Santaka, anak dari pemilik pesantren besar di Solo—yang berprofesi sebagai chef pastry—terpaksa menikah dadakan dengan Nandini, tetangga sekaligus montir bengkel langganannya.
ini semua karena mereka tertangkap basah di mobil Santaka dalam kondisi mengundang fitnah.
"Gus Taka dan Dini tertangkap di mobil! Suaranya mencurigakan, apalagi baunya..."
Itu kesaksian pihak yang menangkap basah. Tak tanggung-tanggung, tiga orang jadi saksi.
Bisakah Santaka—gus yang lembut—menjadi imam bagi Nandini—montir bengkel yang keras?
Kini kehidupan Nandini bukan lagi tentang oli dan kunci inggris, tapi umat dan pesantren. Sanggupkah sang montir bengkel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inna Kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16 Menuju Tabligh Akbar
Nandini membalikkan tubuhnya menjadi telentang di pangkuan Santaka. Ia pandangi wajah teduh suaminya.
Kini gadis itu sudah tak canggung di posisi ini. Kecuali disuruh menghadap ke arah perut Santaka. Tak cuma canggung, bisa mulas. Masih horor.
Tak bisa dipungkiri, Nandini mulai nyaman berbaring di pangkuan suaminya. Setiap hari, setidaknya setelah tahajud, Subuh, Magrib dan Isya. Kali ini waktu kebersamaan setelah tahajud.
Sudah berjalan lebih dari tiga minggu sejak pertukaran permintaan mereka. Artinya pernikahan mereka sudah bergulir sebulan lebih.
Topik tentang keputusan Mansur bahwa Santaka harus ikut total mengurus pondok, di waktu makan malam dua hari yang lalu, belum terbahas lagi oleh sepasang pengantin baru itu.
Nandini mau saja membahasnya namun Santaka terlihat enggan. Entahlah, sepertinya itu tema yang haram dibahas untuk saat ini.
Pernah Nandini coba memancing, membahasnya, Santaka malah mengalihkan pembicaraan dengan menggodanya dan membuatkannya jus. Kelihatannya Nandini harus menunggu inisiatif Santaka untuk bercerita sendiri.
Alunan ayat Al Quran yang dibacakan Santaka membuat hati Nandini lebih tenang. Lebih lapang menerima takdir pernikahan ini.
Tangan Santaka mengelus lembut kepala sang istri. Nandini tersenyum, meresapi sentuhan itu. Lantunan ayat suci itu terhenti.
“Gimana? Masih tegang gara-gara tabligh akbar?” Santaka tersenyum kecil. Nandini mengangguk lemah.
“Apa yang buat tegang?” Santaka menutup mushafnya.
“Saya ndak biasa ngomong di depan banyak orang.” Nandini memiringkan bibirnya.
“Sama, saya juga begitu.” Santaka menatap istrinya. Wajah istrinya nampak gusar. Cantik. Tak ada hubungannya. Tapi itu yang Santaka lihat.
“Masa sih? Gus kan biasa ikut dakwah.”
“Biasanya yang tausiyah itu Gus Yasa, Gus Nendra. Saya bagian tilawah. Kalaupun kasih tausiyah, sebagai pembuka aja. Tapi itu jaaraang banget.
Saya ndak terlalu bagus ngomong. Lebih cocok di belakang layar.” Santaka mengembuskan napas. Nandini mengerucutkan bibirnya.
“Jadi, apa yang Mbak Dini rasain itu wajar. Tenang, kan ada saya juga di sana. Kalau nanti grogi, liat ke saya. Saya kasih ciuman jarak jauh.” Santaka tersenyum menggoda.
Nandini mencebik. “Terus Gus Yasa melotot liat kita lempar-lempar ciuman jarak jauh. Banting mic.” Tawa mereka berderai.
"Terima kasih ya Gus. Selalu nguatin saya, jaga saya." Nandini menatap suaminya.
"Iya, sama-sama... Terima kasih juga untuk selalu percaya sama saya." Santaka menyentil hidung sang istri. Nandini merengut.
“Mau dibuatin roti bakar lagi?” tawar Santaka.
Nandini mengangguk cepat. “Mauuu!”
*
*
Hari ini adalah hari libur nasional, Senin bertanggal merah, bertepatan dengan Senin Legi. Masjid Syeikh Zayed yang menjadi lokasi acara, sesak oleh manusia.
Masjid indah bernuansa putih itu dihiasi banner besar yang mencetak wajah Mansur dan Abyasa sebagai pembicara. Judul materi yang akan disampaikan, ‘Mudahnya Menjadi Suami Istri Idaman Surga’.
Nandini menipiskan bibirnya. Merasa tersindir. Apanya yang mudah? Berat nikah itu, apalagi yang kepaksa kayak aku. Beda dunia. Kayak masuk ke goa, gelap, meraba-raba.
Santaka mengeratkan genggaman mereka. Nandini memandang genggaman itu. Tangan lelaki yang awalnya ia anggap lemah, kurang greget ternyata menjadi tembok pelindung terkuatnya, menjalani pernikahan penuh tekanan.
Mereka berjalan menuju lounge atau ruang VIP yang telah disediakan oleh panitia. Tampak pria dan wanita berbaju hitam sibuk wara-wiri.
Nandini melihat ada layar putih besar di pelataran masjid. Menjadi sarana bagi jamaah yang tak mendapat tempat di dalam masjid. Mereka tetap bisa melihat visual keadaan di dalam.
Di lounge, Nandini melihat Sarah sedang berbicara dengan panitia. Ada name tag tergantung di leher wanita berhijab hitam itu, jadi Nandini tahu orang itu panitia.
Panitia yang berwajah tegang karena Sarah tampak menginstruksikan sesuatu dengan tegas. Nandini jadi ikut tegang melihatnya. Tahu rasanya jadi si mbak panitia.
Nandini memandang ke arah Husna yang sedang merapikan kerudung Lastri. Manis sekali. Nandini selalu menyukai Husna, tipikal kakak ipar yang mengayomi.
Agak lain dengan Sarah, yang garang. Buat tegang terus. Heran bisa ada dua kutub kakak ipar dalam Ndalem. Yang satu membuat gerah, satu lagi menciptakan ketenangan.
Pindaian Nandini berlanjut ke arah Mansur dan trio gusnya. Harus Nandini akui rahim Lastri bagus. Tak ada produk gagal, semua gus tampan.
Abyasa dengan tampan berwibawa. Danendra berparas tampan ramah. Suami Nandini—si gus tapi koki—Santaka memiliki wajah tampan teduh. Payung pun lewat teduhnya.
Siapa yang paling tampan menurut Nandini? Mau jawab Santaka, masih gengsi. Tampan semua, itu amannya. Eh, tak jadi, Santaka paling tampan. Efek tegang bikin labil.
Nandini menggenggam tisu untuk menghilangkan rasa gugupnya. Tak ada tangan Santaka yang sebulan ini akrab di jemarinya.
Nandini sudah diinformasikan bahwa acara ramah tamah, sesinya berbicara, ada di paling akhir. Acara belum mulai tapi cemas sudah merajai hati Nandini.
Santaka tersenyum manis dari jauh kepada Nandini. Ia mengepalkan tangan di depan wajahnya, lalu berkata tanpa suara. “Semangat!” Nandini balas tersenyum.
"Tegang, Nduk?" Lastri menatap Nandini sambil tersenyum.
"Inggih, Umi. Takut salah." Nandini meringis.
"Sudah baca doa Nabi Musa?"
"Inggih, Umi. Sudah, diajari Gus Taka." Nandini memainkan ujung kerudungnya yang menjuntai, sambil mengangguk pada mertuanya.
"Dibaca lagi. Biar lebih tenang." Lastri menepuk paha menantu bungsunya. Nandini tersenyum.
"Umi... Boleh peluk?" Di saat tegang seperti ini, Nandini merasa ingin dipeluk ayahnya, namun Surbakti tak ada di sini.
Dan jujur, walaupun ada Santaka, Nandini belum bisa meminta hal tersebut pada suaminya. Masih canggung. Lastrilah satu-satunya yang bisa ia minta sentuhan sayang itu.
"Boleh... Sini." Nandini memeluk erat mertuanya. Beruntungnya suaminya masih memiliki ibu. Tak seperti Nandini yang piatu sejak kecil.
Husna tersenyum melihat adegan antara mertua dan adik iparnya. Sarah hanya memandang datar. Santaka yang memantau dari kejauhan, melebarkan lengkung di bibirnya.
Sebuah kebahagiaan bagi Santaka melihat istri dan ibunya rukun. Cukuplah tekanan bagi rumah tangga mereka dari orang lain. Selama Lastri ada di pihak mereka, hidup akan lebih mudah.
Santaka berdiri dan menghampiri istrinya. Duduk di samping sang istri. Ia berbisik di telinga Nandini. "Kenapa ndak minta peluk sama saya?"
Nandini mencebik. "Nanti boleh ndak peluk di rumah?" Santaka menatap menggoda.
"Saya bilangin Umi, anaknya genit banget. Mau tabligh akbar malah modus sama istri." Nandini berbisik hingga matanya menyipit. Santaka terkekeh.
Lastri tersenyum melihat kemesraan anak dan menantu terakhirnya. Ia lega pernikahan paksa itu ternyata berjalan dengan baik. Anaknya terlihat bahagia. Semoga seterusnya.
"Gus Taka, ndak pantas ya sampeyan malah mojok-mojok. Tempat Gus di sana, sama Abi. Bukan di sini." Sarah mulai beraksi dalam mode polisinya.
"Bukan mojok, Ning. Ini sofanya di pinggir. Jadi minggir, lebih pas," sengit Nandini. Heran dirinya pada Sarah yang bisa-bisanya berpatroli di tempat umum.
Bibir Santaka berkedut mendengar ucapan sang istri. Lastri menggelengkan kepala sambil tersenyum. Husna mengulum tawa.
Sarah melengos. Nandini memang kadang manut, kadang melawan pada dirinya. Menyebalkan. Sangat tidak mencitrakan seorang istri gus.
"Saya balik ke sana ya. Takut kita ditilang." Santaka mengulum senyum. Nandini terkikik. Santaka membelai kepala istrinya itu. Gemas.
Sarah menatap hingga menyipit. Menduga pasti pasutri itu sedang membicarakannya.
Panitia menginformasikan agar keluarga Mansur bersiap. Nandini bersiap dan berdiri di belakang Lastri. Sarah tiba-tiba menyelak, hingga hampir menginjak kaki Nandini.
"Saya menantu tertua, jadi harus di dekat Ummi."
pas mau Unboxing ehhhh passa tamu tak diundang datang tanpa kodess 😤🤣🤣🤣 ditunda minggu depan yaaa Takaaa 😆
istri Gus Taka, te ou pe be ge te. aku padamu mb Dini... 😘😘
Rasainnnn kelennnn 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Rasain Ahsan, emang enak lihat bekas kemesraan Taka & Dini... ? suruh tuh abahmu belain kamu, agar Taka kena sanksi Krn bekas mesranya Taka+ Dini terlihat. biar semua sadar, siriknya si Mahmud+ Ahsan
g tidur ah, nungguin Ahsan + Yai Mahmud angkat kaki balik ke Magelang 😄😄
panaaaaassss nihhhh Ahsannn panass yaaaaa.... yaaa panassss dongggg pastinyaaaa 🤣🤣😏 Nandini ituu sama Santaka udah saling sayang saling cinta jadi otomatis saling menguatkan satu sama lainn.. kamuuu iriiiiii ? ya tentu sajaaaa, maka nikmati dg baikkkk wahai sampahhhh pondok 😏😏😏😤
semoga Gus Abi bijak dlm mensikapi. tendang aj Ahsan dr Al Fatih. biar dia penerus PP Al Irsyad aj