NovelToon NovelToon
Menikahi Bos Janda : Mahar Di Balik Notulensi

Menikahi Bos Janda : Mahar Di Balik Notulensi

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Beda Usia
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Aruna tidak punya pilihan. Untuk mempertahankan kendali atas perusahaan peninggalan suaminya, ia harus memenuhi syarat dalam "Klausul Moral" yang dibuat oleh dewan direksi: ia harus memiliki pendamping sah dalam waktu 30 hari atau posisinya dicopot.
Bukan mencari pria dari kalangan elit, Aruna justru memilih Bumi—karyawan level bawah yang tidak sengaja meretas sistem keamanan pribadinya hanya untuk protes soal uang lembur yang belum dibayar. Aruna menawarkan kesepakatan: Menikahlah denganku, jadilah CEO bayangan, dan aku akan melunasi seluruh utang medis keluargamu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Bubur Hangat dan Debu Tayamum

​Gelap. Dingin. Dan melayang.

​Aku merasa seperti perahu kecil yang terombang-ambing di tengah samudra kelam tanpa bintang. Sesekali, aku mendengar sayup-sayup suara kepanikan, derap langkah kaki, dan benda-benda logam yang berdenting. Namun, setiap kali aku mencoba membuka mata, sebuah beban tak kasatmata menekan kelopak mataku, memaksaku kembali tenggelam ke dasar ketidaksadaran yang sunyi.

​Hingga akhirnya, sebuah kehangatan perlahan merayap di punggung tanganku. Kehangatan yang konstan, kokoh, dan nyata.

​Aku menarik napas panjang. Udara yang masuk ke paru-paruku terasa sedikit menyengat, membawa aroma antiseptik dan samar-samar wangi minyak kayu putih.

​Dengan sisa tenaga yang kumiliki, aku memaksa kelopak mataku terbuka. Cahaya lampu yang temaram menyapa pandanganku yang masih buram. Perlahan, bayangan-bayangan di sekitarku mulai mewujud. Aku sedang berbaring di atas ranjang kamar tidur utama safe house. Di punggung tangan kananku, menancap sebuah jarum infus dengan selang yang mengular ke tiang di sebelah ranjang.

​Lalu, pandanganku jatuh pada sosok yang duduk di kursi samping tempat tidurku.

​Jantungku berdesir nyeri melihatnya.

​Bumi tertidur dalam posisi duduk. Kepalanya bersandar pada tepi kasur, menghadap ke arahku. Tangan kanannya menggenggam tangan kiriku dengan sangat erat, seolah takut aku akan menghilang jika ia melonggarkannya sedikit saja. Di tangan kirinya yang diperban, jari-jarinya masih melingkari untaian tasbih kayu.

​Pria ini terlihat berantakan. Kemeja birunya kusut masai. Rambutnya mencuat ke segala arah. Gurat kelelahan tergambar sangat jelas di wajahnya yang dihiasi bayangan rahang yang mulai ditumbuhi sedikit cambang halus.

​Berapa lama aku tertidur?

​Aku mencoba menggerakkan jari-jariku yang berada dalam genggamannya. Gerakan kecil itu rupanya cukup untuk mengirimkan alarm ke otaknya yang selalu siaga.

​Tubuh Bumi tersentak pelan. Matanya seketika terbuka, memancarkan kewaspadaan yang langsung luruh saat pandangannya bertabrakan dengan pandanganku.

​"Aruna?" panggilnya. Suaranya sangat parau, nyaris berupa bisikan.

​Aku mencoba menjawab, tapi tenggorokanku terasa seperti digosok dengan amplas kasar. Hanya suara erangan lemah yang keluar dari bibirku.

​"Ssst, jangan memaksakan diri bicara dulu," Bumi buru-buru bangkit berdiri. Dia melepaskan genggamannya, menuangkan air putih dari teko kecil di nakas ke dalam gelas, lalu memasukkan sedotan.

​Dengan gerakan yang luar biasa lembut, tangan besarnya menyusup ke belakang leherku, mengangkat kepalaku sedikit agar aku bisa minum. Air putih itu mengalir melewati kerongkonganku, terasa bagai tetesan embun di padang pasir.

​"Terima... kasih," bisikku serak, membiarkan kepalaku kembali bersandar di bantal. "Berapa lama... aku pingsan?"

​Bumi meletakkan gelas itu, lalu menarik napas panjang. "Dua puluh empat jam penuh. Dokter mengatakan kamu mengalami syok vagal akibat kelelahan fisik dan mental yang ekstrem. Lambungmu juga mengalami peradangan akut karena stres dan pola makan yang buruk."

​Mataku membulat. Dua puluh empat jam? Sehari penuh aku kehilangan kendali atas diriku sendiri dan perusahaanku?

​Aku berusaha memaksakan diri untuk bangun. "A-aku harus ke kantor. Rendra... Haris... mereka pasti merencanakan sesuatu—"

​"Aruna, berhenti!"

​Suara Bumi sedikit meninggi, menahan bahuku dengan kedua tangannya dan memaksaku tetap berbaring. Matanya yang gelap menatapku dengan sorot kemarahan yang dipenuhi rasa frustrasi.

​"Berhentilah memikirkan perusahaan sialan itu walau hanya untuk satu hari!" tegas Bumi, rahangnya mengeras. "Apakah kamu sadar bahwa kamu nyaris koma kemarin pagi? Jantungmu berdetak sangat lemah. Jika Garda terlambat membawa tabung oksigen..."

​Bumi menghentikan kalimatnya. Jakunnya bergerak naik turun dengan cepat. Ia memalingkan wajahnya, meremas jemarinya sendiri hingga memutih, mencoba menahan sesak yang tiba-tiba mendesak di dadanya.

​Saat ia kembali menatapku, matanya berkaca-kaca. "Aku hampir kehilanganmu, Aruna."

​Pernyataan itu begitu telanjang, begitu rapuh. Zirah kebanggaanku hancur berkeping-keping melihat kerapuhannya. Pria yang tak gentar menghadapi preman bersenjata dan mafia korporat ini, kini gemetar hanya karena melihatku jatuh sakit.

​Aku mengangkat tanganku yang bebas infus, menyentuh pipinya yang kasar oleh cambang yang belum dicukur. "Maafkan aku, Bumi."

​Bumi memejamkan matanya, menyandarkan pipinya ke telapak tanganku sejenak. "Aku sudah memberitahu dewan direksi melalui email resmimu bahwa kamu mengambil cuti sakit selama tiga hari. Garda sedang memblokir semua akses informasi dari luar ke dalam rumah ini."

​Bumi menarik wajahnya perlahan, lalu berbalik menuju meja kecil di sudut kamar. "Kamu belum makan apa pun selain cairan infus. Aku membuatkanmu bubur ayam. Resep dari ibuku, jadi jangan khawatir, rasanya pasti lebih baik dari nasi gorengku waktu itu."

​Sebuah senyum lemah terbit di bibirku. "Kamu yang memasaknya?"

​"Ya. Di bawah pengawasan ketat tim Garda, tentu saja," candanya getir. "Mulai sekarang, semua makanan dan minuman yang masuk ke mulutmu harus melewati tanganku langsung. Aku tidak akan membiarkan Haris atau siapa pun menyelundupkan sesuatu."

​Bumi kembali membawa semangkuk bubur yang masih mengepulkan asap tipis. Ia menekan tombol di sisi ranjangku, membuat bagian punggung kasur naik perlahan hingga aku berada dalam posisi setengah duduk.

​Lalu, hal yang paling tidak pernah kubayangkan terjadi.

​Bumi menyendok bubur itu, meniupnya pelan dengan sangat telaten, lalu menyodorkannya ke depan bibirku.

​Aku terpaku. Sepanjang hidupku, bahkan saat Adrian masih hidup, tidak ada yang merawatku sedetail ini. Adrian mencintaiku, ya, tapi dia adalah pria sosialita yang akan menyewa tiga perawat VVIP jika aku sakit, alih-alih duduk semalaman menjagaku dan menyuapiku makan.

​Aku, Aruna Wiratmadja, yang terbiasa memerintah ratusan orang dari kursi direktur utama, kini merasa sangat... kecil. Namun anehnya, aku menyukai perasaan ini. Di hadapan pria ini, aku diizinkan untuk menjadi lemah.

​Aku membuka mulut, menerima suapan itu. Rasa gurih dan hangat kaldu ayam langsung menyebar, menghangatkan lambungku yang melilit.

​"Enak?" tanya Bumi, menatapku dengan harap-harap cemas.

​Aku mengangguk. "Sangat enak. Terima kasih."

​Suapan demi suapan berlalu dalam keheningan yang nyaman. Saat mangkuk itu tinggal tersisa separuh, aku memberikan isyarat menggeleng, merasa perutku tidak bisa lagi menampungnya.

​Bumi tidak memaksa. Ia meletakkan mangkuk itu, memberikan air putih untukku berkumur, lalu mengambil selembar tisu dan mengusap ujung bibirku dengan sangat lembut. Sentuhannya begitu natural, seolah ia sudah terbiasa melakukan ini selama bertahun-tahun.

​Tepat saat Bumi hendak membuang tisu itu, sayup-sayup dari arah kejauhan, terdengar suara azan Asar yang berkumandang dari masjid perumahan.

​Gerakan Bumi terhenti. Ia melirik ke arah jam dinding, lalu menatapku dengan sedikit rasa bersalah. "Sudah masuk waktu Asar. Aku... aku izin salat sebentar di sudut ruangan ya? Setelah itu aku akan mengecek kondisi Ibu dan Sifa di bawah."

​Aku mengangguk pelan. "Tentu."

​Bumi berjalan ke kamar mandi untuk mengambil wudu. Tak lama kemudian, ia kembali, menggelar sajadahnya, dan mulai mengangkat tangan.

​Dari atas ranjangku, aku memperhatikan punggung tegapnya yang terbalut kemeja kusut. Salat Asar dilakukan tanpa suara bacaan yang dikeraskan. Kamar ini begitu hening. Namun, justru dalam keheningan total itulah aku bisa merasakan kedalaman gerakannya.

​Setiap kali ia ruku, i'tidal, dan menempelkan keningnya di atas sajadah, gerakannya memancarkan ketundukan absolut. Tidak ada keangkuhan. Tidak ada kepura-puraan. Pria yang memegang nyawaku dan nasib perusahaanku ini, merendahkan dirinya sepenuhnya di hadapan Zat yang tidak bisa kulihat.

​Tanpa kusadari, mataku mulai memanas. Ada sebuah rongga kosong di dalam dadaku yang tiba-tiba berdenyut menyakitkan.

​Kapan terakhir kali aku bersujud seperti itu?

​Ingatanku kembali pada malam tiga tahun lalu. Malam saat dokter menyatakan Adrian meninggal. Saat itu, aku berdiri di lorong rumah sakit, memaki Tuhan dengan segala sumpah serapah yang kumiliki. Aku menyalahkan-Nya. Aku menantang-Nya. Bagaimana bisa Ia mengambil satu-satunya orang yang melindungiku?

​Sejak malam itu, mukenaku tak pernah keluar dari lemarinya. Aku menuhankan logikaku. Aku memuja kekuasaan dan uang, karena kupikir hanya dua hal itu yang bisa melindungiku dari kejamnya dunia yang Tuhan ciptakan.

​Tapi melihat Bumi... melihat pria yang nyaris kehilangan adiknya, ditekan oleh utang raksasa, dan diancam pembunuhan, namun tetap mampu bersujud dengan penuh kepasrahan dan keikhlasan... dinding keangkuhanku akhirnya runtuh.

​Air mataku tumpah. Isakan tertahan lolos dari bibirku.

​Bumi yang baru saja menyelesaikan salamnya ke kanan dan ke kiri, langsung menoleh dengan panik mendengar isakanku. Ia bergegas melipat sajadahnya dan menghampiriku.

​"Aruna? Apanya yang sakit? Lambungmu perih lagi?" tanyanya panik, tangannya bersiap menekan tombol panggil darurat untuk dokter di luar kamar.

​Aku menggeleng kuat-kuat, meraih pergelangan tangannya dengan tangan kiriku.

​"Bumi..." suaraku pecah oleh tangisan yang murni dan memilukan. "A-aku kotor sekali."

​Kening Bumi berkerut bingung. "Kotor? Kamu ingin mandi? Tapi dokter bilang kamu belum boleh—"

​"Bukan tubuhku," isakku, memukul dadaku sendiri dengan frustrasi. "Hatiku. Jiwaku. Aku marah pada-Nya saat Adrian meninggal. Aku meninggalkan-Nya selama bertahun-tahun. Dan sekarang, setelah semua uang dan kekuasaan yang kukumpulkan... aku tidak punya apa-apa. Hartaku tidak bisa melindungiku dari Rendra. Hartaku tidak bisa menghentikan jantungku yang nyaris berhenti kemarin."

​Aku menatap mata Bumi dengan pandangan nanar. Di hadapan suamiku, aku menelanjangi seluruh dosaku.

​"Apakah... apakah Dia masih mau melihatku, Bumi? Jika aku datang pada-Nya sekarang... setelah aku memaki-Nya dan berpaling dari-Nya... apakah aku pantas mengemis pertolongan-Nya?"

​Bumi terdiam. Mata cokelatnya yang teduh menatapku tanpa sedikit pun penghakiman. Tidak ada sorot menceramahi, tidak ada raut kekecewaan.

​Perlahan, ia duduk di tepi ranjang. Tangannya terulur, mengusap air mata yang membasahi pipiku dengan sangat lembut.

​"Aruna," ucap Bumi, suaranya mengalun tenang layaknya air sungai yang membasuh luka. "Tuhan tidak seperti dewan direksi di perusahanmu. Allah tidak membutuhkan resume amal baik atau presentasi kesempurnaan untuk menerima pengunduran dirimu dari dosa."

​Bumi menggenggam tanganku yang gemetar, membawa punggung tanganku ke depan dadanya.

​"Pintu tobat-Nya jauh lebih luas dari samudra kesalahan manusia. Seburuk apa pun masa lalumu, sejauh apa pun kamu melarikan diri, cukup satu langkah kecil merendahkan diri, dan Allah akan berlari memelukmu. Kamu tidak kotor, Aruna. Hatimu hanya sedang diselimuti debu kerinduan kepada Penciptanya."

​Kata-katanya begitu sederhana, namun menghantam hatiku dengan kekuatan yang tak bisa dilukiskan. Tangisku semakin pecah. Aku menangis sejadi-jadinya, melepaskan seluruh beban dosa, amarah, dan ketakutan yang kupendam selama tiga tahun.

​Bumi tidak menghentikan tangisanku. Ia membiarkanku melepaskan semuanya, mengusap punggung tanganku, dan terus membisikkan kalimat istigfar dengan pelan untuk menenangkanku.

​Setelah tangisku mulai mereda menyisakan sesenggukan kecil, aku menatapnya dengan mata sembab.

​"Aku... aku ingin salat," pintaku dengan suara serak. "Tapi tubuhku tidak bisa bergerak ke kamar mandi. Infus ini..."

​Bumi tersenyum, sebuah senyuman yang paling menyejukkan yang pernah kulihat. "Siapa bilang kamu harus ke kamar mandi? Dalam keadaan sakit, agama memberikan kemudahan. Kita bisa bertayamum menggunakan debu suci."

​Bumi berdiri, berjalan menuju dinding kamar yang bersih di dekat jendela. Ia meletakkan kedua telapak tangannya di atas dinding, menepuknya pelan, lalu meniup sisa debu halus di tangannya.

​Ia kembali kepadaku. Dengan kehati-hatian layaknya sedang menyentuh porselen berharga, Bumi mengusapkan telapak tangannya secara perlahan ke seluruh wajahku, lalu ke kedua punggung tanganku hingga pergelangan.

​Sentuhannya saat membasuh wajahku dengan tayamum terasa lebih suci daripada air dari mata air mana pun. Ia membersihkan jiwaku.

​"Sudah," bisik Bumi lembut. "Kamu bisa salat sambil berbaring atau setengah duduk seperti ini. Aku akan menuntun bacaannya perlahan, kamu cukup mengikutinya di dalam hati jika tenggorokanmu masih sakit."

​Sore itu, di atas ranjang medis dengan tangan tertancap jarum infus, aku kembali menemukan Tuhanku.

​Dengan dibimbing oleh pria yang dulu kuanggap hanya sebagai bawahan, aku bersujud dalam hatiku. Di setiap lafaz yang dibisikkan Bumi, ada kedamaian absolut yang merasuk ke dalam tulang-tulangku. Jika suatu saat Rendra berhasil membunuhku, aku tidak lagi takut. Karena kini, aku tahu jalan arah pulang.

​Selesai salat, Bumi mengusapkan telapak tangannya ke wajahku mengamini doa, lalu mengecup keningku cukup lama.

​"Aku akan turun sebentar untuk mengambilkan obat lambungmu pada dokter di bawah," ucap Bumi, membereskan mangkuk bubur di meja. "Istirahatlah."

​Aku mengangguk patuh, merasa jauh lebih ringan. Mataku mulai memberat, siap untuk kembali tidur, tapi kali ini tidur tanpa mimpi buruk.

​Bumi melangkah keluar kamar. Bunyi klik pintu terdengar.

​Kamar kembali sunyi. Aku memejamkan mata, membiarkan efek tenang dari ibadah tadi menyelimuti diriku.

​Namun, keheningan itu dirobek oleh suara getaran panjang dari laci meja nakasku.

​Bzzzt. Bzzzt.

​Aku membuka mata perlahan. Itu bukan ponsel utamaku yang dipegang Bumi. Itu adalah ponsel rahasia, perangkat dengan nomor yang sama sekali tidak terlacak yang hanya kugunakan untuk berkomunikasi darurat dengan Garda.

​Dengan tangan bergetar, aku membuka laci itu dan meraih ponsel tersebut. Layarnya menyala, menampilkan sebuah pesan masuk dari nomor tanpa nama yang menggunakan enkripsi khusus.

​Jantungku yang baru saja tenang kini kembali berpacu. Hanya ada satu kelompok orang di luar tim keamananku yang tahu cara menembus enkripsi tingkat militer ini.

​Aku membuka pesannya.

​Bukan teks. Hanya sebuah dokumen PDF berjudul: [UNDANGAN RUPSLB DARURAT_FINAL.pdf]

​Aku menekan file itu. Keringat dingin langsung mengucur dari pori-poriku.

​Itu adalah surat keputusan resmi dari Dewan Komisaris Wiratmadja Tech, yang ditandatangani oleh Rendra dan Haris.

​Surat itu menyatakan bahwa berdasarkan laporan medis yang berhasil mereka 'dapatkan' dari peretas bayaran di jaringan dokter pribadiku, CEO Aruna Wiratmadja dinyatakan Medically Unfit (Tidak Mampu Secara Medis) akibat kondisi jantung dan mental yang tidak stabil.

​Sesuai dengan aturan dasar perusahaan pasal 14, jika CEO dinyatakan tidak mampu menjalankan tugas karena koma atau sakit parah tanpa batas waktu yang jelas, maka Dewan Komisaris berhak mengambil alih kekuasaan eksekutif sementara tanpa perlu menunggu persetujuan sisa pemegang saham.

​Di bawah dokumen itu, terdapat sebuah foto tambahan.

​Foto Pak Haris yang sedang berdiri di depan pintu ruang kerjaku di lantai eksekutif. Papan namaku di pintu itu sedang diturunkan oleh teknisi gedung, digantikan dengan papan nama bertuliskan: Haris Mulyadi - Plt. CEO.

​Mereka tidak menunggu tiga hari. Saat aku terkapar tak berdaya di ranjang ini dan Bumi memblokir akses dari luar, Rendra dan Haris baru saja melakukan kudeta berdarah dari dalam. Mereka telah merebut perusahaanku.

​____________________________________________

Ponsel itu terlepas dari genggamanku, jatuh ke atas seprai. Udara di dalam kamar mendadak terasa mencekik kembali. Wiratmadja Tech—warisan suamiku, hasil jerih payahku selama tiga tahun, dan satu-satunya benteng pertahanan finansial kami—baru saja dirampas dalam waktu dua puluh empat jam. Di bawah foto itu, sebuah pesan teks kecil menyusul masuk: "Checkmate, Aruna. Rekening pribadimu akan dibekukan besok pagi atas dasar investigasi audit internal. Nikmatilah sisa umurmu di persembunyianmu tanpa sepeser uang."*

1
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐲𝐨 𝐚𝐫𝐮𝐧𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐢𝐤𝐚𝐧 𝐡𝐚𝐤 𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐮𝐦𝐢, 𝐤𝐚𝐧 𝐤𝐚𝐥𝐢𝐚𝐧 𝐧𝐢𝐤𝐚𝐡 𝐬𝐚𝐡 😊😊
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐬𝐞𝐤𝐚𝐥𝐢𝐚𝐧 𝐚𝐣𝐚 𝐛𝐮𝐥𝐚𝐧 𝐦𝐚𝐝𝐮 𝐛𝐞𝐧𝐞𝐫𝐚𝐧 𝐫𝐮𝐧 🤪🤪
Pardjan Yono
duh2 ..... aku liat bang Rendra senyum2 , saham nya kan 20%
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐦𝐞𝐧𝐞𝐠𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐤𝐚𝐥𝐢 😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠 𝐚𝐧𝐣𝐢𝐧𝐠 𝐬𝐢 𝐭𝐮𝐚 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐝𝐚𝐧 𝐑𝐞𝐧𝐝𝐫𝐚
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐥𝐮𝐩𝐚 𝐲𝐚

𝐩𝐚𝐬 𝐩𝐚𝐩𝐚𝐬𝐚𝐧 𝐬𝐦 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐝𝐢 𝐥𝐢𝐟𝐭 𝐤𝐚𝐧 𝐛𝐮𝐦𝐢 𝐮𝐝𝐡 𝐠𝐞𝐫𝐭𝐚𝐤 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐤𝐥𝐨 𝐮𝐚𝐧𝐠 𝟐𝐌 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐚𝐥𝐢𝐫 𝐤𝐞 𝐩𝐞𝐫𝐮𝐬𝐚𝐡𝐚𝐚𝐧 𝐜𝐚𝐧𝐠𝐤𝐚𝐧𝐠 🤔🤔
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥: 𝐨𝐤 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 😊😊
total 4 replies
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐲𝐨𝟐 𝐚𝐫𝐮𝐧𝐚 𝐤𝐚𝐥𝐚𝐡𝐤𝐚𝐧 𝐑𝐞𝐧𝐝𝐫𝐚 𝐛𝐮𝐬𝐮𝐤 𝐬𝐢𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐢𝐭𝐮
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐤𝐨𝐧𝐬𝐩𝐢𝐫𝐚𝐬𝐢 𝐣𝐚𝐡𝐚𝐭 😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐩𝐥𝐨𝐭 𝐭𝐰𝐢𝐬𝐭 𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐚𝐫𝐚𝐡 𝐩𝐞𝐧𝐠𝐤𝐡𝐢𝐚𝐧𝐚𝐭 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐝𝐢𝐚 𝐝𝐚𝐥𝐚𝐧𝐠 𝐧𝐲𝐚, 𝐡𝐚𝐫𝐢𝐬 𝐝𝐚𝐧 𝐋𝐮𝐤𝐦𝐚𝐧 𝐩𝐢𝐨𝐧𝟐𝐧𝐲𝐚 😊😊🤪🤪🤣🤣
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐦𝐞𝐰𝐞𝐤 𝐛𝐨𝐦𝐛𝐚𝐲 𝐭𝐡𝐨𝐫 😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐩𝐚𝐤𝐚𝐡 𝐬𝐚𝐫𝐚𝐡 𝐚𝐧𝐤 𝐛𝐮𝐚𝐡 𝐋𝐮𝐤𝐦𝐚𝐧? 🤔🤔🤔
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐚𝐤𝐡𝐢𝐫𝟐 𝐢𝐧𝐢 𝐚𝐪 𝐧𝐞𝐦𝐮 𝐤𝐚𝐫𝐲𝐚𝟐 𝐛𝐚𝐠𝐮𝐬 𝐭𝐩 𝐬𝐞𝐩𝐢 𝐩𝐞𝐦𝐛𝐚𝐜𝐚

𝐣𝐮𝐬𝐭𝐫𝐮 𝐤𝐚𝐫𝐲𝐚 𝐲𝐠 𝐜𝐞𝐧𝐝𝐞𝐫𝐮𝐧𝐠 𝐚𝐜𝐚𝐤𝟐𝐚𝐧 𝐚𝐥𝐮𝐫 𝐠𝐤 𝐣𝐥𝐬 𝐥𝐚𝐭𝐚𝐫 𝐤𝐦𝐧 𝐧𝐦𝟐 𝐭𝐨𝐤𝐨𝐡 𝐤𝐦𝐧 𝐛𝐢𝐬𝐮𝐥 𝐤𝐦𝐧 𝐦𝐥𝐡 𝐛𝐧𝐲𝐤 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐨𝐦𝐞𝐧𝐭 🤣🤣🤣

𝐬𝐩𝐫𝐭𝐢𝐧𝐲𝐚 𝐬𝐝𝐧𝐠 𝐚𝐝𝐚 𝐟𝐞𝐧𝐨𝐦𝐞𝐧𝐚 𝐩𝐞𝐧𝐮𝐫𝐮𝐧𝐚𝐧 𝐒𝐃𝐌 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬 𝐚𝐭𝐚𝐮 𝐦𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐒𝐃𝐌 𝐚𝐮𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐧𝐲𝐚 𝐲𝐚...


𝐦𝐚𝐚𝐟 𝐬𝐚𝐲𝐚 𝐡𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐞𝐫 𝐨𝐩𝐢𝐧𝐢 𝐬𝐛𝐠 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬 𝐤𝐫𝐧 𝐬𝐲 𝐭𝐝𝐤 𝐜𝐮𝐤𝐮𝐩 𝐩𝐞𝐝𝐞 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐚𝐮𝐭𝐡𝐨𝐫 𝐝𝐚𝐧 𝐬𝐚𝐲𝐚 𝐦𝐬𝐡 𝐟𝐚𝐤𝐢𝐫 𝐢𝐥𝐦𝐮 😊😊😊
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐦𝐞𝐰𝐞𝐤 𝐭𝐡𝐨𝐫 😭😭😭
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥
𝐁𝐚𝐠𝐮𝐬 𝐜𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐚𝐡𝐚𝐬𝐚𝐧𝐲𝐚 𝐦𝐮𝐝𝐚𝐡 𝐝𝐢𝐩𝐚𝐡𝐚𝐦𝐢, 𝐚𝐥𝐮𝐫𝐧𝐲𝐚 𝐣𝐠 𝐦𝐚𝐬𝐮𝐤 𝐚𝐤𝐚𝐥....

𝐥𝐧𝐣𝐭 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐚𝐡
𝐬𝐞𝐦𝐚𝐧𝐠𝐚𝐭 𝐤𝐚𝐤 𝐨𝐭𝐡𝐨𝐫 😘😘😘
Rio Mario
kok sepi sih padahal cerita bgus banget .. semangat kak💪
𝐚𝐫𝐢𝐞𝐬 𝐠𝐢𝐫𝐥: 𝐚𝐪 𝐬𝐞𝐫𝐢𝐧𝐠 𝐧𝐞𝐦𝐮 𝐤𝐚𝐤 𝐜𝐞𝐫𝐢𝐭𝐚𝟐 𝐛𝐚𝐠𝐮𝐬 𝐬𝐞𝐩𝐢 𝐥𝐢𝐤𝐞 𝐝𝐚𝐧 𝐤𝐨𝐦𝐞𝐧𝐭 𝐛𝐚𝐡𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐩𝐢 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐞𝐫𝐬𝐧𝐲𝐚 😭😭😭
total 1 replies
Erna Lisa
mantap
Erna Lisa
lanjutkan
Erna Lisa
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!