NovelToon NovelToon
Diusir Suami Karena Hamil Anak Perempuan

Diusir Suami Karena Hamil Anak Perempuan

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Mengubah Takdir
Popularitas:28.5k
Nilai: 5
Nama Author: Melisa ekprisa

Sekuel Talak di Ujung Ramadhan


Diusir saat mengandung anak perempuan, Sarah kehilangan rumah, harga diri, dan cinta yang pernah ia percaya. Dunia menamparnya tanpa ampun—hinaan, pengkhianatan, dan kesepian jadi makanan sehari-hari.

Namun saat tangisan putrinya lahir memecah sunyi, Sarah memilih bangkit. Bukan sekadar bertahan—ia ingin membalas luka dengan keberhasilan.

Ketika masa lalunya tiba-tiba kembali, membawa rahasia yang bisa menghancurkan segalanya… Sarah dihadapkan pada satu pilihan: tetap diam, atau melawan dan merebut keadilan yang selama ini direnggut darinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melisa ekprisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 34

Ibra yang baru saja membuka pintu mobil untuk Sarah menoleh heran.

"Kamu mau ke mana?" tanyanya.

Sarah yang sudah berdiri di samping mobil terlihat sedikit canggung. "Bukannya mau pulang, Kak Ibra."

Ibra mengernyit. "Kalau kamu masih ada tujuan, ya sekalian saja. Mumpung kita masih di luar."

Wajah Sarah langsung tampak sedikit lebih cerah.

"Aku mau beli roti di R2 Bakery. Kata Tante Kayla, di sana enak banget."

"Oh?" Ibra menaikkan alisnya. "Jadi ini rekomendasi Tante Kayla?"

Sarah mengangguk cepat. "Iya. Tante Kayla bilang roti di sana selalu fresh. Katanya aku harus coba."

Sudut bibir Ibra terangkat membentuk senyum tipis. Ia cukup mengenal Kayla. Jika perempuan itu sampai merekomendasikan sebuah tempat makan, biasanya memang tidak main-main.

"Baiklah. Kita ke sana dulu."

"Makasih, Kak."

"Tenang saja. Sekalian perjalanan pulang."

Sarah tersenyum lega lalu masuk ke dalam mobil. Setelah memastikan sabuk pengamannya terpasang dengan benar, Ibra kembali ke kursi pengemudi.

Mobil pun melaju meninggalkan area pengadilan.

Di tengah perjalanan, Ibra melirik sekilas ke arah Sarah yang tampak antusias membicarakan berbagai jenis roti yang ingin dibelinya.

Melihat ekspresi itu, ia jadi sedikit heran.

Tadi di pengadilan perempuan itu terlihat tegang menghadapi proses gugatan cerainya. Namun sekarang, hanya karena akan membeli roti yang direkomendasikan orang yang dipercayainya, wajahnya kembali hidup.

Mungkin sesederhana itu cara seseorang bertahan di tengah masa sulit—mencari hal-hal kecil yang masih bisa membuatnya tersenyum.

Ibra menghela napas pelan ketika menerima pesan dari Cantika. Perempuan itu memintanya membawa mobil pribadinya untuk mengantar klien ke pengadilan. Awalnya ia sempat merasa heran, karena biasanya ia lebih sering menggunakan motor gede kesayangannya untuk bepergian.

Namun setelah mengetahui bahwa klien yang akan ditemuinya adalah seorang perempuan yang sedang hamil, Ibra langsung memahami alasan permintaan tersebut.

"Tidak mungkin juga membawa ibu hamil naik motor," gumamnya sambil mengambil kunci mobil yang dititipkan Cantika.

Sejujurnya, jika sejak awal ia tahu kondisi klien yang akan didampinginya, ia pasti tidak akan datang menggunakan motor. Bagaimanapun juga, keselamatan dan kenyamanan klien tetap menjadi prioritas.

Mobil melaju membelah jalanan pagi dengan tenang. Selama perjalanan menuju rumah Sarah, pikiran Ibra sempat melayang pada masa lalu.

Ayahnya dulu merupakan salah satu partner kerja Kayla dalam sebuah firma hukum ternama. Keduanya dikenal sebagai pengacara yang memiliki integritas tinggi dan disegani banyak orang. Sejak kecil, Ibra sering mendengar cerita tentang berbagai perkara yang mereka tangani bersama.

Mungkin karena itulah cita-citanya terbentuk sejak dini.

Ia ingin mengikuti jejak sang ayah.

Bukan semata karena profesi itu terlihat bergengsi, melainkan karena ia melihat bagaimana hukum dapat menjadi alat untuk memperjuangkan keadilan bagi orang-orang yang membutuhkan.

Setelah ayahnya meninggal dunia beberapa tahun lalu, keinginan itu justru semakin kuat. Ibra bertekad melanjutkan warisan yang ditinggalkan ayahnya dengan caranya sendiri.

"Semoga Ayah bangga melihatku sekarang," batinnya.

Tak lama kemudian, mobil yang dikendarainya memasuki halaman parkiran toko bakery tersebut. Ibra mematikan mesin, merapikan jas yang dikenakannya, lalu keluar untuk membuka pintu.

...******...

Aroma mentega yang gurih dan wangi ragi yang hangat langsung menyambut Ibra dan Sarah begitu mereka melangkah masuk ke dalam R2 Bakery. Toko roti itu tidak terlalu besar, namun penataannya yang rapi dengan pencahayaan kuning hangat membuat suasana di dalamnya terasa sangat nyaman.

Sarah langsung berjalan menuju deretan etalase kaca dengan mata yang berbinar. Ketegangan yang beberapa jam lalu menggelayuti pundaknya saat duduk di kursi ruang sidang seolah menguap begitu saja.

"Kak Ibra mau coba yang mana?" tanya Sarah tanpa menoleh, matanya masih sibuk memindai deretan roti yang baru saja dikeluarkan dari oven.

"Pilih saja dulu untukmu," jawab Ibra yang berdiri selangkah di belakangnya, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana bahan yang ia kenakan. "Aku kurang paham soal roti. Biasanya Tante Kayla merekomendasikan menu apa?"

Sarah mengetuk dagunya dengan jari telunjuk, tampak berpikir serius. "Kata Tante Kayla, Croissant Almond dan Cheese Roll di sini juara bertahan. Oh, sama roti sobek cokelatnya juga lembut banget."

"Kalau begitu, beli saja semua yang kamu mau," ujar Ibra dengan nada suara yang melembut.

Mendengar itu, Sarah menoleh dengan senyum lebar yang tulus—sebuah ekspresi yang sejak pagi tadi belum sempat Ibra lihat. Perempuan hamil itu kemudian mulai menunjuk beberapa varian roti kepada pelayan toko dengan antusias.

Ibra memperhatikan dari belakang. Ia diam-diam mengagumi ketegaran Sarah. Di usianya yang masih muda, dalam kondisi mengandung, dan harus menghadapi peliknya proses perceraian di pengadilan, Sarah masih bisa menemukan kebahagiaan kecil seperti ini. Hal ini mengingatkan Ibra pada salah satu nasihat almarhum ayahnya dulu: “Hukum itu memang kaku dan dingin, Ibra. Itulah mengapa seorang pengacara harus tetap memiliki sisi kemanusiaan yang hangat untuk menguatkan kliennya.”

Hari ini, Ibra merasa ia tidak hanya sedang menjalankan tugas dari Pak Chandra atau memenuhi arahan logistik dari Cantika. Lebih dari itu, ia merasa sedang melakukan hal yang benar.

"Sudah semua, Kak," ucap Sarah, membuyarkan lamunan Ibra. Di tangan Sarah kini sudah ada sebuah nampan berisi beberapa jenis roti pilihan.

"Biar aku yang bawa ke kasir," Ibra mengambil alih nampan tersebut, lalu berjalan mendahului Sarah untuk membayar seluruh belanjaan itu. Sarah sempat ingin menolak, namun Ibra hanya memberikan isyarat pelan dengan tangannya agar Sarah menunggu di dekat pintu.

"Wanginya enak banget! Kak Ibra harus coba satu," Sarah menyodorkan sebuah bungkusan kecil berisi Cheese Roll yang masih hangat.

Ibra menerima roti itu dengan senyum tipis di sudut bibirnya. "Terima kasih, Sarah."

"Itu suaminya ya, Mbak?" tanya salah satu pengunjung bakery sambil tersenyum, melirik Ibra yang sedang mengantre di kasir.

"Bukan. Itu pengacara saya," jawab Sarah pelan namun jelas.

"Oh, maaf mbak. Tapi kalian cocok banget. Si mbak cantik mas nya ganteng. mana kayak nungguin anaknya yang bentar lagi lahir pula."

Pengunjung itu seketika tampak kikuk dan langsung meminta maaf karena merasa tidak enak telah salah mengira.

"Ehmmm ..." Ibra mengalihkan pandangannya ke arah lain.

Mobil melaju tenang meninggalkan area R2 Bakery. Di dalam kabin, hanya terdengar suara pendingin ruangan dan sesekali suara kendaraan dari luar.

Sarah yang sedari tadi memandangi kantong roti di pangkuannya akhirnya memberanikan diri berbicara.

"Kak Ibra..."

"Hm?" Ibra melirik sekilas sebelum kembali fokus ke jalan.

Sarah menggigit bibir bawahnya sesaat.

"Maaf ya soal yang tadi di bakery."

Ibra tampak bingung. "Yang mana?"

"Itu..." Sarah menunduk malu. "Ibu-ibu yang mengira Kak Ibra suami aku."

Butuh beberapa detik sebelum Ibra memahami maksudnya. Setelah itu, ia justru terkekeh pelan.

"Oh, itu."

Sarah semakin tidak enak hati.

"Aku benar-benar minta maaf. Gara-gara aku, Kak Ibra jadi ikut canggung."

Ibra menggeleng ringan.

"Kamu tidak perlu minta maaf. Bukan kamu yang bilang begitu."

"Tapi tetap saja..."

"Itu cuma salah paham biasa, Sarah."

Sarah terdiam sejenak. Meski begitu, raut wajahnya masih menunjukkan rasa bersalah.

Melihat hal itu, Ibra kembali angkat bicara.

"Kalau dipikir-pikir, itu bukan pertama kalinya terjadi."

Sarah menoleh penasaran.

"Sering?"

"Kadang-kadang." Sudut bibir Ibra terangkat tipis. "Kalau sedang mendampingi klien atau saudara perempuan, ada saja yang salah mengira."

Jawaban itu membuat Sarah sedikit lega.

"Jadi Kak Ibra tidak marah?"

Ibra bahkan terlihat heran mendengar pertanyaan itu.

"Marah untuk apa?"

Sarah akhirnya tersenyum kecil.

"Syukurlah."

Suasana kembali hening beberapa saat. Namun kali ini tidak terasa canggung.

Ibra melirik sekilas ke arah Sarah yang mulai menikmati roti pilihannya.

"Kalau memang mau minta maaf, lebih baik habiskan rotinya. Tadi semangat sekali belinya."

Sarah langsung tertawa kecil.

"Siap, Kak."

Dan untuk pertama kalinya sejak keluar dari pengadilan, tawa ringan itu terdengar tanpa beban.

1
THE GIRL COOL😑
aduhhhhh gue cuma bisa tutup mata🤣
THE GIRL COOL😑
aduhhhhh gemes nya/Smile//Smile//Smile/
Renarenn
Lah, temen sesat rupanya
Renarenn
Akhirnya karma is real🤭🤭🤭
Rhica_Yubie
papa sama mama gema buatkan gema adik biar lebih seru🤭
Miu.Nuha
hidupny pk dokter ternyata penuh lika-liku 🤧
Yuliana Purnomo
hayooo gercep dr Gema,, udah ada sinyal dr Sarah 💪
Myz Pena
apakah Hana lelah dengan hubungan mereka ??🤧
Myz Pena
apakah dokter gema tidak memiliki kelemahan ?? 🤭
Myz Pena
luar biasa ya dokter kandungan 😍
Dinarkasih1205
kasihan karakter gema di buat kasar
mama Al: keburu panas saat lihat kebersamaan Ibra dan Sarah
total 1 replies
ginevra
kok ada ya ibubyabg suka ngehasut anaknya
ginevra
terlihat jelas kalau Tuhan akan mencabut rizkinya kalau kamu dzalim pada istri yang sholehah
Yue xin🥀(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)
inilah alasan kenapa harus menikahi orang yang mencintai kita bukan kita mencintai dia. tapi lebih bagus saling mencintai dan juga kedua pihak keluarga merestui yah yang paling penting orang tua sih🤭 sok menasehati padahal pacar aja gak punya say😆😆😆
Yue xin🥀(⁠◍⁠•⁠ᴗ⁠•⁠◍⁠)
seharusnya dulu Sarah lebih pentingkan pendidikan daripada pernikahan /Bye-Bye/rugi kan sekarang
mama Al: makanya di paksa nikah sama Leo
total 3 replies
Aii Flow🌷
Fitnah ihhh, dia yang jahat Sarah yang dipojokin
Teteh Lia
mau bilang "sabar, Gema." tapi gw juga ikut esmosi.
Teteh Lia
jadi pengen makan martabak. masalah na harus nunggu malem. baru nongol kang martabak na
Apriyanti
lanjut thor 🙏
mama Al: lanjut ke bab selanjutnya
total 1 replies
Miu.Nuha
apa ibu berniat mencelakai pemuda itu 🙄
dosa bu dosaaa...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!