Berulang kali patah hati oleh pemuda yang sama, membuat Lova berusaha melepas mimpinya menjadi kekasih Afnan, dan pasrah menerima perjodohan yang dilakukan oleh kedua orangtuanya.
Namun siapa sangka, nyatanya lelaki pilihan mama dan papa adalah Afif sang guru mengaji yang juga putra dari teman papa. Bukan karena jarak usia mereka yang terpaut cukup jauh, namun sosok Afif yang terkenal anti perempuan apalagi jika perempuan itu termasuk ke dalam golongan manusia minus akhlak dan ilmu agama sepertinya yang membuat Lova berpikir lebih baik ia diciptakan menjadi sebuah debu saja.
***
Disaat ia sudah bisa menerima semua yang terjadi, justru sosok pemuda impiannya itu hadir kembali di kehidupan Lova.
Akankah Afnan mampu menggoyahkan hati Lova, bagaimana pula Afif membimbing Lova demi membawa bahtera rumah tangga keduanya hingga mampu menepi di jannahnya Allah?
~~~
"Kenapa mesti surat Ar-Rahman dan surat An-Nisa yang jadi mahar?"
"Terus kamu maunya apa? Yassin? Al Jinn?"
.
.
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Ikhlas lillahita'ala
"Ta'aruf???!!" jelas suara Lova lebih melengking ketimbang suara lengkingan gitar melodi. Ngiinggg....
Semakin saja Lova dilanda sawan berkepanjangan, setelah pagi ini sarapannya dilengkapi bumbu keterkejutan dari ayah dan bunda. Jika dirinya, akan melakukan proses ta'aruf dengan seorang lelaki.
1001 alasan kebaikan ta'aruf dijabarkan bunda dan ayah sampe dirinya hampir gumoh. Bahkan tanpa seijin dan sepengetahuannya, ayah dan bunda sudah menerima beberapa cv kandidat untuk pasangan halalnya nanti, yang ia sendiri tak bisa memilih seperti milih jajanan per-acian.
Lova tentu sempat menolak, bahkan berkali-kali.
*Kaya beli kucing dalam karung, ngga sih*? Benak Lova lirih berucap sejak tadi.
Hingga salah satu alasan unik yang bunda berikan untuknya adalah, *siapa tau, ta'aruf bisa jadi obat hati*. Mampu membuat Lova menimbang-nimbang kembali penawaran ayah dan bunda, alasan itu terngiang-ngiang terus menerus dalam pikiran dan hatinya, masa iya? Bisa lupain Afnan yang udah spek calon imam idaman? Serapuh itu hatinya sekarang, sampe-sampe dipengaruhin bunda saja ia jadi kepikiran siang malam. Saking niatnya melupakan Afnan.
Apalagi bunda mengatakan, calon bunda dan ayah itu insyaAllah berpendidikan, dengan finansial terjamin, pintar... baik akademik, agama dan akhlaknya, yang artinya...mungkin selepas ta'aruf dan menikah nanti, selesai sudah mengaji privatenya dengan ustadz Afif. Karena ngga mungkin kan, ia belajar berduaan dengan yang bukan mahramnya? Toh, nanti yang akan mengajarkan adalah suami Lova sendiri.
Lova cukup fanatik sebagai penonton sinetron, setidaknya ia menyetujui proses ta'aruf dengan beberapa syarat, diantaranya...ia tak mau berta'aruf dengan kakek-kakek, atau nantinya ia harus dimadu atau poliga mi. No! Big No! Seperti yang sering jadi klimaksnya film-film sinetron.
~~
"Lova!!!"
*Dugh*!
Lamunannya buyar saat sebuah bola menabrak kepalanya, disertai kunang-kunang di mata dan kepala. Lova menggeleng demi menetralkan kondisinya.
"Awww!"
"Sakit tau!" omel Lova justru ditertawai teman-temannya. Yap! Bisa-bisanya Lova melamunkan masalah saat sedang berada di lapang tepatnya disaat pelajaran olahraga berlangsung.
Hahahah!
"Jangan ngelamun neng!" seru Alika dan yang lain, "si Lova ngelamunin cicilan skin care kali!"
Alika menghampiri dan ikut membantu mengusap jidat Lova dengan masih menyisakan tawanya, "ngga apa-apa, Va? Lagian kamu, masih sempet-sempetnya ngelamun, Va...ngelamunin apa sih? Jangan bilang masih mikirin Afnan?" mata Alika menyipit seolah memperingatkan.
Dan Lova jelas menggeleng kencang, "sorry ya...ngga kenal sama yang namanya siapa tadi?" sombongnya, meski selanjutnya...secara kebetulan Afnan dan Yuda melintas di sekitar lapang dan jelas mereka melihatnya.
Alika yang menyadari hal itu lantas mengusap kasar wajah Lova, "hmmm, katanya ngga kenal! Dia yang tidak dikenal mampu mengalihkan duniaku..." ia kembali tertawa ketika mendapati wajah Lova yang cemberut nan manyun, "apa sih, Al! Lagian bentar lagi kayanya gue mau merit."
"Ha?! Hahahahaha!" tawa Alika jelas sedang menunjukan ketidakpercayaannya. Menganggap jika Lova sedang berhalusinasi dan mengada-ada.
"Ngaco. Kena bola tuh bikin kepala kamu jadi patah separo, masuk aja mendingan yuk! Cuaca terlalu panas, otak kamu mencair." Ajak Alika.
Berkali-kali, Tuhan seperti sedang menguji iman dan kesabaran Lova, setiap ia melintasi selasar, koridor bahkan kantin sekalipun, beberapa kali itu pula ia harus bersitatap dengan Afnan. Sampai-sampai ia jengkel sendiri, karena jelas...secara hati, bayang-bayang Afnan sulit sekali ia usir. Dimana-mana, persis polusi!
\*\*\*\*
\_Afnan\_
Sepertinya Dealova memang sudah menyerah mengejarnya, itu terbukti dengan tak ada lagi surat yang sampai di tangannya, atau sosok Lova yang sering *ngintilin* dirinya kemanapun ia pergi.
Bahkan...setiap saat mereka bersinggungan pun, Lova seperti sedang berusaha menghindar, tak peduli dan menganggap dirinya tak ada lagi di bumi.
Sebagian hatinya merasa lega. Namun sebagian lainnya...entah kenapa merasa seperti kehilangan. Apa ia sudah merasa candu dikejar Lova, apa ia merasa seperti rindu disambangi sosok ceria dan energik Lova?
Yuda yang curiga dengan tatapan Afnan terhadap Lova---dimana gadis itu terlihat sedang mengikuti kelas olahraga di lapang dan bercanda gurau--tersenyum jahil. Ia sangsi kalau Afnan tak suka Lova.
"Sekarang mah natapnya selalu lebih dari 5 detik ya bang?" kekeh Yuda ikut menatap lapang, sepertinya gelak tawa tercipta dimanapun Lova berada, gadis itu seperti magnet tersendiri untuk rasa bahagia.
Afnan langsung memutus itu dan mengelak, "perasaan lo aja, Yud." Afnan melengos begitu saja dengan segera.
Iya...jelas apa yang dikatakan Yuda itu tepat sekali. Belakangan ini ia menatap Lova lebih dari biasanya, bahkan lebih meneliti, astagfirullah! Apa karena----
"Mi, mau kemana?"
"Nan. Jaga rumah sebentar...umi ada janji sama masmu buat antar cari cincin khitbah." Umi merapikan jilbab yang menyelimuti tubuhnya hingga tepat di atas lutut. Umi memang selalu membungkus auratnya dengan sempurna di mata putra-putranya, menjadikan contoh saat kelak nanti ia mencari pendamping hidup, ingin yang seperti umi.
"Ha? Mas Afif mau lamaran?" tanyanya cukup excited diangguki umi dengan senyuman, bahkan umi menjawil hidung Afnan gemas, "insyaAllah. Do'akan ya...abi yang jadi jembatan ta'arufnya dengan anak om Agas."
Afnan mengernyit heran, bukankah anak om Agas setaunya masih sekolah? Sama seperti dirinya, siapa namanya?? Bahkan ia tak ingat saking tak pernah bertemu secara langsung dan juga tak pernah peduli.
Hal ini jelas membuat Afnan penasaran dengan sosok anak om Agas dan tante Desi.
"Siapa namanya mi?" tanyanya.
"Emh, De-a-lo-va...Almaheera."
Seketika Afnan terdiam di tempat. Jadi???
Murid mengaji mas Afif selama ini adalah....
Yang sering mas Afif bilang, jika murid mengajinya itu kini cukup indah melantunkan ayat suci adalah...
Anak manja yang menurut mas Afif bikin pusing itu ialah....
Dan gadis yang akan dipersunting mas Afif...
Ucapan salam umi sampai tak terdengar di telinganya saat umi beranjak pergi. Afnan dibuat tuli sejenak oleh kenyataan.
"Mi! Umi..." ia baru tersadar dan hendak melayangkan protesnya saat umi sudah tak ada di rumah, bahkan taksi online yang dipesannya sudah jauh dari pelupuk mata.
"Va, ayolah...ada film seru di bioskop..."
"Aduhh, sorry Al...aku ngga bisa, ada jadwal ngaji hari ini. Dan gue mesti hadir...soalnya, kayanya nih...ini hari terakhir ustadz Afif ngajar! Besok-besok udah ganti guru, jadi calon suami..." jumawanya sudah bersiap lega, bebas dari sikap tegas, galak dan judes Afif.
"Yaaa...sayang banget." Dan Alika masih menganggap Lova hanya halu pasal calon suami, biarlah ia begitu ketimbang mesti ngejar-ngejar Afnan dan stress berkepanjangan.
"Sorry ya..bareng Arumi aja gih..." jawab Lova.
Lova sudah bergegas pulang, hari ini adalah jadwal mengajinya untuk yang terakhir dengan ustadz Afif. Maka dari itu Lova hanya ingin memberikan kenang-kenangan untuk sang guru sebelum besok dirinya akan melaksanakan khitbah dengan calon pilihan ayah--bunda, yang katanya dibantu juga oleh ustadz Insan selaku jembatan ta'aruf.
Ustadz Insan cukup terpuji di mata Lova, ia sempat tau dari ayah jika ustadz Insan merupakan kawannya, ia pernah mengajar di sebuah pesantren ternama selama lebih dari 10 tahun. Dan sering mengikuti kajian-kajian dan kelompok yang bersifat agamis. Setaunya juga, ustadz Insan adalah ayah dari ustadz Afif. Berdasarkan dari info itu, Lova yakin...calonnya ya ngga jauh-jauh dari anak santrinya dulu.
Kembali pada ustadz Afif...Bagaimanapun, ustadz Afif adalah guru mengaji yang tegas, niatnya ingin membuat Lova pintar membaca Al qur'an adalah suatu niatan yang mulia, dan Lova hargai itu. Mengingat hari ini sepertinya hari terakhirnya belajar dengannya, maka Lova berniat menjadi murid teladan, dan memberikan experience nyaman untuk Afif. Untuk itu ia pulang secepatnya.
"Assalamu'alaikum, mbak!"
"Wa'alaikumsalam neng Love...tumben."
Lova tersenyum, "mau ngaji. Ustadz Afif belum datang kan, mbak? Aku mandi dulu deh..."
Pffttt! Mbak Astri terkekeh melihat itu, ada angin apa? Wong biasanya kalo ngaji bawaannya cemberut, "belum neng."
"Mbak, bolu yang kemaren bunda bawa masih ada di kulkas kan? Keluarin deh...nanti tolong potongin buat ustadz Afif ya...sekalian cemilan di meja makan keluarin semua." titahnya melengos ke arah lantai atas, membuat mbak Astri cukup dibuat cengo.
Benar-benar kerasukan nih anak majikannya!
Karena biasanya Lova akan menyuruh mbak Astri untuk menyembunyikan semua cemilan jika ada ustadz Afif. Dan melarang memberikan penganan apapun dengan tujuan biar ustadz galak itu tak betah.
.
.
.
.
.
jgn bikin ambyaaarrrr teh sin
pas Afif tau tentang Afnan
jujur kpn va tentang Afnan ny
Va bukan dibuang ajj sih kertas ny