NovelToon NovelToon
Pangeran KW Salah Server

Pangeran KW Salah Server

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Fantasi Isekai / Komedi
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Kiano (18), remaja narsis asal era 2050, apes total! Tersesat di stasiun kuburan tua, ia malah mencabut golok pusaka dan membebaskan Tengkorak Hideung, jin buronan yang kini menempel padanya.

Niatnya mau pulang ke Jakarta Barat, Kiano malah terdampar di Kerajaan Bunian dan dikira Pangeran Wirasada yang kabur. Alhasil, kaus mewahnya disita, menyisakan kolor kuning Upin-Ipin, dan ia dipaksa ikut Kencan Buta Maraton dengan ratusan putri jin yang wajahnya bikin jantungan! Tanpa sinyal 6G dan dikepung dedemit Sunda kuno, mampukah pangeran KW ini selamat dari kejaran dan penyihir peminum darah, Nini Kalingking?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27. Ki Saron vs Ki Maung

"Beraninya kalian datang ke tempatku...!"

Sebuah suara cempreng yang mirip lengkingan kakek-kakek tua renta mendadak terdengar membelah kesunyian malam dari arah depan.

Kiano tersentak. Namun, sedetik kemudian ia malah mengernyitkan dahi. Ia bingung mendengar suara barusan yang sama sekali tidak ada wibawa atau seram-seramnya. Alih-alih terdengar gaib dan mengerikan, suara itu justru terdengar persis seperti aki-aki komplek yang sedang tersiksa akibat penyakit encok kambuhan.

'Buset, suara jin purba legendaris kok begini amat? Gue jadi penasaran pengen lihat rupanya kayak gimana,' batin Kiano, rasa takutnya mendadak menguap digantikan oleh rasa ingin tahu yang membuncah.

"Kami datang ke sini untuk meminta buah Malaka Hitam milikmu, Ki Maung," ucap Ki Saron, mencoba bernegosiasi dengan sopan.

"Apa katamu?! Meminta?!" Suara cempreng itu meninggi, terdengar tersinggung. "Enak saja! Buah-buah Malakaku ini sangat berharga, bahkan lebih berharga daripada nyawamu! Dan bukankah kau salah satu jawara yang dikabarkan sudah tewas? Mengapa kau bisa ada di sini bersama seorang anak manusia?"

"Aku sama sekali belum tewas. Aku hanya dikubur hidup-hidup oleh Nini Kalingking dan disegel di dalam tanah," balas Ki Saron tegas.

"Dan soal anak manusia ini, dialah yang telah membebaskanku. Sekarang, dia adalah tuanku."

"Hahaha!" Sosok di kegelapan itu malah tertawa melengking, membuat bulu kuduk meremang. "Baguslah kau datang bersamanya! Aku akan memberikanmu buah Malaka sebanyak mungkin, tetapi ada satu syarat. Berikan anak manusia itu untukku!"

Mendengar dirinya dijadikan barang tukar-tambah, Kiano langsung tersulut emosi. Rasa takutnya hilang entah ke mana.

"Heh, enak aja lo! Anak-anak matamu peyang! Gue sudah gede, ya! Sudah delapan belas tahun, bukan bocah lagi!" cerocos Kiano sembari melangkah maju dan berkacak pinggang. "Lagian ada urusan apa lo sama gue, hah, Aki-Aki peot?! Lo iri, ya, sama kegantengan gue? Lo kagak tahu siapa gue? Gue ini anaknya Prabu Raksa Buana alias Pangeran Wirasada! Lo mau cari mati atau mau dijadikan pakan ular naganya Prabu Raksa Buana, hah?!" tantang Kiano berapi-api.

Sontak saja Ki Saron dan Dharma melotot ngeri mendengar gertakan ugal-ugalan sang pangeran palsu. Nyali mereka rasanya hampir copot.

Bersamaan dengan itu, sepasang mata merah menyala mendadak berkedip di dalam kegelapan. Aura mistis di tempat itu mendadak turun drastis menjadi sangat dingin seiring dengan emosi Ki Maung yang mulai memuncak.

"Kurang ajar!" Suara Ki Maung mendadak menggelegar dahsyat. "Beraninya kau menghinaku dan memanggilku aki-aki peot!" Suara yang awalnya cempreng itu seketika memberat drastis, menciptakan gelombang angin kencang yang menggetarkan pohon-pohon di sekitarnya.

Wusss!

Tiba-tiba, entah mendapat keajaiban dari mana, sepasang mata Kiano mendadak bisa menembus kegelapan hutan pelan-pelan. Begitu pandangannya jelas, ia langsung disuguhi pemandangan sesosok pria tua berwujud kerdil.

Penampilannya sangat unik; tubuhnya cebol, namun janggut putihnya tumbuh sangat panjang menjuntai ke tanah, bahkan menyaingi panjang tali jemuran. Makhluk kerdil itu tengah berkacak pinggang dengan mata merah yang melotot murka ke arah Kiano.

Kiano tersentak kaget. Ia refleks melangkah mundur dengan panik hingga menabrak tubuh Dharma yang berdiri tepat di belakangnya.

Duk!

'Waduh, janggutnya panjang bener, Cuk! Bahkan janggut si Mbah Jin penunggu golok sakti di rumah gue yang di Jakarta aja kalah saing sama yang ini,' batin Kiano terkejut sekaligus heran. Ia malah sempat-sempatnya membandingkan janggut jin purba itu dengan makhluk halus peliharaan keluarganya di dunia manusia.

"Kakimu, Kiano!" gerutu Dharma kesakitan sebab kaki Kiano mendarat telanjur telak menginjak kakinya.

"Eh, sorry, Bro! Gue panik, jadi kagak sengaja," bisik Kiano meminta maaf sembari buru-buru mengangkat kakinya.

"Maafkan kelakuan tuan saya, Ki Maung. Dia memang memiliki tabiat seperti itu," ucap Ki Saron yang mendadak merasa tidak enak hati. Firasat gaibnya ikut bergejolak buruk melihat situasi yang mulai lepas kendali.

"Tidak semudah itu! Aku tidak akan pernah memaafkan kelancangannya! Aku tidak peduli siapa pun dia di matamu, atau bahkan di mata seluruh penduduk negeri ini!" Ki Maung menggeram marah.

Seketika itu juga, tulang-tulang di dalam tubuh kerdilnya mulai berderak keras dan patah. Seluruh tubuhnya berguncang hebat, bertransformasi kembali ke wujud aslinya yang mengerikan.

Kabut hitam pekat mendadak bergulung-gulung, memunculkan sesosok harimau putih purba berukuran raksasa yang saking besarnya sampai menyaingi tingginya bangunan gedung bertingkat.

Grrrrrrr...! Groarrrrr...!

Auman dahsyat dari jin harimau purba itu seketika menggelegar membelah malam, menggetarkan tanah hingga membuat dedaunan dari pohon-pohon di sekitarnya rontok massal.

Namun anehnya, daun serta buah dari pohon Malaka Hitam sama sekali tidak bergeming atau ikut gugur. Pohon ajaib itu tetap berdiri kokoh seolah-olah memiliki pelindung gaib tingkat tinggi yang anti-gempa dan tahan guncangan.

"Pergi kalian semua dari wilayahku!" Suara menggelegar itu bergaung hebat, disertai geraman mengerikan yang sanggup meremukkan nyali makhluk apa pun. "Jika kalian masih nekat ingin mengambil buah ini, maka hadapilah aku terlebih dahulu!"

"Waduh, Ki! Kalau soal beginian mah gue mundur teratur! Gue serahkan sama lo aja deh. Hajar tuh kucing garong, Ki Saron! Maju cepetan!" seru Kiano sembari terus melangkah mundur, mengambil ancang-ancang siap kabur jika situasi memburuk.

Ki Saron menghela napas panjang. Mau tidak mau, ia sepertinya harus benar-benar menghadapi jin penunggu pohon Malaka Hitam tersebut. "Ya, mau bagaimana lagi. Ini semua gara-gara kelakuan Tuan. Saya jadi harus bertarung dulu dengan harimau purba itu," gumamnya pasrah.

Ki Saron segera memasang kuda-kuda kokoh. Tubuh kekarnya mendadak bergetar hebat. Wujud manusianya luruh, berubah kembali ke wujud aslinya yang mengerikan: sesosok tengkorak hidup hitam legam dengan sepasang mata merah menyala.

Sementara itu, Kiano menoleh ke arah Dharma. Tanpa basa-basi, ia langsung menarik lengan pengawal itu menjauh dari area pertempuran karena takut terkena kibasan maut. "Cabut, Dharma! Ngapain lo malah bengong di situ?!" bisik Kiano ketus sembari menyeret paksa Dharma.

Mereka berdua buru-buru bersembunyi di balik batang pohon waru besar yang letaknya agak jauh dari sana.

Di area terbuka, pertarungan antara Ki Saron melawan harimau purba berukuran raksasa itu pun resmi dimulai.

"Ayo maju! Hadapi aku!" tantang Ki Saron dengan suara parau yang menggema.

Tanpa perlu dikomando dua kali, sang harimau purba langsung melompat dahsyat menerjang Ki Saron.

Wusss!

Namun, Ki Saron bukanlah jin sembarangan. Pengalamannya sebagai jawara bunian yang sudah ribuan kali bertarung membuatnya bergerak sangat lincah. Ia dengan cepat melesat menghindar dan terbang ke udara.

Hal itu tentu saja membuat sang jin harimau semakin murka. "Awas kau, Ki Saron! Aku akan mencabik-cabik tubuhmu hingga tak bersisa!"

Syutt!

Si harimau purba kembali melompat tinggi, membuka rahang raksasanya hendak menggigit tubuh Ki Saron. Namun, lagi-lagi Ki Saron berhasil melesat menghindar. Tak mau terus-terusan ditekan, Ki Saron pun akhirnya membalas.

Memanfaatkan momentum di udara, ia melepaskan sebuah tendangan maut bertenaga gaib penuh ke arah lambung lawan.

Wusss! Brakk...!

Hantaman telak itu sukses membuat tubuh raksasa si harimau terpental jauh, menubruk rimbunnya rumpun pohon bambu di belakang mereka hingga hancur berantakan. Namun, serangan sekuat itu belum mampu membuat Ki Maung tumbang. Makhluk purba itu dengan cepat kembali bangkit, menggeram murka, lalu menerjang maju lebih beringas.

Pertarungan pun semakin memanas karena keduanya saling jual-beli serangan gaib. Di balik pohon waru, Kiano yang menyaksikan duel epik tersebut justru menyeringai lebar.

"Dhar, ini kesempatan emas buat kita!"

1
Protocetus
Wuih cepet amat nulisnya Thor 💪
Soobin Chan: lumayan, udah hampir setahun juga nangkring di lapak sebelah. dari jaman bapaknya kiano SMA sampai punya anak. dan anaknya sekarang pindah kesini😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!