegang pistol itu dengan kekuatan yang membuat tulang pergelangan tangan itu patah seketika. Ardiansyah berteriak kesakitan, namun teriakannya tertahan saat Dewa mencengkeram lehernya, mengangkat tubuh pria itu yang gemetar berat hingga kakinya tak menyentuh tanah.
Semua orang tertegun, tak ada yang bergerak, tak ada yang berani bersuara. Mereka melihat sosok Dewa Angkasa Buwana yang sesungguhnya: kekuatan murni, kejam, tak terhentikan, dan mengerikan bagi musuhnya, namun bagi Naura yang berdiri tenang di belakangnya, ia adalah benteng teraman di dunia.
"Aku bisa menghancurkanmu sekarang juga, membiarkanmu mati di sini seperti sampah yang kau sesungguhkan," ucap Dewa dingin, jarinya semakin menekan leher Ardiansyah yang mulai kehabisan napas. "Tapi kematian terlalu mudah bagimu. Kau harus hidup cukup lama untuk merasakan rasa sakit yang kau berikan pada kami dulu. Kau harus melihat semua yang kau bangun hancur lebur, kau harus melihat namamu dibenci seisi dunia, dan kau harus mati perlahan dalam penyesalan abadi karena pernah berani menyentuh wanita yang kucintai."
Dewa melepaskan cengkeramannya dengan kasar, membuat Ardiansyah jatuh terguling ke tanah sambil terbatuk-batuk hebat. Detik berikutnya, Rian dan pasukan khusus masuk, mengamankan tempat dan menahan Ardiansyah serta para pengikut setianya yang mencoba kabur. Pihak berwajib yang sudah dikoordinasi dengan bukti lengkap dari Naura, segera masuk dan membawa pergi musuh terakhir itu, yang kini sudah tidak punya lagi kekuasaan, harta, maupun kehormatan.
Suasana perlahan menjadi tenang kembali, namun gemuruh tepuk tangan dan kekaguman meledak saat Dewa berbalik kembali menghadap Naura. Segala aura mengerikan tadi lenyap seketika, berganti menjadi kelembutan yang luar biasa. Ia berjalan mendekat, lalu menggenggam kedua tangan istrinya erat di hadapan semua orang.
"Permainan ini sudah selesai, Sayang. Jerat yang mengikat kita sejak dulu kini sudah putus.