Ditinggal pergi oleh suami tercinta tanpa kabar berita, Rania terpaksa memikul seluruh beban rumah tangga sendirian. Di tengah keterbatasan dan rasa sepi yang menghimpit, ia menemukan kekuatan yang tak pernah ia tahu dimilikinya. Demi masa depan Dika dan Naya, Rania belajar menjadi wanita yang jauh lebih kuat dari sebelumnya. Ini adalah kisah tentang pengorbanan, ketabahan, dan kebangkitan seorang ibu yang menolak menyerah pada nasib.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 🍁ɳɪȩƖɑᷭ🐣N⃟ʲᵃᵃ࿐, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jalan yang berbeda, masa lalu yang mulai mendekat
Setelah mengambil waktu istirahat selama beberapa hari pasca perjalanan ke Yogyakarta, pagi itu Rania merasa tenaga dan semangatnya telah pulih kembali.
Ia memutuskan untuk membuka kembali warung makannya, yang menjadi tumpuan utama hidup dan pendidikan kedua anaknya. Sejak pukul empat pagi, saat langit masih gelap dan suasana desa masih sunyi senyap, Rania dan Mbak Siti sudah sibuk bergerak di dapur.
Asap mulai mengepul dari kompor, bumbu-bumbu dihaluskan dengan teliti, dan berbagai jenis masakan mulai dimasak agar nanti rasanya lezat dan siap disajikan hangat-hangat.
Sementara Rania fokus mengolah masakan di atas kompor, Mbak Siti tidak kalah sibuk. Ia berkeliling mengelap meja-meja makan hingga bersih dan mengkilap, menurunkan serta menyusun kursi-kursi dengan rapi agar nyaman digunakan pengunjung. Tak lupa pula ia menata etalase tempat gorengan—terdiri dari pisang goreng, bakwan, dan tahu isi—serta menyiapkan bungkusan kertas dan daun pisang untuk pesanan dibawa pulang. Sayuran yang sudah matang dan berkuah pun diangkat perlahan lalu diletakkan di tempat yang aman agar tetap terjaga kehangatannya saat disajikan.
Tepat pukul enam pagi, warung Rania resmi dibuka. Angin pagi yang sejuk berhembus masuk menyapa ruangan yang kini beraroma sedap. Setelah memastikan semua tempat tertata sempurna, Mbak Siti mengambil sapu lidi dan mulai menyapu halaman depan warung hingga bersih dari dedaunan kering dan debu.
Tak lama kemudian, para pelanggan mulai berdatangan silih berganti. Ada warga sekitar yang membeli sarapan pagi, ada pekerja yang hendak berangkat kerja, dan tak jarang pula ibu-ibu rumah tangga yang sengaja datang untuk membungkus lauk dan sayuran matang agar tidak perlu repot memasak di rumah.
Warung Rania memang dikenal dengan rasa masakannya yang enak, porsinya cukup, dan harganya bersahabat, sehingga tak heran jika dagangannya selalu laris manis setiap harinya.
Menjelang pukul delapan pagi, terlihat seorang pria paruh baya melangkah masuk dengan senyum ramah. Itulah Pak Sandi, seorang guru yang tinggal agak jauh dari situ dan sudah lama menjadi pelanggan setia. "Selamat pagi, Bu Rania. Maaf baru sempat mampir lagi, sekian lama agak sibuk di luar kota," sapa Pak Sandi sopan.
"Selamat pagi juga, Pak Sandi. Tidak apa-apa, silakan duduk. Senang rasanya Bapak mampir lagi," jawab Rania sambil tersenyum menyambut.
Hari ini Pak Sandi memutuskan mencoba menu yang berbeda dari biasanya. Setelah pesanannya siap, Mbak Siti segera menghidangkannya ke meja.
Di tengah makanannya, Rania sempat mendekat sebentar untuk menyapa dan berbincang sejenak sambil tetap waspada melayani pembeli lain yang datang. Usai menghabiskan makanannya, Pak Sandi membayar dengan tertib dan berpamitan. "Terima kasih makanannya, Bu.
Saya permisi dulu, meskipun liburan sekolah, masih ada sedikit urusan administrasi yang harus diselesaikan di sekolah," ujarnya sebelum berjalan pergi.
Sementara itu, di tempat yang berbeda, Bara menjalani rutinitasnya seperti biasa.
Ia berangkat bekerja tepat waktu, berusaha memusatkan pikirannya pada tugas meskipun pertemuan dengan Rania masih sesekali terlintas di benaknya.
Beberapa jam kemudian, saat ia sedang duduk menyelesaikan laporan, seorang petugas memanggilnya untuk menghadap ruangan atasan.
Setelah mengetuk pintu dan masuk, atasannya menyampaikan kabar penting. "Bara, saya panggil Bapak untuk menyampaikan keputusan resmi dari kantor pusat.
Bapak akan mendapatkan penugasan baru dan dimutasi untuk bertugas di wilayah Solo, terhitung beberapa hari ke depan. Ini adalah kepercayaan besar bagi perkembangan karir Bapak," jelas atasannya dengan nada resmi.
Di dalam hati Bara ada rasa yang campur aduk, namun ia menampakkan senyum sopan meski terasa sedikit dipaksakan. "Terima kasih banyak atas kepercayaan yang diberikan, Pak. Saya siap menerima tugas ini dan akan mempersiapkan segala sesuatunya sebaik mungkin," jawabnya mantap. Tak lama kemudian ia berpamitan dan kembali ke tempat kerjanya, namun pikirannya kini mulai melayang jauh.
Sepanjang perjalanan pulang sore itu, Bara mulai menyusun rencana. Ia sadar bahwa kepindahan ini bukan sekadar perpindahan tempat kerja, melainkan juga akan mengubah seluruh hidupnya dan keluarganya.
Ia harus segera membereskan dokumen, mencari tempat tinggal yang layak, serta memberitahu keluarga agar mereka pun mulai berkemas dan mempersiapkan hati untuk pindah ke kota Solo—tempat yang tak disangka-sangka ternyata adalah tempat tinggal Rania dan kedua anaknya saat ini.
Di sisi lain, saat matahari mulai condong ke barat, warung Rania perlahan mulai sepi. Ia duduk sejenak menghela napas lega sambil menghitung pendapatan hari itu. Meskipun melelahkan, melihat hasil usahanya mampu memenuhi kebutuhan Dika dan Naya membuatnya merasa puas dan kuat.
Ia tidak tahu bahwa takdir sedang memutar roda kehidupannya, membawa sosok yang pernah pergi itu perlahan mendekat kembali ke kota yang sama tempat ia berjuang membangun hidupnya dari nol.
Apakah di solo nanti Bara akan kembali bertemu dengan Rania , dan apakah mereka memang ditakdirkan untuk bertemu lagi ? Entahlah,,,.
"Seperti apapun yang terjadi di depan , dia sudah memutuskan menerima keputusan tempat dia mencari rejeki."
Segala persiapan pun Bara dan Ratih lakukan perihal kepindahan mereka ke Solo. Di sela-sela membereskan baju dan lain-lain. Ratih bertanya "Mas sudah dapat tempat kita tinggal di Solo bukan?" Bara pun menjawab kalo dia sudah berhasil dapat kontrakan yang cocok buat mereka bertiga.
Udah Deket sama-sama di Solo enaknya kapan dipertemukan lagi mereka semua ???