Maheer Arasyid terjebak dalam wasiat yang terasa seperti kutukan. Kepergian Muzammil, sang kakak yang tewas demi melindunginya dari maut di parkiran rumah sakit, meninggalkan duka sekaligus beban berat: Assel Salsabila.
Bagi Maheer, Assel bukanlah sekadar janda kakaknya, melainkan musuh bebuyutan sejak masa sekolah yang sangat ia benci. Alasan Maheer melarikan diri ke luar negeri bertahun-tahun hanyalah satu: menghindari fakta bahwa wanita "berbisa" itu telah menjadi bagian dari keluarganya.
Kini, demi menunaikan janji terakhir Muzammil dan menjaga senyum kecil Razka Arasyid, Maheer terpaksa mengikat janji suci dengan wanita yang paling ia hindari. Di balik benci yang membara, tersimpan rahasia masa lalu dan luka yang belum sembuh. Bisakah pernikahan yang dibangun di atas rasa bersalah ini berubah menjadi cinta, ataukah dendam lama justru akan menghancurkan segalanya?
Temukan jawabannya dalam kisah pengabdian dan benci yang berujung cinta ini. Dan jangan lupa berikan dukungannya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PEMBERSIH LUKA YANG TERSISA
Cahaya matahari pagi yang masuk melalui jendela kantor terasa lebih hangat bagi Maheer. Meskipun kata maaf secara resmi belum terucap dari bibir Assel. Namun beban berat yang selama tujuh tahun ini menghimpit dadanya terasa mulai terangkat. Kebenaran sudah di tangan, dan kini fokusnya beralih pada satu misi: pembalasan yang elegan melalui kuasa bisnis.
Maheer bergerak dengan presisi yang mematikan. Ia menyatukan aset-aset bisnisnya yang menggurita di luar negeri dengan infrastruktur perusahaan peninggalan Muzammil. Ia memerintahkan Hans untuk mengundang kolega-kolega internasionalnya.
"Pastikan mereka tahu bahwa Arasyid Group kini berada di bawah kendali tunggal saya," tegas Maheer di depan meja kerjanya.
Para investor yang sudah mengenal reputasi dingin dan kinerja tangan besi Maheer di luar negeri tidak butuh waktu lama untuk setuju. Dalam waktu singkat, perusahaan Muzammil berkembang pesat. Nilai saham mereka meroket, memberikan Maheer kekuatan finansial yang cukup untuk mulai "menyerang". Target pertamanya adalah perusahaan milik ayah Bayu. Maheer memutus kontrak-kontrak vital dan memojokkan mereka hingga mengalami kerugian besar.
Keluarga Bayu limbung. Mereka tidak mengerti mengapa raksasa sekelas Arasyid Group mendadak menargetkan bisnis mereka tanpa ampun. Hingga akhirnya, Bayu menyadari bahwa ini bukan sekadar persaingan bisnis, melainkan sebuah aksi balas dendam pribadi.
Siang itu, Bayu mendatangi kantor Maheer. Ia memohon-mohon pada petugas keamanan agar diizinkan masuk. Setelah menunggu berjam-jam, Maheer akhirnya mengizinkan pengkhianat itu masuk ke ruangannya. Begitu pintu tertutup, Bayu langsung berlutut di hadapan Maheer.
"Maheer, tolong hentikan ini semua! Keluargaku bisa hancur," isak Bayu sambil memegang ujung meja Maheer. "Aku minta maaf, Heer. Aku benar-benar minta maaf atas apa yang terjadi tujuh tahun lalu."
Maheer menatap Bayu dengan pandangan yang lebih dingin dari es. "Bukan kepadaku kau harus memohon ampun, Bayu. Kesalahanmu bukan padaku, tapi pada wanita yang hidupnya kau hancurkan demi rasa iri picikmu. Semua keputusan untuk berhenti atau lanjut, ada di tangan Assel."
Bayu mendongak, wajahnya pucat. "Baik, aku akan meminta maaf pada Assel. Bila perlu, aku akan melakukannya secara langsung melalui siaran live di media sosial. Aku akan membersihkan namanya di depan semua orang."
"Bagus kalau kau paham," sahut Maheer datar. "Sekarang pergilah. Aku muak melihat wajah seorang pengkhianat yang menjual sahabatnya sendiri."
Dua jam kemudian, Hans masuk ke ruangan Maheer sambil membawa sebuah tablet. "Tuan, Bayu baru saja melakukan apa yang dia janjikan."
Maheer menerima tablet itu. Di layar, tampak wajah Bayu yang terlihat kuyu dan sedih. Siaran langsung itu sudah ditonton oleh ribuan orang.
"Dulu, aku memiliki sahabat yang luar biasa," mulai Bayu dengan suara bergetar. "Dia hebat dalam segala hal, terutama di tim basket sekolah kami. Namun, semua berubah ketika dia lebih memilih menghabiskan waktu dengan seorang wanita. Kami, timnya, merasa iri. Kami merasa kehilangan bintang kami. Karena rasa iri itulah, kami menyusun rencana licik untuk memfitnah wanita itu agar mereka berpisah."
Bayu menarik napas panjang, air matanya jatuh. "Maafkan kami, Maheer. Maafkan kami, Assel. Karena keegoisan kami, kalian harus menderita selama tujuh tahun. Assel adalah wanita yang sangat baik dan tulus. Dialah alasan mengapa sahabatku begitu mencintainya. Aku ingin membersihkan namanya hari ini."
Video itu viral dalam hitungan menit. Kolom komentar dipenuhi hujatan untuk Bayu, namun banyak juga yang bersimpati karena pengakuan itu terlihat sangat tulus. Video itu akhirnya sampai ke layar ponsel Assel di mansion. Assel terpaku, tangannya gemetar memegang ponsel. Ingatan tentang perlakuan buruk teman-temannya dulu kembali berputar. Selama ini ia diam karena terlalu lemah untuk melawan, namun hari ini, dunia akhirnya tahu bahwa dia tidak bersalah.
Sore harinya, Maheer pulang dengan perasaan tidak menentu. Ia ingin melihat bagaimana reaksi Assel setelah video itu beredar luas. Namun, saat ia masuk, Assel terlihat biasa saja, seolah tidak terjadi apa-apa.
"Assalamualaikum," ucap Maheer dengan nada yang jauh lebih lembut dari biasanya.
"Waalaikumsalam," jawab Assel pendek. Ia sedang menata beberapa barang di ruang tengah.
Maheer berdiri mematung. Ia sangat ingin bertanya apakah Assel sudah melihat pengakuan Bayu, tapi lidahnya terasa kelu. Ia takut salah bicara dan merusak suasana yang mulai tenang ini. Tiba-tiba, ia teringat sesuatu untuk mencairkan suasana.
"Assel, sebentar lagi adalah peringatan 40 hari wafatnya Kak Muzammil. Apakah kau ingin kita mengadakan acara selamatan atau doa bersama di rumah ini?" tanya Maheer hati-hati.
Assel menghentikan aktivitasnya sejenak. Ia tidak menoleh, namun nada bicaranya sudah tidak sekaku kemarin. "Iya, aku ingin mengundang anak yatim dan beberapa tetangga untuk mendoakan Mas Muzammil."
Maheer mengangguk lega. "Baiklah, aku akan meminta Hans mengatur segalanya. Kau hanya perlu memberi tahu apa saja yang dibutuhkan."
Keheningan kembali menyelimuti mereka selama beberapa detik sebelum Maheer melanjutkan, "Hmm... Itu, ada satu hal lagi, Assel. Mama... Mama sudah sadar dari masa komanya di rumah sakit. Apakah... apakah kau bersedia menjenguknya bersamaku?" tanyanya dengan suara yang sedikit gugup, ia juga terlihat begitu berhati-hati sekali.
Assel terdiam cukup lama. Bayangan ibu mertuanya yang selama ini juga bersikap dingin padanya melintas di pikiran. Ia sadar kalau selama ini ibu mertuanya itu selalu menyalahkan dirinya, sebab karena dirinya lah, beliau tak bisa melihat putra keduanya selama enam tahun, dan itulah awal kebencian sang ibu pada menantunya. Namun, sebagai seorang wanita yang memiliki hati lembut, ia tidak bisa menolak kewajiban sebagai seorang menantu.
"Baiklah," jawab Assel pelan. "Aku akan menjenguk Mama. Bagaimanapun, dia adalah nenek dari Razka."
Maheer tersenyum tipis, sebuah senyuman tulus yang jarang terlihat. Meskipun Assel masih menjaga jarak, perkembangan ini adalah kemajuan besar baginya. Ia sadar bahwa menyembuhkan luka tujuh tahun tidak bisa dilakukan dalam satu malam, namun setidaknya, mereka tidak lagi bicara dengan bahasa kebencian.
Sambil menatap punggung Assel yang mulai menjauh untuk menemui Razka, Maheer berjanji dalam hati. Ia tidak hanya akan memulihkan nama baik Assel di mata publik, tapi ia juga akan memulihkan posisi Assel di hati keluarganya. Perjalanan menuju rumah sakit esok hari akan menjadi babak baru yang mungkin lebih emosional, karena di sanalah rahasia-rahasia lain mungkin akan terungkap di depan sang ibu yang baru saja terbangun dari lelap panjangnya.
bagus minta cerai aja males punya suami ada demit masa lalu apa lagi hidup di luar kebanyakan jadi teh celup suka keluar masuk lobang lendir
apa aku yg kurang paham agama atau gimana ini??
karena setauku gitu nunggu massa iddah dulu baru menikah